No : 10 ( Amanda Dallena)
Hai teman-teman, namaku Amanda Dallena...
Panggil aja Amanda, dan ini adalah Rosement! ( Royal Secret Apartment) ini adalah Apartemen yang di pimpin langsung oleh Raja kerajaan Carna, kerajaan tempat aku tinggal, Apartemen ini malah lebih mirip asrama sih... setiap hari selalu saja ada yang baru
"Ng? kenapa itu ramai-ramai?" gumam Amanda saat dia ke dapur.
"Pagi Pak Vandro,.. ini ada apa ya?" tanya Amanda.
No 2 : Vandro
"Oh! Amanda? apakah kau lihat ada yang aneh pada Rahmat?" tanya Vandro.
"Ng? kak Rahmat? ngga kok Pak" kata Amanda.
No : 8 ( Sovian / Vian )
"Rahmat ngga bangunin aku tadi pagi saat aku di wall, bahkan aku sampai di gigit nyamuk" ujar Vian sambil memperlihatkan Wajah dan lengan tangannya yang bentol-bentol merah di gigit nyamuk.
No : 6 ( Randi Pramudya )
"Bahkan saat aku pulang bekerja setelah meriksa pasien dia juga ngga nyambut, bahkan tidak membuatkan ku susu hangat seperti biasa" kata Randi.
No : 3 ( Vanora )
"Bahkan Rahmat tidak menghiraukan sapaan ku, biasanya kan di sapa kayak di pepet gitu deh" kata Vanora membayangkan hal romansa.
"Tolong bedakan yang mana ilusi, dan mana yang kenyataan" kata Vandro.
Vanora langsung meringkus Vandro.
"Terkadang kalian mirip seperti orang yang memperebutkan Rahmat" kata Randi.
"Bahkan Pak Andi aja sampai sedih" kata Randi.
"Oh ya, apakah Kak Rahmat ngga pernah tersenyum? wajahnya selalu datar" kata Amanda.
"Dia emang gitu... tapi bukan berarti dia marah atau bagaimana, itu emang kebiasaannya" kata Vandro.
BAK!
No : 9 ( ??? )
"Apakah kamu yakin? Andlo?" tanya sembilan yang mendorong Vandro.
"Eh? kak Sembilan?" tanya Amanda.
"Jangan sampai Mat-Mat berpura-pura baik, padahal capek karena mengurus kalian semua, bagaimana?" tanya Sembilan menakut-nakuti mereka kecuali Amanda.
"Berisik!! siapa yang terakhir kali ngerepotin Rahmat!!? kau kan yang ngerusak gerbang!?" tanya Randi.
"Gulung dia!" kata Vian yang ikut dengan Randi meringkus Sembilan.
No : 5 ( Nera )
"Yey! baku hantam!" kata Nera yang melihat mereka.
"Kak Sembilan!" ujar Amanda dan langsung mendekati Sembilan yang diikat kresek sampah.
"Tolong ya Manda" kata Sembilan.
"Hei! berani buka awas aja!" kata Vian.
"Sebaiknya kita tunggu.. apakah Rahmat akan membuatkan makan siang untuk kita atau tidak" kata Vandro.
Siang harinya...
Note : Kalian makan siang di luar saja atau pesan online
-Rahmat
"Hayo loh... Mat-Mat Marah" kata Sembilan menggoda Vandro yang melihat Note Rahmat.
Keesokan harinya...
"Duh, aku ke Kak Nera dulu deh" gumam Amanda.
"Ng? kak Rahmat?" tanya Amanda, Rahmat yang mendengar nya langsung pergi dari situ.
"Eh!? reaksinya... kak Rahmat marah kah?" pikir Amanda.
Akhirnya Amanda memutuskan untuk ke dapur.
"Eh? Rahmat marah!? ngga mungkin" kata Vandro.
"Bener! Rahmat bukan orang yang gampang marah! kalau lihat yang bener!" kata Vian.
"Em.. soalnya kayak pengen pergi cepat gitu saat aku nyapa.. aku mungkin salah lihat? tapi kayaknya ngga mungkin" kata Amanda.
"Kalau gitu gimana kalau... " Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusun rencana.
Keesokan harinya.
"Ng.. sudah mendingan sih.. tapi masih agak sakit" gumam Rahmat sambil memegang lehernya.
"Lho!? Mat-Mat mau ngapain? Wa!!!" Sembilan jatuh karena air yang tergenang di dapur.
Gubrak!!
"Eh!? Sembilan!? kau baik-baik saja kan?" tanya Rahmat.
Blup! blup!
"Sini.. ku bantu" kata Rahmat sambil mengangkat tangan sembilan, tapi malah dia juga ikutan jatuh.
Gubrak!
Akhirnya Rahmat memutuskan untuk membawa sembilan ke Randi dan pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Fyuh... syukurlah sembilan baik-baik saja, saatnya siram tanaman di halaman" gumam Rahmat.
Byur!!! Tiba-tiba Rahmat tersiram air entah darimana.
"Wah!!! Rahmat!! maaf! aku ngga sengaja! aku ngga tau kalau kau ada di sini!" kata Vanora.
"Maaf ya! aku benar-benar merasa bersalah-... Uwou!!!!" Tiba-tiba pemandangan Rahmat yang tersiram air membuat Rahmat menjadi cogan ( Cowok Ganteng ) dan membuat Vanora terpesona.
"A... Apa?" tanya Rahmat.
"Duh! ngga jadi merasa bersalah deh" batin Vanora.
"Rahmat~~ sini ku keringin" kata Vanora.
"Ngga.. makasih" kata Rahmat dan langsung menjauh.
"Hei! mau kemana?"
Yah? Rahmat pergi lagi ke kamarnya untuk mengganti pakaian lagi.
"Ke Dapur dulu deh.. siapin makanan" kata Rahmat.
No : 4 ( Toni )
"Rahmat mau ke dapur ya?"
"Sini! kami antar!" kata Nera langsung di susuk Toni mengangkat Rahmat sambil berlari.
"Mat-Mat! makasih udah tolongin... eh!? kayaknya seru! saya kau ikutan!" kata Sembilan.
"Heh!!? jangan!" kata Nera yang pandangan depan tak di perhatikan dan jatuh, yah? Rahmat juga ikut jatuh sampai mimisan.
Drap! Drap! Rahmat berlari.
"Ya Ampun... Nera membawa ku jauh dari dapur, ada apa dengan mereka?" batin Rahmat.
"Rahmat! mau ke dapur ya?" tanya Vian yang mengejarnya.
"Jangan mengganggu.. aku mau menyiapkan makan siang" kata Rahmat.
Pip! Vian menekan tombol dan Rahmat terkunci di penjara otomatis.
JRANG!
"Yes! Rahmat kena!" kata Vian.
Beberapa menit kemudian...
"Apakah aku sedang di bully? karena aku ngga bikin makan siang kemarin?" pikir Rahmat.
"Ngga mungkin, aku ngga boleh berprasangka buruk dulu.. kemarin aku sudah menulis note buat mereka kok" pikir Rahmat lagi.
"Kak Rahmat! Vian!" panggil Amanda.
"Amanda!" batin Rahmat.
"Kak Rah-... Eh!!? kak Rahmat!!? Vian! kok Kak Rahmat kau kurung!?" tanya Amanda.
"Berisik! aku ngga punya pilihan kan?" tanya Vian sambil membuka sel penjara otomatis.
"Kak Rahmat... ayo!" kata Amanda.
"Ng?"
"Sudah di tunggu yang lain... ayo!" kata Amanda di susul Vian yang tersenyum.
Di dapur...
"Ta-da!"
"Yo! Rahmat! ini buat mu! kami sendiri lho yang buat! yah... meski sebagian besar semua makanan ini Amanda yang buat sih" kata Vandro.
"Yang penting.. makasih udah mau mengurus kami selama ini" kata Randi.
"Kalian... "
"Ayo!!" Batin semuanya.
"Senyum!!" batin semuanya lagi kecuali Rahmat.
"Makasih" kata Rahmat dengan reaksi datar.
"Yah! kita gagal" kata mereka.
Rahmat : ?
Akhirnya Vandro dan Randi mencoba menjelaskan semuanya.
"Oh.. jadi gitu?" tanya Rahmat yang mengerti.
"Iya.. maaf karena kami merepotkan mu ya" kata Vandro.
"Saya tadi pengen nolongin, Mat-Mat" kata Sembilan.
"Aku minta maaf ya Rahmat... aku benar-benar ngga sengaja" kata Vanora.
"Aku ikut-ikutan karena kau memberiku makan" kata Toni dingin.
"Aku ngga apa-apa kok... aku tulus membantu kalian, karena kalian semua sudah aku anggap keluargaku" kata Rahmat yang reaksinya datar tapi membuat semua terharu.
"Rahmat!!" kata Vandro, Randi, Vian sambil memeluk Rahmat.
"Aku juga pengen peyuk!" kata Vanora tapi di tahan Vandro.
"Em... terus kenapa kamu marah?" tanya Vandro.
"Ng? oh.. yang saat aku ngga buat makan siang kemaren? karena aku flu.. takut ntar bersin-bersin kena makanan" kata Rahmat.
"Lalu yang kedua,... aku kaget karena Amanda memergoki ku minum obat, aku hanya ngga mau buat kalian semua khawatir" tutur Rahmat dengan menunduk.
DEG!
"Rahmat!!!" akhirnya Vandro, Vian, Randi, di tambah Sembilan, dan Vanora memeluk Rahmat.
"Em.. kayaknya ini kambuh lagi deh" kata Rahmat.
Akhirnya aku mengerti... kalau kak Rahmat adalah posisi yang penting untuk semua anggota, Kak Rahmat memutuskan istirahat setelah makan, sementara yang lain...
"Woi! sini kau! kau ngerusak gerbang dan buat Rahmat kepleset kan!? gulung dia!!" Seru Randi dan Vian.
"Hii!!! takut tenggelem!!"