Cantik, kecil, imut Ina namaku. Sifatku kaya anak cowok (tomboy). Aku berjalan menuju taman sekolahku dengan digenggamkan mp3 dan headset kemudiam aku duduk di bangku taman. Aku terus mendengarkan lagu tersebut dengan gelengan kepala dan hentakan kakiku hingga aku tak sadar aku tidak mendengar orang memanggilku. “Ina” ucap cowok yang menghampiriku. “Iya” jawabku dengan terkejut melihatnya. “Heksa. Kenapa?” ucapku
“Ya gak papa tumben banget dengerin musik kan kamu gak suka musik” kata Heksa. “Lah kenapa? Gak papa kan dengerin musik jadi hobi baru aku” ucapku. Bel berbunyi Aku dan Heksa bergegas menuju kelas.
Heksa adalah sahabat aku sejak kecil. Rumah kami berdekatan. Kami sering bermain bersama, belajar dan bahkan makan juga bareng. Sifat aku tomboy emang dari kecil. Ya sekarang masih tetep tomboy otw feminim gitu. Hobiku menulis dan membaca novel, ya taulah kalo hobinya menulis pastinya ingin jadi penulis. Setiap ada waktu luang aku menulis. Selalu aku bawa buku catatan menulisku.
Mendengarkan musik adalah salah satu hobi baru aku, entah kenapa kini aku suka mendengarkan musik sejak kakakku ikut les vokal. Suatu ketika kakakku Rian mengajakku ke sebuah studio dimana tempat ia les vokal.
“Kamu ikut les vokal di sini ya” ucap kakakku
“Lah. Aku kan gak bisa nyanyi kak” jawabku. “Justru itu tempat les vokal kan untuk belajar nyanyi” kata kak rian. Saat itulah aku les vokal setiap hari. Lama kelamaan aku makin menyukai bernyanyi. Musik itu indah, hidup tanpa musik, dunia ini mungkin akan garing.
Hari senin adalah hari paling tidak aku senangi karena upacara. Seperti biasa aku dan Heksa berangkat ke sekolah bersama menaiki sepeda ontel. Jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh. Detik per detik kita kayuh sepeda hingga kita sampai ke sekolah. “Ina ayo masuk” ucap Heksa. “Ayok” jawabku.
“Oh iya sa aku ikut les vokal loh” ucapku sambil berjalan menuju kelas.
“Yang bener? Gak salah nih? Yang dulunya benci banget sama musik” kata Heksa
“Itu kan dulu sa” jawabku
“Tapi masih suka nulis kan? Tanya Heksa
“Iya dong sa” ucapku
Ibu Anis adalah guru Bahasa Indonesia memberikan tugas untuk mengarang sebuah cerpen. Cerpen yang paling bagus akan ikut lomba cerpen se-Kabupaten. Aku senang sekali aku berharapa aku yang ikut lomba itu. Bel berbunyi “KRING…!” aku segera pulang untuk menulis cerpen. Sesampai di rumah aku menulis terus menulis hingga aku lupa untuk les vokal. “Ina kamu gak les vokal hari ini?” tanya kak Rian. “Yah kak aku lagi nulis cerpen ada tugas, libur dulu ya kali ini” jawabku. “Ya sudahlah” ucapnya.
Satu minggu berlalu, aku harus mengumpulkan hasil cerpen. Seketika aku menyiapkan buku, cerpen hasil karanganku basah dan tulisannya tidak terlihat akibat hujan kemarin. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan tapi aku akan tetap berangkat ke sekolah.
Heksa memanggilku dari luar pagas rumahku. “Ina ayo berangkat” ucapnya. “Iya sa tunggu bentar” jawabku dari dalam rumah. Aku langsung ke luar dan berangkat ke sekolah bersama heksa. “Oh iya na udah kan tugas cerpennya?” Tanya heksa sambil mengayuh sepedanya. Aku hanya terdiam memikirkan hasil cerpenku yang basah. “Woy na. Sudah kan?” ucap Heksa. “Eee itu sa hasil cerpenku basah” kataku.
“Hah? Kok bisa sih na? Terus gimama sekarang kan terakhir dikumpulin” ucap Heksa.
“Udahlah sa gak papa, mau gimana lagi” kataku
“Gak, gak kamu ngumpulin hasil cerpenku aja ganti namaku jadi namamu” ucapnya sambil menyerahkan cerpennya
“Udahlah sa gak papa kok” ucapku dan aku terus mengayuh sepedaku.
Teman-teman di kelas mengumpulkan hasil cerpennya terkecuali aku. Aku sudah berlapang dada untuk itu. Aku tidak mengumpulkan hasil cerpen, akhirnya bukan aku juga yang ikut lomba cerpen itu. Sepulang sekolah aku langsung les vokal bersama kak Rian. Di studio akan diadakan Lomba Nyanyi dan yang menang akan diikutkan lomba di Jakarta. Semua ikut lomba nyanyi itu termasuk aku dan kakakku. “Pastinya Kak Rian yang menang deh” ucapku.
“Dan pastinya juga kamu yang menang” ucap kak Rian.
“Masa? Suara aku kan gak bagus” jawabku
“Kata siapa, suata kamu bagus kok na” kata salah satu temen les vokal.
Lomba tersebut sudah terlaksana. Aku sudah mengikuti lomba nyanyi tinggal menunggu pengumuman. Saat yang lain menunggu pengumuman, aku hanya duduk santai, main hp dan dengerin musik dengan headset. Dan ketika kakakku mengejutkanku.
“Ina” ucap kak Rian dengan wajak bahagia
“Ada apa kak?” jawabku sambil melepaskan headset dan semua pandangan tertuju kepadaku.
“Kamu menang lomba nyanyi” ucap kak Rian
“Ah masa, kak Rian becanda ih” ucapku
“Dipersilahkan kepada anada INA DIANA untuk maju ke atas panggung” ucap salah satu host acara.
“Hah? Ini beneran? Gak mimpi?” ucapku sambil menepuk pipiku.
Aku langsung maju ke depan dan mendapat penghargaan, ternyata kak Rian juga menang lomba nyanyi. Aku seneng banget gak nyangka aku bisa menang dan ikut lomba nyanyi di Jakarta. Dari situlah aku suka menyanyi suka musik. Dari kota ke kota aku ikut lomba nyanyi. Dari kampung pun aku juga ikut lomba nyanyi. Dengan itu, aku tidak melupakan cita-citaku menjadi penulis. Diwaktu luang aku masih menulis sebuah cerita.