"Aira… wake up" seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan semua mimpi indahku.
"Hmmm… Poppy kamu ngapain sih datang ke rumahku pagi-pagi gini? Nggak tahu apa, aku lagi ngantuk berat nih" omelku dengan mata yang masih terpejam dan mulut terus komat kamit menggerutu. Persis mbah dukun yang lagi baca mantra.
Jujur, aku masih sulit untuk membuka mataku karena rasa kantuk yang melanda. Tapi sepertinya Poppy tak peduli dengan hal itu, ia justru menarik tanganku untuk membuatku beranjak dari kasurku yang empuk.
"Ayolah Ra, bangun. Ada urusan yang mau aku selesaikan denganmu" paksanya dengan wajah serius, bahkan terlalu serius menurutku.
"Apa? Urusan penting apa lagi yang mau kamu selesaikan denganku? Pacarmu si Indra itu nggak sms kamu lagi? Nggak nelepon kamu lagi? Dan mau nanya sama aku kemana dia? Seolah-olah aku ini cucunya mama Laurent yang bisa meramal dimana keberadaan dia" omelku panjang lebar, dan dengan dugaan yang super ngasal. Tapi wajar saja aku menduga seperti itu, karena minggu lalu Poppy juga membangunkanku secara paksa hanya karena masalah sepele seperti itu. Aku sempat jengkel tapi aku menyadari satu hal, mungkin mengganggu tidurku udah menjadi hobi sahabatku yang satu ini. Jadi mulai saat itu aku mulai membiasakan diri dengan ulahnya.
"Bukan itu" jawabnya ngotot
"Trus apa? Apa lagi yang bisa membuatmu mengganggu tidurku pagi-pagi seperti ini selain masalah kamu sama Indra?" tanyaku ketus.
"What pagi?, Woah ternyata kamu masih belum sadar sepenuhnya. Perlu aku menyirammu dengan segentong air?" tanyanya yang justru membuatku bingung mengernyitkan dahi, namun tetap dengan mata yang sayu, karena masih ngantuk berat.
Poppy melangkahkan kakinya ke arah jendela dan membuka gorden berwarna putih dengan totol-totol hitam di sekitarnya. Aku dibuat kaget saat melihat keluar jendela.
"Aira… kamu liat itu. Bulan aja udah say hello sama kita, ini yang kamu sebut masih pagi? Matahari aja udah pamitan dari tadi kali" tuturnya sambil kembali menutup gorden.
Melihat langit malam yang dihiasi bulan sabit barusan membuatku sadar, kalau aku suka nggak ingat waktu kalau udah tidur. Aku yang tidur dari tadi sore baru terbangun jam 7 malam sekarang ini. Beruntung Poppy membangunkanku, jika tidak mungkin tidurku berlanjut hingga esok hari.
"Pelor.. pelor aja, Ra. Tapi jangan sampe lupa sama waktu juga kali" kali ini balik ia yang mengomeliku.
Yach… pelor alias nempel molor" itulah julukan yang diberikan semua orang untukku, dan kurasa itu tepat, secara jika aku sudah mulai ngantuk, dimanapun dan kapanpun dan gak peduli ama sikon aku bisa tertidur dengan pulasnya. Kebiasaan pelorku sudah ada sejak SMP, bahkan saking pelornya pola makanku jadi tak teratur, aku juga jadi sering telat makan, akhirnya dapat omelan mulu’ dari bunda. Maklum saja karena kebiasaan itu, aku jadi menderita maag akut, jadi jangan heran kalau bunda kadang mengomeliku habis-habisan karena aku lebih mementingkan tidurku dibanding yang lain. Walau dibilang pelor, dan didera maag akut, aku merasa jauh lebih beruntung dibanding Poppy yang justru lebih sering terserang insomnia. So… aku lebih beruntung kan?.
"Ayo… Ra.. buruan bangun. Trus mandi gih sana" perintah Poppy sembari terus menarik pergelangan tanganku.
"Aku masih ngantuk Poppy"
"Bodo amat, pokoknya kamu harus bangun sekarang"
"Bentar lagi aja dech. Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja. Pasti aku dengerin kok" Ucapku berusaha membujuknya agar mau mengizinkanku tetap ditempat tidur dan kembali meneruskan tidurku.
Tapi, baru saja aku ingin kembali merebahkan tubuhku ke kasur, Ia kembali menarik lenganku, berusaha mencegah niatku.
"Nggak bisa, bundamu memintaku buat ngebangunin kamu. So… kamu harus bangun sekarang. Ayolah Ra… bekerja sama sedikitlah" Paksanya terus dan terus.
"Hehehe… kamu jangan bohong dech. Bunda itu dari tadi siang pergi ke rumah tante Dewi, dan mungkin baru pulang sejam lagi"
"Aku nggak bohong kok. Bundamu itu udah pulang dari rumah tantemu 15 menit yang lalu"
"Ngawur…"
TOK… TOK… TOK…
Pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Ketukan yang pelan dan kesannya terdengar lembut. Dan aku bisa menebak siapa orang yang ada di balik pintu itu, Bunda.
"Poppy…!! Airanya udah bangun?"
"Bel…" Aku membekap mulut Poppy dengan tanganku sebelum ia melapor ke Bunda.
"Ssssttt…" Aku meletakkan telunjukku tepat di depan bibirku, memintanya diam, Poppy menurut tapi terlihat jelas ia terpaksa melakukannya.
Aku menyambar handukku yang menggantung di dekat lemari pakaianku. Dan bergegas masuk ke kamar mandi, sebelum Bunda memutuskan untuk masuk ke kamarku dan melihatku masih dalam keaadaan kusut karena baru bangun tidur.
"Airanya udah bangun, Pop?" Tanya Bunda saat sudah berada di dalam kamarku.
"Udah tante, sekarang Aira nya lagi di kamar mandi"
"Oh… baguslah. Kalau sudah selesai turun ke ruang makan ya. Kita makan malem bareng"
"Iya tante, makasih"
Itulah sedikit pembicaraan yang aku dengar antara Poppy dan Bunda.
"Sekarang, aku udah mandi, udah wangi, bahkan lebih wangi dari kamu. Cepetan ngomong sekarang" Pintaku setelah berdandan rapi sembari duduk bersila di kasur. Tepat didepan Poppy yang sedang asyik membaca majalah.
"Iya.. iya… aku ngomong sekarang" Ia memilih menutup majalahnya dan menyimpannya di pangkuannya. "Kan.. gini Ra, bentar lagikan promnite. Aku cuman mau nanya. Kamu udah nemuin pasangan buat pergi belum?" Tanya Poppy yang tiba-tiba membuat darahku mendidih.
Bagaimana tidak, hanya karena pertanyaan konyol itu, ia dengan teganya mengganggu tidurku dan membuyarkan mimpi indahku. Ditambah lagi promnite baru akan berlangsung minggu depan, dan ia sudah menanyakannya sekarang. "Poppy… erghhh" Pekikku dalam hati menahan rasa kesalku pada sahabatku yang berambut ikal ini. Wajahku mungkin sudah memerah bak kepiting rebus karena menahan amarah agar tidak meledak dan mengagetkan Poppy.
"Kamu kok diem sih Ra? Trus, ‘tu muka kenapa jadi kaya’ kepiting rebus gitu?"
"Jadi, cuman itu yang mau kamu tanyain, cuman pertanyaan itu yang mau kamu selesaikan denganku?" Tanyaku berusaha menyembunyikan amarahku yang hampir meledak bagai bom atom.
"Iya" Jawabnya dengan lugu.
Melihat wajah lugunya, yang seolah tak bersalah. Membuat kemarahanku kian terpancing dan tak sanggup untuk kusembunyikan lagi.
"Erghhh… Poppy…!!" Seruku kesal. "Dasar kutu kupret!! Kamu sadar nggak sih, apa yang udah kamu lakuin?!" Aku memukulnya dengan bantal yang ada di dekatku berkali-kali.
"Auww… Ra, kamu apa-apaan sih? Mang salah aku apa?" Tanyanya sembari meringis kesakitan.
Aku berhenti memukulnya dan mulai menenangkan pikiranku.
"Demi pertanyaan konyol itu, kamu dengan teganya mengganggu tidurku, dan membuyarkan mimpi indahku. Kamu tau kan seberapa berharga waktu tidur buatku?"
"Kalau nggak aku bangunin, mau jam berapa lagi kamu baru bangun? Lagian Bundamu kok yang minta bantuanku buat ngebangunin kamu. Dia khawatir sama kesehatanmu Aira. Secara udah jam segini belum ada satu makanan pun yang masuk ke perutmu, sejak pulang sekolah tadi. Ntar yang ada maagmu kambuh lagi"
Jujur, apa yang dikatakan Poppy ada benarnya juga. Kemarahanku padanya mulai menyurut.
"Jadi apa jawabanmu?" Pintanya sekali lagi, menuntutku memberikan jawaban.
"sebelum aku jawab, aku mau nanya dulu. Kenapa kamu udah nanyain soal itu sekarang? Promnite kan masih seminggu lagi. Trus kenapa nggak by ponsel aja? Kenapa harus repot-repot kesini dan mengganggu tidurku?"
"Ya maaf, Ra. Soalnya aku penasaran banget. Secara kamu kan belum punya pacar nih. Trus kamu mau ngajak siapa? Sodara cowok satu-satunya alias kak Raka lagi kuliah di luar kota"
Kata-kata Poppy membuatku berpikir sejenak. Iya juga ya, aku mau ngajak siapa ke prom? Pacar nggak punya, kakak laki-laki satu-satunya lagi nggak ada di rumah. Sepupu cowok pada masih kecil-kecil, masih bau kencur. Trus siapa yang mau aku ajak?
Pikiranku tiba-tiba melayang jauh, seorang cowok tampan dengan kulit kuning langsatnya dan dengan senyum manisnya hadir dalam bayanganku, seseorang yang aku harapkan mau menjadi partnerku, seseorang yang sudah aku sukai sejak kelas 1, seseorang yang bernama…
"Alfi…!!!" Belum sempat aku menyebutkan nama itu dalam batinku, Poppy menyerobotnya duluan, seolah-olah ia tau apa yang sedang aku pikirkan.
"Kenapa kamu nggak ngajak Alfi aja?"
"What? Kamu udah gila, Pop?"
"Kok gila sih? Aku kan Cuma ngasih saran, dan aku rasa pantas buat dicoba"
"Saran kamu tu nggak logis banget" Protesku.
"Nggak logis gimana? Gampang kok, kamu tinggal temuin dia, trus pinta dia buat jadi partner kamu" Jawab Poppy agak ngasal menurutku.
"Hello… Poppy sayang!!" Seruku agak kesal. "Nggak segampang itu ngelakuinnya. Kamu kan tau, aku Cuma pengagum rahasianya. Dia mungkin nggak pernah tahu siapa aku, siapa namaku, dan mungkin dia juga nggak pernah sadar kalau aku pernah ada di sekolah itu. Kamu mau bikin aku malu kalau tiba-tiba aku ngajakin dia ke prom, sementara dia merasa dia nggak pernah kenal sama aku" Omelku habis-habisan saking kesalnya dengan ide gila Poppy. Namun ada sedikit perasaan miris di hatiku saat mengatakan itu semua. Aku seorang pengagum rahasia yang tak pernah disadari kehadirannya. Kasian banget nasib percintaanku…
Alfi seorang cowok cerdas dan baik, memang mungkin tak pernah tahu siapa aku. Ya, seperti yang aku bilang tadi, aku hanya pengagum rahasianya dari dulu hingga sekarang. Awalnya aku mengira ini hanya sekedar rasa suka yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi setelah 3 tahun berlalu aku semakin sadar, kalau ada perasaan yang tercipta dari dasar hatiku untuknya. Perasaan yang tak biasa, perasaan yang sulit aku tepis kehadirannya, perasaan yang membuatku selalu merindukan dan memikirkannya setiap saat, perasaan yang jantungku berdegup kencang saat berpapasan dengannya, perasaan istimewa yang bernama… Cinta. Ya, aku mulai mencintainya. Alfi cinta pertamaku.
"Aira… Aira…!!" Panggil Poppy membuyarkan lamunanku
"Apa?!"
"Kamu ngelamun ya?"
"Nggak kok" Kilahku menutupi semua yang kupikirkan barusan dari Poppy.
"Trus gimana?"
"Gimana apanya?" Tanyaku agak bingung.
"Kamu mau kan ngajak Alfi ke prom?"
"Sekali nggak, tetap nggak" Jawabku tegas karena pertanyaan Poppy yang terkesan memaksaku untuk menjawab "Ya".
"Lagian… pasti udah banyak cewek-cewek yang ngantri yang mau ngajakin dia. Dan aku nggak mau dianggap cewek pecicilan karena ikut-ikutan ngantri"
"Emang kamu kira Alfi jualan tiket nonton, sampai banyak yang ngantri" Seloroh Poppy nggak jelas. "Tapi… kamu ada benarnya juga sih, Ra. Pasti udah banyak cewek yang ngantri buat ngajakin dia. Dan mungkin dari semuanya, salah satu kandidat yang kemungkinan ajakannya bakal diterima Alfi, itu Chika" Ucap Poppy, yang membuat perasaan jealousku muncul ke permukaan saat mendengar nama Chika.
Cewek cantik dan populer di sekolah. Cewek cerdas dan selalu berpenampilan menarik serta elegant. Berbanding terbalik dengan penampilanku yang terkesan biasa, otakku juga tak secerdas dia, dan kata elegant, tak pernah ada dalam kamusku.
Cewek yang saat ini digosipkan dekat dengan Alfi ini, selalu membuatku jengkel saat mendengar namanya. Jangan tanya lagi atas dasar apa, itu karena aku jealous.
"Udah ah, jangan bahas itu lagi" Tuturku mulai agak malas membahas masalah prom. "Mending sekarang kamu temenin aku ke toko buku" Ajakku.
"Mau ngapain ke toko buku?"
"Makan mi ayam" Jawabku ngasal. "Ya.. mau nyari bukulah Poppy"
"Buku apaan?"
"Udah deh jangan banyak tanya, yuk buruan pergi" Ajakku sembari menarik pergelangan tangan Poppy, dan beranjak keluar kamar.
"Tapi Ra, tadi Bundamu nyuruh makan malam dulu"
"Makan malamnya nanti aja kalau udah pulang dari toko buku"
"Tapi…"
"Bunda… aku ke toko buku bentar. Bunda makan aja duluan. Bye… Bunda" Ucapku sembari mencium pipi kanan Bunda. "Assalammualaikum" Pamitku lagi sembari mencium tangannya.
"Hati-hati" Pesan Bunda
"Tante, kita pergi dulu ya" Ucap Poppy.
Di toko buku, bahasan Poppy tak jauh berbeda saat di rumah tadi. Masih tetap pada masalah Prom. Aku lebih memilih sibuk mencari buku yang ingin aku beli, daripada aku harus mendengar celotehannya soal promnite.
"Aira… kamu dengarin aku nggak sih?" Tanya Poppy yang mulai merasa dikacangin dari tadi.
"Nggak" Jawabku santai dan terus berjalan perlahan menyusuri rak-rak buku.
"Erghhh…Aira nyebelin banget sih" Poppy terlihat mulai kesal.
"Aku juga sebel sama kamu, dari tadi bahasannya nggak ada yang laen. Promnite mulu’ yang diomongin. Bosen tau nggak"
"Ya… kamunya juga sih, pertanyaan aku nggak dijawab-jawab"
"Pertanyaan yang mana Poppy?" Tanyaku sambil mengambil satu judul novel yang membuatku tertarik.
"Kamu mau pergi sama siapa ke prom nanti?"
"Kayanya aku bakal pergi sendiri aja deh" Jawabku sekenanya.
"Ya.. nggak asyik kamu, Ra. Apa enaknya pergi sendiri?"
"Aku nggak peduli. Kamu mau aku pergi ke prom sendiri atau nggak pergi sama sekali?" Ancamku, karena aku yakin kalau Poppy pasti akan kecewa jika aku tak hadir di prom.
Poppy terdiam sesaat. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin memikirkan sebuah ide.
Aku menunggu, tepatnya menunggu saran aneh apalagi yang akan dia lontarkan. Sambil menunggu ada yang aneh terasa di lambungku, sakit banget.
"Aira… aku punya ide!" Serunya sembari menjentikkan jari serta tersenyum lebar.
"Ide apaan?" Tanyaku berusaha menahan rasa sakit. Kaya’nya maagku kambuh lagi.
"Ra… kamu kenapa, kok mukanya melas gitu?" Tanyanya dengan nada khawatir. "Maagmu kambuh lagi?"
"Udah aku nggak apa-apa kok. Terusin aja apa yang mau kamu omongin tadi" Jawabku berusaha menenangkan sahabatku yang gampang panik ini.
"Kamu yakin nggak apa-apa?"
"Iya" Aku mengambil obat maag yang selalu tersedia di dalam tasku di saat-saat darurat seperti ini. Aku langsung menelan Pil tersebut tanpa dibantu air sedikitpun.
Walau aku sudah menelan obat maagku, wajah Poppy masih terlihat khawatir.
"Ra.. kamu benar nggak apa-apa? Kamu nya juga sih ngeyel dibilangin, tadikan bundamu nyuruh makan dulu"
"Aku nggak apa-apa Pop. Lagian kalau tadi kita makan malam dulu, ntar yang ada toko bukunya udah tutup. Kamu tenang aja, aku baik-baik aja kok. Percaya deh dalam waktu 5 atau 10 menit obatnya pasti mulai bereaksi dan rasa sakit di lambungku bakalan hilang" Ucapku menenangkannya. Walau sebenarnya, rasa sakit itu kian menjadi. Sepertinya obat yang dibelikan Mang Ujang di warung, tak akan bereaksi untuk maag akut seperti yang aku alami.
"Buruan bilang apa ide kamu?"
"Tapi kamu benar nggak apa-apa? Kita pulang aja yuk"
"Bilang dulu apa ide kamu, baru kita pulang"
"Gimana, kalau kamu ajak Joko aja. Anaknya Mbo’ Na"
"What?" Seruku kaget tanpa peduli dengan rasa sakit yang ku alami.
Aku paham betul, kalau poppy selalu punya ide-ide gila dan konyol, tapi yang satu ini terlalu gila dan teramat konyol menurutku.
Wajah Joko, anak Mbo’ Na asisten rumah tangga di rumahku terlintas di benakku. Secara fisik Joko memang memiliki postur tubuh yang tinggi, bahkan lebih tinggi dariku. Badannya yang bongsor tak membuatnya terlihat seperti bocah berusia 14 tahun.
Ya, Joko yang sedang kita bicarakan adalah anak SMP, yang tak mungkin ku ajak ke prom, tak pernah terlintas sedikitpun di benakku untuk mengajaknya ke prom. Hanya otak Poppy lah yang baru mencetuskan ide gila itu.
Apa kata dunia? Jika aku membawa partner ke prom, seorang bocah berusia 14 tahun. Gila!!! Bisa-bisa aku dikira mengidap pedofilia oleh teman-teman ku.
Pembicaraanku berakhir sampai disitu, tepatnya dengan kata "What" dariku. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku pun tak tau. Aku hanya merasa tiba-tiba pandanganku gelap, anehnya saat itu aku merasa wajah Alfi hadir dalam bayanganku. Dan menyebut-nyebut namaku. Hingga makin lama suaranya kian tak terdengar dan hilang sama sekali.
Promnite akan dimulai satu jam lagi, aku masih duduk mematut di depan kaca dengan bertopang dagu. Memikirkan apa yang akan terjadi setelah promnite nanti. Pasalnya, aku benar-benar menyetujui ide konyol Poppy, untuk mengajak Joko.
Bayangin aja bagaimana respon teman-temanku nanti, setelah melihat aku berpartneran dengan anak berumur 14 tahun, aku bisa benar-benar dikira pedofilia. Aduh… jangan sampe deh.
"Apa aku lebih baik pergi sendiri aja ya?" Pikirku tiba-tiba. "Ya… lebih baik, aku pergi sendiri" Aku beranjak meninggalkan meja riasku dan turun ke lantai dasar, untuk menemui Joko dan Mbok Na yang sepertinya ada di kamar mereka.
TOK… TOK… TOK…
Aku mengetuk pintu kamar Mbok Na dan tak lama ada yang membuka pintu. Seorang ibu paruh baya, lebih tua beberapa tahun dari ibuku berdiri di ambang pintu.
"Mbok Na…kaya’ nya…"
"Kak Aira, kita berangkat sekarang? Joko udah siap nich" Seruan Joko, sukses membuat kata-kataku terhenti.
"Kak Aira, emang promnite itu kaya’ gimana sih? Aku udah nggak sabar ngeliat suasana disana" Tutur Joko antusias.
Melihat antusiasnya yang luar biasa, dan senyum sumringahnya yang penuh kebahagiaan, membuat nyaliku ciut untuk memberitahu "Joko kak Aira mau pergi sendiri aja. Kamu duduk manis aja di rumah, ngerjain PR" Kata-kataku tertahan di ujung lidah saat melihat betapa bersemangatnya Ia. Yang kini sudah mengenakan kemeja putih dan jas hitam, milik kak Raka. Ia tampak seperti remaja berusia 17 tahun, seusia denganku.
"Jadi, kak kita berangkat sekarang?"
"Iya" Jawabku dengan tersenyum pahit. Saking tak ingin mengecewakan anak semata wayang Mbok Na, yang sudah bekerja dengan keluargaku dari aku kecil, aku membatalkan niatku untuk tidak mengajaknya.
Short dress putih yang aku kenakan kali ini, serta highheels yang aku kenakan, membuat rasa percaya diriku menurun drastis. Aku yang terbiasa berpakaian casual dengan kaos dan jeans serta snikers atau kets, membuatku merasa tak nyaman dengan short dress dan heels pemberian kak Raka ini.
Kalau nggak mikirin ini acara prom yang mengharuskan berpakaian formal, mungkin aku sudah memakai kaos oblong, dan jeans serta snikers andalanku.
Aku sedang asyik berdiri di depan prasmanan dan mengambil beberapa kue serta minuman. Aku tak peduli dengan runtun acara prom. Yang aku tau endingnya sama saja. Ada acara dansa yang pada akhirnya akan dipilih King and Quenn Prom. Standar menurutku. Nothing special.
"Hei… Ra, mana Joko?" Tanya Poppy didampingi Indra menghampiriku.
"La…gi…k…let…" Jawabku tak jelas karena mulut yang masih penuh dengan kue yang baru mendarat di mulutku.
"Kamu tu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti" Wajar saja kalau memang Poppy nggak ngerti, orang yang aku sebut rata-rata huruf mati semua.
"Dia lagi ke toilet" Jawabku setelah menelan brownies tadi serta disusul dengan minum orange juice.
"Ohhh…" Jawab Poppy dan Indra seadanya.
"Beib… aku juga mau ke toilet dulu ya"
"Ok" Jawab Poppy dengan melempar senyum pada kekasihnya.
Sepeninggal Indra, Poppy mengatakan 1 hal yang membuatku menyadari sesuatu.
"Ra, udah ngeliat penampilan Alfi malam ini belum?"
"Boro-boro penampilannya, batang hidungnya aja belum keliatan dari tadi"
"Siapa bilang? Kamunya aja tu yang nggak nyadar. Dia udah datang dari tadi kok".
"Trus kalau dia udah datang, hubungannya dengan aku apa?" Tanyaku pura-pura cuek, padahal dalam hati pengen banget Alfi nyamperin kesini trus say "hai… Aira". Itu juga udah cukup buat aku seneng.
"Samperin dia gih!"
"Ogah, ntar aku dikira pecicilan lagi sama dia. Aku nggak mau dinilai jelek sama dia" Tolakku dengan tegas. "Lagian kan udah ada Chika" Jawabku ketus.
"Itu dia, Alfi pergi sendiri. Aku dengar sih dia nolak mentah-mentah waktu Chika ngajakin dia. Dia bilang dia udah nemuin partner spesial yang bakal dia ajak, tapi aku juga nggak tau siapa".
Pembicaraan kami terhenti saat Indra dan Joko datang bersamaan.
"Ra, aku kira Poppy bercanda waktu bilang kalau kamu bakal pergi sama Joko. Taunya serius ya?!" Tutur Indra yang terkesan meledekku.
"Itu juga kan ide pacarmu" Dengusku kesal mengundang senyum pasangan kekasih ini yang memang sahabatku dari SMP.
Sementara Joko, sibuk sendiri menyantap kue-kue yang ada tanpa mau peduli dengan pembicaraan kami.
"Makannya, Ra cari pacar donk. Biar nggak anak orang lagi yang kamu seret buat diajak ke party" Ucap Indra mulai buatku BT.
"Indra, kamu ngajakin aku berantem? Emang kamu pikir cari pacar itu gampang?!" Ucapku penuh emosi. Ingin rasanya aku berteriak "Gimana mau nyari pacar, kalau di hati dan pikiranku aku aja yang ada cuman Alfi, Alfi, dan Alfi" Tapi kata-kata itu hanya bisa aku teriakkan di dalam hati.
"Santai aja kali’ Ra. Aku tu cuman bercanda".
"…"
"Hai semua!!" Sapaan seseorang mengagetkan kami.
"Hai…" Jawab Indra dan Poppy dengan senyum ramah. Sementara aku hanya bisa menjawab kata "hai" dengan tersendat. Karena apa? Coba tebak siapa yang kini berdiri di hadapanku? Alfi…!!.
Aku tak menyangka Alfi yang tampak jauh lebih tampan hari ini dengan balutan jas hitam dan kemeja putihnya, datang menghampiri kami dan menyapa kami ramah. Kalau nggak ingat ramai orang dan nggak ingat Alfi ada disini, sudah dari tadi aku berteriak "Hore..!!" Tapi sekali lagi itu hanya tertahan di ujung lidahku.
"Hai.. Ra..!!" Sapanya sekali lagi. Senyumannya saat menyapaku membuat jantungku deg-degan, nggak kuat ngeliat senyum manisnya. Tatapan matanya yang teduh, yang sangat khas darinya membuat jantungku kian berdegup cepat.
Poppy mendadak menyikutku, mungkin ia rasa responku terlalu lama menjawab sapaan Alfi.
"Hai… juga" Jawabku gelagapan dengan tetap berusaha tersenyum.
"Kakak ini siapa? Pacarnya kak Aira ya?" Celetuk Joko tiba-tiba dengan mulut masih mengunyah kue yang berhasil masuk ke mulutnya. Celetukan Joko yang tak wajar, membuatku memutuskan menegurnya dengan keras. Keras sekali. Tepatnya, aku menginjak kakinya. Tak kupikirkan lagi, gimana rasa sakit yang ia alami. Yang ada di pikiranku hanya satu, jangan sampai Joko ngomong ngalor ngidul lagi seperti tadi.
"Auww…!!" Rintih Joko dengan wajah meringis kesakitan.
Aku hanya berusaha tersenyum lebih ramah lagi, agar tidak mengundang kecurigaan kalau aku sudah menyiksa anak orang. Sepertinya wajah memelas Joko, sempat mengundang senyumnya. Sepertinya ia juga tau kalau aku yang membuat Joko kesakitan.
"Ra… kita mau nyamperin anak-anak yang lain dulu ya" Tukas Poppy diikuti anggukan kepala Indra." Joko ikut ya, biar kak Poppy kenalin sama teman-teman kakak yang lain" Ajak Poppy yang membuatku bisa menebak apa maksud dari kata-katanya.
Ia ingin meninggalkanku dengan Alfi disini. Aduh, guys please don’t go anywhere. Jeritku di dalam hati. Kalau kalian pergi aku bisa mati kutu disini. Semakin nervous dan salting juga pastinya, secara harus ditinggal berdua dengan Alfi. Tapi tentu saja mereka tak mendengar jeritanku. Ketiganya beranjak meninggalkanku.
Aku mulai gelisah sendiri, pasalnya aku tak biasa bahkan tak pernah berhadapan langsung dengan orang yang aku suka dalam waktu lama apalagi orang itu Alfi. Makin panas dingin tanganku. Jantungku juga mulai berdegup tak karuan. Semakin cepat rasanya jantung ini berdetak.
"Apa kabar, Ra? Masih tetap dengan kebiasaan lama. Maksudnya kebiasaan pelormu?" Tutur Alfi memecah keheningan di antara kami. Setelah cukup lama kami terdiam.
"Aku baik-baik aja kok" Jawabku agak gugup. "Kalau soal kebiasaan itu, kaya’nya sulit buat dihilangin" Jawabku dengan malu-malu. Malu karena kebiasaan buruk itu. Tapi juga ada sedikit terselip rasa bahagia, karena tanpa diduga Alfi sedikit banyak tahu tentang aku. Tapi sayang, dia tak tahu bagaimana perasaanku.
"Eh… acara puncaknya udah dimulai tu" Ucap Alfi membuyarkan lamunanku.
"Ra, mau ikutan nggak?"
"Ikutan? Maksudnya…?"
"Acara puncak, can you dance with me?" Tanyanya sopan.
"Maksudnya… dansa…" Tanyaku agak ragu dan seolah tak mengerti.
"Iya" Jawabnya cepat dengan mengurai senyum manisnya.
Wajahku sempat memerah, karena jawabannya barusan. Seorang Alfi cowok idola di sekolah, mengajak aku yang bukan apa-apa di sekolah, dansa. Arghh… ingin rasanya aku berteriak kegirangan saat itu juga guna meluapkan kegembiraanku. Tapi aku mencoba mengendalikan diri dan hanya tersenyum riang.
Tapi tiba-tiba senyum itu hilang, saat aku ingat partner special yang di ajak Alfi.
"Ra, kenapa? Kamu nggak mau ya?" Tanyanya saat melihat perubahan ekspresi wajahku yang begitu cepat.
"Partner spesial kamu kemana? Harusnya kan kamu ngajak dia bukan aku".
"Tapi Ra…"
"Udahlah Al… kamu samperin dia gih. Kamu nggak boleh kecewain dia".
"Baik lah, kalau gitu aku samperin dia dulu"
Alfi kini melangkah pergi menjauh dariku. Ada sedikit rasa penyesalan dihatiku saat mengingatkannya soal partnernya. Aku juga menyesal, kenapa tadi aku tak langsung menjawab "Ya." Dan kenapa aku harus sok-sokan menasehati dia. Tanpa kusadari ada cairan bening yang terkumpul di pelupuk mataku. "Alfi… mungkin sampai kapanpun situasinya hanya akan terus seperti ini. Aku hanya akan selalu menjadi pengagum rahasiamu. Dan soal perasaanku cukup aku dan Tuhan saja yang tahu." Batinku menangis pilu, beriringan dengan air mataku yang mulai jatuh membasahi pipiku.
Aku tertunduk lesu berjalan keluar aula sekolah dan menuju ke taman. Aku duduk disana merenungi nasibku.
"Alfi… kenapa sih, kamu selalu aja jadi penyebab yang bikin aku nangis" Keluhku dengan masih terisak.
Saat aku terpuruk dengan nasibku sendiri. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dengan mempersembahkan bunga mawar putih untukku, bunga kesukaanku. Seseorang yang tak kusangka kehadirannya, seseorang yang kalian sendiri bisa menebak siapa. Ya… dia Alfi. Alfi kini ada di hadapanku, dia berlutut di hadapanku dengan mawar putih di tangannya. Sesuatu yang sangat langka dan aneh menurutku. Langka, karena aku tak yakin seorang Alfi mau melakukan itu dengan cewek yang bukan siapa-siapa di sekolah. Aneh, karena tadi dia bilang ia ingin menemui partnernya. Tapi kenapa kini dia ada disini. Apa dia mau menyakiti hatiku secara tak langsung?
Alfi… kamu ngapain lagi kesini?" Tanyaku mulai emosi.
"Aku nemuin partner spesial aku" Jawabnya yang mulai membuat darahku mengalir cepat.
"Maksud kamu apa sih?" Tanyaku, tak mau berharap banyak dari kata-katanya.
Capek berlutut di hadapanku, Ia memilih duduk di sampingku.
"Aira…!!" Ucap Alfi yang sempat membuatku bahagia untuk beberapa detik karena ia menyebut namaku dengan lengkap, aku kira selama ini ia tak tahu siapa aku.
"Partner spesial aku itu, ya kamu!!" Ucapnya membuatku speechless bahkan mungkin aku tak sanggup buat tersenyum karena saking speechlessnya.
"Dan mawar putih kesukaan kamu ini juga buat kamu"
Ia meraih tanganku lembut dan menyimpan mawar tadi di telapak tanganku. Aku menggenggam erat mawar itu dan menatapnya lekat. Aku bingung harus berkata apa. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Apa ini sebuah mimpi? Ini terlalu indah untuk disebut kenyataan. Tapi jika ini mimpi, ini adalah mimpi yang paling indah yang pernah aku alami. Dan jika ini memang mimpi rasanya aku tak ingin bangun dari tidurku.
Ya.. sekali lagi itu pertanyaanku, apa ini hanya sebuah mimpi?
Alunan musik klasik yang mengalun lembut terdengar di telingaku. Apa ini nyanyian hatiku karena saking bahagianya? Oh… bukan, itu suara yang keluar dari I-Pod milik Alfi.
"Acara puncak!!" Tuturnya sembari menghaturkan tangannya kepadaku, berusaha mengingatkanku pada acara puncak promnite. "Dance with me?" Ucapnya lagi.
Aku menyambut ajakannya dengan senyum penuh kebahagiaan. Aku akui ini adalah promnite terindah dan sempurna yang pernah aku alami. Tapi aku melupakan 1 hal, aku tak bisa berdansa. Cukup mengecewakan bukan?
"Hmm… Alfi, kaya’nya acara puncaknya dibatalin aja deh"
"Lho… kok gitu?"
"Hal yang paling nggak bisa aku lakuin itu, dansa. Aku sama sekali nggak tahu caranya berdansa"
"Karena itu…?" Tanyanya dengan tersenyum lepas, senyum yang paling bisa bikin jantungku deg-degan gak karuan. "Kamu pasti bisa kalau kamu belajar. Sini aku ajarin" Ia menggenggam erat kedua jari jemariku.
Dengan perlahan ia mengajariku. Dengan sabar pula ia harus menahan rasa sakit karena kedua kakinya aku injak. Satu lagi nilai plus yang aku temukan dari Alfi. Ia mahir berdansa. Aku larut dalam suasana yang menurutku so… romantic. Tanpa kusadari aku mulai mengerti sedikit caranya berdansa. Itu karena ajaran Alfi dan karena tatapan matanya yang teduh yang seperti menghipnotisku.
Terlintas dalam benakku, apa ini saatnya aku mengungkapkan isi hatiku selama ini. Tapi apa aku punya keberanian melihat responnya nanti setelah aku mengatakannya. Oh.. God, help me please…
"Alfi… kamu tahu nggak kalau selama ini aku sering banget merhatiin kamu?" Tanyaku yang mulai mendapat keberanian, yang entah datang darimana.
"Aku tahu" Jawab Alfi dengan senyum manisnya.
"Serius?"
"Ya, tapi kamu kalah cepat dari aku"
"Ha…maksudmu?"
"Kamu sadar nggak, kalau selama ini aku juga selalu merhatiin kamu. Bahkan jauh sebelum kamu melakukan hal yang sama"
"Bohong" Jawabku tak yakin dengan kata-katanya.
"Kamu nggak percaya? Kamu pikir aku tahu darimana kebiasaan tidurmu yang berlebihan. Kalau bukan karena aku punya perhatian khusus buat kamu"
Antara percaya dan tidak percaya, aku hanya diam 1000 bahasa. Agak shock mungkin, tanpa kusadari mataku mulai berkaca-kaca. Ternyata perasaanku selama ini padanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telingaku, "I love you, My sleeping beauty" Bisiknya yang membuatku kembali speechless.
"Sleeping Beauty?" Tanyaku tak mengerti.
"Ya… itu buat kamu yang nggak bisa lepas dari kebiasaan pelormu. Tapi aku nggak mau manggil kamu si Pelor. Aku lebih suka manggil kamu sleeping beauty soalnya kamu itu kaya’ Putri tidur. Yang susah banget buat dibangunin" Tuturnya dengan tersenyum lepas sembari mencubit pipiku.
Aku pun turut tersenyum. Aku bahagia dengan apa yang aku alami malam ini. Aku harap ini bukan sebuah mimpi.
"Aira… bangun donk, aku mau ngomong sama kamu" Ucap Alfi yang membuatku bingung setengah mati.
"Alfi… kamu ngomong apa sih? Aku nggak lagi tidur, kenapa aku harus bangun?"
Alfi tak menjawab ia hanya tersenyum. Tiba-tiba Poppy datang dan menciprati air beberapa kali ke wajahku. Membuatku semakin tak mengerti. Tak mengerti Poppy nongol darimana, ia begitu saja ada di hadapanku. Dan yang membuatku semakin dan semakin tak mengerti apa maksudnya ia mencipratiku seperti itu.
"Ayolah Ra, bangun. Kamu tu susah banget sih dibangunin" Gerutu Poppy makin buatku bingung.
Tiba-tiba sosok Alfi dan Poppy menghilang perlahan dari hadapanku bagai debu tertiup angin, kini yang ada dalam pandanganku hanya sebuah ruangan yang berwarna serba putih. Seperti kamar rumah sakit. Ya, aku sedang berada di rumah sakit karena maag akut ku yang kambuh.
"Akhirnya bangun juga" Ucap Poppy yang berada di samping ranjang tempatku berbaring.
Kata-kata Poppy dan suasana sekelilingku yang berubah secara tiba-tiba membuatku sadar kalau semua yang terjadi tadi hanya sebuah mimpi, mimpi yang sangat indah, yang kecil kemungkinan menjadi nyata.
"Woii… Ra, kenapa bengong?" Tanya Poppy lagi.
Dengan keadaan tubuh yang masih belum begitu pulih, dan masih lemah. Aku berusaha bangun dari pembaringanku, dan duduk di pinggir ranjang.
"Harus ya kamu mengganggu tidurku dan membuyarkan mimpi indahku untuk yang kesekian kalinya? Dan harus ya kamu membangunkankanku dengan mencipratiku air kaya’ tadi?" Tanyaku dengan memasang wajah cemberut.
"Harus lah karena kamu tu susah banget buat dibangunin. Malu tahu, cewek kok tidurnya kaya’ kebo"
"Buat apa malu? Nggak ada siapa-siapa kan disini, cuman kamu doank kok"
"…"
"Oh… iya Bunda mana? Kok nggak ada? Anaknya sakit kok malah nggak diperhatiin?"
"Yeh… ni anak satu curigaan mulu’. Bundamu lagi di ruang administrasi. Hari ini kan kamu udah boleh check out"
"Udah berapa lama sih aku di rumah sakit?"
"Hmmm… sejak kemarin malam"
"Trus sekarang udah jam berapa?"
"Jam 4 sore. Dan kamu tahu berapa lama kamu tidur?"
"Hmmm nggak tahu"
"16 jam. Dua kali lipat dari jam tidur normal"
"Trus kenapa kamu nggak ngebangunin aku dari tadi pagi, bukannya kamu seneng ganggu tidurku?"
"Berhubung kamu lagi sakit jadinya aku nggak tega. Aku liat kamu enak banget tidurnya. Mimpi Apa’an?"
"Hmm mimpi apa ya? Mau tahu aja kamu. Hahahaha…"
"Dasar… paling juga mimpiin Alfi. Iya kan?"
"Heheheh…tahu aja kamu"
"…"
"Oh iya, anyway kemarenkan kita ada di toko buku. Trus kenapa sekarang tiba-tiba aku ada disini?"
"Aira emang kamu mau aku biarin kamu sendirian di toko buku dalam keadaan pingsan?"
"Pingsan?"
"Iya, dan kamu tahu siapa yang bantu aku bawa kamu kesini?"
"Alah palingan juga karyawan di toko buku. Iya kan?"
"Bukan. Kalau aku kasih tahu kamu siapa yang bantu aku, pasti kamu nggak percaya"
"Emang siapa?"
"Al…" Belum juga Poppy menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada yang masuk keruangan dan menghampiri kami. Dan orang itu tak lain adalah Alfi.
"Selamat Sore Aira" Ucapnya dengan tersenyum dan dengan tatapan matanya yang teduh. "Tenteram banget ngeliat senyum kamu Alfi" batinku bahagia.
"Yang nganterin kamu kemaren ke rumah sakit Alfi, Ra. Dia panik banget ngeliat kamu pingsan di toko buku, tanpa babibu lagi dia langsung gendong kamu ke mobilnya, dan bareng sama aku ngantar kamu ke rumah sakit" bisik Poppy menceritakan kronologi pasca aku pingsan kemarin. Pantes sebelum aku benar-benar pingsan, aku sempat mendengar suaranya dan melihat bayangnya di hadapanku. Dan kini aku juga tahu dan mengerti semuanya, Alfi ternyata peduli padaku… ehhehehhe…!!!
"Gimana keadaan kamu, Ra? Udah baikan?" Tanya Alfi lagi.
"Alhamdulillah udah kok, hari ini juga udah boleh pulang".
"Syukurlah"
"Oh iya, Al. Terima kasih ya udah nganter aku ke rumah sakit kemaren"
"Iya… sama-sama"
Sejenak suasana hening, semua terdiam tak tahu apa sebabnya. Dalam diamku tiba-tiba aku teringat pada mimpi indah tadi saat tatapan mataku tertuju pada Alfi, yang mungkin heran kenapa aku menatapnya seperti itu. Pikirku akankah semua mimpi itu menjadi kenyataan, aku rasa tidak. Tanpa kusadari butiran-butiran bening mengalir ke pelupuk mataku dan perlahan membasahi pipiku. Aku jengkel bercampur sedih kenapa perasaan Cinta ini harus tertuju pada Alfi. Cowok yang mungkin tak akan pernah punya perasaan yang sama padaku. Dia tak akan pernah mencintaiku.
"Aira… kamu kenapa nangis? Sakitmu kambuh lagi ya?" tanya Alfi dengan wajah yang terlihat panik. Tapi aku tidak mau tertipu dengan kekhawatirannya padaku. Dia khawatir bukan karena dia sayang dan mencintaiku, aku yakin kekhawatirannya tak lebih dari rasa khawatir seorang teman.
"Nggak kok, aku baik-baik aja. Ini cuman kelilipan doank kok" tuturku sambil mengusap air mataku.
Setelah menyeka air mataku, di hadapanku aku lihat sekuntum mawar putih, persis mawar yang ada di dalam mimpiku. Dan mawar itu juga dari Alfi.
"Buat kamu" ucapnya dengan tersenyum.
"Buat aku?". Aku ragu-ragu menerimanya, apa kali ini aku bermimpi lagi.
"Iya"
"Tapi… darimana kamu tahu kalau aku suka mawar putih?" Dengan ragu aku menerima mawar pemberian Alfi.
"Karena…"
"Oh iya, Al. Poppy kemana? Kok nggak ada?" Celetukku memotong pembicaraan Alfi, karena baru sadar kalau Poppy sudah tidak ada di dalam ruangan.
"Tadi dia keluar, mau nyusul bunda kamu katanya".
"Oh… begitu…" Syukurlah waktu aku nangis tadi Poppy tak ada disini. Kalau aja tadi dia ada disini bisa diledekin aku sama dia selama 40 hari 40 malam. hehehhehe…
"Makannya jangan ngelamun mulu." tutur Alfi sembari mencubit pipiku.
Sempat kaget dan merasa sedikit sakit juga dengan cubitan itu. Kaget, karena aku merasa aku dan dia seperti sudah lama dekat, padahal baru juga beberapa menit yang lalu. Nenek sambil salto pun tahu kalau aku dan Alfi tak pernah sedekat ini sebelumnya.
"Al… kamu belum mau pulang ya? Aku nggak enak sama pacar kamu kalau kamu jenguk aku disini lama-lama."
"Kamu ngusir aku ya?" tanyanya. Dan yang aku lihat sepertinya dia agak kecewa dan jengkel dengan kata-kata ku.
"Bukannya gitu…"
"Ok… aku akan pulang tapi dengan satu syarat"
"Syarat? Apa?"
"Kamu bersedia jadi Partner ku di Promnite minggu depan"
"Apa? Kamu nggak salah mau ngajak aku?" Tanyaku kaget dan tak percaya.
"Hmmm nggak sama sekali" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Tapi kan ada Chika"
"Chika?"
"Iya, gosipnya kan kamu lagi dekat sama dia"
"Dekat bukan berarti aku harus pergi sama dia kan? Lagian aku Cuma anggap dia teman nggak lebih"
"Tapi sayangnya Chika nggak berfikiran yang sama kaya’ kamu Al" Batinku mengingat usaha Chika yang dari dulu ngejar-ngejar Alfi.
"Ada orang yang lebih spesial yang bisa aku anggap lebih"
"Siapa? Pacar kamu pastinya. Iya kan?"
"Hmmm bukan"
"Trus siapa kalau bukan pacar kamu?".
"Kamu"
Aku terdiam, shock dan kaget mendengar jawabannya. Ada rasa haru dan senang juga sih dengan jawabannya barusan. Tapi mungkin saja Alfi hanya bercanda.
"Kenapa diem, Ra? Aku buat kamu bingung ya?"
"Al kamu kalau mau bercanda jangan kelewatan kaya’ gitu" Ucapku mengingatkannya.
"Lho… yang bercanda itu siapa? Aku nggak bercanda, Ra"
"Jadi…?"
"Cewek yang paling spesial buat aku itu ya kamu, bukan Chika atau siapapun" Ungkap Alfi sembari perlahan menggenggam erat tanganku, yang tak sanggup berkata apa-apa lagi karena takjub dengan apa yang terjadi hari ini.
"Kamu itu unik, beda sama cewek-cewek yang lain yang pernah aku temuin. Kamu baik, kamu cuek, kamu lucu, apalagi kebiasaan tidurmu yang berlebihan, itu yang paling buat kamu unik" Tuturnya dengan tersenyum.
Cewek yang paling spesial buat aku itu ya kamu, bukan Chika atau siapapun" Ungkap Alfi sembari perlahan menggenggam erat tanganku, yang tak sanggup berkata apa-apa lagi karena takjub dengan apa yang terjadi hari ini.
"Kamu itu unik, beda sama cewek-cewek yang lain yang pernah aku temuin. Kamu baik, kamu cuek, kamu lucu, apalagi kebiasaan tidurmu yang berlebihan, itu yang paling buat kamu unik" Tuturnya dengan tersenyum.
Aku hanya bisa terdiam 1000 bahasa, tanpa kusadari butiran bening mulai mengalir kembali membasahi pelupuk mataku hingga menetes perlahan membasahi pipiku. Ada rasa haru saat Alfi mengatakan semua hal tentangku barusan, itu artinya aku juga punya tempat di hatinya, seperti ia yang punya tempat paling spesial disini, di hatiku.
"Kamu tahu semua hal tentangku darimana?"
"Setiap harinya kamu itu selalu buat aku penasaran untuk cari tahu semua tentang kamu, jadi apapun akan aku lakuin supaya aku tahu tentang kamu, termasuk selalu berada di dekat kamu saat kamu keluar sama Poppy"
"Jadi kamu buntutin aku?"
"Heheheh iya "
"Jadi kamu juga pasti tahu kalau aku…"
"Iya aku tahu, tapi kamu kalah cepat. Aku yang lebih dulu sering merhatiin kamu sejak orientasi angkatan kita 3 tahun lalu"
"Al… kamu jangan bercanda terus, kamu ngomong kaya gini cuman biar aku semangat aja kan? Karena kamu udah tahu kalau aku dari dulu sayang sama kamu. Kamu nggak mungkin segitunya merhatiin aku, siapa aku? Aku bukan siapa-siapa Al. Kalau kamu ngomong kaya gini hanya atas dasar rasa kasihan lebih baik kamu pulang." Ujarku entah darimana aku dapat pemikiran seperti itu, mungkin dari kata-kata Alfi yang seperti tidak masuk di akal menurutku. Air mataku kian deras mengalir.
"Hei… hei… Demi Tuhan aku nggak bercanda, Ra. Apa yang aku bilang semuanya itu benar. Kamu tanya siapa kamu? Kamu itu Special buat aku, kamu orang yang aku sayang" Jawab Alfi sembari perlahan mengusap air mataku.
"Tapi kenapa kamu harus tunggu waktu selama 3 tahun, buat ngomong yang sebenarnya sama aku? Kamu pasti tahu, kalau aku nggak mungkin ngomong yang sebenarnya sama kamu soal perasaan aku. Karena aku pikir kamu sama sekali nggak kenal sama aku"
"Karena aku terlalu sayang sama kamu, aku mau mengenal kamu secara keseluruhan, makanya selama 3 tahun aku tetap berada pada titik ini. Titik dimana kamu menjadi pusat perhatianku setiap hari".
"Al … kali ini aku nggak mimpi kan?" Isakku mulai terhenti, aku percaya kali ini ia tidak berbohong.
"Hmmmm mimpi atau bukan ya?" Canda Alfi dengan tersenyum.
"Alfi… jawab" desakku penasaran.
"Ya nggak lah" Jawabnya sembari mencubit kedua pipiku.
"Auwww… sakit tahu "
"Itu artinya?"
"Aku… benaran nggak mimpi…"
Alfi tersenyum dan mengangguk pelan.
Tanpa sadar aku memeluk Alfi, saking bahagianya. "Aku sayang kamu, Alfi" Tuturku dengan isak tangis, tangis bahagia lebih tepatnya. "Aku masih nggak percaya atas apa yang udah terjadi hari ini, semuanya kaya’ mimpi" Isakku dalam pelukannya.
"Ini bukan mimpi, Ra. Aku benaran sayang sama kamu. Insiden kamu pingsan di toko buku kemaren, buat aku sadar kalau aku harus ngomong yang sebenarnya sama kamu"
"Kenapa?" Tanyaku sembari melepas pelukanku.
"Karena aku mau, kamu tahu kalau aku akan selalu ngejagain kamu."
"Terima kasih, Al"
"Iya. Udah ya jangan nangis terus, aku nggak suka liat kamu nangis. Kamu itu lebih cantik kalau lagi senyum" Kembali Alfi mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan kedua ibu jarinya.
"Aira, Alfi" Poppy dan Bunda datang menghampiri kami dengan wajah heran dan penasaran pastinya melihat kedekatan kami.
"Bunda, Poppy" seruku agak kaget. Alfi pun tak kalah kagetnya.
Poppy tiba-tiba tersenyum melihat kami berdua, "Hmmm… tante kaya’nya bentar lagi ada yang bakal jadian ni" Sindir Poppy yang mengundang senyum bundaku.
Aku dan Alfi hanya bisa tersenyum, dengan wajah yang bersemu merah.
"Tante, liat deh… pipinya pada merah gitu… malu-malu tapi mau tu tante… hahahh" ledek Poppy semaunya.
"Poppy… udah dech" Pintaku sembari mendelik ke arahnya.
"Hahahha… iya iya. Aku senang liat kamu Happy, Ra" Poppy tersenyum sambil merangkul pundakku. "Al… jangan bikin Aira nangis ya. Dia itu jelek kalau lagi nangis" Canda Poppy yang mengundang senyum Alfi bahkan bunda.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah jendela kamar rumah sakit. Dari sana aku lihat langit sore kian bersemu jingga… Matahari mulai merangkak kembali ke peraduannya. Langit sore memang selalu indah, tapi hari ini bagiku langit itu terlihat lebih indah, karena aku sudah dapat kan kebahagiaan yang aku nantikan sejak lama. Suatu hal yang aku kira hanya akan jadi sebuah mimpi dan harapan usang yang nggak akan terwujud. Tapi hari ini aku mendapatkan jawaban dari mimpiku yang sebenarnya. Sebuah mimpi yang paling indah bukan berarti tak akan pernah bisa jadi kenyataan. Satu pertanyaanku, apa ini adalah awal dari terwujudnya mimpi indahku tadi? aku harap ya.
Aku sayang kamu Alfi, aku benar-benar tak ingin kehilangan kamu.
The End......🥀