Telah kubaca suratmu yang kesekian kalinya. Semakin menumpuk rindu, sebanyak itu pula surat yang kita tuliskan. Tahukah kau sayang? Laci mejaku hampir penuh terisi oleh surat-surat yang kau kirim, tapi tenang masih ada laci meja lainnya juga lemari yang siap menampung.
Sekarang memang bukan lagi jamannya berkorespondensi. Sudah pindah ke layar handphone, tapi semua itu terlalu mudah. Bahkan sangat mudah. Padahal perjuangan cinta kita tak semudah itu bukan? Apalagi untuk mempertahankannya membutuhkan pengorbanan.
Aku lebih senang menyatakan segala perasaan melalui secarik kertas ini, karena dengan begitu semua terasa lebih indah. Aku dapat berulang kali membaca surat-suratmu. Tidak perlu takut kuota pesan penuh, seperti pesan di handphone salah seorang kawan yang sudah mencapai ratusan. Dia bingung, pesan mana saja yang layak dihapus dan mana yang pantas untuk tetap disimpan. Ada pula kawan lainnya yang handphonenya mulai error lantaran kepenuhan pesan.
Aku bisa membaca surat-suratmu sesuka hati kapan pun. Tinggal duduk manis dan membuka laci meja, lalu membacanya dengan sangat hati-hati sepenuh hati.
Surat hari ini merupakan surat yang ke-25. Aku jadi teringat sebuah kalimat dalam salah satu suratmu, “Jika pak pos adalah superhero yang mampu melesat dalam sekejap mata, mungkin aku akan kewalahan menulis surat karena kerinduanku padamu seirama dengan denyut jantungku.” Kau benar sayang dan kerinduan membelajarkan kita untuk lebih bersabar, lebih menghargai sebuah perjuangan cinta.
Kawan-kawanku banyak yang menganggap konyol. Katanya sudah tahu rindu malah ditahan-tahan dengan sengaja menunggu kedatangan surat. “Beli pulsa yang lima ribu paling cuma tujuh ribu,” begitu katanya, agar aku segera meneleponmu, menumpahkan segala kerinduan. Abaikan saja.
Bisa-bisa pak pos yang biasanya mengantar surat kemari dengan motor akan merasa aneh karena aku kian jarang menerima surat dan Mba Nida teller paling cantik di kantor pos juga bisa jadi merasa heran karena aku semakin jarang mengirim surat.
Oh ya sayang, saat kuterima surat darimu hujan lebat sedang turun. Pak pos menunggu di teras rumah sampai hujan mereda. Kami berbincang-bincang. Pak pos menceritakan sesuatu padaku. Dulu sewaktu masih jaman penjajahan, surat-surat yang masuk ke kantor pos dapat diterima oleh si penerima surat dalam tempo sebulan. Bahkan bisa lebih dari itu, jika si penerima dan pengirim berada di provinsi berbeda. Belum lagi berbeda pulau, pasti lebih lama. Kita beruntung sayang. Surat-surat yang dikirim hanya butuh waktu tiga hari untuk dapat sampai.
Pak pos kini motornya sudah berganti dengan yang lebih bagus. Motor butut yang dulu biasa dipakai dijual dan motor baru ini dibeli dari hasil menabung selama bekerja berpuluh tahun menjadi tukang pos.
Ada yang menarik lagi dari perbincangan kami. Dulu katanya, tukang pos mengantarkan surat dengan sepeda. Tidak seperti sekarang menggunakan motor, jadi bisa lebih cepat.
Pak pos sempat bertanya, sebenarnya surat-surat yang kuterima dari siapa, kekasih atau suami. Kujawab dari kekasih yang akan menjadi suami. Pak pos tertawa dan mendoakan kita. Pak pos ingin bertemu denganmu.
Sayang, terima kasih. Sampai sekarang kita masih juga berkorespondensi. Meski pekerjaan di kantor menguras waktu dan tidak bisa dinego, begitupun dengan surat-suratku, tapi kau masih saja bisa membagi waktu.
Terima kasih sayang. Selalu mencumbu dalam kata-kata. Masih setia berenang dalam ingatan. Aku mencintaimu. Mencintai dalam kerinduan. Merindukan dalam kehilangan.