“Acedia, ayo kita makan malam.”
Segera kualihkan atensiku dari layar ponsel ke ambang pintu. Mama berdiri di sana sambil berkacak pinggang, menatapku yang masih asyik rebahan dengan mata yang melotot marah. “Bukannya siap-siap, malah main HP! Sana, cepat mandi!!”
Tidak mau memperpanjang masalah, aku segera melangkahkan kakiku keluar kamar menuju kamar mandi. Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat sambil membayangkan karakter gameku yang akan naik level sebentar lagi. Begitu selesai, segera kukeringkan tubuhku dengan menggunakan handuk bersih.
“Kak Luxuria mana?” Tanyaku pada Papa yang berpapasan denganku di depan ruang tamu. Biasanya Kakakku itu sudah ribut bernyanyi dengan suara sumbangnya di dalam kamar.
“Dia udah berangkat duluan,” sahut Papa sembari mengenakan jas hitamnya.
“Kamu pakai baju yang Papa beliin waktu itu ya, Kakakmu bilang mau jemput tunangannya, kamu juga sekalian kenalan sama dia.” Kuanggukkan kepalaku singkat menanggapi ucapan Papa.
“Cowoknya ganteng, kaya pula. Papa jadi senang ngebayangin kakakmu hidup bahagia di masa depan sama anak itu.” Papa tersenyum bangga seraya menepuk punggungku, “ Papa harap, kamu berjodoh sama cowok yang bisa diandelin,” ucap Papa lagi seraya berlalu meninggalkanku mematung di depan ruang tamu. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam kala perkataan Papa terngiang-ngiang lagi di kepalaku.
“Papa harap kamu berjodoh sama cowok yang bisa diandelin.”
Rasanya terlalu mustahil bagiku untuk mendapatkan pasangan yang bisa menerimaku apa adanya. Dibandingkan dengan Kak Luxuria, aku tidak ada apa-apanya.
Kak Luxuria memang teramat cantik dan memiliki tubuh bohay idaman para kaum hawa. Sedangkan aku miliki tubuh pas-pasan seperti uang jajan dari Papa. Belum lagi, aku ini orangnya pemalas, tukang rebahan sambil main game. PR-pun bergantung pada Google dan wi-fi di rumah, tidak pernah sekalipun aku membuka buku paket kecuali saat ada ulangan.
Kubilang karena aku adalah Acedia Belphegor, gadis pemalas berusia 17 tahun.
_____
Hanya dalam satu kedipan mata, aku sudah berganti dari bikini bergambar Doraemon ke dress violet dengan model bahu terbuka. Dalam satu kedipan mata juga, aku sudah berdiri di depan sebuah restoran mewah. Memang benar kata Papa, tunangan Kak Luxuria memang terlahir dari keluarga berada.
Baru selangkah kakiku menapaki lantai restoran itu, aku sudah disambut oleh lambaian tangan dan cengiran khas Kak Luxuria. Di sampingnya, duduklah seorang lelaki bersurai oranye yang sebaya dengannya.
Lelaki itu melempar senyuman ke arahku kala aku mendudukkan pantatku di kursi di sebelah Kak Luxuria. Namun, Mama malah menyentil lenganku, “Jangan duduk disana.”
Aku pun akhirnya duduk di sebelah kursi tadi. Menjaga jarak dengan Kak Luxuria. Sialnya, aku malah jatuh ke lantai karena salah posisi. Si oranye bukannya membantu, malah tertawa kecil melihatku meregang harga diri di bawah meja.
“Duh. Malu-maluin aja kamu ini.” Papa menatapku sebal.
Setelah memastikan posisi dudukku sudah benar, aku menundukkan kepalaku lagi seraya melirih, “Maaf.”
Kembali ke percakapan, Papa dan Mama mulai mengobrol dengan Si rambut oranye. Dari pembicaraan yang mereka tekuni saat ini, aku tahu kalau Si rambut oranye ini bekerja di sebuah perusahaan ternama. Pantas kaya, orang rajin rupanya.
Tidak banyak yang kusimak dalam obrolan mereka. Aku lebih memilih menyibukkan diri dengan karakter-karakter game di ponselku. Menyia-nyiakan wi-fi gratis adalah perilaku buruk yang tidak patut ditiru ‘kan?
Sesekali pula, aku melirik lelaki berambut oranye itu di sela-sela keseruan permainan ponselku. Harus kuakui, semakin lama menatapnya aku semakin ditarik untuk jatuh hati padanya. Suaranya saat tertawa benar-benar mencerminkan ketampanannya. Tubuh ideal berkulit kuning langsat memancarkan citranya bak seorang pangeran dari dunia dongeng. Meski terselat dua kursi diantara kami, aku bisa merasakan betapa wanginya lelaki itu.
Benar-benar lelaki idaman.
Ia benar-benar cocok dengan Kak Luxuria yang tak kalah cantiknya.
Mereka serasi.
Dan aku benci mengakuinya.
Aku jadi semakin berkecil hati untuk mendapatkan lelaki seperti tunangan Kak Luxuria.
Oh, betapa beruntungnya Kak Luxuria.
Di sela-sela obrolan mereka, aku bisa mendengar kalau Papa dan Mama menceritakan sisi burukku pada lelaki bersurai oranye itu. Ia hanya menggeleng sembari tertawa kecil mendengar cerita kedua orangtuaku.
Hatiku semakin mengecil kala lelaki itu turut ikut-ikutan mengataiku pemalas. Tidak ada bedanya dengan Kak Luxuria. CUIH!
Dibandingkan dengan mereka, aku ini bagaikan bintang kecil di langit yang memiliki cahaya yang paling redup. Kak Luxuria sebagai mataharinya dan lelaki bersurai oranye itu sebagai bulannya.
Aku tidak akan dianggap saat Kak Luxuria ada. Sama persis seperti bintang dan matahari bukan? Dan lelaki itu, adalah bulan ... pasangan dari matahari.
Aku hanyalah satu dari sekian banyak bintang di langit sana. Mungkin kalian tidak akan bisa melihat eksistensi diriku karena saking redupnya cahaya yang kumiliki.
Kak Luxuria adalah mentari bagi keluarga kami. Pembawa suasana hangat seperti musim panas, memperindah suasana rumah bak musim semi, dan sekaligus sumber kebahagiaan keluarga. Dan aku ... kebalikannya.
Lelaki bersurai oranye itu adalah bulan yang amat serasi dengan Kak Luxuria. Sumber harapan bagi bintang sepertiku, karena ... Cuma dia yang tersenyum ke arahku selain Kak Luxuria.
Aku tadi sempat berharap kalau lelaki itulah yang menjadi pasanganku, tapi dia ‘kan tunangannya Kak Luxuria ...
“Jangan main HP mulu. Mama sita nih.” Tanpa permisi, Mama merenggut ponsel yang berada dalam genggaman tanganku dengan paksa.
“Kamu itu ya. Jangan main HP kalo lagi ada acara keluarga gini. Kebiasaan jelek jangan diterusin.” Papa menggurui.
“Di rumah, kamu udah sering mainin game itu. Sekarang, di kuar kamu harus belajar peduli, sosialisasi.” Kak Luxuria menimpali.
“Biar dapet tunangan bagus kayak Kakakmu.” Semuanya langsung tertawa mendengar ucapan Mama.
Dasar. Apanya sih yang lucu?!
Di tengah-tengah suara tawa keluarga kami, seorang lelaki bersurai hitam jabrik datang dan menutup mata Kak Luxuria dari belakang.
“Lama menungguku, My Pride?” Lelaki itu bertanya dengan nada menggoda. Kulirik lelaki bersurai oranye di seberangku.
Dia sama sekali tidak menampakkan ekspresi kesal ataupun cemburu. Apa dia tidak benar-benar mencintai Kak Luxuria?
“Nahahahahaa. Tamu yang kita tunggu akhirnya datang juga.” Mama menyambut lelaki bersurai hitam itu sembari menggeser kursi di sebelahku, mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.
“Lama banget kamu Superbia!” Kak Luxuria memasang tampang ngambek. Rona merah menghiasi pipi putihnya. Membuat ekspresi malu-malu kelincinya (?) terlihat sangat kentara.
“Habis. Klien cerewet itu datang lagi ke kantor. Jadi, mau nggak mau, harus kuladeni dulu.” Lelaki yang dipanggil Superbia itu mencubit pipi Kak Luxuria gemas. Si rambut oranye masih belum menunjukkan ekspresi apa pun. Sebenarnya dia kenapa sih?
Sadar akan ekspresi bingungku, Mama membuka pembicaraan lagi, “Ced, kenalin. Dia tunangan Kak Luxuria, namanya Arion Superbia.”
Aku ternganga. Lalu Si rambut oranye itu ... siapa?
“Oh ya, kita belum kenalan ‘kan? Kenalin. Namaku Industriam.” Lelaki bernama Industriam itu mengulurkan tangannya ke arahku, mengajakku berkenalan.
“A-Acedia.” Aku sempat tergagap menanggapi ucapannya. Sesuatu di balik dadaku berdentam-dentam gila. Oh, semoga saja wajahku tidak memerah karena jantungku yang mulai memompa darah lebih cepat.
“Acedia. Nama yang bagus.” Entah apa yang kumimpikan semalam, hari ini malah ada orang yang memujiku. Bahkan orangtuaku saja hanya memujiku saat aku melakukan rutinitasku.
“Duh, rajinnya Acedia main HP.”
Aku mengulum senyuman tipis.
Kedua orangtuaku saling pandang sebentar ke arah Industriam, lalu melempar senyuman ke arahku. Ada apa lagi ini?
“Acedia Belphegor.” Papa memanggilku datar.
“Kamu tahu hukuman apa yang akan kamu terima karena gagal lulus ujian masuk Universitas bulan lalu?” Mama menatapku dengan tatapan tajam. Ucapannya sudah sedingin dan setajam es runcing saja.
Tentu saja jawaban atas pertanyaannya sudah terbayang di benakku.
Kerja.
“Dua tahun dari sekarang, kamu bakal Papa nika-“
“OGAH!”
“Dengerin dulu Papa kamu ngomong.”
“Tapi nikah itu ribet Ma-“
“Dengerin sampe habis!”
“Tapi aku masih gadis.”
Semuanya tergelak.
“Aku masih suci buat nikah.”
Suara gelak tawa mereka semakin menjadi-jadi sampai-sampai mengundang perhatian seisi restoran.
Superbia menepuk punggung Industriam keras-keras walau masih tergelak, “Hhhh ... Ribet amat emang kalo mau berurusan sama dia.”
Industriam menyeringai, “Oke. Terusin.”
Oke. Aku semakin dibuat bingung disini. Pertama, aku dijelek-jelekkan di depan umum. Kedua, aku malah dipaksa nikah walau itu masih dua tahun lagi. Mereka ini sebenarnya mau apa?!
Tahu begini jadinya, lebih baik aku tidak usah ikut tadi.
Kesal. Kulangkahkan kakiku keluar restoran. “Aku mau pulang saja!”
“Eh?!”
Dan, keberuntungan memang tidak pernah konsisten memihakku. Bisa-bisanya aku jatuh di pintu keluar restoran, dan dress-ku malah terbuka, menampilkan dalaman bermotif Doraemon milikku dengan tidak tahu dirinya.
Aku bisa mendengar suara kikikan orang-orang di belakangku. Mataku mulai terasa panas hingga tanpa sadar air mata mulai mengisi penuh pelupuk mataku. Aku bergegas berlari keluar menahan malu.
Aku ... memang cuma pembawa sial keluarga. Harapanku untuk bertahan hidup mulai menipis. Apa memang lebih baik aku mati saja ditabrak mobil agar beban keluargaku berkurang satu?
Sekali lagi, aku terjatuh di depan restoran karena sepatu hak rendah yang kukenakan. Kesal. Kulempar sepasang perusak suasana itu sembarangan ke sudut jalan, tidak peduli dengan tukang parkir yang protes akibat sandal yang melayang ke kepala botaknya.
Biar saja!
Siapa peduli?
Siapa suruh dia berdiri di sana?!
Telanjang kaki, aku menembus ramainya jalanan kota sore itu. Hingga tanpa sadar, kedua kakiku sudah menginjak belahan kaca kecil yang tercecer di jalan. Tidak peduli dengan rasa sakit yang merayap, aku tetap melangkahkan kakiku maju. Mengangkat sedikit dress yang menjuntai sampai ke betis agar tidak menyangkut di jalan. Menghiraukan tatapan takut orang-orang padaku yang melihat tapak darah yang membekas di sepanjang langkahku.
“ACEDIA TUNGGU!!” Aku kenal suara ini. Suara yang sempat menghipnotisku agar terbuai dengan ketampanan pangeran dongeng menyebalkan itu.
Namun tetap saja, gadis yang jarang bergerak sepertiku itu mudah lelah, apalagi dengan belahan kaca yang menusuk di kaki. Neraka serasa mengikuti kemana pun kaki ini melangkah.
Pandanganku mengabur sesaat.
Lalu mengabur lagi saat kepala ini mulai terasa pening. Hingga sesuatu yang keras dan bergerak cepat menabrakku dari arah samping hingga aku tidak lagi merasakan keberadaan otakku di dalam lindungan tempurung kepalaku.
Jadi, begini rasanya mati.
Ringan sekali.
Rasanya beban hidupku sudah menghilang semua.
_____
Tiiiit. Tiiiit. Tiiiit.
Pelan-pelan mataku mulai membuka. Kepalaku berdengung sebentar seperti habis dihantam benda keras tadi.
Sakit.
Pandanganku mengabur sesaat. Aku tidak bereaksi saat aku melihat seorang lelaki bersurai oranye duduk termenung di sisi ranjang rumah sakit. Serta ... aku yang terbaring disana dengan tangan terlipat di perut.
“Acedia pasti bakal seneng banget kalo dia tau kamu datang bawa bunga tiap hari untuk dia. Sayang, dokter sendiri nggak tau kapan Acedia bangun dari komanya.”
Industriam mengukir senyuman tipis, “Ya ... Aku yakin Tante, suatu hari nanti Acedia pasti bakal bangun dari tidurnya.”
Mama tersenyum pedih, “Anu ... Tante ada urusan sama dokter, Tante bisa minta tolong titip Acedia sebentar ‘kan?” Setelah dijawab dengan anggukan kepala Industriam, Mama langsung melenggangkan langkahnya keluar.
Industriam memegangi tangan kiriku erat, “Ced,” katanya pelan. “Cepet bangun ya? Di rumah sepi loh kalo nggak ada kamu.”
“Haha ... Aku sih yang kesepian. Kamu lagi mimpi apa sih?” Ngelantur. Dia mulai menunjukkan sisi frustrasinya.
“Please ...” suaranya kian melirih, dia mengukir senyuman hampa, “Tolong jadiin kisah kita ini berakhir bahagia.”
Hening.
“Aku kangen.” Tanpa sadar, air mataku mulai meleleh turun. “Kamu nggak kangen sama orangtuamu? Kak Luxuria? Atau ... aku?”
Tidak ada yang menyahut.
“Ini udah lama banget loh Ced, please ... cepet bangun ya? Kita semua udah nungguin kamu disini. Tolong ya?”
Pintu diketuk dari luar. Industriam cepat-cepat mencari kalimat lain untuk tubuhku yang terbaring tenang di ranjang rumah sakit, “Jaga dirimu baik-baik ya. Aku pulang dulu, besok aku pasti kesini lagi.”
Dia mengecup keningku perlahan.
“Maaf udah lancang main cium-cium ya. Kamu boleh pukul aku kalo udah bangun nanti ... Good night, Acedia.”
Mama dan Papa memasuki ruangan, Industriam berbalik dan tersenyum ke arah mereka. “Tante, Om, saya pamit pulang dulu ya.”
“Iya, makasih ya Industriam. Sayang ya, padahal kita mau menjodohkan kalian. Tapi Acedia malah ....”
“Gak pa-pa Om, terimakasih ya, anak Om ... Memang kayak putri tidur beneran.”
Tapi, aku mulai menyadari suatu keganjilan.
Kenapa aku bisa melihat diriku sediri?
Aku pun menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dalam tubuhku yang terbaring di atas ranjang.
Dadaku tidak lagi terlihat naik-turun memompa udara.
“Industriam, Papa, Mama ... Sebenarnya aku ini kenapaaa?”