Apakah salah jika aku merasakan cinta, dan Apakah salah aku mendambakan sebuah kasih sayang.
"Dor...!! Dor...!!!"
Suara tembakan menggema di seluruh rumah yang ku tinggali bersama suamiku, terlihat beberapa orang tiba-tiba memasuki kediaman kami.
Dorrr...dorr...dorr...
Suara tembakan terus menggema di seluruh rumahku, terlihat suamiku mengambil sebuah pistol dan menyuruhku bersembunyi di suatu tempat.
"Bunuh dia, jangan sampai mereka selamat!!" seru seorang pria yang menyuruh para anak buahnya untuk membunuh suamiku dan aku.
"Ambil pistolnya, kita segera pergi dari tempat ini!!" seru suamiku kepadaku.
Namaku Shella dan Suamiku Malik. Suamiku adalah seorang mantan bos mafia yang sangat terkenal. semenjak menikah dengan ku... dia telah berjanji akan melupakan dunia hitam yang selama ini dia geluti.
"Shella, jangan sampai kau kau terpisah dari ku!!" seru Suamiku. aku menganggukkan kepalaku, kemudian kedua tanganku mulai memegang pistol yang telah ku buka pelatuknya.
Sesaat kemudian...
Dor!! dor!! dor!! aku mulai melepaskan tembakan.
Malik selalu berpesan padaku agar aku belajar untuk menggunakan pistol agar kami bisa menjaga diri.
"Bagus," ucap Malik.
Suara tembakan terus menggema di seluruh kediaman kami,
"Kita lewat pintu belakang suamiku," ucapku kepada suamiku.
Tak lama kemudian... akhirnya kami meninggalkan rumah lewat pintu belakang, di mana tidak ada orang yang mengetahui tempat itu.
"Kita segera meninggalkan kota ini, kita cari tempat yang baru karena aku yakin kalau mereka akan memburu kita," ucap Malik kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
'Apakah kau telah membawa semua yang aku minta tadi?" tanya Malik.
"Ya.. aku juga membawanya," jawab ku.
Aku membawa sebuah tas yang lumayan besar yang di dalamnya ada beberapa dokumen, dan surat kuasa beberapa perusahaan milik suamiku.
Akhirnya aku dan suamiku telah pindah ke sebuah kota yang ada di daerah lain, soalnya semua perusahaan telah ditarik oleh suamiku.
1 bulan kemudian...
Aku dan suamiku melakukan renovasi di sebuah rumah yang baru kami tempati, suamiku membawa puluhan anak buah karena dia yakin para musuh-musuhnya akan terus mengejar kami berdua. rumah kami tidak seperti rumah pada umumnya, setiap sisi di rumah yang aku tempati dipenuhi senjata berbagai ukuran.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Malik padaku.
"Sudah suamiku," jawabku.
"Kita akan melakukan negosiasi dengan Tuan Carlos, bos asal Meksiko itu," ucap Malik.
"Baiklah, nanti kita buat kesepakatan agar pria itu membantu kita," jawabku.
Akhirnya aku harus terjun ke dalam dunia kelam yang dijalani oleh suamiku, karena jika tidak nyawa kami akan menjadi taruhan.
Aku tidak pernah mengira Kalau hari ini akan menjadi hari penentu dari setiap kehidupanku. Aku tidak ingin kehilangan suamiku dan akan ku perjuangkan hidup kami berdua.