Cahaya rembulan menyinari rambut panjang ibunda Marie. Mataku berbinar melihatnya, sangat terang di mataku. "Ibunda, aku ingin rambutmu," rengekku kepada ibunda Marie.
Beliau terkekeh. Beliau menggendongku ala bridal style. "Sekarang kamu bisa memainkan rambut ibunda." aku terkekeh, perlakuan ibunda sangat manis. Raut wajahku berubah datar ketika melihat bayang-bayang dari madam Niny. Dia membuatku sangat marah.
Untung saja ibunda peka terhadap perubahan ekspresiku. Beliau menarik pita biru yang berada di rambutnya, dan melemparkannya ke arah madam Niny.
Aku bisa melihat madam Niny yang sedang kesusahan melepas lilitan pita itu dari leher putihnya. "Slurp h-hatiku sakit, ibunda," badanku bergetar karena aku menangis cukup histeris. Mata ibunda bergetar hebat, beliau tidak tega jika anaknya menangis.
"A-nanda Lalisa, apa perlu ibunda membunuh madam Niny?" tanya ibunda kepadaku.
Dengan menganggukkan kepala pelan aku menyetujuinya. Aku menggigit bawah bibirku pelan. "Sekalian si Nick juga, ibunda. Aku mohon..." ibunda tersenyum tulus. "Miçolanya ĺosna!" mata ibunda menyala terang.
Rasa insecureku kembali datang. Kekuatan cahaya mataku tidak bisa menyamai ibunda walaupun sedikit saja. Cahaya mataku hanya berfungsi untuk menyinari kegelapan, mengucapkan mantra.
Tali pita yang berada di leher madam Niny berubah menjadi se-ekor ular raksasa yang membelit tubuh madam Niny. PYARR. Wow pertunjukan yang sangat mengejutkan bagiku.
Tubuh madam Niny meledak dan membuat hujan daging. Aku mendengus kesal. "Dasar biadap. Luar tubuh saja mulus luar biasa. Tapi, isi tubuhnya bau amis..." gumamanku meredakan emosi ibunda Marie. Beliau memelukku senang.
Dengan ajaib, pita biru itu langsung kembali ke pemiliknya tanpa disuruh. Rambut ibunda Marie kembali terikat dengan sang pita biru.
Mataku melihat cemburu terhadap satu orang yang bersorak ria di perkemahan itu. Area perkemahan itu telah dilindungi oleh kekuatan para pesertanya. Tapi, bukan berarti ibundaku tidak bisa memecahkan perlindungan itu.
"Ibunda. Aku ingin orang yang sedang berbangga diri itu menjadi seorang tunanetra," pintaku kepada ibunda. Ibunda melangkah maju ke arah perkemahan itu. Seketika semua perlindungan itu hilang ketika ibunda melewatinya. Aku bersorak gembira.
Mata baliau menatap orang-orang perkemahan dengan tatapan aneh. Madam Nick menyadari keberadaan ibunda Marie. "Ibunda, anakmu sudah kami keluarkan dari perkemahan ini. Jadi silahkan pergi.." ibunda menarik krah baju madam Nick dengan amarah menggebu-gebu.
"Sistemmu tidak adil. Lebih baik jari jemarimu aku ambil untuk bando Anjingku di kerajaan." badan madam Nick bergetar hebat. Setetes demi setetes darah keluar dari mulut madam Nick.
Aku tersenyum bangga mempunyai ibunda Marie.
Para peserta dari pekemah sampai panitianya menganga tak percaya. Entah mengapa mereka malah membeku di tempat melihat madam Nick dan ibunda Marie. Aku tidak diam saja. Kaki jenjangku melangkah ke arah peserta kemah yang membeku itu.
"Kalian senang aku keluar dari sini?"
Dua orang dari mereka mengangguk kaku. Tatapanku berubah tajam, cahaya mataku bersinar terang di wajah para peserta kemah itu. Tidak lama, daging wajah mereka mengelupas dari tempatnya. Wajah mereka bersisa tulang sahaja.
"Wow. Fungsi baru dari cahaya mataku,"
Ibunda menarik paksa jari-jemari madam Nick hingga terlepas. PLAK. Ibunda menampar madam sampai mati.
Naga yang ditangkap oleh para pekemah ini lepas dari jeratannya. "GUARGHH!" sang naga tunduk kepada ibunda Marie. Mulut naga itu terbuka lebar dan melahap seluruh mayat-mayat mengerikan itu.
Ibunda mengelus pipiku. "Di dunia ini tidak ada yang lebih menyayangimu daripada ibunda, ananda Lalisa. Jangan lupakan ibunda ya nak,"