" Kau hanyalah anak yang tidak berguna!" wanita separuh baya sekaligus menjadi pengganti dari ibuku yang telah pergi memarahiku setiap hari dan setiap saat.
Tak hanya itu saja, dia juga sering menamparku dan memukuli diriku habis-habisan seperti pengembala yang memukuli hewan ternaknya.
Disekolah, aku adalah murid yang pendiam nan bodoh. Tak ada seorangpun yang mau berteman denganku bahkan kucing yang sedang lewat di depanku langsung berlari terbirit-birit karena enggan menatapku.
Aku sering terkena cemoohan, teguran, dan hukuman dari guru tanpa sebab. Orang-orang disekolah sering sekali membullyku dan selalu menjadikanku sebagai pelampiasan kekesalan mereka.
"Rudi.... Rudi, hidupmu sungguh sangat payah! di dunia ini kaulah satu-satunya sampah yang tidak bisa di daur ulang." Ujar Gabi lelaki yang ditakuti di sekolah berdiri sambil mengeluarkan air seni dari sumbernya mengenai kepalaku yang tengah berjongkok dihadapannya.
"Kasihan, baru umur enam belas tahun sudah terkena mental." Kata Indra lelaki yang saat ini ikut andil membully diriku.
Saat mereka telah puas dengan Bullyan mereka terhadapku, kemudian Gabi langsung menendang ku hingga aku terpental menabrak pintu kamar mandi. Lalu mereka pergi meninggalkanku dan aku ditinggal disitu sendiri sambil merasakan kesakitan yang teramat sangat.
Bel pulang telah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, aku membersihkan tubuhku di kamar mandi sekolah dan mulai beranjak pulang. Aku pulang lebih akhir dan para murid yang lain, hanya petugas kebersihan yang berada disitu.
Aku pulang dengan berjalan kaki dan saat aku tengah berjalan, terlihat sebuah ponsel bagus tergeletak di bahu jalan. Tak pikir panjang aku langsung memasukkannya kedalam tas.
Akhirnya sampai pun di rumah, aku membuka pintu dan ibu yang sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok mendengar suaraku langsung segera menghampiriku.
plakk...
Sambutan sangat tidak enak harusnya hati rindu kini malah berubah menjadi pilu. Tangan kanan dari sang ibu tiri berayun dan mendarat tepat pada pipi sebelah kiri ku.
Bukan hanya tamparan keras yang diberikan, sebuah benda yang lebih tajam daripada pedang menyayat hatiku sampai terpotong-potong bagaikan ayam potong.
Entah mengapa hidupku begini dari kecil hingga beranjak dewasa selalu begini. Andai saja waktu bisa berputar kembali semuanya tak akan menjadi seperti ini.
Aku lalu merebahkan tubuh dalam posisi tengkurap diatas kasurku. Kamarku sekarang berada di sebuah ruangan kecil yang dulunya adalah bekas gudang dikarenakan kamarku yang pernah ku singgahi sudah menjadi milik adik tiri ku.
Setiap malam aku selalu menangis meratapi kesedihanku dan aku selalu menyalahi kehidupanku saat ini.
"Mengapa aku terlahir di dunia ini?! Lebih baik aku mati daripada merasakan sakit yang tiada habisnya." Aku selalu mengucapkan kata-kata itu setiap malam, namun saat aku berniat untuk bunuh diri aku selalu berfikir dua kali.
"Mulai sekarang, aku takkan ragu lagi. Tekadku sudah bulat dan detik ini pun aku akan lari dari kehidupan fana ini."
Aku mencari-cari barang yang sekiranya tajam sambil berfikir jikalau aku mati aku akan bersyukur karena aku bisa lari dari kehidupan yang tak bisa kubayangkan.
Setelah sekian lama mencari akhirnya aku mendapatkan potongan pisau kecil yang sudah berkarat. Aku mulai menempelkan pada tangan kiri ku dan aku sembari mengeluarkan air mata.
Disaat aku akan mengiris tanganku tiba-tiba terdengar suara bunyi sebuah ponsel. Awalnya aku menghiraukannya namun aku langsung teringat kalau tadi aku mendapatkan sebuah ponsel yang sangat bagus di bahu jalan saat pulang tadi.
Aku lalu meletakkan pisau itu diatas meja dan segera merogoh tas milikku. Saat sudah kupegang ponsel itu terlihat sebuah pesan yang bertuliskan:
Dilanjukan di chapter kedua... thanks!!!