Langit yang amat gelap, memunculkan titik-titik terang yang ada di dalamnya. Hawa yang begitu dingin disertai ketenangan kala itu. Malam yang di idamkan oleh seorang gadis bernama Jenifer. Dari atap rumahnya, ia melihat bintang-bintang tengah bersinar di dalam gelapnya langit malam. Dengan mengenakan jaket hoodie serta celana panjang, ia berupaya melawan dinginnya malam dengan pakaian tersebut. Melihat pemandangan sekitar serta langit yang ada di atasnya. Jenifer merasa begitu senang. Ia menyukai malam sudah sedari lama. Semenjak dirinya belajar mengenai bintang di salah satu buku pelajarannya. Ia berbaring sambil memejamkan mata sejenak sembari menikmati suasana.
Beberapa waktu berselang, terdengar suara gaduh. Hal itu membuatnya terkejut dan segera melihat apa yang terjadi di bawah. Dijalanan depan rumahnya, terdapat seseorang yang sedang membawa banyak barang bawaan. Dan posisi orang itu tengah tertunduk sebab kelelahan. Jenifer yang melihat hal tersebut, langsung datang menghampiri sekaligus membantunya.
Jenifer tiba di hadapannya lalu menawarkan bantuan.
"Kamu tidak apa-apa?"
Tanya Jenifer.
Orang itu hanya menggelengkan kepala. Dan dia lanjut berjalan. Namun, tak berapa lama berselang ia pun terjatuh.
Jenifer lantas bergegas membantunya dengan membawanya masuk ke dalam rumah.
Barang bawaan orang itu sudah diletakkannya di sudut ruang tamu. Dan orang asing itu tengah duduk lesu di kursi sofa.
Segelas teh hangat di siapkan oleh Jenifer untuknya. Lalu orang itu pun meminumnya sedikit demi sedikit. Lanjut Jenifer menanyakan perihal tentang orang asing tersebut yang hendak pergi kemana.
"Aku hanya ingin pergi ke stasiun malam ini."
Mendengar itu, Jenifer langsung melihat jam yang ada di dinding.
"Aku rasa kamu sudah terlambat. Sebab tidak ada keberangkatan jam segini."
Orang asing itu hanya mengangguk seolah mengiyakan perkataan dari Jenifer.
Jenifer lanjut bertanya.
"Lalu bila tidak ada kereta, kamu ngapaian pergi ke stasiun jam segini?"
"Aku hanya ingin menginap kalau begitu disana. Agar aku tidak ketinggalan kereta esok."
Kata orang tersebut.
Merasa iba setelah mendengarnya, Jenifer berkata untuk menyuruhnya menginap dirumahnya malam ini saja. Orang itu langsung menerima tawaran itu.
Jenifer menujukkan tempat dimana orang itu akan tidur malam ini. Setelah itu Jenifer izin untuk meninggalkannya di ruangan tersebut.
Ia berjalan menuju atap dan kembali ke momen awal. Kembali dirinya menatap langit sembari membayangkan bintang-bintang yang ada dalam bentuk suatu rasi bintang tertentu.
Tak berapa lama, terdengar suara gerak gerik mendekat. Jenifer langsung terduduk dan melihat kebelakang. Ternyata orang asing itu datang menghampirinya.
"Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu ingin tidur tadi?"
Tanya Jenifer.
"Aku tidak bisa tidur. Jadi aku kesini saja. Maaf telah membuatmu terkejut."
Kata orang asing itu.
"Huft. Tidak apa. Mau beesantai disini?"
Ajak Jenifer.
"Ya."
Mereka pun kini berduaan diatas atap sambil menatap bintang yang ada di langit.
"Sebelumnya kita belum berkenalan. Namaku Ian. Kalau kamu?"
"Namaku Jenifer. Salam kenal."
Jawab Jenifer.
Kemudian mereka pun membahas hal satu sama lain. Malam semakin dingin seiring waktu berjalan.
Bintang-bintang masih bersinar di atas dengan indahnya. Di sela menikmati suasana, muncul pertanyaan dari Ian.
"Kamu suka melihat bintang setiap malamnya?"
"Iya. Aku suka bintang. Mereka begitu indah."
Jawab Jenifer.
"Apa hal yang membuatmu menyukai mereka?"
Lanjut Ian.
"Aku belajar mengenai bintang di salah satu buku pelajaranku. Dan saat itu pula aku menyukainya. Tapi sayangnya tidak setiap malam mereka ada di langit. Jadi ini momen yang aku nanti dan tentu saja aku menyukainya."
"Jadi begitu ya. Bagaimana dengan rasi bintang?"
Tanya Ian.
"Rasi bintang? Membentu sebuah pola dari bintang yang tampak berdekatan itu kan?"
Kata Jenifer
"Iya."
Jawab Ian yang sekaligus mengajaknya bermain rasi bintang.
Melihat bintang yang ada di langit nan luas. Mereka berdua berusaha mencari rasi bintang yang cocok sesuai dengan ikon suatu zodiak.
Cukup sulit, namun beberapa telah ditemukan. Hal itu membuat Jenifer semakin senang dan keberadaan Ian menghidupkan suasana meskipun sudah tenang sedari awal.
Keasikan itu berlangsung hingga malam begitu larut dan akhirnya Jenifer dan Ian menyudahi kegiatan tersebut.
"Rasi bintang begitu indah ya."
Kata Jenifer.
"Iya. Kamu lebih tahu banyak mengenai itu dibanding aku. Kamu hebat."
Ucap Ian sembari memujinya.
"Kamu hebat juga. Bahkan kamu menemukan hal yang sulit aku temukan tadi."
Balas Jenifer.
Mereka berdua memandang satu sama lain dan tertawa bersama.
Esok harinya, Jenifer berdiri di depan pintu rumahnya. Ia melihat seorang Ian yang sudah bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum melangkah keluar rumah, Ian menghampiri gadis itu sejenak.
"Terimakasih atas perbuatan baikmu pada diriku."
Ucap Ian.
"Ya. Kamu juga demikian. Dan Hati-hati dalam perjalananmu nanti."
Balas Jenifer.
"Iya. Dan aku juga berharap dirimu bisa mempelajari astrologi lebih dalam lagi. Agar ilmu yang kamu miliki dapat bertambah pesat."
Ian memberi sebuah buku miliknya. Dan melambaikan tangan pertanda salam perpisahan.
Jenifer memegang buku itu dengan kedua tangannya. Sebuah buku yang menjadi incarannya selama ini. Melihat itu, dirinya ingin membalas dengan sesuatu pula. Gadis itu masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu dan pergi menghampiri Ian yang sudah berjalan keluar.
Jenifer berteriak memanggil Ian. Lelaki itu menoleh ke arah Jenifer yang ada di belakangnya.
"Ada apa Jenifer?"
Tanya Ian kebingungan.
"Aku tidak mungkin membiarkan orang baik ini memberikanku sesuatu yang berharga, Sementara aku tidak melakukan hal yang sama pula. Jadi ini adalah hadiah pemberianku. Ini adalah buatan tanganku sendiri. Mungkin bisa jadi pengingat akan seorang gadis sepertiku."
Ian menerimanya dan berterima kasih pada Jenifer. Lalu mereka kembali berpisah.
Senyuman terukir di wajah Jenifer. Begitu pula dengan Ian yang pergi menjauh.
"Aku akan mengingatmu wahai gadis bintang."
Sebuah gantungan kunci buatan tangan gadis itu di genggam kuat oleh Ian.
-----SELESAI-----