Di Padang gurun yang panas sekelompok tentara sedang mengendarai mobil menuju suatu tempat, saat berjalan mobil itu melewati lubang "Waah...." Ucapku sambil memegang kepalaku
"Kau tidak apa-apa?" Ucap orang yang duduk di samping
"Ya, aku baik-baik saja. Kepalaku keras" Jawabku sambil tersenyum
Mendengar ucapanku dia tersenyum dan berkata "Okey, mau minum setelah pulang kerja?"
"Aku tidak suka minum" Jawabku sambil melambai-lambaikan tanganku
"Kau orang dewasa'kan?"
"Aku tidak bisa minum, karena itu dosa"
"Cuma masalah mindset. Nikmati saja"
"Aku akan makan saja"
"Setuju"
Diapun mengajakku TOS untuk menunjukkan kesepakatan kami.
"Ada sebuah mobil!"
Aku kaget dan melihat ke depan
"Hei, anak baru, coba cek!" Ucap kapten timku
"Y-ya"
aku langsung mengecek menggunakan teropong dan melihat sebuah mobil sedang berjalan.
"Mobil itu dibuat dari bagian-bagian yang terpisah?" Ucap orang yang duduk disampingku
"Bom bunuh diri?" Ucapku
"Haruskah kita tembak?"
"Tidak, mari kita lihat dulu. Kita akan tembak kalau ada ancaman di depan kita" Ucap kaptenku
"Dimengerti!"
Mobil itu pun melewati mobil kami tanpa ada masalah.
"Terlalu berlebihan, ya?"
"Oh? Ada konvoi lain!"
"Awasi!"
Aku langsung memeriksanya menggunakan teropong dan melihat dengan teliti dan benar saja dari belakang mobil muncul seseorang bersenjata! "BAHAYA!" Ucapku sambil berteriak.
Orang-orang itu menembakkan RPG dan berhasil mengenai salah satu mobil kami, seketika tempat itu berubah jadi Medan perang semua pasukan langsung bersiap mengambil senjata dan posisi masing-masing. Dan baku tembak pun tidak bisa dihindari.
Aku yang masih belum terbiasa di Medan perang pun menjadi panik, kesusahan untuk bernafas dan seperti orang linglung.
"Bryn! Apa yang kau lakukan?!" Ucap orang yang tadi duduk disampingku
Aku pun menghela nafas dan langsung keluar dari mobil dan mengambil posisi untuk menembak.
"Bryn, kalau ini terlalu sulit untukmu..."
"Tidak, tidak apa-apa"
Aku pun membidik dan lalu menarik pelatuk senapanku
"pada hari itu, aku membunuh untuk pertama kalinya".
Aku adalah anak yang canggung.... Anak yang tidak pernah bisa membaur. Dan bertahun-tahun berlalu, tanpa ada yang berubah, Aku benar-benar Gagal menjadi bagian dari kehidupan sosial. Aku merasa tercekik selama aku sekolah, aku merasa hidup seperti ikan yang ada di luar lautan.
KEHIDUPAN TERASA MENYIKSA SEKALI.
Suatu hari aku bertengkar dengan orang tuaku dan pergi kehutan untuk menenangkan diri dan disana aku tidak sengaja bertemu dengan seekor serigala. Serigala itu langsung melompat dan menerkamku, kejadian itu sangat cepat dan aku tidak bisa melawan "terserah. Aku tidak masalah, aku tidak takut mati" batinku tapi saat kesadaranku mulai hilang ada seseorang bersenjata datang membunuh serigala itu dan aku pun pingsan.
"Apa dia warga biasa?? Sepertinya cuma anak kecil"
"Apa yang harus kita lakukan? Tim kita adalah pembunuh, kita tidak pergi ke mana-mana membawa obat"
"Tunggu pendarahannya berhenti!"
"Tidurlah!"
Aku pun terbangun di rumah sakit, mereka bilang kalau ada orang yang membawaku kesini pada malam itu dan untung saja mereka bergerak cepat, kalau tidak mungkin aku sudah mati sekarang.
Setelah aku keluar dari rumah sakit pak Yanto mengajakku bertemu di tokonya, dia adalah orang yang menyelamatkanku malam itu.
"Oh iya, ini ponselmu yang kami temukan di hutan” Ucap pak Yanto
"Terima kasih" Ucapku sambil mengambil ponselku
"Ehh, sebenarnya siapa kalian, pak Yanto?"
"Kami melakukan penyelidikan atas permintaan walikota"
"Seperti serigala kemarin?"
"Tidak, itu hanya kebetulan. Tujuan kami adalah menangkap penyelundup"
"Bapak sangat keren saat bertarung kemarin!"
"Terimakasih"
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di tengah hutan malam-malam?"
"Cuma jalan-jalan"
"Itu berbahaya"
"Aku sudah terbiasa"
"Lebih baik kamu menghentikan kebiasaan itu!"
"Baik pak"
"Ngomong-ngomong tolong jangan ceritakan tentang hewan buas yang ada di hutan pada teman atau orang lain karena itu bisa menciptakan kepanikan di masyarakat nantinya!"
"Baik, lagi pula aku tidak memiliki teman untuk aku bercerita. Bahkan di ponselku ini tidak ada nomer siapapun didalamnya"
"Kalau begitu simpan saja nomerku!"
"Eh.. kenapa?"
"Maukah kamu jadi teman chattingku?"
"Baiklah"
"Satu hal lagi, apa kamu tertarik menjadi tentara? Sebenarnya aku sedang mencari kandidat prajurit muda untuk mengikuti latihan militer, apa kamu tertarik?"
"Orang sepertiku apa mungkin bisa menjadi tentara?"
"Tentu bisa, jangan pesimis begitu, ini nomer telponku kalau kamu tertarik bisa langsung hubungi aku saja"
"Baik"
Bahkan setelah memutuskan untuk keluar sekolah, aku ikut dalam pertemuan orang tua. Rencanaku adalah untuk menghilang pelan-pelan dan tidak begitu tiba-tiba, tidak begitu berani memang.
"Apa kau bocah Ikki?" Ucap seorang wanita
Risa risanti dari jaksa sosial. Orang termasyhur dari organisasi yang menyebut dirinya suci.
"Orang tuamu ingin bicara denganmu"
"Tentang pertemuan itu?"
"Tidak, hanya obrolan biasa. Begitu yah... Apa kau senang berada di sekolah?"
"Sekolah?"
Dia langsung menanyakan pertanyaan sulit tapi dia mempersiapkannya dengan kalimat yang mencurigakan. Malam, hutan, hewan, berburu, kemanusiaan.
Dia sepertinya ingin mencari tahu dari aku.
"Aku sedikit paham sekarang, usiamu saat ini adalah usia di mana pikiranmu sedang kacau ya, Ikki?"
"Ya.."
"Satu pertanyaan terakhir, apa yang bisa kau lakukan saat menjumpai sesuatu yang tidak bisa di terima?"
"Apa maksudnya?"
"Apa kau berjuang untuk mengubahnya atau lingkunganmu atau hal yang lain?"
"Aku... Entahlah. Aku tak pernah memikirkannya"
"Begitu ya, kau pasti sudah menyimpang"
Sore harinya
"Coklat tart hari ini luar biasa" Ucapku
"Ya, sama enaknya seperti yang kurasakan di Creme Chantilly" Ucap pak Yanto
"Kayaknya kita sudah memakan hampir semua toko terkenal di kota ini?"
"Iya"
"Uh, pak Yanto, terima kasih karena selalu mengajakku"
"Ikki"
"Ya?"
"Pertemanan tanpa pamrih itu sangat langka dan sangat berharga"
"Yah, orang yang terlalu egois itu sangat konyol"
"Ya, hari ini mungkin hubungan ini bisa berakhir"
Malam itu, aku berdebat dengan orang tuaku, aku bilang pada mereka aku ingin meninggalkan sekolah. Kami saling membentak sampai larut malam, dan pikiran itu terlihat di kepalaku. Atau bisa di bilang, muncul secara bersamaan.
"Ini aku" Ucap pak Yanto
"Aku ingin meninggalkan rumah"
"Kalau kau ingin kabur seperti anak kecil, kau takkan kubantu tapi kalau kau pergi seperti seorang laki-laki, aku terima"
"Yah"
"Kau sebaiknya bersiap, mulai di sini segalanya akan sulit"
"Apa yang akan terjadi di kehidupanku, tak ada yang tahu" Batinku
Keesokan paginya pak Yanto menjemputku, kami melewati beberapa gunung dan tiba di sebuah kota.
"Hanya disini aku bisa mengantarmu masuklah kedalam. Aku sudah memberi tahu mereka kau akan datang"
"Pak Yanto tidak ikut?"
"Kau ingin menjadi prajurit dengan terus dibantu setiap waktu?"
"Tidak"
"Dapatkan latihan dasar dan jadilah laki-laki saat ini, kau sama sekali bukan level itu"
Aku pun menghabiskan waktu enam bulanku di tempat pelatihan dan mendapatkan sertifikat kelulusan.
Saat malam hari Luis orang yang tadi duduk di sampingku, kami makan bersama di sebuah warung kecil di markas
"Daging murah itu alot ya?!, tapi rasanya unik. Ya'kan bryn?"
"Besok masih ada misi lain, makanlah"
"Ya"
Aku mengambil Garpu dan saat aku melihat daging itu aku teringat akan orang yang aku bunuh yang membuatku sangat mual dan berlari meninggalkan Luis.
Di gang sempit aku muntah sambil memikirkan orang yang aku bunuh "Aku....aku.. membunuh.. membunuh... Aku... Aku" Aku sudah tidak kuat lagi dengan dunia ini.
Aku mengambil pistolku dan mengarahkannya ke arah kepalaku, tapi saat aku mau menarik pelatuknya ada seorang gadis menghentikanku dan berkata "Ikki tidak boleh mati!" Sambil tersenyum, melihat wajah polosnya air mataku tidak bisa berhenti jatuh aku pun tidak jadi bunuh diri.
Setelah enam bulan pelatihanku akhirnya aku merasakan banyak pengalaman pertama. Zona perang pertamaku, pemandangan kemiskinan yang pertama kulihat, pertama kalinya merasakan nafsu membunuh dari manusia. tapi para tentara ini sering melakukan diskriminasi kepada orang yang kemampuannya lebih lemah, sama saja seperti yang lainnya.
"Aduh ninggalin senapan mereka sendiri ya? Entahlah mereka itu pemberani atau bodoh. Aku akan membantumu setelah punyaku selesai" Ucap Luis
Ada satu lagi pengalaman pertama yang kurasakan di negara ini, yaitu mempunyai teman sejati.
Kami sering bermain dengan anak-anak lokal saat kami tidak bertugas. mereka selalu tersenyum, meski mereka hidup dalam perang dan kemiskinan, hanya dengan melihat senyum itu membuatku-...
Tentu saja setelah apa yang aku lakukan kemarin pasti membuat Yasmin marah, Yasmin adalah nama dari gadis yang menghentikanku bunuh diri kemarin.
"Kau hanya bermain sama Mika dan yang lain" Ucap Yasmin dengan wajah kesal
"Er, maaf ya. Dangan ini tolong maafkan aku" Ucapku sambil memberikan sebuah coklat batangan pada Yasmin
Wajah senangnya tidak bisa berbohong walau dia bilang " Cuma kali ini saja" dengan wajah imutnya
"Wah, coklat! Kenapa cuma Yasmin yang dapat?" Ucap anak-anak yang lain
"Tidak adil"
"Aku juga pengen, Bryn" Ucap Luis sambil melompat kearahku
"Kenapa kau ikut-ikutan, Luis?"
Aku pun memberikan semua coklatku pada mereka
"Padahal aku dapat banyak manisan.."
"Setengah ya?" Ucap Yasmin
"Kau yakin?"
"Ya!"
"Terima kasih ya"
"Hidup di negari ini sungguh menderita. Tapi kami merasakan setengah menderita dan setengah hidup"
"Yasmin"
"Ayo kita bagi dua, Ikki"
"Enak" Ucap Yasmin dengan senyuman bahagia
Mendengar itu hatiku menjadi tersentuh dan aku merasa ingin menangis.
"Ikki kenapa kamu datang ke negara ini?" Ucap Luis
"Aku kabur ke sini"
"Banyak orang yang berkata seperti itu"
"Mereka tidak terlihat seperti itu"
"Mereka merasa bisa tetap kuat dengan membuat kekacauan. Tapi mereka sendiri takut dan cemas"
"Luis sendiri kenapa kesini?"
"Aku dulu ikut klub lari saat masih kecil, aku diharapkan bisa mewakili negaraku dalam kompetisi dan membawa pulang medali. Tapi... "
"Orang berjas hitam?"
"Ya, uang lebih penting dari medali. Bukan perjanjian yang buruk untuk orang miskin sepertiku"
"Luis.. dan apa kisahmu?"
Di hari liburku aku datang bermain dengan anak-anak lokal lagi, Luis sedang bermain sepak bola dengan para anak laki-laki sedangkan aku duduk bersama Yasmin di bawah pohon untuk berteduh.
"Bryn, apa kau lelah?" Ucap Jasmin
"Tidak, senyummu membuatku semangat"
"Baiklah"
"Apa sekolah menyenangkan?"
"Kami senang saat makan siang di sekolah, aku juga belajar program komputer"
"Baguslah, kau juga bilang ingin belajar program sebelumnya"
"Aku akan memakai komputer untuk memberi makan semua orang"
"Kau berjuang ya" Ucapku sambil mengelus kepala Yasmin
"Berkat orang yang memberi donasi itu"
"Banyak orang baik kok"
"Benarkah?"
"Bryn, bergabunglah dengan kami" Ucap Mika
"Bantu aku, aku tidak bisa mengalahkan mereka sendirian" Ucap Luis
"Ok, ayo"
Setelah kabur ke Tanah ini, aku jadi berhenti dan tidak bergerak lagi. Selagi aku berbuat baik di sini dan di sana, itu adalah harga yang harus aku bayar untuk menghindari mata yang depresi yang mengarah padaku. Dan hanya dengan itu, aku memasuki tahun keduaku dalam hidupku sebagai pembunuh.
Di markas tentara sedang berlangsung rapat untuk melakukan penyerang, tujuan dari misi ini adalah melenyapkan pos pasukan di dalam pabrik yang memproduksi narkotika jenis baru. Selain itu penjagaannya sangat ketat dan sepertinya mereka memiliki persenjataan yang cukup canggih
Keesokan harinya setelah rapat aku dan Luis pergi ke sekolah untuk memeriksa anak-anak disana tapi saat aku dan Luis sampai disana, sudah tidak ada orang satupun di sekolah itu padahal sekarang masih jam belajar.
"Ayo, Ikki kita bisa bertemu mereka lagi setelah misi usai" Ucap Luis
"Benar"
Malam hari misi pun di mulai kami bergerak dari semak-semak mendekati pabrik dengan hati-hati. Kami menghancurkan tembok dengan Bom dan berhasil masuk ke dalam pabrik saat di dalam kami berpencar menjadi kelompok kecil beranggotakan dua orang. aku dan Luis menembak setiap orang yang ada di dalam pabrik saat kami memeriksa sebuah ruangan, di ruang itu sangat gelap dan minim penerangan kami masuk dengan perlahan dan berhati-hati, kami mendengar suara kaleng dan Luis langsung menembak kearah suara itu tapi...
"Tidak mungkin" Ucap Luis dengan muka panik
Ternyata yang Luis tembak adalah anak-anak lokal yang sedang di manfaatkan oleh para teroris. Terlihat wajah ketakutan pada anak-anak yang masih selamat dan wajah Yasmin yang sangat ketakutan.
"Yasmin?" Ucapku
"Ikki"
Seketika aku dan Luis merasa sangat terpukul dan bersalah
"Aku tak menyadarinya sampai aku menembak... Aku menembak mereka..." Ucap Luis
"Sekolah membutuhkan uang jadi kami semua bertugas mencoba obat" Ucap Yasmin
"Kalian semua? Kalian berusaha mendapatkan uang dengan menjual masa Depan kalian" Ucapku
"A-apa kalian mau membunuh kami?"
"Tenanglah kami tidak akan melakukan itu" Ucapku
"A-aku melakukannya lagi!" Ucap Luis
Saat kami sedang berpikir tiba-tiba radio kami aktif, aku pun menjawab panggilan itu. Tidak lama setelah itu kapten regu datang dan menembak mati semua anak yang sedang terluka, saat itu aku sangat kaget dan kesal.
"Kenapa? Apa kau pikir tidak baik membunuh anak kecil yang sedang terluka?" Ucap kaptenku
"Iya" Jawabku
Kaptenku langsung menampar dan bilang "Hanya karena satu orang dunia ini bisa hancur oleh sebab itu jangan biarkan satu orang pun selamat, cepat pergi misi sudah selesai!" Dia pun pergi saat itu aku ingin menembak kepalanya tapi Luis menghentikanku dan berkata " Apa kau sudah gila? Aku juga berfikir seperti itu tapi kalau kau membunuhnya sekarang sama saja dengan menutup masa depan kita".
Dari dalam lemari Yasmin keluar dan memanggilku "Ikki"
Saat kami berlari meninggalkan pabrik tiba-tiba ada helikopter datang dan meledakkan seisi pabrik.
"Kalau dibiarkan kita bisa terkena ledakannya" Ucap Luis
Luis mengambil RPG dari dalam tasnya lalu menembak jatuh salah satu halikopter itu.
"Sebenarnya dulu aku punya teman, waktu itu kami berkelahi dan karena kesalahanku dia tewas. Tujuanku ke Negara ini sebenarnya untuk menghukum diriku Sendiri tapi sekarang aku sudah muak aku tidak akan lari lagi karena itu cepatlah pergi aku yang akan memancing mereka menjauh" Ucap Luis
"Aku juga akan berhenti kabur jadi jangan mati ya? Aku pergi dulu!" Jawabku
Aku pun lari sambil menggendong anak anak yang masih selamat, tapi saat aku berhasil keluar dari kebun itu sebuah rudal jatuh disana dan menghancurkan semuanya.....
Sejak hari itu aku menjadi seorang solo aku membunuh semua teroris dan pemberontak tapi juga menyelamatkan anak-anak yang di manfaatkan oleh mereka, aku membeli sebuah bangunan di kota yang aku rasa aman dari konflik menggunakan uang tabunganku. Untuk menghindari kecurigaan aku mengandalkan Yasmin untuk merawat dan menjaga mereka.
Setalah 2 tahun aku meninggalkan negeriku aku mendapat panggilan untuk kembali ke negariku dengan kata lain ini adalah perpisahan, sebelum pergi aku datang menemui Yasmin untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Ikki, apa kau akan kembali ke negerimu?" Ucap Yasmin
"Iya, tapi tenang aku akan tetap mengirimkan uang walau aku yakin asetmu lebih besar dari uang yang aku kirim"
"Bukan itu masalah! Kau adalah keluarga kami"
"Terima kasih, tapi ini perpisahan selamat tinggal"
"Ikki....."
Malam itu pun dipenuhi oleh suara tangisan seorang gadis.....
"Apa sebaiknya kuhubungi lebih cepat? Sekarang sudah April, Jadi sekarang sudah musim panen" Ucap pak Yanto
"Oh tidak, lalu situasinya seperti apa?"
"Saat ini, baik kita atau teroris tidak ada yang membuat langkah besar. Kesempatan terbaik kita adalah memperluas pencarian di area ini, tapi kita kekurangan orang"
"Apa kau yakin membutuhkanku? Aku tak bisa apa-apa dan hanya menjadi beban di sana"
"Kau tak pernah berubah, ya? Artinya, kau menerima dirimu apa adanya"
Saat aku membaca laporan tetang pergerakan teroris aku menyadari makin tidak bermaknanya hidup ini.
Malam itu aku pergi makan malam dan tidak sengaja bertemu seorang gadis yang membuat hatiku berdebar-debar aku langsung mendatanginya
"halo gadis cantik apa yang kau lakukan di sini sendirian?"
"Ebi" Ucap gadis itu dengan lembut
"Ebi??"
Baru kali pertama aku mendengar nama itu, tapi entah kenapa rasanya tidak asing dan terdengar seperti musik di telingaku
Setelah kami berbincang cukup lama alasan kenapa dia di restoran sendirian karena dia baru saja di campakkan oleh pacarnya yang selingkuh, kami berdua berbicara tentang banyak hal sepanjang malam itu.
Keesokan harinya aku pergi ke markas dan bertemu temanku saat pelatihan dulu
"Apa itu kau, Ikki?"
Dia memasang muka terkejut
"Memang terlihat seperti siapa?"
"Kau seperti orang yang berbeda"
"Kau juga sama"
Kami pun memulai rapatnya dan membagi tugas untuk mengawasi beberapa tempat yang memiliki resiko besar dimana para teroris akan melakukan Serangan, dan aku mendapatkan tugas untuk mengawasi area didekat hutan.
Malam hari aku bertemu lagi dengan Ebi dan berbincang-bincang mengenai hidup, idealisme dan kemanusiaan. Ebi adalah seorang guru di SMA lokal dan dia memiliki murid-murid yang sangat nakal yang membuatnya cukup depresi, tapi dia tidak punya niatan untuk berhenti mengajar Karena menurutnya kalau dia tidak mengajari mereka Maka siapa lagi yang mau mengajari mereka.
Hari-hariku aku habiskan untuk melakukan pengintaian dan juga kencan dengan Ebi... Sampai waktunya semakin sedikit
Mungkin aku tak beraksi karena takut mengambil resiko yang membuatku ragu-ragu, Tapi aku sudah muak dengan itu semua.
Malam itu di dalam hutan pun menjadi Medan perang antara para teroris dan para tentara banyak korban berjatuhan di kedua pihak tapi pertempuran ini belum menemukan titik terangnya kedua pihak terus menerus mengirimkan pasukan kedalam hutan.
Beberapa hari ketelah itu aku mendapat cuti untuk beberapa hari dan aku menghabiskan waktu itu untuk bersama Ebi.
"Ayo menikah!" Ucap Ebi
"Ha? Kenapa?"
"Aku merasa kita sudah cukup saling mengenal dan kau adalah pria yang baik, mungkin"
"Mungkin? Sungguh wanita yang unik, ok ayo menikah"
"Sudah di tentukan ya!"
"Ya"
Ke esokkan harinya
Besok itu malam pesta panen kedua pihak tengah berseteru, dan hutan sudah menjadi Medan perang" Ucap temanku Zaki
"Apa lukamu sudah sembuh?" Ucapku
"Aku tidak akan pensiun cuman karena ini. Bagaimana denganmu? Apakah tanganmu masih belum sembuh?"
"Belum"
"Oh iya... Kapan kau melahirkan?" Sambil melihat ke arah Indah yang duduk disamping kami
"Bukan aku yang melahirkan Mereka ini Chintya dan Amanda, suatu hari aku ingin menjadi guru" Ucap temanku Indah
"Apa, di SMK SUGI?" Balas Zaki
"Pemerintah berencana membuat proyek untuk mengirimkan anak-anak korban perang belajar di sana dan aku akan disana membantu mereka" Ucap Indah
"Jadi mereka berdua?" Ucapku
"Yah, dua kandidat" Balas Indah
"Eyepatchmu keren juga ya Nona dan yang ini banyak makan ya minta dikit dong" Ucap Zaki
"Nggak" Ucap Amanda
"Kau minta ditembak?" Ucapku
"Tidak lebih dari beberapa tahun lagi. Dulu saat aku bersekolah disana, rasanya seru sekali aku juga ingin mereka merasakan kesenangan itu"
"Aku mengerti aku akan mendukungmu"
"Jadi kita bertiga yang pecundang sudah menemukan jalan kita masing-masing, ya? Lagi-lagi, aku bersyukur bisa satu tim dengan kalian"
Zaki mengulurkan tangannya
"Sudah wajar kalau tangan kita bersatu kan? Ayolah! Tunjukkan kalau kita beneran rekan satu tim!"
"Oh, itu ya?" Ucap indah
"Baiklah" Ucap Zaki
"Tunjukkan.. " Ucap Chintya
" Kalau kita rekan" Ucap Amanda
"Ya" Ucap indah
Kebenaran dari teroris dan tentara yang menutupi diri mereka akan terungkap setelah mereka tahu tentang cerita itu, orang-orang akan berubah. Tidak, mereka akan memaksakan diri untuk berubah dengan planet yang pelan-pelan akan mati, satu-satunya sumber adalah kehidupan itu sendiri dan waktunya sudah tiba.
"Tidak mungkin terlalu banyak teroris?"
"Sialan"
"Kita harus bagaimana?"
"Laksanakan keberangkatan darurat! Indah, minta markas mengirimkan pasukan bantuan"
"B-baik"
Dalam sekejap seluruh kota berubah menjadi Medan perang, suara tembakan menggema di sesisi kota menandakan kericuan yang ada di penjuru kota.
Suatu hari, aku sadar aku tak punya apa-apa. Aku terpisah dari keluargaku, kehilangan teman baikku bahkan meninggalkan orang-orang yang menyayangiku. Dan... Aku bahkan sampai mengasingkan diri tapi di dalam kantung yang aku kira kosong ternyata masih menyisakan satu hal terakhir.
"Aku ingin bertemu denganmu suatu hari nanti"
Untuk bisa menepati janji yang aku ingat dan tidak kuingat, aku akan menulis ulang takdir gadis yang hidup sendiri selamanya
Pasukan tentara berhasil menekan mundur para teroris tapi tidak mengukir banyak korban jiwa yang berjatuhan, aku bergabung dalam tim yang bertugas untuk membunuh bos dari para teroris tapi naas semua pasukan kecuali aku terbunuh oleh para teroris, aku kehilangan lengan kananku tapi aku masih bisa bergerak dan bertemu dengan ketua para teroris.
"Risa risanti apa ada arti dari semua perbutanku?"
Setelah aku membunuh ketua teroris aku mendengar suara di antara mayat disana dan menghampirinya, saat aku melihat wajahnya "E-ebi?" Aku sangat kaget
"Ikki?"
"Kenapa kau di sini? Maksudku, semua yang sudah kulakukan... Jadi kenapa?"
"Karena anak-anak itu tak punya masa depan"
"Aku yakin pelan tapi pasti.."
"Hei, apa yang terjadi pada dunia?"
"Masih hidup kok, kotor, sedih dan kejam....di ambang kehancuran... Tapi dunia masih hidup"
"Jadi aku gagal, ya? Mungkin kita harusnya mengadakan pernikahan lebih cepat..... "
"Jangan main-main... Jangan main-main! Aaaaaa...." Aku berteriak dengan keras aku berusaha untuk menangis tapi air mataku tidak keluar
Tubuhku mulai dingin dan kepalaku mulai kehilangan kesadaran "Ahh.. ini adalah akhirnya" Aku pun mati karena kehilangan banyak darah karena lukaku.
Pesan yang ingin aku sampaikan adalah hidup ini membutuhkan proses dan Proses itu tidaklah mudah jadi untuk kalian para pelajar jangan mudah menyerah dan teruslah semangat untuk mengejar cita-cita kalian
TAMAT