Bus wisata yang melewati jalanan sepi mulai berhenti ke sisi kanan. Sayup-sayup suara dari dalam bus terdengar ramai saking suasana jalan saat itu sepi. Pintu depan bus terbuka memecah keheningan. Langkah kaki dari sepatu kets milik perempuan berambut sebahu bergerak turun melewati tangga bis. Wajahnya terlihat agak kucel dan lelah. Bahkan tas tinggi besar yang di gendong olehnya seperti ingin meremukkan punggungnya. Nama perempuan itu Valeria.
"Va! Serius kamu mau turun disini?" ucap perempuan berambut panjang bergelombang yang berdiri diatas tangga bus dengan perasaan cemas. Namanya Trisha, salah satu teman dekat Valeria yang terlihat cemas.
"Iya. Lagian kalo sampai ke sekolah gak ada yang jemput pulang. Kalo ikut mobil kamu bakal malem banget! Jangain Tika, ya! Kasian dari tadi meriang!" Ujar Valeria sambil tersenyum. Trisha hanya menghela napas dan mengangguk.
Setelah Trisha kembali ke dalam bus, supir bus menatapnya khawatir. Valeria mengerutkan keningnya, "Kenapa pak?"
"Nggak neng! Bapak cuman khawatir aja eneng berani banget mau turun disini" jawab supir bus cengengesan sambil bersiap-siap menginjak gas.
Valeria hanya cuek mendengar tanggapan supir tadi. Perempuan itu pun menutup pintu bus dan tak lama bus wisata tersebut berjalan meninggalkan ia sendirian.
Valeria menatap lama bus wisata tadi dengan perasaan sedih. Jika bukan karena piket upacara, mungkin ia sekarang masih ada di bus itu bersama Trisha dan menjaga Tika yang meriang. Untung dia turun disini. Sudah pasti tidak akan ada preman atau orang jahat lainnya yang akan lewat. Mungkin mereka akan ketakutan karena isu miring di jalan ini. Perempuan itu berjalan santai sambil memainkan daun kering yang basah dia atas trotoar.
Semakin lama Valeria mendengar suara ketukan suara sepatu hak di depannya. Ia mendonggak dan melihat wanita berambut hitam yang dicepol dengan baju kemeja merah yang dimasukkan kedalam rok span pendeknya serta sepatu hak tinggi hitam yang berjalan agak jauh darinya. Dilihat dari penampilan serta slingbag coklat tua yang di sangkutkan di bahunya, sepertinya wanita itu pegawai kantoran yang pulang malam. Kasian wanita itu jalan sendirian dengan sepatu haknya. Jam 11 malam mana mungkin ada angkutan umum yang lewat.
Semakin Valeria memandang wanita itu, langkah wanita itu semakin bergerak cepat. Hak yang beradu diatas trotoar semakin berpacu. Wanita itu seperti berusaha lari dengan hak tingginya. Valeria heran, apa karena wanita itu merasa diperhatikan jadi dia seperti itu?
Suara knalpot motor sport terdengar melengking dari belakangnya. Ketika ia menengok kebelakang, 2 orang preman berboncengan di motor itu. Botol minuman keras di tangan mereka dan suara tertawaan gilanya membuat bulu kuduk Valeria berdiri. Prediksi dia meleset, "Ya tuhan! Aku tidak mau mereka melakukan hal yang tidak-tidak padaku!"
Valeria berlari kencang. Badannya yang sudah lemas karena acara rekreasi tadi membuat larinya semakin melambat. Suara motor itu semakin dekat. Jantungnya berdetak sangat kencang. Napasnya mulai tersenggal. Ia sangat lelah hingga ia menunduk sambil batuk-batuk. Tubuh Valeria benar-benar tidak fit.
Suara motor sport tadi berhenti. Valeria benar-benar ketakutan sejadi-jadinya. Pelan-pelan ia mencoba melarikan diri dengan kaki lemasnya.
"Neng, ngapain sendirian disini? Sini sama abang..."
Ucapan menjijikan preman itu membuat perempuan itu ketakutan. Keringatnya bercucuran di sekuruh tubuhnya. Valeria tetap diam dengan tatapan mata ketakutan
"Heh! Denger gak sih?! Bos gua ngomong sama lu!" preman itu langsung menarik kasar lengan Valeria dan perempuan itu berdiri diantara 2 preman itu
Perempuan itu bergetar ketakutan. Wajah menyeramkan kedua preman itu menatapnya seperti singa kelaparan. Tangan mereka mulai menyentuh pipi Valeria pelan. Perempuan itu sangat tidak nyaman dengan perlakuan mereka. Ia mencoba mencari peluang agar ia bisa lari. Doa terus terpanjat di dalam hatinya.
"Hey... aku akan menolongmu..."
Suara lirih dan lembut seorang wanita masuk ke telinga Valeria. Fokusnya yang dari tadi terganggu oleh preman sialan itu terganti oleh sosok wanita yang ia lihat. Wanita itu begitu cantik dengan bibir merah dan tahi lalat di sudut bibirnya. Valeria agak terpukau dengan kecantikkan wanita itu. Namun dengusan dari hidung preman itu mengganggunya. Valeria berdecak kesal, "Lepas!"
"Lepas? Hahahahaha!!! Mana mungkin kita lepasin semudah itu!!!" celetuk salah satu preman yang tertawa kesetanan.
Valeria tersentak ketika wanita tadi tiba-tiba menariknya sangat kuat hingga dirinya terlepas dari kurungan preman itu. Wanita itu berjalan mendekat kearah preman itu dan tersenyum menyeramkan, "Seno... Hadi... ingat saya?"
Preman yang mabuk itu seperti tersengat listrik. Wajah terkejut mereka terpampang jelas. Bahkan botol minuman di tangan mereka terlepas begitu saja. Mereka berteriak ketakutan dan pergi dengan cepat dengan motor mereka. Valeria merinding melihat kejadian itu.
Wanita itu menoleh kearah Valeria dengan pelan. Wajah Valeria tidak bisa mengontrol ketakutannya, "K-kau... si-siapa?"
"Aku Sekar" jawab singkat wanita itu dan meninggalkan Valeria yang mematung.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Ia pun menoleh kebelakangnya. Wanita itu masih berjalan menapak diatas tanah. Tidak mungkin dia hantu. Bukan begitu?
Valeria menghampiri wanita itu, "Mbak... bukan hantu, kan?"
Sekar hanya tersenyum dan tetap berjalan, "Apa aku mirip hantu?"
"Hmm... nggak sih! Mbak cantik banget!" puji Valeria sambil menggaruk tengkuknya. Tidak sopan sekali rasanya ia bertanya begitu dengan orang yang menolongnya. Tapi untuk bagian pujian, wanita bernama Sekar ini memang cantik dan tinggi seperti model.
"Aku sering lembur. Tapi karena preman-preman itu, mereka membuatku sangat marah" ucap Sekar yang terlihat menahan marahnya dengan ekspresi dingin
"Memang... preman itu pernah berbuat apa sama mbak? Kayaknya mba lebih galak dari preman itu" celetuk Valeria dan Sekar terkekeh.
"Seperti kamu, tapi kamu lebih beruntung"
Valeria mengangguk, ia mulai merasa janggal, "Memang mbak kenapa saat itu gak beruntung?"
Sekar melirik tidak nyaman kearah Valeria, "Tidak ada yang menolong. Rasanya aku ingin balas dendam kearah preman tadi"
"Jangan balas dendam mbak! Mending di bawa ke polisi. Balas dendam gak bakal terbalas karena hanya memuas nafsu sesaat. Bisa jadi setelah masuk polisi, preman-preman itu berubah baik. Maaf ya mbak, bukan bermaksud menggurui tapi balas dendam tuh gak baik" jelas Valeria dan wanita itu menatap lama perempuan di sampingnya. Sudut matanya mulai mengeluarkan air mata namun langsung ditahan.
Sekar mengalihkan topik pembicaraan, "Terima kasih sarannya. Ngomong-ngomong kamu habis jalan-jalan, ya?" tanya Sekar sambil tersenyum.
"Iya. Kalo besok gak upacara, aku mungkin gak bakal turun disini. Hmm... seharusnya dari tadi aku sudah ketemu persimpangan, tapi kayaknya jalanannya panjang." jawab cengengesan Valeria yang mulai penasaran kenapa ia tidak sampai-sampai di persimpangan.
Sekar menatap murung Valeria. Ia berhenti dan menatap lurus Valeria, "Lebih baik kita berpisah. Terima kasih menemaniku, kau manusia baik yang tidak takut padaku."
Valeria mengerutkan keningnya, "Takut? Mbak manusia, kan? Ngapain aku takut!"
Sekar hanya tersenyum simpul mendengar tutur kata Valeria, "Ya sudah, kamu jalan duluan." ia melepas cepolannya dan memberi ikat rambut hitam kepada Valeria, "Ambil ini! Tolong kasih ini ke ayahku!"
"Huh? 'Ayahku'? Siapa ayah mbak?" Valeria menerima ikat rambut itu dengan perasaan bertanya-tanya.
"Namamu Valeria, bukan?"
"Iya, mbak. Mbak tau dari man-"
"Terima kasih untuk hari ini. Kamu membuat aku tenang dengan saranmu." Sekar tersenyum. Tangannya mulai melambai kearah Valeria, "Sampai jumpa!"
Valeria membalas lambaian Sekar sambil tersenyum, "Sampai jumpa juga mbak. Terima kasih sudah menolongku."
Valeria berjalan duluan. Ia sesekali menoleh kebelakang untuk melihat Sekar dari jauh yang masih tersenyum sambil melambai. Entah bagaimana Valeria merasa lega ada yang menyelamatkannya. Tak lama ia bisa melihat persimpangan yang ia tunggu-tunggu. Ketika Valeria belok kearah persimpangan, ada seseorang yang memanggilnya.
"Valeria? Sayang? Ayo bangun!"
Mata Valeria terbelalak. Ia terkejut melihat dirinya yang berada di ranjang rumah sakit. Ayahnya yang berada disampingnya langsung memberinya minum. Valeria benar-benar heran kenapa ia ada disini.
"Kamu tipes, nak. Kata pak Frans, kamu pingsan dan disekitar kamu ada banyak beling minuman keras. Kamu tidak apa-apa kan? Kamu dijahatin preman?" ucap Ayah Valeria yang terlibat sangat khawatir.
Valeria mengerutkan kening, "Pingsan? Aku... gak pingsan, yah! Aku ditolongin sama mbak-mbak pas ada ada preman gitu. Dia baik banget. Namanya Sekar"
Mata ayah Valeria seperti ingin loncat keluar. Wajah pucatnya bahkan terlihat jelas. Valeria yang tidak sadar dengan perubahan ekspresi ayahnya menatap tangan kanannya yang terkepal. Saat ia membuka tangannya, pintu ruangannya terbuka.
Seorang pria tua yang seluruh rambutnya putih masuk dengan pelan. Suara tongkatnya yang menahannya berdiri seirama dengan langkahnya. Senyumnya terpancar cerah melihat Valeria, "Nak, kau sudah sadar? Saya Frans, orang yang menemukanmu pingsan"
"Terima kasih sudah menolong saya" jawab Valeria yang terdengar lemas.
"Bapak kenapa senyumnya cerah sekali? Habis menang catur, ya pak?" tanya Ayah Valeria dan Pak Frans terkekeh pelan.
"Nggak, saya senang banget hari ini anak saya ditemukan. Sudah 5 tahun hilang, polisi tadi menemukan Sekar persis gak jauh dari tempat Valeria ditemukan" tutur Frans dan Valeria tersentak ingat tadi malam.
"Wah kebetulan. Aku kemarin ketemu anak bapak. Dia nolongin aku" Valeria memberikan ikat rambut milik Sekar kepada Frans, "Ini! Tolong sampaiin ke mbak Sekar, makasih banyak!"
"Ya tuhan..." lirih pak Frans yang terjatuh lemas. Matanya mulai berair dan mulai menangis tersedu-sedu.
Valeria yang bingung disadarkan oleh ayahnya yang tersenyum dan memegang tangan anaknya, "Sekar tidak hilang dalam keadaan hidup, nak. Dia sudah meninggal 10 tahun lalu. Baru ditemukan mayatnya hari ini"
Valeria membeku. Bulu kuduknya langsung berdiri. Ia bergetar memegang ikat rambut milik Sekar yang masih ada di tangannya. Ia tidak menyangka malam itu ia bersama Sekar yang sudah dalam kondisi gaib.
Frans mulai berdiri pelan dan mengambil ikat rambut anaknya. Ia mencium ikat rambut itu dan memegangnya erat. Valeria menghela napas dengan wajah murung, "Maaf membuat bapak sedih"
"Tidak apa-apa nak!" Frans langsung tersenyum dan mengelap air matanya, "Apa Sekar cerita sesuatu?"
Valeria pun menceritakan dari awal sampai akhir. Ia merasa takjub melihat Frans yang tetap tersenyum dalam keadaan seperti ini. 10 tahun pasti bukan lah hal yang mudah dilewati Frans. Menunggu anaknya yang belum pulang 10 tahun sampai ia menua dan ringkih.
"Terima kasih banyak, nak. Kamu membuat anak bapak pulang dengan tenang"
Semoga Sekar tenang disana. Valeria tidak akan berhenti berdoa untuk wanita yang sudah ia anggap sebagai malaikat pelindung baginya.