"Kutantang kamu! Siapa yang dapet nilai ulangan harian Kimia paling besar minggu depan, dia yang menang!" Tertelan emosi lantaran dipermainkan dan direndahkan, Raphael berteriak marah dan mengajak Lucifer taruhan tanpa berpikir dua kali.
Pemuda bersurai hitam jabrik di depannya mengukir senyuman miring, "Kalau aku yang menang?"
"Kamu bebas mainin aku," sahut Raphael singkat. "Tapi kalo aku yang menang, kamu nggak boleh mainin aku lagi!"
Lucifer terbahak, "Kamu kira aku takut?"
"Anak pembolos kayak kamu memangnya bisa apa?"
Lucifer mengulum senyuman, "Kita liat aja nanti. Tunggu aja kalo aku yang menang, kamu bakal kujadiin hewan peliharaan sebulan!"
____
Seperti yang kalian tahu, dua orang itu sempat bertaruhan sebelumnya.
Dan Lucifer yang menang taruhan langsung mengajak -lebih tepatnya menyeret- Raphael ke toko sana-sini. Katanya sih mau membelikan gadis itu kalung, tapi mereka malah berputar-putar di toko hewan.
Maksudnya bukan kalung manusia, tapi kalung anjing.
"Nah, Guguk putih, sekarang pilih, kamu mau make kalung yang mana."
Raphael diam di tempatnya.
"Karena kamu guguk, jangan ngambil make tangan ya, ngambilnya make mulut."
Raphael berjongkok, Lucifer tertawa. "Nah, bagus! Gitu dong! Pet itu harus patuh sama majikannya!"
Setelah tempat mereka mulai sepi, Raphael berdiri lagi. Tidak jadi mengambil kalung anjing dengan mulutnya. "Lha, ngapain kamu berdi-"
CAKREP!!
Raphael menggigit lengan Lucifer tanpa ampun. Pemuda bersurai hitam itu meronta-ronta, "ARRGHH!! LEPASIN! SEJAK KAPAN KAMU JADI KAYAK TOKEK HAH?! LEPAS!!"
"Heliharaan hisa huas halo hahikannya hurang hajar." (Peliharaan bisa buas kalo majikannya kurang ajar)
Raphael tidak lagi mengindahkan kata-kata Lucifer selanjutnya dan semakin memperkuat gigitannya. Lucifer semakin histeris hingga mengundang perhatian seisi toko. Di saat yang bersamaan, Raphael melepaskan gigitannya lalu kabur keluar.
Tak kehabisan akal, Lucifer kemudian meneriakkan kata-kata kutukan sebelum Raphael lari semakin jauh. "JAMBREEEET!!!"
___
Entah dosa besar apa yang dimiliki gadis berambut putih ini hingga tadi ia berhadapan langsung dengan polisi.
"Aku bukan jambret, goblok!"
Lucifer tersenyum lebar. "Kamu emang jambret. Kamu nyuri-"
"JANGAN NGEFITNAH ORANG!!"
"Tapi kamu beneran nyuri, Raph."
"BOHONG! MANA ADA AKU NYURI?!"
"Kamu nyuri hatiku sampai-sampai aku tega buat ngejadiin kamu hewan peliharaanku." Lucifer dengan bangganya mengangkat tangan kanannya yang memegang tali yang tersambung dengan kalung anjing yang dikenakan Raphael. Tujuan aslinya membelikan Raphael kalung anjing sebenarnya cuma untuk membuat Raphael kesusahan untuk kabur nanti.
Raphael mendesis, Lucifer cukup licik juga memakai pakaian lengan panjang sehingga membuat Raphael kesusahan untuk menggigitnya nanti.
Raphael mendecih, ia benar-benar merasa sehabis dikutuk menjadi hewan peliharaan Lucifer sekarang.
Apalagi setahunya, Lucifer bukanlah orang yang bisa memelihara hewan dengan baik. Tidak ada seekor pun hewan peliharaannya yang sanggup hidup lebih dari 1 bulan. Raphael mulai berpikir buruk, entah cobaan apa yang akan ia hadapi nanti?
Lucifer membawa gadis bersurai putih itu ke supermarket. Pemuda itu menghampiri rak tempat makanan kucing bermerek Wiskas.
"Aku nggak mau makan itu!" Raphael merengek.
Lucifer meletakkan kembali Wiskas tadi ke tempatnya, "Hmm, ikan sarden kalengan mau?"
Raphael mengangguk, lagipula ikan sarden kalengan aman untuk dikonsumsi.
Lucifer tanpa ba-bi-bu langsung mengambil lima kaleng ikan kalengan. "Karena aku sayang sama peliharaanku, kukasih kamu makan banyak deh!"
Raphael mendengus. Sayang darimananya yang tega meneriakinya jambret sampai dikejar warga dan ditangkap polisi?
Dasar Lucifer makhluk gila berotak di selangkangan. Pantas saja tak berakhlak, toh otaknya disimpan di selangkangan.
"My pet mau beli apa lagi?" tanya Lucifer seraya melirik penuh arti ke Raphael.
Raphael tidak menyahut dan memasang tampang judes "apa lihat-lihat". "Ohh, pembalut ya? Kamu PMS? Pantatmu ukuran berapa?"
Raphael berniat menggigit lengan Lucifer lagi, tapi pemuda itu dengan cepat mengayunkan sapu ijuk di sebelahnya sampai-sampai gigi Raphael terhantuk batang sapu dan gusinya berdarah.
"Nah, ayo nakal lagi! Kupukul kamu pake sapu!"
Raphael memegangi mulutnya, ia mati-matian menahan tangis kesakitannya agar tidak terlihat cengeng di depan Lucifer. "A-aku mau kumur …."
"Ya udah, sekarang ayo pergi ke kamar mandi," ucap Lucifer santai seolah tidak ada masalah apa-apa. Awalnya Raphael memang sempat berharap Lucifer melepaskannya atau meninggalkannya saat ia ke kamar mandi, tapi ia salah. Lucifer bahkan tetap membuntutinya.
Kalung anjing Lucifer terlalu menyakitkan baginya. Lehernya selalu tercekik karena Lucifer yang menarik-ulur dirinya bak layangan. Memang ya nasib jadi hewan peliharaan dengan majikan yang tidak punya hati itu selalu ngenes.
Setelah selesai dengan urusannya, akhirnya tiba juga saat untuk pulang. Tapi masalah lain akhirnya mulai muncul lagi. Lucifer tiba-tiba saja mendorongnya masuk ke gang sempit, "Sembunyi di sana dan jangan kemana-mana!"
"Kamu mau kemana?"
"Mau pipis lah!"
Raphael menghela nafas. Saat yang ia tunggu-tunggu untuk lepas dari Lucifer meski hanya semenit pun akhirnya datang. Ia langsung melonggarkan kalung anjingnya.
Namun, diam-diam Raphael menyimpan rasa curiga pada Lucifer. Kalau memang Lucifer cuma ingin pipis, lantas kenapa ia harus disuruh sembunyi di gang sempit begini? Kalau mau pipis, memangnya dia mau pipis dimana?
Raphael mengintip keluar iseng, tapi yang ia dapatkan malah pemandangan Lucifer yang ngobrol mesra dengan seorang wanita. Kalau Raphael tidak salah ingat, nama perempuan itu adalah Rachel Judy.
Jujur saja, meski setiap hari dipermainkan, dijahili, dan direndahkan oleh Lucifer ia sama sekali tidak pernah merasa sakit hati. Hanya marah atau kesal seperti anak kecil. Setelahnya ia akan tetap jadi Raphael yang dingin. Hanya bersama Lucifer saja ia bisa memasang tampang selain tampang datar miliknya.
Tapi mengapa hanya dengan melihat Lucifer yang asyik mengobrol dengan wanita lain sudah membuatnya merasa sakit hati?
Harus ia akui, setiap hari dipermainkan oleh Lucifer perlahan-lahan membuat hatinya tertarik juga oleh Lucifer.
Raphael menyenderkan punggungnya di tembok, lalu berjongkok memeluk lutut. "Nggak. Aku benci sama Lucifer."
Sebuah tangan lalu menepuk pundaknya. Lucifer berdiri di belakangnya, "Benci sama aku?"
"Iya! Aku benci sama kamu! Benci banget!"
"Ahh~ aku juga sayang sama kamu My Pet!" Lucifer memegang kembali tali kalung anjing Raphael. Namun gadis itu menyentak tanda tidak mau.
"Aish, kalo PMS bilang aja. Aku udah beli pembalut buat kamu kok!"
"Jangan pegang aku!"
Lucifer terdiam sebentar. "Eh, aku mau ngasi tau sesuatu."
"Apa?" Raphael menyahut ketus.
"Nanti malem aku mau kencan sama Judy."
JDER!
"Kamu 'kan peliharaanku, aku juga nggak tega sih ngebiarin kamu sendiri."
Hati Raphael terhenyak. Apa ini artinya Lucifer peduli dengannya? Ataukah … ini artinya Lucifer adalah seorang pria aligator?
"Trus?"
"Aku punya rencana. Dengerin baik-baik ya."
___
Raphael duduk di bawah meja seperti rencana Lucifer barusan. Sementara Lucifer dan Judy berkencan ena-ena, ia malah disuruh duduk manis di kolong meja dengan kalung anjing yang tertaut dengan kursi Lucifer. Tak lupa dengan sekotak ikan sarden kalengan yang digoreng Lucifer juga diletakkan bersama dengannya. Kalau lapar, tinggal makan itu saja.
Lucifer memang manusia gila.
Apa maksudnya dengan "tidak tega membiarkan Raphael sendiri" dan tega menyuruhnya duduk di bawah kolong meja sementara ia asyik dengan dunianya sendiri bersama Judy?
Ikan sarden Raphael sudah habis. Tapi ia masih saja merasa lapar. Terkadang memang saat mood-nya sedang kacau, porsi makannya berlipat-lipat.
Raphael menarik ujung celana panjang Lucifer sebagai kode, lalu Lucifer memberikannya daging steak diam-diam. Lucifer bukannya memberikannya baik-baik, malah melemparnya begitu saja hingga mengotori baju Raphael. Seakan-akan sedang berkata "Nih, makan!".
Raphael mendadak menjadi sensitif. Emosinya kian tersulut. Dijadikan hewan peliharaan, disembunyikan di kolong meja sementara Lucifer asyik bermesra-mesraan, disiksa dengan tendangan kaki di kolong meja, Lucifer yang kasar, tidak punya hati dan gila, dan Raphael yang menahan semua rasa sakit itu kini memutuskan untuk memberontak.
Ia menggoyangkan meja dari bawah. Samar-samar ia bisa mendengar suara Judy yang sedikit panik. Lalu disusul dengan suara Lucifer yang mengajak Judy untuk pindah tempat.
Raphael yang mendengarnya tentu saja merasa sakit hati. Sehabis dipermainkan, malah ditinggalkan begitu saja di kolong meja.
Setelah Lucifer dan Judy pergi, ia segera keluar mengendap-endap agar tidak ketahuan siapapun.
Setelah keluar dari restoran itu, barulah dia sadar kalau ia masih membutuhkan Lucifer untuk pulang. Mau balik, nanti dikira orang ketiga. Mau naik taksi atau sejenisnya, dia malah tidak membawa uang.
Ia terpaksa jalan kaki.
Jangan kalian kira perjalanannya mulus. Setelah sempat tersesat karena salah arah tadi, kini ia mulai merasa pusing. Awalnya ia kira hanya pusing biasa yang akan hilang nanti. Tapi Raphael salah. Sakit kepalanya semakin menjadi-jadi, sampai-sampai perutnya juga ikut terasa sakit.
Tiba-tiba saja perutnya melilit-ilit. Raphael memegangi perutnya sakit, jarak ke rumahnya masih jauh sekali. Apa nanti dia akan sanggup untuk pulang sendiri dengan selamat?
"Aku sayang sama peliharaanku."
"Ahh~ aku juga sayang kamu My Pet!"
"Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri."
Kata-kata Lucifer terngiang-ngiang di benaknya. Raphael benar-benar marah. Kalau dipermainkan dalan artian dijahili, ia masih terima. Tapi sejak kapan Lucifer pandai mempermainkan hati?
Kepalanya terasa semakin sakit. Seakan-akan ada sesuatu yang berat menindih dan menjalar ke setiap penjuru kepalanya.
Raphael terjatuh. Kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri.
Suasana jalan saat itu sepi. Hanya ada seekor kucing yang melintas. Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Entah siapa itu, Raphael tidak sanggup menoleh.
Sebuah tangan lalu menepuk pundaknya, "Kak Raphael?"
Pemuda bersurai jingga tadi yang berdiri di depannya panik, "Ya ampun! Kakak kenapa?!"
"Nggak tau … perutku tiba-tiba sakit. Rasanya kayak diilit-ilit."
"Kakak salah makan apa?"
"Nggak tau."
"Kak Raph pusing?" Raphael mengangguk kecil.
"Dari muka Kakak, aku tau Kakak salah makan. Ayo kita ke dokter sekarang!"
Raphael langsung muntah mengeluarkan semua isi perutnya. Industriam mengelus punggungnya pelan, "Tuh! Nggak mungkin 'kan masuk angin sampe nggak kuat berdiri gini? Apalagi sampe perutnya kerasa diilit-ilit begitu?"
Raphael menyandarkan tubuhnya ke Industriam, "Aku mau pulang … aku mau tidur .…"
"Ya udah, biar sekalian aku bikinin air anget sama gula. Kak Raph lantas kenapa bisa nyasar kesini?"
Raphael terdiam sesaat, "Kepalaku pusing, aku nggak kuat ngomong panjang."
___
Keesokan paginya, Lucifer duduk di tepi ranjang Raphael sambil mengatakan kata "maaf" berkali-kali.
Raphael menaikkan selimutnya, lalu tidur dengan posisi punggung yang menghadap Lucifer. Tanda ia tidak peduli dan tidak menerima kata "maaf" dari Lucifer.
"Kemarin kukira kamu ikut ke kolong meja tempat aku pindah, tapi kenapa-"
"Kamu kira aku sudi diem di kolong meja trus ngeliat kolor pelangi cewekmu yang indah maemunah itu hah?!" Raphael beranjak duduk dan langsung ngegas. Meski wajahnya pucat karena sakit, tapi tampang marahnya masih sama.
"Anu … aku sama Judy sebenernya-"
"Gara-gara kamu, aku keracunan makanan sampe sakit gini tau nggak?! Kalo kamu cuma minta maaf aja emangnya bisa sembuh begitu aja? Nggak 'kan?!"
"Kamu keracunan makanan?"
"Ikan sarden kalenganmu itu kadaluarsa! Trus aku lupa kalo aku nggak bisa makan daging sapi!"
"Trus kemarin kamu pulang gimana? Kamu nggak diapa-apain sama orang aneh 'kan?"
"Aku ditolongin sama temen."
"Dibawa ke dokter? Dikasi obat nggak?"
"Hm." Raphael kembali berbaring. Kepalanya masih terasa pusing. Lucifer beranjak mengambil bungkus obatnya, "Obat apaan nih? Murahan banget."
Raphael mendesis, "Daripada kamu, nggak bertanggung jawab."
Lucifer menoleh, "Kamu tau obat paling ampuh buat cewek yang lagi sakit?"
Raphael diam. Ia pikir Lucifer hanya sedang menyiapkan jebakan saja. Lucifer mengambil ponsel di sakunya, lalu membuka aplikasi kamera selfie. Raphael beringsut duduk. Ia merasa curiga akan apa yang hendak Lucifer lakukan.
Lucifer dengan cepat langsung mencuri start dengan mencium pipinya lalu memotret adegan itu dengan kamera ponselnya.
"HAHAHAHAAA!! Liat nih Judy! Aku punya pacar loh~! Aku menang taruhan kemaren!" Pemuda bersurai hitam itu tanpa ba-bi-bu langsung mengirim hasil jepretannya ke Judy.
Lucifer menoleh ke arah Raphael, lalu mamasang tampang sok andalannya. "Kemaren aku taruhan sama Judy. Dia nantangin aku yang masih jomblo buat punya pacar lagi. Sebenernya aku nyuruh kamu sembunyi di kolong meja itu buat ngagetin dia plus buat nembak kamu di depan dia. Tapi kamu malah hilang."
Raphael terdiam.
Lucifer tersenyum jahil, "Nah, kalo obatnya gini kamu pasti cepet sembuh 'kan!"
Lalu Raphael pingsan.