Apa kalian pernah merasakan jatuh cinta pandangan pertama?
Bagaimana perasaanmu ketika itu?
Apakah kalian bergegas mengungkapkannya?
Sungguh naif bukan?
Kisah kita berawal dari Kota Jogja. Kota yang terkenal dengan pariwisata dan budaya.
Kota dimana tepat dititik Nol Kilometer menjadi saksi bisu sejarah peristiwa penting di Jogja, yakni didirikannya Keraton Yogyakarta, peristiwa perang melawan tentara Inggris dalam Geger Spoy, Agresi Militer Belanda dan peristiwa sejarah lainnya.
Dititik Nol Kilometer inilah aku bertemu dengan pria yang berjaket jeans berpadu kan kaos berwarna putih dengan memakai sepatu sneaker serta dad hat yang menempel di atas kepalanya. Aku terpaku pertama kali melihatnya sedang memegang kamera DSLR yang tertuju pada jalanan yang dipenuhi lalu lalang orang berjalan. Tanpa ku duga ia menoleh kearah ku dan tersenyum, aku pun terkejut. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, bergumam "Tersenyum pada siapakah dia? Mustahil jika senyuman itu diberikan untukku."
Sungguh senyuman yang mempesona.
Aku kembali memperhatikannya yang masih sibuk mengambil objek pemotretan. Tanpa aba-aba ia mengarahkan kameranya ke arahku. Seketika aku terpaku tak bergerak. Entah naluri apa tubuh ini terdiam. Ia tersenyum sekali lagi ke arahku. Dengan percaya diri aku pun membalas senyumannya.
Perlahan ia menghampiriku.
"Hai, nama ku Jayus."
Aku membelalakkan mata terkejut ia memperkenalkan diri.
Ku sambut tangan itu yang menjulur ke arahku.
"Aku Maria."
"Oh, Maria senang bertemu denganmu."
Aku hanya tersenyum. Dan kita pun terdiam beberapa saat.
"Sendiri kah?", ia bertanya.
"Aku bersama kedua temanku, lihatlah mereka sedang berswafoto," menunjuk ke arah dua orang sedang asyiknya.
"Kamu tidak ikut?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tidak tertarik."
"Benarkah?"
"Benar."
"Lantas tadi kamu diam saja dan tidak marah ketika aku mengambil gambar mu."
"Ku kira kamera mu benar-benar tidak mengarah ke arah ku. Jadi aku tidak tersinggung."
"Kalau begitu maaf atas kelancangan ku."
"Tak apa."
Kita pun terdiam lagi. Aku menghela nafas, ia mendengarnya dan menoleh ke arahku.
"Ayo, ku perkenalkan kamu ke teman-temanku," ajak ku.
Detik demi detik berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya. Kita bertiga dan ia hanya sendiri, duduk di bangku milik penjual angsle. Berbincang, bercanda tawa setelah melewati pengenalan.
"Maria, aku menyukaimu."
Ia mengucapkannya secara terus terang, tanpa menghiraukan orang-orang sekitar. Aku terkejut menatap matanya yang serius. Siapa yang menyangka dengan mudah ia mengatakan suka kepada orang yang baru dikenal. Siapa yang menduga tanpa rasa malu ia mengutarakan perasaannya kepada ku, orang yang baru dikenalnya.
"Ciye.. Katanya baru kenalan udah mau jadian aja nih..", ledek salah seorang temanku.
Aku hanya diam tanpa kata. Meminum kembali angsle ku yang mulai dingin.
"Pertama kali melihatmu aku sudah menyukaimu saat kamu duduk di bangku pinggir jalan. Awalnya aku hanya pura-pura fokus mengambil gambar di area tadi, tapi setelah aku melihatmu yang juga memperhatikan ku, aku jadi percaya diri dan berkeinginan mendekatimu," ia melanjutkan kalimatnya.
Jantungku berdegup kencang seakan-akan siap meledak kapanpun. Betapa girangnya aku seperti melayang di langit. Senangnya hatiku ketika seorang pria yang ku kagumi saat pandangan pertama juga menyukai ku.
Aku hanya tersenyum tanpa sepatah kata.
Ini kah yang dinamai jatuh cinta pandangan pertama?
Waktu terus berputar, dan malam semakin larut. Aku dan kedua temanku masih berada di bangku milik penjual angsle. Ia menyuruh kita menunggu. Dititipkan pula kamera DSLR nya padaku. Sedang ia pergi membeli jagung bakar untuk kita bertiga.
Awan berubah hitam seketika. Rintik-rintik hujan turun berirama. Bangku angsle yang kita duduki tak beratap. Hujan pun langsung mengguyur. Segera kita bertiga berteduh di samping gerobak penjual anglse.
Malam semakin larut. Hujan mulai mereda. Namun ia tak kunjung datang. Kemana dia?
"Ayo kita kembali ke penginapan selagi hujan reda," ucap salah seorang temanku.
"Tapi kamera ini gimana? Jay juga belum kembali," tanyaku.
"Udah titipin aja sama penjual ini."
"Tapi..", aku belum melanjutkan kata-kata ku salah satu teman ku berjalan menjauhi warung angsle.
"Ayo Mar," ajak salah seorang teman lainnya yang juga mengikuti.
Tanpa berpikir panjang lagi aku menitipkan kamera Jay kepada penjual angsle, dan meninggalkan catatan kecil di sana. Aku segera bergegas menyusul kedua temanku.
Itu lah terakhir kali aku berpisah dengan Jay tanpa melambaikan tangan. Entah apakah ia kembali menemukan kameranya atau tidak. Aku hanya menuliskan sebuah email dicatatan terakhir kali itu. Entah mengapa sampai sekarang belum ada pesan masuk darinya. Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan, bagaimana kabarnya, pekerjaannya, bahkan aku lupa nama tempat tinggalnya yang pernah ia sebutkan.
Ah! Mungkin kita tidak berjodoh. Meski begitu, aku masih berani berharap suatu hari kita dipertemukan lagi dititik Nol Kilometer Malioboro.
Tamat.