"Berapa usia Anda saat pertama kali membunuh?"
"Aku tidak ingat persis, tujuh belas tahun lewat beberapa bulan."
"Apa Anda mengenal para korban?"
"Aku melakukannya secara acak, mungkin itu yang membuatku tidak pernah terlacak."
"Acak? Seperti waktu memilih saya untuk menuliskan kisah Anda?"
"Tidak. Aku secara khusus memilihmu."
"Ma--maksud Anda?!"
"Dengar ... tidak semuanya harus aku jawab sekarang, bukan?" balas pria itu sambil memegang gelas minuman dengan tenang.
Waktu seolah berjalan lambat saat jemari Nirmala menulis di buku catatannya dengan gemetar. Riset, begitu istilah yang umum digunakan para author. Semacam itulah. Rupanya menggambarkan karakter tokoh lebih mudah jika rekaan belaka, pikir Nirmala. Dia cukup kesulitan untuk menggambarkan karakter sang tokoh utama dengan rangkaian kata demi sebuah novel yang akan dia buat.
Di hadapan Nirmala duduk seorang pria belum genap berusia 30 tahun. Perawatan tubuh yang sangat baik membuat pria itu tampak jauh lebih muda. Dia mengenakan kemeja putih yang mungkin dibuat secara khusus untuknya karena menempel begitu pas di badan. Dalam kondisi duduk pun pria itu terlihat cukup tinggi, celana abu-abu gelap tampak indah membungkus kakinya yang panjang. Sementara itu, jas yang berwarna serupa belum lama disampirkannya pada sandaran tempat duduk.
Dia! Robby Harizal Yusra, seseorang yang mengaku bertanggung jawab sebagai pelaku pembunuhan. Siapa sangka? Pria mapan dan rupawan ini menyimpan deretan misteri yang belum terpecahkan oleh kepolisian sejak hampir tiga belas tahun silam.
"Lagipula aku sudah menuruti permintaanmu untuk bertemu di cafe ini, bukan?" lanjut Obi. "Sebaiknya berhenti memanggilku 'Anda' karena terkesan begitu formal dan kaku. Aku khawatir nanti hasil tulisanmu juga sekaku ini."
Kaku? Entah mengapa Nirmala terusik dengan perkataan itu. Dia tak ingin dianggap sebagai seorang author yang tidak becus mewujudkan kisah ini menjadi sebuah novel bagus. Padahal kenyataannya ... memang dia masih tergolong amatir.
Memang, menulis cerita ini bukan keinginan Nirmala sendiri. Berawal dari kegemaran menulis, belum lama ini Nirmala coba memposting beberapa tulisannya di suatu grup kepenulisan menggunakan nama pena dan akun anonim. Tidak terlalu populer, juga belum ada hasil nominal yang besar. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat untuk terus belajar. Dari berbagai genre telah dia coba tuliskan, para pembaca setianya mengatakan bahwa dirinya berbakat, terutama untuk menulis genre misteri.
Lalu, tiba-tiba datang tawaran melalui inbox di media sosialnya. Sebuah tawaran misterius. Seseorang ingin kisah nyatanya dipublikasikan dalam sebuah novel. Celakanya, kisah tersebut tentang pembunuhan berantai.
Rasa penasaran membuat Nirmala menerima tawaran dari calon narasumbernya tersebut. Namun, tentu harus sangat berhati-hati, bisa saja sebenarnya orang itu sudah berniat memperdaya atau bahkan membunuhnya.
Setelah Nirmala memastikan identitas dan meminta pertemuan dengan persyaratan yang menjamin keselamatannya, maka di sinilah dia sekarang, bertatap muka langsung dengannya. Pembunuh sadis itu berada persis di hadapan, seberang meja, hanya terpisahkan sebuah vas berisi setangkai bunga.
Kafe ini cukup ramai pengunjung, duduk di samping jendela berkaca bening besar membuat Nirmala merasa cukup aman. Area terbuka dan banyak orang tentu tidak memungkinkan lawan bicaranya berbuat macam-macam.
Sejenak kemudian Nirmala mencoba rileks dengan mengembuskan napas panjang. Sambil mengendalikan debar di dada, Nirmala berusaha meloloskan pertanyaan basa-basi untuk mengalihkan pembicaraan, "Kamu suka makan buah-buahan?"
"Aku suka strawberry, merah seperti darah segar yang sedang mengalir, renyah seperti derak tulang yang diremukkan hantaman pisau daging."
Entah mengapa setelah mendengar jawaban itu tiba-tiba Nirmala teringat detil kondisi salah satu korban yang kemarin dikirimkan ke HP-nya. Salah seorang korbannya yang tewas mengenaskan terpotong menjadi sembilan bagian. Dibuang di hutan tanpa sisa pakaian, tanpa rambut dan beberapa bagian tulang belakang.
Nyata. Setelah Nirmala menelusuri berbagai artikel berita di koran dan internet memang pembunuhan itu benar-benar terjadi. Identitas korban telah terungkap tetapi tidak dengan pelakunya.
"Kehidupanmu terlihat nyaman, apa yang mendorongmu berbuat hal sedemikian kejam, Obi?" Nirmala berusaha keras untuk mendapatkan bahan tulisan sebanyak-banyaknya.
"Mungkin aku hanya butuh hiburan dan sedikit ketegangan."
Beberapa kali Obi melirik ke arah jam tangan mewahnya. Secangkir kopi cold brew kembali dia tuangkan dari botol kaca. Iya, sesuai dengan namanya kopi ini tidak dibuat dengan menyeduh pakai air panas melainkan direndam dengan air dingin semalaman. Bubuk dari biji kopi lokal dengan rasa autentik dan cara penyajian yang berbeda telah menciptakan kopi berprofil unik, seunik seorang Obi bagi Nirmala.
"Apa kamu sedang ada janji lain?" tanya Nirmala menangkap gelagat sang lawan bicara.
Obi melambaikan tangan ke arah mobilnya. Seorang wanita menawan kemudian datang membawa sebuah koper kecil hitam, memasuki kafe dengan langkah anggunnya. Seorang sekretaris pribadi, begitu pikir Nirmala.
"Para manager cabang sudah menunggu, Pak. Apa perlu kita cancel?" tanya sekretaris itu.
"Bagaimana, Nona Nirmala? Bisa kita lanjutkan lain kali?"
"Bi--bisa! Tentu saja! Maaf, aku tidak tahu kalau kamu mau ada meeting."
"Aku harap kita bisa segera bertemu kembali," pamit Obi sambil mengenakan kembali jasnya tanpa mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Nirmala.
"Terima kasih sudah berkenan datang!" Nirmala sambil tersenyum tipis.
"Singkat saja Vonny, aku tunggu di mobil!"
"Baik, Pak!"
Nirmala belum mengerti mengapa sang sekretaris berambut panjang dan pirang itu masih di sini. Dengan cekatan jemari lentik Vonny mengeluarkan seberkas surat dan menyiapkan bolpoin.
"Ini ...?"
"Surat kontrak, bahwa Anda akan menyelesaikan novel sesuai perjanjian tenggat waktu dan tanpa membocorkan identitas Pak Obi sebelum beliau sendiri memutuskan identitasnya boleh diketahui publik."
Nirmala membaca surat itu dengan teliti. Tertera sebuah nominal reward kontrak yang cukup besar, kemudian juga tentang bagi hasil penjualan setelah dibukukan.
"Ini sebagai uang muka kontrak, sisanya setelah Anda menyelesaikan bab pertama." Vonny menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi segepok uang.
Nirmala sedikit gugup karena merasa diperlakukan seolah dia author yang sudah menghasilkan karya terkenal. Bahkan latar belakang pendidikannya sama sekali tidak berkaitan dengan dunia kepenulisan.
"Tidak ada opsi lain jika misalnya kerjasama ini putus di tengah jalan?"
"Tidak. Jika ingin mundur, sekarang adalah saat yang tepat!" tukas Vonny.
Tanda tangan kini telah dibubuhkan di atas meterai, tepat di samping amplop uang yang ujungnya sudah terbuka. Sang sekretaris segera memasukkan surat kontrak itu kembali ke koper, menggantinya dengan sebendel berkas.
"Apa lagi ini?"
"Hasil karya author sebelum Anda."
Nirmala mengernyitkan dahi. "Hanya sekian bab? Mengapa tidak diselesaikan?"
"Hasil tulisannya tidak memuaskan, dan si author sudah tidak bisa lagi melanjutkan karena dia sudah meninggal."
Nirmala mematung memikirkan kata-kata sang sekretaris barusan. Pikirannya seperti mendadak tersengat karena kejutan.
"Baik, saya permisi!" Vonny menyalami Nirmala. "Selamat berkarya!"
"Tu--tunggu!" Nirmala berdiri mencegah sang sekretaris pergi.
Namun, langkah Vonny ternyata lebih cepat, sedangkan Nirmala masih syok. Kini dia kembali duduk, sendirian memegang sebuah berkas di sebelah amplop tebal dan dua cangkir kopi. Nirmala merasa ada yang janggal.
Author yang sebelumnya meninggal?
Hasil tulisannya kurang memuaskan?
Jangan-jangan ....
Dari jendela kafe terlihat Vonny telah mendekati mobil. Nirmala tergopoh-gopoh berlari mencapai pintu keluar. Seorang supir dengan penampilan berkelas baru saja menutupkan pintu untuk Vonny. Dengan segera mereka melaju pergi meninggalkan Nirmala.
Apa risiko pekerjaan ini adalah nyawa?!
------
Tulisan di atas adalah cuplikan bab 1 versi cetak.
Open PO hingga tanggal 14 April 2021.
Untuk versi platform Noveltoon silakan langsung ke profil saya. Terima kasih.