Terinspirasi dari Drama Korea Sunbae, don't put on that lipstick.
_________________________________________________
Hari cerah di kota Seoul. Tepat pada jam, menit dan detik ini, gadis berumur dua puluh enam tahun yang bernama Hae Ra berulang tahun.
"Sunbae. Selamat ulang tahun."
Lee Dong Sin tersenyum sambil memberikan satu buket bunga dan juga kotak berisi hadiah manis di dalamnya.
"Apa ini?" tanya Hae Ra pada Lee, juniornya di tempat ia bekerja.
"Ini hadiah," jawab Lee singkat, padat, jelas. "Kau berulang tahun, dan aku berikan hadiah. Ku harap tidak masalah, jangan salah paham." Lee hanya mencoba memperjelas maksudnya.
"Ah, tentu. Untuk apa aku salah paham," jawab Hae Ra sambil mengerutkan kening. "Terima kasih."
"Sama-sama." Lee tersenyum saat hadiah dan bunga tersebut saat ini sudah berpindah tangan pada Hae Ra.
Keduanya berjalan menuju restoran yang sudah dipesan sebelumnya. "Kali ini aku yang traktir." Hae Ra menajamkan mata pada Lee. Lelaki berumur dua puluh tiga tahun itu sering sekali mentraktirnya makan, tapi tidak pernah membiarkan Hae Ra membalasnya.
"Tentu. Kali ini kau yang berulang tahun. Maka kau yang traktir, Sunbae." Lee mengangguk.
Hae Ra pun merasa lega. Dia memesan beberapa menu makanan yang cukup enak di restoran tersebut.
"Makanlah, ini perayaan. Jadi jangan sampai tidak kau habiskan, Lee." Hae Ra terkekeh, sambil melihat Lee yang terbengong saat melihat makanan yang begitu banyak tertata di atas meja mereka.
"Sunbae, apa kau yakin akan menghabiskan ini semua?"
Melihatnya saja rasanya Lee sudah kenyang.
"Tentu, apalagi kau akan membantuku. Aku sudah lapar, ayo makan." Hae Ra langsung mengambil sumpitnya, mulai mencicipi makanan tersebut.
"Ini enak sekali, cepat makanlah," ucap Hae Ra sambil menyerahkan sumpit pada Lee.
"Ah, iya iya. Baiklah, tapi aku tidak janji akan bisa menghabiskan semuanya." Lee mengambil beberapa daging dan menaruhnya di piringnya. Lalu ia mulai memasukkan potongan daging tipis yang telah di lumuri bumbu dengan sedikit kecap asin. Ternyata rasanya sangat enak.
"Woah, enak sekali." Lee langsung memakannya lahap dan itu berhasil membuat Hae Ra tertawa.
"Pelan-pelan ini masih banyak."
**********
Setelah keduanya selesai makan malam. Lee langsung mengantar Hae Ra pulang. Saat itu keduanya berjalan di sekitaran komplek tempat Hae Ra tinggal. Lee Dong Sin yang sejak awal ingin mengutarakan sesuatu pada Hae Ra perlahan mulai kehilangan kepercayaan dirinya.
Ya, Lee Dong Sin menyukai Hae Ra.
Sejak kapan?
Tepatnya sejak Lee Dong Sin pertama kali melihat Hae Ra di kantor tempatnya bekerja. Kedekatan keduanya semakin bertambah sejak Lee Dong Sin di tugaskan menjadi asisten Hae Ra.
"Sudah sampai. Terima kasih atas hadiahnya." Hae Ra membawa serta bunga dan kotak kecil yang belum ia buka.
"Iya, terima kasih juga traktirannya."
Hae Ra mencebikkan bibir. "Kau bahkan sudah membayarnya lebih dulu. Padahal dompetku hanya tertinggal di mobil. Kau kira aku sengaja meninggalkannya agar kau yang membayar?" masih dengan sebal, kesal, ia mengomel.
Lee hanya terkekeh pelan. "Tidak, sungguh aku tidak pernah berpikir demikian, Sunbae."
Karena gagal mentraktir Lee, membuat Hae Ra merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Katakan apa kau menginginkan sesuatu dariku? Jika aku bisa penuhi keinginanmu itu, aku akan lebih merasa lega," tawar Hae Ra.
"Keinginan?"
Hae Ra mengangguk. "Ya, gunakanlah kesempatan ini. Pilihlah apa yang memang sangat kau inginkan. Asal jangan yang terlalu sulit."
Lee berpikir sejenak. Tentu ada sesuatu yang sangat ia inginkan dari Hae Ra. Tapi, ia ragu seniornya itu akan memberikan padanya.
"Lee? kau bingung?" tanya Hae Ra.
Lee menatap kedua mata Hae Ra, lalu maju lebih dekat.
"Aku punya sebuah keinginan. Tapi apakah kau bisa mengabulkan atau tidak, rasanya aku sedikit ragu. Em, bukan sedikit tapi agak banyak, aku merasa ragu."
"Yaa! Kau jangan meremehkan aku. Kau kira aku tidak dapat menuruti keinginanmu itu? Apa itu mahal? Asal kau tidak menguras seluruh isi tabunganku, itu tidak masalah!" balas Hae Ra dengan penuh keyakinan.
Lee tersenyum tipis. "Sayangnya yang aku inginkan tidak dapat dibeli dengan uang."
"Mwo? Tidak bisa dibeli dengan uang?" ulang Hae Ra agak kaget.
"Ne, apa kau tau keinginanku?"
Hae Ra terdiam, sedetik setelahnya ia tertawa. "Tentu itu lebih bagus. Kalau tidak perlu dibeli dengan uang, bukannya akan lebih mudah?"
Lee lagi-lagi tertawa kecil.
"Bukankah kalau tidak bisa dibeli dengan uang, justru kau akan sulit memberikannya padaku. Butuh sebuah perasaan yang tulus, dan aku tidak tahu kau punya atau tidak."
Kali ini Hae Ra dibuat bingung oleh ucapan Lee Dong Sin.
"Ya! Lee Dong Sin! Katakan saja apa yang kau inginkan! Jangan berbelit-belit!"
Dua langkah, Lee Dong Sin maju lebih dekat ke depan Hae Ra sehingga keduanya sangat dekat sekarang. Hae Ra tertegun saat kedua mata Lee menatapnya intens.
"Lee? Kau mau apa?"
"Yang aku inginkan adalah hatimu. Sunbae, I Love You!"
Tentu saja Hae Ra terkejut bukan main, tapi setelahnya ia malah tergelak.
"Lee Dong Sin. Kali ini gurauan yang kau berikan sangat garing. Sudahlah, pikirkan lagi yang kau inginkan, lalu katakan lagi besok. Aku mengantuk, kau juga pulanglah."
Hae Ra meninggalkan Lee Dong Sin yang hanya terus mematung di posisinya sekarang. "Aku tidak bercanda, Sunbae."
Hae Ra menghentikan langkahnya.
"Aku serius, Sunbae." Lee Dong Sin masih di posisinya. Sedangkan Hae Ra masih membisu dengan mata yang membulat. "Dia? Tidak mungkin," gumamnya pelan.
"Aku sudah menyimpannya semenjak kita bersama sebagai junior dan senior. Bulan lalu aku ingin mengatakan ini, tapi aku ragu."
Gadis yang berusia lebih tua tiga tahun dari Lee Dong Sin itupun berbalik.
"Kau menyukai aku?" tanya Hae Ra.
"Ya, sangat." Lee Dong Sin tidak dapat lagi menyembunyikan segalanya.
Tapi, Hae Ra masih terdiam.
"Lee, aku-"
"Aku tahu kau sudah memiliki kekasih, iyakan?"
"Hah? Darimana kau..."
"Aku tahu, karena aku pernah melihatnya. Kamu bersama kekasihmu." Lee Dong Sin menatap Hae Ra dengan mata tajamnya. "Tapi, aku tidak masalah."
"Apa?" Hae Ra semakin bingung.
"Cintaku tidak butuh balasan. Bukan karena aku tidak berharap bisa memiliki mu, Sunbae. Tapi, aku yang memilih tetap mencintaimu, meski aku tahu kamu sudah memiliki kekasih. Jadi, aku tetap akan menyimpan perasaan ini, meski kamu tidak akan membalasnya."
Kata-kata Lee Dong Sin membuat Hae Ra merasa tidak enak. Lee Dong Sin adalah pria yang tampan, muda dan penuh semangat. Kerja keras yang dia tunjukan selama ini mampu membuat Hae Ra menaruh rasa percaya penuh padanya. Tapi Hae Ra tidak menyangka kalau juniornya itu malah menyukainya.
Suara petir menggelegar, membuat lamunan Hae Ra pecah dan ia berteriak sambil menutupi kedua telinganya.
"Sunbae!"
Lee Dong Sin reflek berlari dan memeluk Hae Ra erat.
"Tenanglah, itu hanya petir."
Hae Ra membuka kedua matanya, saat ini dia ada di dalam pelukan tubuh tegap dan tinggi Lee Dong Sin.
"Jangan takut," ucap Lee masih memeluk Hae Ra.
Saat itu entah mengapa, kali pertama Lee Dong Sin memeluknya. Hal itu malah menimbulkan reaksi yang sangat aneh dalam diri Hae Ra.
Hae Ra merasa gugup, dan jantungnya juga berdebar tidak menentu.
"Terima kasih," ucap Hae Ra.
Hujan pun turun.
Lee Dong Sin melepas pelukannya. "Masuklah, Sunbae."
"Tapi Lee-"
"Masuklah atau kau bisa kena flu kalau hujan-hujanan."
Hae Ra merasa tidak enak karena belum memberi jawaban pada Lee Dong Sin.
"Baiklah, aku masuk dulu."
Lee Dong Sin masih tetap di posisinya. Hae Ra berjalan masuk ke dalam rumahnya. Lee Dong Sin menunggu sampai Hae Ra benar-benar sudah masuk ke dalam rumah.
Hae Ra berbalik sebelum membuka pintu rumahnya. Lee Dong Sin masih berdiri di tempat yang sama.
"Hujan. Terima kasih sudah turun di waktu yang tepat." Lee Dong Sin memejamkan matanya, suara hujan memenuhi telinganya saat ini. Hujan begitu deras, hingga sekujur tubuhnya basah. "Setidaknya aku sudah mengungkapkan keinginanku. Kau tidak harus mengabulkannya, Sunbae."
Hae Ra yang sudah berada di dalam rumah, masih memegangi bunga dan hadiah dari Lee Dong Sin. "Aku harus bagaimana, maafkan aku, Lee."
"Aku tidak apa-apa, aku tidak kecewa karena kamu tidak dapat menerima cintaku ini, Sunbae." Lee Dong Sin berjalan meninggalkan halaman rumah Hae Ra, lalu ia segera masuk ke dalam mobilnya.
(Bersambung...)
Tinggalkan komentarnya dulu ya, nanti di lanjut lagi di sini.