Kira-kira artinya sesuatu yang gemerlapan. Sebagai seorang perempuan, aku suka barang-barang yang bersinar dan gemerlap layaknya gagak.
Aku masih ingat betul saat SMA. Aku dengan bodohnya terbujuk rayu senpai-senpai licik untuk mendaftar klub drama hanya karena gantungan kunci warna-warni yang glow in the dark.
Bodoh. Sungguh bodoh. Namun aku sama sekali tidak menyesal.
Waktu itu, aku yang berlemak dan ternyata tidak bisa akting berakhir menjadi tukang angkat-angkat barang di klub. Lumayan lah setidaknya membakar kaloriku.
Setiap ada pertunjukan drama tugasku menjadi dua kali lipat. Aku terkadang berdiri di atas tiang-tiang penyangga menaburkan bunga-bunga kertas atau daun-daun.
Sialan memang. Sudah tahu tubuhku gempal, masih saja dapat tugas semacam itu.
Tugas itu terkadang membuatku berjongkok di atas panggung memandangi para pemain yang berlakon dengan epiknya. Mereka semua tampak bersinar dan aku suka barang yang bersinar.
Aku suka Akira dia bersinar. Teman sekelasku sendiri. Dia pintar akting, terkenal di sekolah, tinggi, bermuka di atas rata-rata, juga pintar olahraga tetapi tidak suka belajar di kelas, 'sih. Tidak ada manusia yang sempurna.
Alasanku suka dia adalah karena aku terlalu sering melihatnya dari atas panggung. Sungguh demi apapun Akira tampak sangat bersinar dari atas.
Rambutnya yang hitam terlihat lembut. Terkadang jika aku bertugas untuk menaburkan bunga-bunga kertas, potongannya jatuh dengan mudah dari rambutnya.
Sampai di suatu hari, dengan segala keberanian serta ketidakwarasanku, akhirnya aku menembak Akira. Hebatnya dia menerimaku tanpa penolakan. Kami berkencan hingga dua minggu setelah kelulusan sekolah.
Aku yang memiliki ketertarikan lebih dengan barang-barang bersinar memutuskan untuk mengambil kuliah arkeologi di universitas biasa-biasa saja di kota kami. Aku berharap bisa menemukan harta karun ketika memasuki jurusan itu.
Di sisi lain Akira dengan nekadnya memutuskan untuk menggapai mimpinya sebagai aktor di Tokyo. Kami memutuskan untuk putus. Saat itu umurku delapan belas tahun.
Aku benar-benar berusaha saat kuliah. Aku lulus empat tahun, pas. Hanya saja tidak ada yang istimewa dari diriku. Dua tahun setelah lulus aku tetap pengangguran. Hal ini membuat nafsu makanku turun drastis dan tebak apa? Aku jadi slim alami tanpa diet.
Sebuah undangan reuni SMA masuk ke kotak emailku. Sial. Aku kira itu email dari perusahaan.
Datang atau tidak ya? Reuni itu diadakan di sebuah pantai 'sih. Lumayan sekaligus liburan musim panas.
Akhirnya aku memutuskan untuk datang tetapi di sana tidak ada Akira. Aku yang saat sekolah tidak punya banyak teman, selain teman klub, tidak bisa berinteraksi dengan mudah. Walaupun di sana aku sempat menarik banyak perhatian. Kata mereka aku semakin cantik.
Aku memutuskan untuk pergi ke pinggir pantai untuk menenangkan diri. Suara ombak mulai menari-nari di telingaku. Cukup indah.
"Hei," seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik, berusaha melihat siapa orang itu.
Kulihat Akira di depan mataku. Dia terlihat tidak banyak berubah. Sedikit berubah sebenarnya. Akira semakin tinggi, pundaknya terlihat lebih kekar walau tertutup kaos putih polos, garis rahangnya juga semakin terlihat jelas.
Aku membeku sesaat, tidak sadar kalau air mata menetes dari mataku.
"Eeh? Miyo-chan? Kenapa malah nangis...," dia tertawa, Akira tertawa. Sudah lama aku tidak mendengar tawa nyaringnya.
"Akira!", aku memukul dadanya pelan. Malu.
"Jangan bilang kamu kangen padaku?", katanya dengan nada mengejek tapi tangannya menyentuh kepalaku pelan. Hangat.
"Jahat!", kataku sambil menghapus air mataku. Pasti make up-ku sudah tidak keruan.
"Makanya jangan nangis lagi," Akira lagi-lagi tertawa.
Aku hanya mengangguk. Ku amati lagi Akira dari atas sampai bawah. Di depanku benar-benar seorang Akira. Pacarku waktu SMA dulu.
"Kenapa diam? Mau jalan-jalan sebentar?", tawarnya.
"Ya...", kataku lirih.
"Ayo!", Akira menggandeng tanganku. Aku terdiam sesaat.
"Eh, maaf-maaf. Kebiasaan lama," katanya kemudian melepaskan genggamannya.
Dia lalu berjalan di depanku. Aku mengikuti di belakang perlahan. Kami berdua menyusuri pantai, bermain air layaknya anak kecil, membeli es krim untukku sendiri, lalu berjalan lagi. Aku sudah tidak peduli pada acara reuni itu lagi.
Es krimku habis. Aku berhenti, kepalaku menubruk punggung lebarnya. Dia sadar lalu berbalik.
"Kamu masih bodoh... Hahaha...Seperti dulu saat kita pacaran," dia lalu melirik jam tangannya.
"Hmm... sepertinya aku harus pulang lebih awal... Hahaha nanti tolong pamit 'kan aku ya. Oh, iya. Tetap semangat, Miyo-chan."
Akira pamit padaku. Aku hanya mengangguk membalas kata-katanya. Bingung karena sudah lama tidak bertemu.
Setelah Akira pergi, aku memutuskan untuk kembali ke restoran yang sudah dipesan untuk acara reuni itu. Mendudukkan diriku di sebuah kursi sampai Rena menghampiriku.
"Hei, Miyo! Bagaimana kabarmu? Ke mana saja selama ini?", Rena merangkulku bersahabat. Rena adalah teman sekelasku selama tiga tahun di SMA.
"Hahaha, biasa saja."
"Eh? Masa'?"
Aku merasa sedikit canggung untuk berbicara dengan Rena. Kami dulu memang cukup dekat tetapi itu dulu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
"Iya, Rena... Eh, omong-omong tadi aku bertemu Akira... Katanya dia minta dipamitkan hehehe," kataku sambil meringis.
Seketika ruangan yang semula ramai mendadak sepi. Teman-teman SMA ku menatapku dengan tatapan kasihan. Aku tidak tahu alasannya.
"Miyo! Ikut aku sebentar!", Rena menarik tanganku dengan kuat. Aku hanya pasrah mengikuti Rena di belakang, membawaku ke arah taman. Kemudian dia mendudukkanku di atas bangku dan duduk di depanku.
"Miyo tatap mataku", katanya.
"Ya? Kenapa?", tanyaku.
"Miyo, aku tahu kamu mengalami pengalaman yang buruk. Tapi dengar, tidak seharusnya kamu berlarut-larut seperti ini, Miyo. Relakan Akira! Biarkan dia tenang di sana."
"Eh? eh?", aku tidak paham dengan maksud Rena.
"Miyo! Akira sudah meninggal dua tahun lalu!", Rena meninggikan suaranya.
"Hah?! Apa maksudmu?! Aku! Aku! Aku baru saja ketemu Akira! Tadi!," aku yang tidak percaya kemudian berlari ke arah pantai.
Berlari mencari keberadaan Akira tetapi aku tidak menemukannya. Lalu aku menangis sendirian. Menangis hingga malam. Bukan hanya menangisi ketidaktahuanku mengenai Akira tetapi juga menangisi semua kegagalanku dan kebodohan-kebodohan yang kuperbuat.
Setelah lega menangis, aku pun mengendarai mobil tua hadiah dari kakakku dan pulang ke rumah. Sampai rumah aku mengunci pintu dan menangis. Terus menangis sendirian hingga pagi sampai mataku bengkak lalu tertidur pulas di kasur.
Besoknya aku meng-email alamat email yang mengirimkan undangan reuni kepadaku. Aku meminta alamat email atau nomor Rena. Sejam kemudian, email balasan masuk ke smartphoneku. Aku langsung menelpon Rena.
Dari Rena aku tahu bahwa Akira memang benar-benar meninggal dua tahun lalu. Dia meninggal di Tokyo karena overdosis obat tidur. Dari Rena juga aku tahu letak abu milik Akira disimpan.
Entah mengapa perasaanku sedikit lega setelah menelepon Rena. Namun di sisi lain aku juga merasa bersalah pada Akira. Bisa-bisanya aku tidak ada saat dia membutuhkanku.
Sorenya, dengan segenap rasa bersalahku, aku mengunjungi tempat abu Akira di simpan. Sampai di sana aku melihat fotonya dipajang. Di foto itu Akira tersenyum seperti saat bersamaku di pantai. Aku menangis sambil mendoakannya agar tenang di alam sana.
Terima kasih Akira dariku mantanmu saat SMA.
Setahun setelah pertemuanku dengan Akira di pantai, aku mendapatkan pekerjaan. Bukan sebagai asisten peneliti yang melakukan ekskavasi atau semacamnya. Namun hanya pekerja kantoran bagian pemasaran di Tokyo. Yah, setidaknya ini lebih baik daripada menganggur.
Tiga tahun kemudian aku bertemu dengan seorang pria baik di sebuah perkumpulan penyuka benda-benda antik. Dia pria yang baik. Aku biasa memanggilnya Nakamura.
Kami berkencan selama enam bulan kemudian dia melamarku. Hingga dua tahun setelah pernikahanku aku dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu kunamai Akira.