Mentari bersinar cerah namun tak mampu menyinari hidup ku. Terkadang nasib tak selalu memihak pada kita dan kita harus siap menerima ketetapan sang maha pencipta.
" Indah, ibuk titip adik Mika ini ditempat mu ya. " Ucap adik dari Almarhumah mamaku.
Kota yang ku tinggali ini adalah sebuah kota kecil, jika di bandingkan dengan kota lainnya yang ada di Indonesia. Hanya saja jika di bandingkan dengan kampung mama dan semua keluarga pihak mamaku, tempat mereka sangat pelosok karena dekat dengan perbatasan.
Nafasku mendesah lembut saat menyanggupi adik sepupuku yang ingin tinggal dan bekerja tak jauh dari daerah rumahku. Kepala ku langsung memikirkan biaya tambahan yang akan aku dan suami tanggung sehari-harinya.
Bukan tanpa alasan aku sedikit keberatan dengan adanya adik sepupuku itu, karena untuk makan sehari-hari bersama kedua anak ku saja kami terasa begitu kesulitan.
Tak jarang aku meminta apa-apa yang kurang di rumah, terlebih kebutuhan dapur kepada ibu mertua yang tinggal di dekat rumahku.
Tomat, cabai, bawang bahkan aku juga sering meminta minyak makan walau hanya sekedar untuk menggoreng sebutir telur agar anak-anakku bisa makan.
Ibuk ku sebenarnya tahu kondisi keluarga kecil kami, hanya saja ia seolah tak perduli dengan kondisi ekonomi kami jika ia menitipkan anaknya di rumahku.
Suamiku pulang membawa ikan belut yang ia cari di sawah tak berapa jauh dari rumah kami. Ada perasaan segan kepada suamiku jika harus menambah bebannya, dengan adanya Mika di sini.
" Buk kapan datang? " ucap Andi dengan santun sambil menyalami adik dari mama mertuanya.
" Baru aja di, ini ibuk nitipkan Mika disini biar kerja dekat-dekat sini." ucap ibuk tanpa beban yang penting anaknya ada tempat tinggal tanpa harus membayar kos lagi.
" Ya buk tidak apa cuma taulah kondisi kami disini, apa yang ada di makan. " Andi tersenyum tulus.
" Ya gak apa, Insya Allah kalau mika kerja dan gajian bisa di kasihnya sama kalian sikit-sikit.
Suami Indah adalah sosok suami yang terkenal dengan sabarnya. Indah merasa sedikit lega mendengar tanggapan suaminya, walau ia tau betul bahwa ia pun juga memikirkan hal yang sama dengan dirinya.
Mika mulai mencari pekerjaan dan bersyukur langsung diterima di salah satu toko pakaian yang ada di daerah tersebut.
Hari-hari indah seperti biasa menyiapkan sarapan untuk suami, anak dan Mika. Pagi itu dia menyambal telur lalu membungkus bekal makan siang Mika.
Indah kini merasa semakin hari, mika semakin menganggap rumahnya seperti hotel. Ia sama sekali tidak pernah membantu Indah membersihkan rumah walau sekedar menyapu.
Mika bangun sekitar empat puluh menit sebelum pergi kerja. Ia menggunakan nya hanya untuk bersiap pergi kerja. Jika ia bangun lebih awal pun sama sekali tidak melakukan apa-apa selain main hp.
Lama-lama Indah mengelus dada, melihat Mika yang sangat tau kondisi dapur dan kerepotannya mengurus anak pertamanya yang sekolah dan satu lagi masih sangat kecil.
Ketika pulang pun sama, ia masuk ke kamar menghabiskan waktunya dengan terus bermain hp hingga terlelap. Rasanya jika tidak memikirkan berurusan sama keluarga Almarhumah mama yang sangat payah itu ia sudah menegur Mika.
Indah mencoba ikhlas, mengeluh atau hanya sekedar curhat kepada Andi rasanya tidak mungkin. Ia takut akan menambah beban suami nya. Suami yang mencari upahan di sawah-sawah milik orang kesana kemari.
Hingga tiba waktunya gajian Mika menemui Indah.
" Kak ini uang untuk kakak " ucap Mika sambil tersenyum.
Indah mengambilnya dan menatap uang itu dengan heran. Uang apa ini tiga puluh ribu? " batin Indah bertanya-tanya.
" udah gajian rupanya dek? " tanya Indah masih dengan raut wajah heran dengan uang yang di gengamnya.
" udah kak " ia pun kembali tersenyum.
" oh, ini untuk jajan anak- anak ya dek? " ucap Indah mulai senang Mika memikirkan jajan anak-anaknya.
" Gak kak, itu uang untuk kakak. Segitu cuma bisa ku kasih. " ucapnya dengan santai lalu kembali mengotak-atik hp nya.
Deg..
Indah terdiam tangannya gemetar memegang uang itu. Ia melihat Mika masuk ke kamarnya untuk tidur dengan begitu santainya. Air mata Indah langsung menetes, ia langsung terduduk tak percaya di depan tv.
" Ya Allah aku bukan mau hitung-hitungan, tapi uang tiga puluh ribu sanggup ia berikan padaku untuk biaya hidupnya sebulan disini. " Indah menangis tersedu berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar siapapun.
" Shampo, sabun, makan, tempat tinggalnya dan terlebih ia selalu minta di antar saat pergi kerja agar tidak pakai ongkos. Di mana hatinya ya Allah, untuk apa uang tiga puluh ribu ini. Maafkan aku ya Allah karna tidak bersyukur " tangis indah begitu memilukan hati dengan batin yang terus berucap.
Ia teringat suaminya, bagaimana nanti ia mengatakan kepada suaminya jika Mika hanya memberinya uang tiga puluh ribu saja. Ia sungguh malu dengan sikap keluarganya yang selalu menyusahkan dirinya.
Bukan baru pertama Indah menjadi rumah tumpangan bagi saudaranya, namun tidak pernah mereka memberikan seperti yang Mika berikan padanya.
Paling sedikit mereka memberikan seratus ribu walau jika kita mengkaji jumlah itupun sangat kurang, untuk diberikan sebagai biaya kehidupan. Namun Indah menerima uang seratus ribu itu sangatlah senang dan berarti bagi nya untuk biaya sekolah anaknya.
Ia terus meneteskan air matanya sambil memandangi uang itu di tangannya. Hatinya begitu tertekan dengan Mika yang hidup seperti ratu dirumahnya.
Kini ia hanya bisa mengelus dada mencoba bersabar agar di berikan kekuatan untuk menerima Mika dan segala perlakuaannya.
Semoga sabarnya kelak menjadi ladang pahala di surga.