“aaargh.....sial, kali ini aku gagal lagi”
Ya, itulah yang ku dapat. Hampir 3 tahun lebih aku gagal mengandeng pulang piala kejuaran. Sudah lebih dari puluhan kali aku ikut serta dalam beberapa event lomba yang ada dalam 3 tahun terakhir ini, tapi tak satupun gelar juara dapat ku raih.
Mulai dari lomba menyanyi, menggambar, menganyam, cerdas cermat, catur dan lomba-lomba lainnya. Aku memang tidak terlalu menjuruskan bidang tertentu dalam mengikuti sebuah perlombaan. Semua hal yang menurutku bisa kulakukan pasti akan ku ikuti . Itulah diriku.
Berjuang mati - matian untuk mendapatkan gelar juara, meski yang kurasakan kini adalah kepahitan dari semua itu. Banyak waktu yang kurelakan demi menang, walau sebenarnya hanya dirikulah yang menuntut itu semua.
Roda seakan berputar, dunia juga seakan sedang tak mendukungku. Aku tak pernah berjuang sekeras ini dulu. Tapi rasanya sangat berbeda, saat aku tak bergairah untuk ikut serta dalam sebuah ajang perlombaan dengan mudahnya kemenangan selalu menghampiriku.
Kemana diriku yang dulu ?
“amartha... makan dulu sayaang” panggil Mamah dari bawah kamarku.
Aku segera menghapus sisa – sisa air mata yang masih berada disekitar mataku. Memastikan didepan cermin bahwa diriku tak sama sekali sedang terluka. Menutupi kesedihan itu dibalik senyumanku. “iya mah, aku turun” ucapku bersemangat.
Semua anggota kelurgaku sudah berkumpul di meja makan, seperti biasa aku duduk di samping kak Tirta, kakak laki-laki ku. “Bagaimana sama lombanya ta?” tanya ayah ditengah makan malam itu. “belum beruntung,yah” jawabku dengan ceria, seolah itu tak menyakitkan. “tetap semangat” hibur ayah.
Tak terasa, dengan cepatnya makan malam itu berakhir. Kak Tirta membawakan semua piring – piring kotor itu ke wastafel dan mencucinya. Ayah kembali mengerjakan urusan kantornya diruang tamu. Mamah menata kembali meja makan agar telihat rapih seperti semula. Hanya akulah yang masih duduk disana tanpa melakukan apapun.
“tak perlu ditahan sayang, menagislah. Mamah tau apa yang kamu rahasiakan” ucap mamah lembut sambil berjalan mendekatiku dan membelai rambutku perlahan. Aku memeluk mamah dengan erat dan menangis sejadi – jadinya, tak seorangpun tahu kecuali aku dan mamah.
“mah, kenapa aku gak pernah menang lagi?” tanyaku dalam tangis. “mamah juga tidak tahu pasti kenapa, sejauh ini mamah melihatmu selalu berjuang dengan keras, mungkin itulah penyebabnya” jawab mamah. “maksudnya mah?” tanyaku yag belum mengerti maksud mamah.
“adakalanya setiap orang bekerja dengan keras untuk meraih kemenangan. kamu tahu, ketika orang itu sangat berambisi secara otomatis ekspetasi yang ia punya bertambah sehingga ia sendiri pun tak dapat menahlukkan ekspetasinya”
“lalu?” tanyaku yang masih penasaran dengan kelanjutannya.
“ia lupa untuk melakukannya juga diperlukan perasaan yang kuat. Sama seperti halnya saat kamu tidak mengharapkan sebuah kemenangan, kamu melakukannya tanpa ekspetasi yang tinggi, mengalir begitu saja dengan rasa yang kamu beri untuk sebuah karya yang kamu buat” lanjut mamah
“ jadi? Aku harus melakukannya tanpa ambisi?” tanyaku untuk meyakinkan.
“ya tepatnya, dengan tulus. Kamu boleh berambisi tapi jangan sampai menghilangkan ketulusan itu, itulah yang membedakan hasil akhirnya nanti. Tapi bukan berarti pesimis juga, intinya teruslah berjuang sayang” jawab mamah memberiku semangat yang baru.
“baiklah, aku akan mencobanya”
Satu bulan berlalu, ini adalah hari spesial yang sudah lama ku tunggu. Ikut kembali dalam sebuah ajang perlombaan, kali ini aku ditunjuk oleh guru kesenianku untuk mengikuti salah satu lomba yang diadakan sekali setiap tahunnya dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah.
Lomba itu adalah lomba kaligrafi. Aku memakai nomor peserta yang diberikan oleh guruku dan berjalan menuju ruang kelas yang sudah ditentukan. Tak lama para juri juga memasuki kelas dan mengumumkan bahwa lomba sudah boleh dimulai, mereka memberi waktu 3 jam untuk para peserta menyelesaikan karyanya.
Aku selalu tak pernah melupakan nasihat yang mamah beri kepadaku, tentang memberi sebuah rasa dalam suatu karya. Tak perduli menang atau kalah, yang terpenting sekarang adalah aku sudah memberikan yang terbaik dalam karya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, satu persatu para peserta maju ke meja juri untuk menyerahkan hasil karya mereka, kemudian keluar dari kelas dan menunggu pengumuman. Tak terkecuali denganku, aku keluar kelas dengan perasaan yang sangat lepas.
Tak terbebani dengan keptusan akhirnya, dengan gembira aku kembali ke kelas asalku, bertemu dengan teman – teman dan saling bersenda gurau sambil menunggu keputusan.
Setelah shalat dzuhur berjama’ah, para murid tidak diperkenankan untuk kebali ke kelas masing –masing. Karena, akan di umumkan juara – juara lombanya. Mulai dari lomba adzan, cerdas cermat, sholawat, pidato, melukis dan terakhir kaligrafi.
Meski tidak mementingkan hasilnya, jantungku sempat berdegup dengan kencang. Beberapa pertanyaan bermunculan, salah satunya adalah apakah namaku akan terpanggil diantara para pemenang didepan sana?
Pembawa acara dipanggung itu, dengan semangatnya memanggil nama- nama yang terdaftar didalam kertas yang ia dapat dari para juri. “Untuk pemenang lomba kaligrafi marilah kita panggilkan Juara ketiga dimenangkan oleh Fairuz Alfiano dari kelas 8-5, Juara kedua dimenangkan oleh Amarta Angraeni dari kelas 8-1 dan Juara pertama dimenangkan oleh Nadia Putri dari kelas 9-3, selamat untuk para pemenang dan segera naik keatas panggung untuk mengambil hadiah”
Serempak semua orang disana memberikan tepuk tangan dengan meriah. Aku tak percaya namaku bisa kembali tersebut sebagai salah satu juara seletah 3 tahun lamanya aku menanti. Air mata ini mengalir tanpa disadari, semuanya seakan terbayar.
Terima kasih Mamah, ucapku dalam hati.