"Kau pernah dengar soal rumor panti yang baru-baru ditutup akhir tahun ini?"
"Ah! Jangan membicarakannya, katanya arwah anak-anak penghuni panti yang dulu bergentayangan disana! Bahkan kemarin aku melihat ada sesuatu yang mengintip dari balik jendelanya."
---
Aku terlahir buta sedari lahir. Ibuku pernah bilang, anak sepertiku tidak akan membawa keberuntungan apa-apa karena aku tidak bisa melihat dunia. Ayahku bilang, aku akan dikirim ke suatu tempat yang penuh dengan anak-anak yang suka bermain-main.
Awalnya kukira Ayah hanya bercanda, tapi beliau benar-benar bersungguh-sungguh membawaku ke tempat itu. Disana aku diberikan tempat tidur yang bagus, makanan yang enak, dan aku punya banyak teman yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Pernah suatu hari aku bilang ke Kak Judy kalau aku ingin pulang, Kak Judy berbicara dengan pelan-pelan denganku, katanya kedua orang tuaku sudah pergi.
Setelah sekian lama, aku semakin tumbuh besar, dan aku sudah mulai mengerti semuanya. Aku bahkan mengerti kalau seumur hidup aku tak akan pernah bisa melihat cahaya. Aku selama ini hanya menelan kegelapan bulat-bulat. Meski aku selalu duduk di sebelah jendela kamarku yang konon katanya banyak cahaya, aku sama sekali tidak pernah merasa terang.
Tapi tidak apa-apa, beberapa saudaraku masih ada yang mau menemaniku. Meski kadang ucapan mereka tidak pernah disaring, aku tidak pernah keberatan. Kita saudara, dan tidak akan ada pertengkaran berarti yang dapat memisahkan kita.
“Nanti akan ada tim dari rumah sakit yang akan memeriksa anak-anak panti.” Magi, salah satu ‘Kakak’ku membuka topik. Meski aku tidak pernah melihat wajahnya, aku tahu dia punya rambut biru yang panjang meski dia lelaki. Soalnya dulu aku sering mendengar ia berteriak saat rambutnya ditarik Kak Judy kalau ia membuat ulah dengan anak lain.
“Diperiksa? Buat apa?” Desper bertanya datar. Yang kutahu, anak itu takut sekali dengan jarum suntik. Bahkan sewaktu imunisasi saat kita masih tujuh tahun, kudengar ia berpuisi panjang sesaat sebelum jarum suntik menembus kulit lengannya.
“Entahlah. Belakangan ini, semenjak Kak Judy meninggalkan kita, aku sering melihat pemilik panti yang baru mengobrol dengan orang asing malam-malam saat aku pergi ke toilet.” Rafael menjelaskan. Dia itu partnernya Magi, mereka sudah seperti intel saja. Kalau ada kabar bagus atau buruk, pasti mereka yang duluan tahu.
“Pemeriksaan kali ini, aku pasti tidak akan lulus. Kalian sudah tahu, aku ini pengidap penyakit paru-paru ....” Vanessa melirih. Dia baru-baru masuk panti. Kudengar dari Magi, katanya dia sengaja dibuang oleh keluarganya karena mereka tidak sanggup membiayai Vanessa. Vanessa juga ditemukan oleh Kak Judy di depan toko roti. Kak Judy memang orang baik, tapi usianya pendek sekali. Dia baru saja meninggal bulan lalu karena kecelakaan.
Aku menundukkan kepala, aku yang buta ini bisa apa coba?
Tak berselang lama, aku bisa mendengar suara seorang pria yang memanggil nama Magi dan Vanessa. Seingatku, itu adalah suara pemilik panti yang baru setelah Kak Judy. Magi mungkin terlihat biasa saja, aku sendiri sudah bisa merasakan Vanessa yang mulai panik.
“Ayo, jangan takut. Lagipula, kita hanya akan diperiksa saja ‘kan?” Magi mencoba menghiburnya. Tapi entah kenapa, aku seperti mendengar keraguan dari sela-sela kalimat Magi.
Setelahnya, aku mendengar suara lembut milik seorang dokter wanita yang menggandeng mereka keluar kamar. Disusul dengan Desper yang berlari ketakutan keluar. Mungkin ia pikir, dokter itu membawa jarum suntik untuknya.
Tak berselang terlalu lama, aku mendengar kabar kalau Magi lulus tes itu. Namun, anehnya hanya Vanessa yang kembali ke kamarku. Tapi dia baru saja keluar lagi, aslinya kami tidak sekamar. Dia hanya suka main-main ke kamarku. Lalu kini nama Desper lah yang dipanggil keluar untuk tes.
“Mana Magi?” tanyaku. Rafael dengan nada datarnya langsung menyahut, “Dia akan diadopsi oleh keluarga lain.”
Aku tersenyum simpul, “Betapa beruntungnya dia.”
Meski tak bisa melihat, aku bisa merasakan kalau Rafael menggeleng ke arahku. “Kamu benar-benar beruntung Hope.”
“Apanya?” Aku bertanya bingung. “Aku tidak bisa melihat seperti kalian. Justru kalian sangat beruntung, bisa melihat betapa indahnya dunia.”
Rafael mendengus, “Kamu beruntung karena tidak melihat dunia yang semakin suram.”
Aku mengangkat wajah, ah dunia semakin suram ya?
Rafael merapatkan posisi duduknya, “Hei, Hope.”
“Apa?”
“Menurut nomor kamar, besok giliran penghuni kamar kita yang akan diperiksa.”
Aku menggumam, “Lalu?”
Rafael menghela nafas berat, “Seandainya besok aku lulus dan bernasib sama seperti Magi dan Desper-“
“Eh, Desper juga mau diadopsi?” Tanyaku memotong, Rafael langsung mengiyakannya.
“Kalau saja nasibku sama seperti Magi dan Desper ... Aku takut sekali ....” Aku merasa Rafael meremas ujung sprei kasurku. Suaranya mulai terdengar serak, apa dia menangis? Mungkin tidak, Rafael bukan anak cengeng. Tapi kalau ia sampai menangis karena ketakutan ....
“Apa yang kamu takutkan?”
Rafael terdiam sejenak, “Aku takut tidak akan bisa kembali ke sini lagi.”
“Kenapa?” Tanyaku polos. Tapi aku bisa mendengar anak itu mulai sesenggukan, “Soalnya, aku diadopsi. Mana boleh aku ke panti lagi ... ya ‘kan?” Nadanya terdengar seperti orang bingung.
“Kak Raf kenapa sih?”
Rafael menepuk-nepuk wajahnya. “Gimana ya ... Aku takut sekali. Mungkin sebelum aku pergi, aku bisa memberi tahumu sesuatu.”
Aku tersenyum simpul, “Apa itu?”
Rafael menggenggam kedua tanganku, lalu menempelkannya ke kaca jendela kamar. “Barangkali aku sudah dijemput sama keluarga baruku, kalau kamu merasa kesepian karena kami sudah nggak ada ... Kamu bisa melihat keluar jendela seperti sekarang. Bayangkan kalau kita sedang bermain-main di halaman panti, setelah itu, aku yakin. Kamu nggak akan ngerasa kesepian lagi.”
“Kenapa gitu?” Aku menoleh ke belakang, tempat dimana sepertinya Kak Rafael berada. “Kak Rafael kayak mau pergi jauh aja.”
“Aku gak bisa bilang ke kamu. Tapi kalau sampai aku-“
“Ekhem. Selanjutnya giliran kamu, yang rambut putih, ya,” ucap seorang dokter tiba-tiba seraya menengok ke ruang kamar kami.
Aku merasakan tangan Rafael yang gemetar menggenggam tanganku. “Kak? Kenapa nggak pergi? Udah dipanggil tuh ....”
Rafael berdiri perlahan-lahan, “Jujur saja. Aku tidak mau diperiksa, aku mau diam disini saja.” Tak berselang lama, aku mendengar suara pria pemilik panti yang baru mengajak Rafael keluar. Lalu Rafael menyuruhku untuk langsung tidur karena sudah jam tidur siang. Jadi, aku langsung tidur saja.
->
Bangunnya, aku tidak lagi mendengar suara gaduh anak panti. Bahkan saat kutanya ke Vanessa, dimana Desper dan Rafael, dia hanya diam saja. “Sepertinya banyak anak yang diadopsi sekarang ya.”
Kudengar Vanessa menangis, dia memelukku erat. Tubuhnya gemetar hebat, sepertinya ia ketakutan sekali. Aku balas memeluknya. Lalu aku menceritakan kepadanya soal jendela dan cara dari Rafael agar tidak merasa kesepian. Tapi tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Ia langsung memaksaku agar aku mengizinkannya tidur di kamarku nanti.
Tanpa terasa, hari sudah mulai pagi lagi. Dan kini giliranku yang diperiksa. Dokter itu memperlakukanku dengan sangat ramah. Dia membantuku naik ke ranjangnya karena tubuhku yang pendek.
“Nona Hope Amily?” Aku mengangguk ketika namaku disebut. Dokter itu menggumam, “Sayang sekali ya. Kamu tidak bisa membantu orang banyak yang lebih membutuhkan karena tubuhmu yang cacat.”
Aku tidak mengerti dokter ini berbicara apa, “Maksudnya?”
“Padahal akan sangat mulia jika kau mampu menyumbangkan anggota tubuhmu. Perusahaan kami sedang kekurangan besar.”
Aku terus memikirkan kata dokter itu. Aku buta, aku tidak pernah membaca buku, pengetahuanku mungkin cuma seluas bak pasir tempat kucing buang hajat. Selama ini aku tahu ini-itu dari kakak-kakakku yang sudah pergi duluan menemui keluarga baru mereka.
Aku kembali ke kamarku, Vanessa masih duduk di ranjangku seperti semula. Dia menangis lagi, saat kutanya kenapa, dia malah menjawab, “Kita memang beruntung.”
Kalau begitu, lalu kenapa dia harus menangis?
“Kita punya tubuh yang cacat, kita tidak harus keluar paksa dari sini.”
“Tidak. Kak Rafael bilang, Magi, Desper dan dia diadopsi-“
“RAFAEL MEMBOHONGIMU!” Vanessa memotong seraya menangis histeris. “Dia sengaja bilang begitu agar kamu tidak sedih. Makanya kemarin dia sempat bilang kamu beruntung karena kamu buta!”
Perkataan dokter tadi ... Aku jadi mulai bisa merasakannya. Aku mulai bisa merasakan apa itu ketakutan yang dialami anak-anak panti kali ini. “Maksudmu ... apa? Mereka-“
“Mereka tidak diadopsi! Justru organ mereka dipotong-potong untuk dijual di pasar gelap! Kak Lucifer Si brengsek pemilik panti yang baru ini kejam sekali!!!”
Mendadak, namun perlahan ... aku bisa merasakan cahaya menembus permukaan mataku. Samar-samar aku bisa mendengar suara canda tawa anak-anak dari luar jendela.
“Kamu pasti tidak tahu soal keluarga baru yang dikatakan Rafael itu sebenarnya adalah mereka yang sudah pergi ke alam sana!”
“BERHENTI MEMBUAL!” Aku berteriak marah. “LIHATLAH KELUAR JENDELA! MEREKA BERMAIN-MAIN DISANA!”
Mungkin Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk melihat dunia, aku bisa melihat wajah Vanessa yang sembab. Gadis itu menoleh ke jendela, “Kau bohong! Mana ada! Mereka semua sudah mati!”
Pintu diketuk dari luar. Aku dan Vanessa sontak menoleh, Kak Lucifer berdiri disana, menatap kami dengan tatapan menarik.
“Dokter, sepertinya ginjal mereka berdua cukup bagus untuk dijual.”
---
Aku senang sekali. Kak Lucifer tidak terlalu jahat menurutku. Berkat dia, aku bisa tertawa, bermain bersama Vanessa, Kak Rafael, Magi, Desper dan Kak Judy dihalaman panti. Bahkan saat lelah tadi, aku duduk di dekat jendela kamarku, dan aku melihat dua orang pria berbisik-bisik ngeri ke arah kami.
Agar mereka tidak ketakutan, aku melambaikan tangan ke arah mereka