Nayya
Pagi ini Nayaa terlihat sangat sibuk di dapur rumahnya lantaran banyaknya pesanan kue yang harus segera ia antarkan.
Tangannya dengan cekatan menghias kue-kue yang baru saja dikeluarkan dari oven.
Sesekali punggung tangannya mengusap keringat yang menetes.
Setelah semuanya selesai, dia menaruh pesanan kue yang tidak sedikit itu ke dalam wadah untuk ia antarkan kepada Bu Rena.
Perjalanan menuju rumah Bu Rena yang lumayan jauh membuatnya merutuk dalam hati.
Musim kemarau ini membuatnya lagi-lagi mengeluh karena cuaca yang sangat panas dan jalanan yang berdebu.
Terlebih dia tidak memakai helm untuk melindungi wajah dan matanya dari debu-debu itu.
Di tengah perjalanan, handphone di sakunya bergetar menandakan adanya panggilan.
Nayya pun memberhentikan sepeda motornya di pinggir jalan untuk mengangkat panggilan itu.
“Halo”, ujar Nayya setelah mengangkat teleponnya.
“Halo, Nayya. Ini saya Bu Rena yang memesan kue kemarin”, sahut Bu Rena di seberang.
“Ada apa Bu?”
“Maaf Nayya, teman-teman saya tidak jadi datang. Jadi pesanan kuenya saya batalkan saja ya”.
“Tapi Bu–“. Naya ingin melayangkan protesnya, namun panggilan itu telah terputus.
Naya ingin sekali berteriak saat itu juga.
Tenaganya sudah terkuras untuk membuat pesanan itu, dia bahkan rela bangun sangat pagi agar tidak terlambat mengantar.
Tapi apa yang dia dapat? Kerja kerasnya bahkan tidak dihargai sama sekali.
Nayya pun memutuskan untuk istirahat sebentar saat melihat bangku panjang di bawah pohon akasia.
Nayya menyandarkan kepala dan memejamkan mata sejenak, merenungi nasibnya yang hari ini terasa sial sekali.
Matanya perlahan terbuka kala mendengar suara isakan tangis anak kecil.
Diedarkan pandangannya ke sekeliling.
Nayya mendapati seorang ibu tukang sampah sedang menenangkan anaknya yang menangis kelaparan.
Dilihatnya sang ibu yang terlihat kelelahan dengan peluh bercucuran.
Bekerja keras di bawah terik mentari untuk menghidupi seorang anak.
Hatinya terenyuh melihat pemandangan itu.
Mengingkatkan dirinya yang masih sering mengeluh hanya karena hal-hal remeh yang tidak sebanding dengan penderitaan mereka.
Seharusnya ia bersyukur atas apa yang ia dapatkan.
Ia masih menjadi satu dari sekian banyak orang beruntung yang masih bisa merasakan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, juga memakan makanan yang enak.
Tidak seperti ibu dan anak itu yang harus meringkuk di pinggir jalan atau memakan sisa-sisa makanan yang mereka temui di tempat sampah.
Kaki Naya melangkah menghampiri ibu dan anak itu.
“Selamat pagi, Bu”, sapa Nayya sambil tersenyum.
Ibu itu membalas senyum Nayya.
“Pagi, Nak”.
Nayya menyodorkan wadah berisi kue-kue pesanan Bu Rena pada ibu itu.
“Ini untuk ibu dan anak ibu”.
Tangan kurus ibu itu terulur mengambil kue-kue itu.
“Terima kasih banyak Nak. Terima kasih”. Ucap ibu itu sambil menyalami tangan Nayya dan membungkukkan badannya berkali-kali.
Terkadang kita mengeluh dan menyalahkan takdir atas apa yang menimpa kita hari ini, tanpa menyadari bahwa apa yang kita miliki belum tentu dimiliki orang lain.
Ibu dan anak itu mengajarkan banyak hal pada Nayya.
Tentang kepedulian, kemanusiaan dan rasa syukur yang seringkali ia lupakan.
Manusia memang selalu tak pernah bersyukur, pdhl nafas saja, melihat, mendengar, berbicara. Seharusnya bersyukur, bkn nya iri ataupun dengki. manusia yang sempurna itu bnyk, tp hati mana tau, hanya Allah bkn kita.