Suaranya parau. Tiap langkah meneguk nyeri yang dibalutnya dengan kebahagiaan. Matanya basah. Kerinduan yang membuncah merapatkan tubuhnya pada derap langkah orang-orang sumringah.
Ada keharuan melingkupi ruangan dengan ukuran yang lumayan luas ini. Sekian ribu mahasiswa menggenggam gelarnya demi menuju masa depan gemilang dengan membawa setumpuk kualitas. Ada pula kebanggaan terpancar dari wajah-wajah para dosen yang sekian tahun merelakan diri tercebur dalam dunia kebadungan mahasiswa.
Suara parau yang menggema penuh semangat kini hilang. Bukan karena usianya yang sudah tak muda lagi apalagi karena kemalasan yang mendera, melainkan karena tertelan runutan acara. Setelah sang rektor memberikan sambutan hangat yang menyelimuti tiap sudut ruangan, beliau berjalan menuju kursinya didampingi istri tercinta.
Sakit yang diderita sekian lama, dua kali operasi jantung di Indonesia dan sekali di Singapura menenggelamkan segenap jiwa-jiwa yang hadir dalam situasai terkondisikan, bersama memanjatkan doa untuk sang rektor dikomandoi oleh pengisi sambutan lainnya.
Ruangan berubah menjadi sangat padat. Menggema harapan, doa, dan mimpi.
Mata sang rektor menjadi lautan. Tak henti membalas tatapan para wisuda dari ujung ke ujung. Di sela-sela obrolan dengan istrinya, senyum selalu ditebar kepada semua yang hadir. Entah apa yang dibicarakan yang jelas pandangan suami istri yang selalu terlihat romantis ini sesekali beradu. Lesung pipi sang istri nampak. Senyumnya berpendar menyinari relung hati sang rektor dan jemarinya memeluk erat tangan sang rektor. Pertanda kebahagiaan tak terhingga yang ingin disampaikan dan rasa bangga yang ingin diutarakan melalui bahasa hati pada suami tercinta.
Padahal baru sebulan ke luar dari rumah sakit di Singapura pasca operasi jantung dilangsungkan, tapi dengan penuh semangat sang rektor bangkit dari kesakitan. Keceriaan tak terbiaskan di tengah keluarga selalu ia hidangkan sejak salamnya teruntuk sang surya hingga kebahagiaan selalu menjadi sajian hangat aktifitas di dalam rumah sampai pekat malam memerkosa segala keletihan.
Sejuta jempol diacungkan untuk kesetiaan sang rektor terhadap semangat yang tak pernah pudar. Hari ini telah jelas mengalir semangat itu pada jiwa para wisuda yang memberi hormatnya pada sang rektor.
Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali sang rektor bergegas bersiap diri dibantu sang istri untuk menuju gedung perpisahan sekaligus perjumpaan. Ya, perpisahan para wisuda dengan para dosen serta petinggi-petinggi lain juga antar wisuda dan perjumpaan di acara reuni saat mereka telah berhasil menjadi para pemegang amanat, pemimpin bangsa.
Acapkali berdialog denganku, melulu soal mahasiswa yang dibicarakan.
“Mereka harus menjadi output yang berkualitas yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan. Harus mampu berpacu di medan laga yang tak tergilas oleh saingan dari negeri lain, setidaknya seimbang dengan mahasiswa lulusan universitas terbaik di Indonesia.”