Ajeng Maharani, mahasiswa jurusan kedokteran yang sebentar lagi akan lulus dan mendapat gelar dokter yang sangat dia inginkan.
Usahanya kini tidak sia-sia akhirnya dia lulus, walau tidak dengan nilai yang bagus tapi dia cukup puas dengan apa yang didapatnya.
Setelah lulus, Ajeng melamar ke beberapa rumah sakit namun tidak mendapat panggilan. Memang kecewa namun apa lagi yang harus dia lakukan selain pasrah menerima nasibnya. karna dia sadar tidak semudah itu mendapatkan sebuah pekerjaan dijaman sekarang ini.
Ajeng memiliki seorang kekasih bernama Rangga. Seorang kariyawan disebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan. Hubungan mereka baik-baik saja sampai ketika Rangga sibuk dengan pekerjaan nya dan jarang memiliki waktu untuk Ajeng. Awalnya Ajeng memaklumi, namun lama-lama Ajeng merasa tidak diperhatikan lagi. Mungkin karena Ajeng tidak ada kegiatan jadi dia merasa hari-harinya begitu lama.
Suatu hari Ajeng mendapat surat pemberitahuan kalau dia diperkerjakan oleh pemerintah kesebuah daerah. Desa Toldo di Sulawesi Selatan. Sebuah desa yang sangat terpencil. letaknya yang jauh dari perkotaan membuat desa ini jarang memiliki layanan medis dan sebagainya.
" Apa kamu akan mengambilnya?" tanya Rangga
" Hemm..."
" Jadi kapan kamu berangkat? Rangga menatap sendu Ajeng yang duduk didepannya.
" Minggu depan."
" Jadi bagaimana dengan hubungan kita?"
Ajeng menatap Rangga yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Tidak tahu apa yang dirasakan Rangga saat ini tapi wajahnya terlihat sangat sedih.
" Bagaimana maksudnya?"
" Jadi aku serahkan semuanya kepadamu, menungguku atau meninggalkan aku." kata Ajeng lirih.
Sejenak Rangga menatap Ajeng. Dia mencari-cari seseriusan dalam kata-kata yang dikeluarkan Ajeng.
" Aku berharap kita masih bisa mempertahankan hubungan kita." kata Rangga sambil menggenggam tangan Ajeng.
Ajeng tersenyum, sebenarnya itu juga lah yang diharapkan oleh Ajeng. Sebenarnya dia juga sedih harus berpisah dengan Rangga. tapi demi karirnya dia rela berjauhan dengan Rangga, berharap ini adalah titik awal untuk karirnya.
Seminggu kemudian, Ajeng sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Sulawesi. Tidak banyak barang yang dia bawa hanya surat-surat yang diperlukan dan barang-barang yang menurutnya penting.
Rangga mengantar Ajeng kebandara. Terlihat raut sedih diwajah Ajeng. Dia berusaha menahan air matanya dengan senyuman di bibir tipisnya.
" Kamu hati-hati disana." kata Rangga
" Hemm..."
" Ingat pesanku... jangan lupa, sering-sering kasih kabar sama aku." pesan Rangga
Ajeng melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkan Rangga. Sambil menghela nafas panjang Ajeng berjalan dengan sangat yakin, berharap ini adalah langkah awalnya untuk masa depan yang dia inginkan.
Sampai di Sulawesi, Ajeng harus pergi ke desa Toldo yang berada di sisi paling selatan pulau Sulawesi. semakin dekat dia dengan desa tersebut tapi Ajeng merasa semakin takut. Daerah ini masih sangat terpencil, bahkan untuk menuju desa tersebut dia harus naik motor karna hanya ada jalan setapak menuju ke sana. Untung saja ada salah seorang warga yang sudah menunggu.
" Dokter Ajeng ya?" tanya salah seorang warga.
" Iya... siapa ya?
" Saya Bimo, disuruh oleh bapak kepala desa untuk menjemput dokter."
" Oh... dari desa Toldo ya?
Ajeng langsung naik dibelakang motor, dia sudah tidak sabar sampai di desa Toldo agar dia segera beristirahat rasanya seluruh badannya pegal-pegal semua.
Jarak yang begitu jauh membuat Ajeng merasa sedikit cemas. Dilihatnya hanya pohon dan semak-semak saja dari tadi. Dia terus menatap kedepan berharap jalan ini segera berujung dengan sebuah permukiman.
" Masih jauh kah mas?" tanya Ajeng cemas
" Tidak dok... sebentar lagi juga sampai."
Sebentar tapi rasanya lama sekali Ajeng tidak kunjung melihat desa atau pun rumah diujung hutan ini.
Tiba-tiba motor berhenti.
" Sudah sampai ya mas?" tanya Ajeng penasaran dia melihat ke sekeliling tapi hanya pohon dan semak.
" Dimana desanya?" Ajeng kembali bertanya kepada Bimo
" Maaf dok... kita belum sampai. motor mogok." kata Bimo
" Hah... disini... jadi gimana? Ajeng terlihat cemas karna hari makin gelap dan dia masih berada di hutan.
" Kita jalan kaki saja ya dok... sudah tidak jauh kok." Bimo menunjuk kesebuah tempat dimana desa Toldo berada.
Ajeng hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Bimo didepannya. untung saja dia tidak membawa banyak barang. Setelah sekitar 30 menit jalan kaki akhirnya mereka sampai di desa Toldo. Kepala desa dan beberapa orang sudah menunggu kedatangan Ajeng disana. Wajah ramah para warga desa membuat semua kelelahan Ajeng hilang. apalagi senyuman manis para anak-anak yang dengan senang menyambut kedatangan Ajeng.
Diantarnya Ajeng kesebuah pandok. Rumah sederhana yang sudah disiapkan warga untuk balai pengobatan. Hanya rumah sederhana tapi Ajeng merasa rumah yang begitu indah karena disana adalah titik awal masa depannya.
Ajeng berkeliling. beberapa peralatan medis sudah tertata rapi disana. Ajeng merasa dirinya telah menjadi dokter yang sesungguhnya.
Sebenarnya dia tidak sendiri disini ada satu lagi dokter yang lebih dulu bekerja disini.
Tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Ajeng melihat keluar ada awan hitam berkumpul didepannya dengan disertai angin yang sangat kencang.
Berlari seorang pria yang menutupi kepalanya dengan tas ransel menuju kearahnya. Ajeng bertanya-tanya siapa pria itu hingga akhirnya pria itu menabrak dirinya.
" Oh maaf... aku tidak sengaja."
" Iya tidak apa-apa. Anda siapa? tanya Ajeng ambil berdiri dan membersihkan dirinya.
" Oh hallo... nama ku Niko, saya dokter disini. kamu Ajeng ya... dokter baru itu?
" Kok tau?
" Masuk dulu, hujan sangat lebat."
Ajeng dan Niko berbincang-bincang dan saling memperkenalkan diri. terdengar suara tawa dari keduanya. Tidak terasa hari sudah malam. Ajeng harus kembali ke pondok tempat tinggal yang disiapkan warga untuk beristirahat. tapi hujan masih begitu lebat, tidak memungkinkan untuk dia keluar.
" Istirahat disini aja dulu." kata Niko
Ajeng beristirah disebuah kamar. Dia sangat lelah hari ini dan tanpa dia sadari dia sudah terlelap begitu saja disana. Hingga matahari pagi menyinari wajahnya yang membuat dia terbangun. Ajeng membuka mata dan berjalan menuju jendela. Matanya terbuka lebar dan senyumnya terpancar melihat pemandangan yang ada didepannya. Dia sangat takjub dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini. pemandangan indah dengan matahari yang terbit menyinari tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang tertanam rapi diantara rumah-rumah warga.
" Sudah bangun... yuk sini kita senam sama-sama." kata Niko dan beberapa warga yang telah bersiap senam dihalaman pondok yang luar.
Ajeng mencuci wajahnya dan bergegas keluar bergabung dengan warga yang terdengar tawa bahagia dari mereka yang kebanyakan anak-anak itu. Niko yang memimpin senam sangat ramah kepada warga disana.
Kehidupan Ajeng disini dimulai sekarang. Dia berbaur dengan warga Toldo dan mulai menjalankan tugasnya sebagai dokter disana membatu dokter Niko yang posisinya sebagai senior disini.
Hari berganti hari, Ajeng mulai terbiasa dengan tugasnya disini. Dia juga mulai dekat dengan warga desa dan mengenal mereka. Tidak banyak yang harus dia lakukan disini karena warga desa Toldo adalah warga yang sehat jarang sekali ada warga yang sakit, itu membuat pekerjaan Ajeng dan Niko sedikit lebih mudah.
Kadang setelah selesai bekerja Ajeng dan Niko menghabiskan waktu mereka dengan duduk-duduk didepan pondok sambil bermain gitar. Niko sangat pandai bermain gitar dan suaranya juga sangat bagus. Tidak hanya Ajeng, anak-anak disana juga senang mendengar Niko bermain gitar. Pondok setiap hari tidak sepi karena kehadiran mereka.
Suatu hari Ajeng baru saja membersihkan dirinya dan bersiap untuk beristirahat. Tiba-tiba suara keteukan pintu terdengar diikuti suara Bimo yang memanggil-manggil namanya. Ajeng bergegas keluar menemui Bimo.
" Ada apa Bimo?"
" Anu... dokter... dokter Niko... " suara Bimo yang terputus-putus nafasnya tersengal karena berlari menuju rumah Ajeng.
" Kenapa dokter Niko?
" Dia terluka..."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ajeng berlari kerumah Niko. Ada beberapa orang disana. Ajeng langsung masuk dan melihat Niko yang duduk dan memegang tangannya yang berlumuran darah.
" Ada apa... apa yang terjadi? tanya Ajeng
" Hanya luka kecil." kata Niko
" Luka kecil tapi darah begitu banyak." gerutu Ajeng sambil mengambil peralatan medis dan mulai membersihkan luka ditangan Niko.
Salah seorang warga menceritakan kalau Niko terluka karena membantunya memperbaiki genting, tiba-tiba tangganya patah dan dia terjatuh, dan sebuah paku menggores tangannya.
" Sudah tidak apa-apa... Hanya luka kecil, kalian jangan khawatir lagi, pulanglah dan beristirahatlah." kata Niko menenangkan warga.
" Luka kecil... tapi mendapat 8 jahitan." kata Ajeng yang terdengar judes sambil merapikan peralatan medisnya.
Niko tersenyum, satu persatu warga kembali kerumahnya. Mereka tenang melihat Niko baik-baik saja sekarang. Tapi tidak dengan Ajeng, dia masih disana melihat Niko dengan khawatir.
" Aku baik-baik saja." kata Niko sambil tersenyum melihat Ajeng yang terlihat masih sangat cemas.
Ajeng menghela nafas panjang, dia beranjak ke dapur dan membuat teh untuk Niko. Setelah meletakkan Teh di samping tempat tidur Niko, Ajeng pamit pulang.
" Aku pulang dulu ya."
" Kamu mau pulang?" tanya Niko sambil menahan tangan Ajeng.
" Kamu mau aku disini?"
" Kalau kamu mau?"
" Kamu gila, bagaimana pikiran para warga nanti?
" Emmm... aku tidak bisa mengantarmu, hari sudah malam. aku khawatir. apa sebaiknya kamu menginap disini saja."
" Apa yang dikhawatirkan... aku pulang dulu, besok pagi aku datang lagi."
Niko melepaskan tangannya, dan Ajeng mulai berjalan meninggalkan Niko yang masih menatapnya dengan rasa khawatir.
" Jangan khawatir aku baik-baik saja." kata Ajeng sebelum menutup pintu kamar dan tersenyum manis kepada Niko.
Seperti kata Ajeng, pagi-pagi sekali Ajeng sudah sampai dirumah Niko. perlahan dia mengetuk pintu dan melihat Niko sudah bangun dan sedang duduk sambil menikmati kopi ditangannya.
" Selamat pagi... apa kamu baik-baik saja?
" iya... apa kamu baik-baik saja?
" Apa yang bisa terjadi kepadaku? kata Ajeng dengan bangganya
" Tadi malam... kamu...
belum menyelesaikan kalimatnya Ajeng memotongnya
" Aku baik-baik saja... selamat sampai rumah. dan tidur dengan nyenyak."
Setiap hari Ajeng datang kerumah Niko, membersihan luka dan menganti perban. Dan berbicang menghabiskan waktu bersama. Mereka semakin dekat hari ke hari.
Suatu hari Ajeng tidak datang kerumah Niko, dengan cemas Niko terus menatap keluar.
Hingga siang pun sudah berganti dengan malam, hari ini Ajeng tidak datang menemui Niko. pikiran Niko entah kemana dia sangat cemas. jangan-jangan terjadi sesuatu kepada Ajeng.
Niko mengambil jaket dan pergi kerumah Ajeng. lampu masih padam, tidak ada tanda-tanda kalau Ajeng ada dirumah. Niko terlihat semakin cemas. hingga akhirnya dia melihat Ajeng berjalan menuju kearahnya. Niko berlari dan memeluk Ajeng.
" Aku pikir hal buruk terjadi kepadamu. kamu dari mana saja?" kata Niko
" Aku kekota dengan Bimo mengambil persediaan obat-obatan." kata Ajeng.
Perlahan Niko melepaskan pelukannya. Rasa canggung terlihat dari keduanya.
Ajeng berjalan dan duduk di teras disusul dengan Niko yang duduk disampingnya.
" Jadi... apa tanganmu sudah baik-baik saja." tanya Ajeng berusaha mencairkan suasana.
" hemm... kenapa kemarin tidak bilang kalau mau mengambil obat-obatan?"
" bukannya setiap tangan 10 harus mengambil obat-obatan ya" kata Ajeng sambil tersenyum
" Aku buatkan teh..."
Tidak lama Ajeng keluar dengan dua gelas teh ditangannya. Setelah memberikan satu gelas kepada Niko. Ajeng kembali duduk dan menyeruput teh ditangannya.
" Ada yang ingin aku katakan kepadamu." kata Niko dengan nada ragu.
" Ada apa...." Ajeng menatap Niko yang menundukkan kepalanya, terlihat jelas keraguan diwajah Niko.
" Sepertinya aku... aku ada rasa sama kamu. aku nyaman berada disampingmu. Dengarkan aku... kamu tidak harus membalas rasa aku... aku hanya ingin kamu tahu aku suka sama kamu." kata Niko
Ajeng terlihat hanya diam sambil menatap Niko yang duduk disampingnya.
" Ya sudah kamu istirahat... aku pulang dulu." kata Niko sambil beranjak dan pergi.
Ajeng hanya diam melihat senyuman Niko sebelum dia pergi meninggalkannya. Tak lama setelah itu air mata Ajeng menetes. Dia pun merasakan hal yang sama. Ada rasa yang diam-diam tumbuh dihatinya. Tapi dia terus menekan rasa itu karena ada hati yang harus dijaga disana. Ya hati Rangga yang saat ini masih berstatus kekasihnya. Tapi tidak dipungkiri kalau Ajeng sudah merasa nyaman bersama Niko disini.
***Selesai***