Tak banyak yang tau tentang sikap asli gadis itu. Walau terlihat tenang matanya terus saja mengawasi sekelilingnya. Gadis itu tak mudah di dekati seseorang, sikapnya yang dingin membuat semua temannya bahkan tak berani walau hanya sekedar bertanya.
Pernah ada yang bertanya namun bukannya merespon gadis itu hanya memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak ada pertanyaan dan tak ada jawaban. Teman-temannya menganggap dirinya sebagai manekin hidup. sedingin dan sekali itulah dirinya.
Dari ujung lorong beberapa pasang mata memperhatikan gadis itu. Tampak sebuah senyuman yang terlihat mengembang di salah satu wajahnya dia adalah Bimo. Pria dengan segudang prestasi, kepintaran tidak menjadikannya sombong, dia sangat baik kepada siapapun namun berbeda saat ia mencoba akrab Sinta gadis yang sudah di cap sebagai manekin di sekolah. Selain cantik sifatnya itu membuat beberapa dari mereka penasaran termasuk Bimo.
"Hey sepertinya ada banyak bunga disini!" Pekik Aldo membuyarkan lamunan pria itu. Vino seakan tau Aldo tengah memperhatikan gerak geriknya. Memang temannya satu ini sudah sangat lama tau jika Bimo suka dengan Sinta hanya saja Bimo enggan mengakuinya.
"Maksudmu......?" ucap Bimo menatap Aldo tak mengerti.
"Ya begitu... sepertinya diantara kami ada yang berbunga bunga tuh" imbuh Aldo. sedangkan Bimo segera menjitak kepala Aldo.
"Siapa?" Tanya Bimo memandang ke arah dua temannya secara bergantian.
"Kamu lah siapa lagi" kali ini Handi yang menjawab. Bimo diam ada apa dengan kedua temannya ini.
" Jangan ikut ikutan deh Han!" dengus Bimo karena Handi tidak membelanya dan ikut memojokkannya.
" Bukannya aku ini ikut ikutan tapi dari sorot matamu itu sudah sangat jelas, kau memperhatikannya kan," Tanya Handi mencoba mencari jawaban. Namun bukan jawaban yang dia dapat melainkan Bimo yang semakin menyangkal jika Bimo menyukai Sinta.
"Aku? Menyukainya ?" Tanya Bimo. Aldo dan Handi mengangguk.
"Jawabanku enggak!" ucap Bimo kembali menyangkalnya.
Bimo segera berdiri dan meninggalkan Aldo dan Handi yang masih duduk mencoba untuk terus mengorek informasi.
Bimo pergi dengan perasaan kesal. Namun dia juga mencerna ucapan dari kedua sahabatnya.
'aku menyukainya? Apa apaan mereka !" batin Bimo.
Bimo berjalan menuju lorong dan tidak sengaja berpapasan dengan Sinta. Sinta yang tau dirinya tengah di perhatikan sesekali meliriknya tanpa ekspresi. Bimo yang mengetahui jika Sinta memperhatikannya jadi salah tingkah. Padahal jika bertemu dengan orang lain tidak ada perasaan aneh seperti saat bertemu dengan Sinta. Ada aura tersendiri jika Bimo melihatnya secara langsung ada sesuatu hal yang membuat dirinya tiba-tiba tersenyum dan bingung harus bagaimana.
Dengan wajah yang sudah memerah Bimo segera mempercepat langkahnya, dadanya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar. Bimo bersembunyi dari Sinta.
"Ada apa denganku?"Batin Bimo memegangi dadanya. " Perasaan apa ini? Tak pernah aku merasakan sesuatu seperti ini? Apakah aku memang menyukai gadis itu? Atau kah aku sudah gila!" Bimo mengacak-acak rambutnya yang hitam. Hatinya berkecamuk bagaimana bisa dia menyukai gadis manekin itu.
Bimo keluar dari tempat persembunyiannya, dia tak tau jika Sinta telah lama mematung di belakangnya. Bimo menengok kanan dan kiri "sepertinya aman" saat Bimo berbalik sosok gadis itu mengejutkan dirinya. Bimo terjatuh di lantai saking kagetnya.
Dengan napas yang tidak teratur Bimo mencoba menghadapi situasi canggung ini. Mata gadis itu terus saja memperhatikan dirinya. Gadis itu membungkuk dan Jongkok seraya mengulurkan tangan. Bimo diam tanpa kata.
Bimo mengusap-usap pantatnya yang sakit. Tangan gadis itu mencoba ia abaikan. Namun gadis itu seakan tidak menerima penolakan. Gadis itu segera meraih tangan Bimo dan mencoba untuk membantunya berdiri.
Bimo mematung, biasanya dia akan menolak tapi lain halnya dengan ini. Ada perasaan senang saat dia di tolong gadis manekin yang tanpa ekspresi.
" Bisa gila kalau begini?" Mata keduanya saling bertemu. Di dalam hati Bimo ber bunga-bunga.
Setelah di rasa baik baik saja Sinta pergi tanpa mengatakan apapun.
.
.
.
.
Aldo dan Handi dibuat bingung dengan sikap Bimo yang aneh. " Apa kau tidak apa-apa?" tanya Handi memegang kening Bimo.
"Apa mungkin ucapan kalian tadi benar?" tanya Bimo kedua sahabatnya saling pandang.
"Ucapan? Ucapan yang mana dan soal apa?" tanya Aldo ragu. Aldo tau jika dia tidak sepintar Bimo lalu ucapan yang mana? dan soal apa?
"Ah.... bisa gila aku..." Bimo mengacak-acak rambutnya untuk kesekian kali.
Melihat tingkah Bimo, Aldo dan Handi kebingungan tidak biasanya Bimo bersikap seperti ini pasti ini masalah ucapannya tadi.
"Coba jelaskan pada kami ada apa? Pasti akan kami usahakan untukmu jika kami berdua bisa" ucap Handi dan Aldo mengangguk tanda sepemikiran.
"Menurutmu apa aku ini sedang jatuh cinta?" tanya Bimo ragu. mendengar ucapan Bimo Aldo dan Handi tertawa bersamaan.
"Hahahaha..... coba tanyakan pada hatimu." jelas Handi menunjuk dada Bimo.
"Aku serius!" ucap Bimo dengan nada meyakinkan.
"Bagaimana kami bisa tau jika kau sedang jatuh cinta? ah.... gini ajah aku mempunyai beberapa pertanyaan padamu kau jawab dengan jujur dan jangan mencoba berbohong kepada kami." Bimo mengangguk mengerti.
"Pertanyaannya simpel kok kamu pasti bisa karena kau yang sedang jatuh cinta. Apa saat kau melihat dirinya kau jadi aneh?" Bimo tak langsung menjawab pertanyaan dari Handi.
" Pertanyaan macam apa itu?" Bimo mencoba menyangkal.
"Jawab saja." ucap Aldo dan Handi bersamaan.
" Apa kau merasakan perasaan aneh? Apa jantungmu derdegup kencang saat melihatnya? Apa lidahmu menjadi kelu? Apa kamu juga merasakan perasaan seperti ada bunga bunga gitu"
"aish..... curang!!!!" Aldo dan Handi saling menatap pasti memang benar Bimo mempunyai perasaan pada Sinta.
"Iya iya... aku" belum sempat Bimo mengatakan perasaannya tiba-tiba saja punggungnya seperti ada yang memegang. Aldo dan Handi saling memandang dan menunjuk ke arah Bimo.
Bimo bertanya dengan isyarat dan kedua temannya pun menjawab dengan isyarat juga. Bimo melirik ke belakang ternyata gadis itu memegang punggungnya dan menyerahkan sesuatu.
" Kemarin kau menjatuhkannya. Lain kali hati-hati" ucap Sinta membuat Wajah Bimo merona.
Handi dan Aldo menggeleng ternyata Bimo sudah di buat bucin oleh Sinta.
"Hadeh..... "
Jangan lupa tinggalkan komentar...
Maaf bahasanya masih banyak kekurangan.....
kritik dan sarannya... ☺️☺️☺️❤️❤️❤️