Di bawah pohon yang rindang, disana Aster sedang tiduran dengan nyaman.
"Anak itu kemana, 'sih." Gerutu gadis muda, tak lain ia mencari anak laki-laki yang tengah berbaring di hamparan rumput, dibawah pohon rindang.
Gadis itu melirik pohon besar disana, didapatinya sosok yang sedari tadi ia cari, seorang anak laki-laki harusnya berusia 14 tahun, dia memiliki rambut hitam pekat, dan juga mata hijau zamrud yang indah, ia juga memiliki wajah yang rupawan, turunan dari ayahnya.
"Anak itu! Ternyata disana." Ellin, nama gadis itu, dia berjalan mendekat anak laki-laki yang sedang nyaman tertidur.
Beberapa detik memandang Aster, Ellin tertegun sejenak menatap wajahnya, mungkin dia terpesona.
"Eh, apa yang kulakukan?" Dia segera menjewer telinga Aster, alhasil si pemilik telinga bangun, dengan berteriak kesakitan, dan marah pada gadis berambut Silver itu, yang telah membangunkan dirinya, apalagi dengan cara menjewer telinga.
"Elle! Apa yang kau lakukan, lepaskan!" Bentak Aster marah.
Manik mata biru, Ellin memandang malas Aster. Dia melepaskan jewerannya, tapi berbalik memaki Aster.
"Itu salahmu, sendiri! Kenapa kau malah dengan nyamannya tiduran disini, pelajaran akan segera dimulai, tapi kau malah bersantai-santai, tentu saja aku marahkan?" Balas Ellin tak terima ia yang kena marah.
"Ya, baiklah!" Anak itu memandang kesal, Ellin.
"Bagus, tapi bisakah kau tidak memanggilku Elle, namaku Ellin! Mendengar itu seperti kau mengatakan jelek tahu!" Ellin mencaci maki Aster, ya mereka memang sudah dekat dari kecil, dan juga selalu bertengkar.
Mereka selalu begitu, ayah dan ibu Aster adalah sahabat karib ayah dan ibu Ellin tapi kedua orang tua Aster meninggal saat dalam perjalanan pulang dari gurun pasir middle, gurun pasir paling berbahaya di negara itu. Dan akhirnya Aster dibesarkan oleh ayah dan ibu Ellin.
"Tapi kau, 'kan memang jelek." Gumam Aster, membuang muka.
Gumam Aster masih terdengar jelas di telinga Ellin, dia kembali menjewer telinganya.
"Kenapa, kau menjewer ku lagi sih!" Kata Aster, dengan nada tinggi.
"Aku mendengarnya, tahu! Kau bilang aku jelek, kau ini!!!" Ellin semakin keras menjewer telinga Aster.
"Kau ini! Itukan benar!" Ucap Aster membantah pernyataan jika Elli itu tidak jelek.
"Apa?" Ellin semakin marah, dia semakin keras menjewer-nya.
"Baik, baik, maaf aku salah!" Ucap Aster, akhirnya Ellin melepaskan jewerannya, disana telinga Aster sungguh sangat merah akibat jeweran Ellin.
"Maaf, tolonglah?" Aster memohon, jika tidak mengakui ia salah dia pasti akan dijewer lagi.
"Hmp.." Ellin membuang muka darinya.
"Iya, deh. Ellin tidak jelek, kau sangat cantik sungguh! Jadi jangan marah." Ucap Aster, tersenyum lembut.
Pipi Ellin seketika bersemu merah, melihat wajah Aster, belum pernah dia melihat ekspresi itu dari wajah tampan temannya itu, bahkan setelah 9 tahun mengenal Aster.
"Kenapa kau membuang muka?" Tanya Aster.
"Tidak, ayo jalan! Guru sudah menunggu tahu." Ellin menarik lengan Aster, wajahnya masih saja merah.
'Dia ini, kenapa dari dulu selalu menyebalkan sih?' Batin Aster, dari dulu sebenarnya ia sudah sangat risih dengan Ellin, yang dianggap selalu mengganggunya.
"Ellin!" Ucap Aster memanggil nama asli dari Ellin, itu karena dia tak pernah menyebutkan nama Ellin dengan benar.
Ellin berhenti, kemudian berbalik memandang Aster, dia mungkin agak kaget mendengar Aster menyebutkan namanya dengan benar kali ini.
"Kau, tahu aku baru saja menguasai sihir baru, yang sudah aku latih hampir 2 tahun lamanya." Ucap Aster, menampilkan seringainya.
"Sihir, sihir apa?" Ellin tersentak kaget, tapi bukan karena yang ia katakan melainkan ekspresinya yang seperti mencekik.
"Aku sudah melatihnya berkali-kali, tapi aku butuh bantuanmu untuk itu." Aster menunjuk Ellin.
"Aku.." Ellin menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, apa kau mau?" Tanya Aster, serigainya semakin membuat Ellin serasa di tepi jurang.
"Bantuan, bagaimana?" Ellin merasa agak takut.
"Itu.." Di memetik jarinya, dan hola, tiba-tiba saja muncul sebuah tanda sihir bentuk bintang, sebagai Ellin di pusatnya.
Muncul tali-tali hijau, yang mengikat perut, kaki, lengan, tangan dan leher Ellin.
Ellin mencoba melepaskan tali-tali itu, namun usahanya sia-sia. Tali itu sangat kuat ia tak dapat bergerak.
"Apa ini! Aster!!" Teriak Ellin.
"Jika, kau butuh bantuanku, kenapa aku harus diikat seperti ini? Sihir apa yang sebenarnya kau maksud?" Ellin masih berteriak.
Aster mendekat ke arahnya.
"Sihir pemusnahan!" Jawab Aster, mata Ellin membulat sempurna mendengar pernyataan Aster.
"A-apa, maksudmu dengan sihir pemusnahan?" Tanya Ellin, mencoba memastikan dirinya.
"Apa kau bodoh? Sihir yang seperti dipikirkanmu itu! Tapi ini sihir yang agak berbeda, sihir pemusnahan ku ini spesial, karena jika aku melakukannya, maka orang yang aku habisi itu, menjadi seperti tidak pernah ada sebelumnya. Sihir ini memungkinkan untuk menghapus ingatan orang yang dihabisi, untuk menghilang selamanya sama seperti orang yang telah tiada itu! Tapi sebagai konsekuensi dari sihir yang terlarang ini, maka semua ingatan dari orang-orang yang mengenal orang itu akan diterima oleh orang yang menghabisinya, orang itu tak akan pernah lupa dengan orang yang ia habisi, tapi tak masalah bagiku, toh dari awal kau tidak penting bagiku!" Terang Aster, betapa terkejutnya Ellin mendengar itu, hatinya serasa tercabik-cabik, air mata bercucuran keluar, tak kuasa untuk ditahan.
Karena ia akan dibunuh oleh, orang yang ia anggap sangat berarti buatnya, namun bagi orang itu dia tidak lain hanya sebuah ham pengganggu.
"Kau akan menghabisi ku, Aster?" Tanya Ellin, sungguh dia sangat sakit hati.
"Tentu!" Aster mengangkat bahu, dia tak merasa iba sedikitpun, ia tersenyum bahagia.
"Baiklah, sudah cukup dengan perbincangannya! Sekarang." Dia memulai sihir pemusnahan.
"Lovato, giate nona siro kui! Abate kora!!" Dia membaca mantra, kemudian segel sihir bentuk bintang itu, menyelimuti tubuh Ellin.
"Selamat tinggal, Ellin." Dan Wush, Ellin telah lenyap tampa tanda sedikitpun.
Dan betapa ironisnya itu, Aster malah tersenyum, padahal dia ingat jelas wajah Ellin yang menatapnya hancur, melihat dia menangis, tapi dia tak merasa bersalah.
Dia berjalan menuju ruang tempat, Aster dan Ellin belajar, dia masuk.
"Maaf, aku terlambat lady Rose." Ucap Aster, pada wanita yang merupakan gurunya.
"Tidak, masalah." Ucap guru itu.
'Aku ingin mengetesnya' Batin Aster, dia mencoba membuktikan akankah sihirnya berhasil dengan sempurna.
"Lady Rose, apakah Ellin Vitscount belum datang?" Tanya Aster.
Guru itu memasang wajah bingung dengan nama itu.
"Siapa itu, Ellin Vitscount?" Tanya lady Rose, dia jelas telah melupakan Ellin.
'Berhasil!' Dia merasa senang.
"Maafkan saya lady, tadi lupakan saja." Ucap Aster.
Setelah pelajaran selesai, Aster pergi menemui sang Duke, Loerin Vitscount, yang tak lain juga adalah ayah Ellin, tujuannya sama yaitu untuk menyatakan apakah dia juag telah lupa pada putri tercintanya itu.
"Salam Duke.." Aster membungkuk hormat, sang Duke langsung menyambutnya, baginya Aster itu sudah jadi seperti anak kandungnya.
"Kenapa kau datang kemari, Aster?" Tanya sang Duke.
"Ada hal yang ingin saya bicarakan Duke." Jelas Aster, dengan nada percaya diri.
"Tentu katakan saja." Duke mengizinkannya.
"Apakah anda ingat dengan Ellin, putri anda?" Tanya Aster, sang Duke, sama seperti lady Rose tadi ia juga nampak bingung mendengar nama itu.
"Siapa itu Ellin, maaf tapi Aster apa kau lupa kalau aku tidak punya anak, bagaimana bisa aku memiliki putri." Ucap sang Duke, kebingungan.
"Begitu ya? Lupakan saja tentang apa yang aku katakan tadi Duke. Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Dia beranjak keluar dari ruangan kerja sang Duke.
Meninggalkan Duke, yang masih bingung sendiri.
Sekarang dia sudah berada di kamarnya, direbahkan tubuhnya di atas kasur, memandang langit-langit, ingatan saat ia menghabisi Ellin langsung terbayang di ingatannya, tangisnya dengan rauta wajah yang hancur begitu jelas.
"Hah, Ellin maaf ya!" Ucap Aster.
Tiba-tiba saja kepalanya sakit, semua ingatan dari orang yang melupakan Ellin langsung masuk ke kepalanya.
"Lady Rose, tolong jangan marahi Aster, karena terlambat masuk. Saya janji saya akan menghukumnya sendiri nanti, tapi kumohon jangan hukum Aster!" Ucap Ellin memohon, menyatukan kedua tangannya untuk memohon.
"Ellin, apakah Aster itu sangat penting buatmu?" Tanya lady Rose.
"Ya, bagiku Aster begitu penting!" Ucap Ellin mempertegasnya.
"Apa, apa itu ingatan Ellin dari lady Rose?" Ucap Aster, raut wajahnya pucat.
"Ellin, jika Aster tinggal di rumah kita apa kau tidak keberatan?" Tanya Duke pada Ellin.
"Tidak apa-apa ayah, aku senang. Aku sanagt menyuaki Aster!" Ucap Ellin pasti, dengan wajah imutnya yang senang.
"I-itu, ingatan Ellin dari Duke?" Sekali lagi dia tersentak.
Wajah Aster berubah gelisah, sangat gelisah.
Kemudian, kali ini ingatan dari Ellin sendiri yang masuk ke kepalanya.
"Berhentilah mengikutiku Elle!" Bentak Aster.
"Itu, ingatan Ellin tapi kenapa tentang aku?" Aster kebigungan.
"Memangnya tidak boleh apa! Dan jangan panggi aku Elle, namuku Ellin! Aku ini jauh lebih tau darimu loh, Aster!" Gerutu Ellin yang masih berusia 8 tahun dan Aster berusia 6 tahun.
"Aku mencintaimu Aster!" Ucap Ellin di lubuk hatinya di detik-detik saat ia di lenyapkan.
Air mata langsung keluar dari mata Aster, betapa terkejutnya ia mengetahui kalimat terakhir Ellin.
"Ellin!" Mata Aster berkaca-kaca.
Bak tersambar petir, begitulah perasaan Aster, dia langsung hancur, ketika tahu orang yang ia habisi, adalah seorang yang sangat menyayangi dan mencintai dia, bahkan setelah ia berbuat sanagat jahat, ia tetap mencintai dirinya.
"Hiks, hiks. Ellin!!" Teriak Aster histeris, suaranya bergema dalam ruangan itu.
"Benar, aku mungkin bisa membalikan Ellin. (Aster langsung berlari, sambil menduga-duga) Ya aku mungkin bisa mengembalikan Ellin kembali, saat itu aku akan mengubah sikapku! Aku akan melindungi Ellin, aku akan melihat senyum Ellin lagi (Batin Aster, terus berlari menuju menara sihir).
Brak...
Suara pintu terbuka dengan kasarnya, Aster terus menuju rak buku yang bisa dibilang sedikit berbeda dari rak lainnya, Aster menarik buku bewarna hijau, tiba-tiba lemari itu bergeser, disana ternyata adalah pintu rahasia.
Aster mengatakan sebuah mantra untuk membuka pintu itu.
Setelah pintu terbuka, Aster langsung mengobrak-abrik buku-buku disana hingga ia mendapatkan sebuah buku yang ia inginkan.
"Ini, dia!" Aster menyeka air matanya, terus dibuka buku itu.
"Ellin, aku akan mengembalikkanmu!" Ucap Aster serius.
Setelahnya, dia terus mempelajari sihir pengembalian, sudah sekitar 6 bulan dia mengurung dirinya di menara sihir, tak pernah sekalipun ia keluar dari sana, dia menutup pintu menara dengan sihirnya, mengsunyikan ruangan itu hingga tak bisa terdengar suara lagi.
"Sudah berapa lama, Aster ada di dalam?" Tanya Duke, memandang pintu menara sihir yang dikunci oleh sihir Aster.
"Tuan Aster, sudah berada di dalam sana selama 6 bulan. Tuan Duke." Ucap pelayan wanita yang juga berdiri di depan pintu.
Duke menghela nafas. "Begitu? Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa di tiba-tiba mengurung dirinya di dalam sana." Tanya Duke, dia tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Saya juga kurang tahu tuan Duke. Tapi tuan Aster, mulai mengurung diri di dalam sini setelah dia pulang ke ruangannya, setelah beberapa saat dia keluar, dan langsung berlari menuju menara, dan sepertinya dia menangis saat itu tuan Duke." Jelas pelayan itu juga kurang pasti.
"Begitukah?" Duke sedikit kaget, mengigat Aster adalah anak yang kuat, hampir tak pernah dia melihat Aster menangis.
"Hm.. kalau begitu kita pergi saja sekarang." Ucap sang Duke.
Dia memutar badannya hendak meninggalkan tempat itu.
"Apa tidak apa-apa tuan Duke?" Ucap pelayan itu khawatir.
"Tidak apa-apa, aku tahu Aster. Aku yakin dia akan keluar setelah dia menyelesaikan apa yang dia kerjakan, untuk sekarang kita tinggalkan dia dulu." Jelas Duke.
Pelayan itu menarik nafas panjang. "Baik, tuan." Dia kembali mengikuti Duke.
Sementara didalam pintu itu, berada Aster. Entah dia pernah tidur atau tidak selama ini.
Badannya jadi kurus, rambutnya juga acak-acakan. Dia tampaknya tidak mengurus dirinya dengan baik.
Raut wajah frustasi terpangpang jelas di wajah tampannya.
"Kenapa? Kenapa aku terus gagal!" Teriak Aster, dia memukul lantai batu itu membuat tangannya terluka.
Dia memeluk lututnya sembari menangis, sambil menggumam nama Ellin.
"Ellin, hiks hiks."
'Tidak, aku tidak boleh menyerah sekarang! Aku harus coba lagi!' Batin Aster, meski telah gagal puluhan kali, dia masih tetap mencoba.
Dia melanjutkan, menguasai sihir pengembalian. Hingga hampir memakan 1 tahun.
"Kali ini aku pasti berhasil!" Ucap Aster.
'Aku, masih belum tahu konsekuensi apa yang akan aku dapatkan jika ini berhasil (dia merenung sejenak), tapi jika untuk Ellin aku tidak peduli apapun itu!' Dia duduk, dalam keadaan duduk sila, sebuah tanda sihir muncul, tandanya bentuk bulat, dengan cahaya hijau keluar darinya.
Lama-kelamaan butiran demi butiran cahaya kecil berkumpul menjadi satu.
Dan secara ajaib, disana Ellin muncul, memakai gaun putih, dengan tubuhnya yang bersinar, rambutnya terurai dibiarkan mengambang, layaknya seperti saat sedang masuk ke dalam air.
"Ellin!" Seru Aster.
"Kenapa aku bisa ada disini? (Dia kebigungan, dan melihat dirinya sendiri)
Aster?" Ellin melihat Aster, yang baru ia sadari ada disana, Aster sendiri langsung berlari dari yang duduk menuju Ellin.
Dipeluk eratnya pinggang Ellin, sambil menangis tersedu-sedu.
"Ehh, kenapa kau menangis?" Ucap Ellin kaget, dia mengusap-usap rambut Aster.
"Ellin! Maafkan aku." Ujar Aster, masih belum melepaskan pelukannya.
"Aster?" Ellin tampak merasakan sakit melihat Aster begitu.
Dilepaskannya pelukan Aster, dia coba menenangkannya.
"Berhentilah menangis, Aster! Apa-apaan itu, Aster yang kukenal tak akan bisa menangis, tapi kau malah menangis layaknya anak kecil." Ellin tertawa.
"Aku tidak peduli! (Dia menunduk ke lantai) Ellin maaf!" Ucap Aster sekali lagi.
"Kenapa kau minta maaf? ( Tanya Ellin) Dan kenapa keadaannu jadi begini, kau sangat kurus, rambutmu juga berantakan, dan natamu, apa kau pernah tidur?" Bertubi-tubi pertanyaan dilayangkan padanya.
Aster tersenyum puas, ditampilkan senyumnya yang paling indah, senyum terukir di wajahnya yang tampan.
"Kau benar-benar Ellin." Senyum lembut Aster.
"Tentu saja ini aku!" Ellin berubah, merona sekalipun dalam hidupnya tak pernah dia lihat Aster tersenyum begitu.
"Tapi, kenapa kau memanggilku Aster?" Tanya Ellin.
"Aku, aku salah! Aku ingin mengembalikan kau lagi!" Ucap Aster dengan nada putus asa.
"Tapi (dia berhenti sejenak) kau kan yang menghapusku Aster?" Ucap Ellin, Aster semakin merasa bersalah.
"Ya, itu kebodohanku! Dengan bodohnya aku menghapus orang yang begitu sayang dan mencintaiku, aku bodoh!" Aster kembali menangis.
"Bodoh! (Ellin menjitak kepalanya) itu sudah berlalu, jangan salahkan dirimu lagi! Lagipula aku senang kok, aku tidak meninggalkan sedikit saja penyesalan." Ucap Ellin tersenyum lega.
"Tidak!" Bentak Aster.
"Aku mengembalikanmu lagi Ellin!" Ucap Aster menggenggam erat tangan Ellin.
"Tidak perlu! Kau tidak perlu melakukan itu Aster, karena kau juga akan melupakan aku." Ucap Ellin, matanya sendu, jelas sekali jika ia menahan sakit dalam hatinya yang tercabik-cabik mengatakan itu.
"Kenapa?" Tanya heran Aster.
"Dan, bagaimana mungkin aku bisa lupa padamu? Aku akan mengembalikannu Ellin, saat itu aku janji, aku akan mendengarkanmu, aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku mencintaimu Ellin!" Jelas Aster, suaranya tersedak-sedak.
"Ya, tapi kau akan tetap melupakan diriku Aster!" Kata Ellin lagi.
Aster terdiam sejenak. "Apakah?" Dia menatap Ellin, mencoba memastikan apa yang dia pikirkan itu benar.
"Ya, konsekuensi dari melakukan sihir pengembalian adalah menghapus ingatanq dari orang yang kau panggil, kau tidak akan ingat apa pun tentang orang itu!" Jelas Ellin.
Betapa kagetnya Aster.
"Meski hanya sebentar, aku senang sekali mendengarkanmu mengatakan kau mencintaiku sama seperti aku mencintaimu." Ellin mendekat ke arah Aseter, dia melayang, ya karna dia memang roh.
Dia memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada wajah Aster, kedua bibir mereka bersentuhan.
Ellin terus mencium Aster, air liur ikut menempel di bibir Ellin.
Aster segera menarik tubuh Ellin lagi, dan menciumnya jauh lebih dalam, dilumatnya bibir Ellin.
Mereka melepaskan ciuman panas itu, perlahan-lahan tubuh Ellin berubah menjadi butiran-butiran kecil cahaya yang menghilang di udara.
"Aku, mencintaimu Aster!" Itulah kalimat terakhir Ellin, setelahnya ia lenyap tampa jejak.
"Ellin." Aster mencoba menggapainya, tapi dia benar-benar sudah pergi.
Tiba-tiba tubuhnya ambruk, dan jatuh pingsan, saat ia membuka matanya, dia merasa kaget karena berada di dalam menara sihir.
Dia tak ingat lagi apapun tentang Ellin.
"Apa yang kulakukan disini (dia melihat sekitar, yang dilihat adalah berbagai macam buku yang berserakan dilantai) apa kau tidur disini?" Dia melihat dirinya, yang kurus dengan rambut acak-acakan, mata sehitam mata panda.
"Apa yang telah aku lakukan, sampai seperti ini?" Dia masih mencoba mengigat tapi tak bisa.
Dia berdiri, keluar dari menara sihir. Saat berjalan ke kediaman Duke, Amile pelayan yang mengunjunginya 6 bulan lalu, langsung menyapa Aster.
"Anda, sudah keluar tuan Aster?" Tanya sopan pelayan itu.
"Ya." Aster hanya mengangguk.
"Aku akan ke kamar dulu!" Ucap Aster.
"Baik, tuan. Saya akan menyiapkan makanan, air mandi, dan pakaian untuk anda!" Ucap Amile, melihat keadaan Aster, yang kurus kering.
Mendengar Aster sudah keluar dari menara sihir, Duke dengan segera pergi meliaht keadaan Aster.
Dia membuka pintu, disana dia melihat anak teman baiknya, tapi sedikit berbeda, karena yang dia lihat adalah anak yang kurus kering, dengan rambut yang acak-acakan berbaring di kasur.
"Aster?" Tanya Duke tak percaya jika yang dihadapannya ini memang Aster yang dia kenal.
"Tuan Duke?" Ucap Aster.
"Aster, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa jadi begini. (Tanya sang Duke masih tak percaya itu Aster yang ia kenal) sebenarnya apa yang kau lakukan di dalam menara itu selama hampir setahun?" Tanyanya lagi.
"Aku.. ( dia diam sejenak) Aku tidak tahu." Jawab Aster, semua yang berhubungan dengan Ellin telah di hapus dalam ingatannya.
Duke, sontak kaget mendengar jawaban Aster, tapi seberapa kali pun dia bertanya jawaban Aster tetap sama saja.
3 bulan berlalu, kini Aster bersekolah di academy bangsawan.
Dia menjadi anak yang populer, tidak heran dia sangat pintar, dan berbakat dalam sihir, belum lagi dengan wajah tampannya yang bisa membuat gadis manapun terpesona olehnya.
'Aku merasa rindu' Batin Aster, melihat ke jendela ruangan.
'Sebenarnya perasaan rindu untu siapa ini? Apa untuk ibu dan ayah yang sudah pergi' Batin Aster bertanya-tanya.
Saat berjalan di sekitar taman academy, Aster melihat bunga Lily.
"Bunga ini harum." Aster tersenyum, beberapa murid perempuan yang berada dekat disana, jadi merona sendiri melihat Aster tersenyum indah begitu, tak heran dia memang jarang sekali bicara, apalagi tersenyum.
Angin bertiup membawa aroma bunga Lily, terbisik di telinga Aster.
"Aku mencintaimu, Aster."
Aster langsung menoleh, namun tak ada siapapun di belakangnya.
"Apa, aku baru saja mendengar orang mengatakan cinta padaku?" Gumam Aster.
Dan nyatanya, disana Ellin memeluk lembut Aster, meski Aster tak bisa melihatnya atau bahkan ingat padanya.
Selesai...
Arthor note:
Jika nyawa sudah meninggalkan tubuh maka sampai kapan pun, tak akan bisa lagi untuk diubah, sekeras apapun kita mencoba. Hargailah orang yang berada dekat denganmu, jangan sia-siakan setiap momen yang kau lalui dengannya, jangan sampai kau hanya bisa menyesali yang lalu. Karena kau tak akan bisa mengebalikkan waktu!