Dania Annastasya, sebuah nama yang tidak lekang dari hati seorang lelaki bernama Elang. Sudah lebih dari 4 tahun lamanya mereka menjalin ikatan sebagai pasangan. Banyak suka dan duka yang telah mereka lewati, hingga dapat bertahan sampai sejauh ini. Mungkin, ini adalah waktu yang tepat bagi Elang untuk melamar Dania sebagai pasangan setia sampai akhir hayat nanti.
“Terima kasih, dok” ucap Elang mengembangkan senyumannya. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat itu, dirinya dapat kembali lagi ke rumah setelah 1 minggu lamanya dirawat dirumah sakit. “kakak gak ngabarin kak Dania?”tanya Ega adik perempuan Elang. “jangan dikasih tau dulu, kakak mau bikin kejutan buat dia” jawab Elang sambil menikmati perjalanan pulangnya itu di mobil yang sudah Ega pesan.
Sudah lebih dari dua jam lamanya Elang belum keluar dari kamar. Dirinya masih sibuk memilih pakaian yang cocok untuk pertemuan spesialnya bersama Dania malam ini. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk berpenampilan dengan baik. Ini bukan kali pertamanya bertemu dengan Dania, tapi entah mengapa sedari tadi jantungnya berdengup lebih cepat dari biasanya. Sesekali bibirnya kelu saat berlatih mengucapkan kata-kata itu di depan cermin.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Elang bergegas pergi menuju rumah Dania dengan sebuah kotak berisi sepasang cincin yang telah lama mereka berdua inginkan. Elang juga tak lupa membawakan sebuket bunga anyelir berwarna merah muda kesukaan Dania yang bermakna ‘aku tidak akan melupakanmu’. Entahlah, darimana Dania mengetahui tentang itu, yang pasti ia sangat marah jika Elang membawakan bunga selain anyelir.
Seperti yang biasanya terjadi, kemacetan berulah saat mengendarai mobil ditengah kehiruk pikukkan kota. Meski begitu, semangat Elang tak sedikitpun luntur, ia berusaha tetap ceria atas semua hal yang menimpanya. Sesekali ia mengecek notifikasi di smartphone, tidak satupun ada pesan yang dikirim oleh Dania dari puluhan pesan yang tercantum di sana.
“tak apalah” gumamnya dalam hati, lagi pula ia ingin memberi kejutan untuk Dania dan sebaiknya Dania tidak mengetahui apa –apa. Waktu dengan cepat berlalu, tak terasa kini mobil hitam milik Elang sudah terparkir rapih tepat didepan rumah Dania. Elang turun dari mobil dan menekan bel yang tertempel di tembok samping pagar rumah Dania sambil menunggu seseorang datang membukakan pagar untuknya.
Tak lama seorang lelaki paruh baya keluar, menyapa baik Elang dan mengajaknya untuk masuk. Sesampainya diruang tamu, Elang duduk dan berbincang akrab dengan kedua orang tua Dania sambil disuguhi secangkir teh hangat dan beberapa cemilan pendampingnya. Elang juga tak sedikit bercerita tentang tujuannya untuk melamar Dania, malam itu.
“Dania nya kemana bu, kok belum muncul dari tadi?” tanya Elang yang sudah tak sabar bertemu dengan kekasihnya. Kedua orang tua Dania hanya saling menatap satu sama lain. Entah bagaimana cara untuk memberitahu Elang kalau Dania sudah berpulang. Elang yang belum mengetahui apapun, masih menatap kedua orang tua Dania dengan tatapan yang binggung. Ayah Dania tiba-tiba pergi meninggalkan Elang dan istrinya yang masih duduk di sana.
Genangan air terbendung dikedua mata Vera, ibu Dania. Ia masih mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Wajah Elang dua kali terlihat lebih biggung dari sebelumnya, ditambah dengan kepergian ayah dan tetesan air mata ibu Dania yang terjadi begitu saja.
“maaf Elang” ucap ibu Dania sambil berjalan mendekati Elang dan memeluknya erat. “Dania sudah tenang disana, maaf karena ibu baru bilang sekarang”
“tapi, kenapa bu?” tanya Elang seolah tak terima. “kecelakaan yang menimpa Dania saat itu adalah hari yang sama dimana kamu dirawat, Dania hanya berpesan terakhir kali agar ibu dan ayah tidak memberitahu kejadian ini kepada keluarga Elang, Dania gak mau kalau nantinya kamu tambah drop setelah tau kabar ini” jelas Vera yang sudah tenggelam dalam Isak kan tangis.
Mendengar semua itu, Elang tak dapat lagi menahan dirinya. Ia mengeluarkan semua air mata yang sedari tadi ia simpan, dalam dekapan hangat ibu Dania. Ayah Dania kembali ke ruang tamu, memberikan sepucuk surat terakhir yang Dania titipkan untuk Elang. Elang menerimanya dan langsung membuka surat beramplop hitam itu.
“Elang sayang, kalo kamu udah nerima surat ini berarti kamu udah tau kalau aku udah pergi duluan. Aku cuma punya satu pesan untuk kamu, tolong tetap bahagia walau bukan sama aku ya, makasih lang”
Air mata Elang mengalir lebih deras, ia tak mengira bahwa malam spesial yang ia rencanakan akan berakhir seperti ini. Malam yang telah di impikan sudah berubah menjadi malam yang tak pernah diharapkan.