Cahaya matahari mulai menikam kedua netraku dari sela-sela jendela. Ramainya kicauan burung juga ikut serta seolah tak mau kalah. Samar-samar dari kejauhan terdengar petikan gitar mengalunkan sebuah melodi menciptakan irama yang harmoni. Menambah kesan damai di awal pagi hari ini.
Aku beranjak dari tempat tidurku, melangkah mendekati sumber alunan melodi itu dengan tubuh yang masih lunglai. Tak jauh dari tempatku berdiri,tepatnya dari balik jendela di ruang tamu. Tampak seorang lelaki dengan rambutnya yang sudah mulai memutih dengan lihainya memetik senar gitar layaknya seorang maestro.
Seorang lelaki tua yang selalu membuatku bahagia dengan 1001 jitu yang ia punya. Ya, dia adalah Kakekku yang hangat ku panggil “Aki”. Seni adalah hidupnya, terlebih pada seni lukis dan seni musik yang sangat ia gemari. Tak satupun orang dapat mengganggunya saat ia sudah mulai melakukan dua hal tersebut.
Aku melangkah menuju teras dan duduk tepat disampingnya, menikmati melodi yang indah sambil memandang suasana pagi yang memikat. Meski tak saling mengucap sepatah kata, kami menikmati pagi itu dengan hati yang gembira.
Kupu-kupu tak henti-hentinya melintas di hadapan kami, beberapa burung kecil juga saling bergantian berdiri di tangkai pohon yang berada tepat di sana. Mereka seolah gembira dengan alunan gitar yang dimainkan Aki.
“srek” Aki menurunkan gitarnya secara tiba-tiba, menghentikan lincahnya petikan indah itu. Mataku mengarah kepadanya dengan penuh tanda tanya ‘kenapa berhenti?’, gumamku dalam hati. Aki beranjak dari tempat duduknya, “sebentar Aki mau ambil alat lukis dulu ya” jelasnya padaku, seolah tahu bagaimana isi hatiku.
“Iya” aku menganggukkan kepalaku perlahan. Hatiku bersorak gemibira karena aku sangat senang ketika melihat Aki mulai berdansa dengan kuas dan berbagai warna catnya sebagai pengiring.
Tak lama ia kembali dengan kanvas dan beberapa set alat lukisnya yang bergam. Dengan penuh semangat aku membantunya menaruh barang-barang yang Aki bawa bak asisten pribadinya.
Tanpa membuat sketsa terlebih dahulu, Aki dengan lihainya memadukan beragam warna, menjadi satu-kesatuan yang saling mengindahkan satu sama lain. Membuatku tak henti memerhatikannya dengan takjub.
“Kamu mau coba?” tawarnya sambil memberikan salah satu kuanya kepadaku.
“ mau...mau” jawabku dengan penuh semangat. Aki memberiku selembar kertas berukuran A4 dan menyuruhku untuk mengembangkan imajiku tanpa harus mempersiskan lukisanku dengan lukisan miliknya.
Menit demi menit berlalu dengan cepat. “Aki...aki...aku udah selesai” lapor gadis kecil yang baru saja berusia 5 tahun. “Wah, hebat banget cucu aki” pujinya sambil membelai rambutku lembut. “lagi..lagi, aku mau coba lagi ki, biar lebih bagus” ujarku yang masih candu. “yuk-yuk, di coba lagi! Jangan cepat nyerah ya sayang” seru Aki yang juga masih bersemangat mendukung cucu pertamanya untuk berkarya.
“bruuk!!!”
Aku terjatuh dari kasurku yang lumayan tinggi. “aduh” rintihku pelan, “kok aku jadi di sini? Yang tadi cuma mimpi?” keluh ku yang masih tidak percaya.Aku berlari menuju cermin yang berada tidak jauh dari tempatku terjatuh untuk memastikan semua itu, aku melihat dengan jelas pantulan wajah dan tubuhku yang berada di sana.
Aku terkejut, ini bukanlah aku yang masih berusia 5 tahun. Berbeda dengan mimpi yang baru saja ku alami, aku tersadar bahwa semua itu hanya sebatas kenangan yang bisa saja datang kapan pun tanpa diminta.
Sudah hampir genap 11 tahun lamanya sejak Aki meninggal dunia, aku belum lagi mulai melukis kecuali untuk pengambilan nilai di sekolah itu pun kukerjakan tanpa gairah . Rasanya sangat menyakitkan saat aku kembali mengingat masa-masa indah itu bersama Aki.
Tak ada yang bisa menggantikan posisi Aki untukku. Karena, hanya Aki lah yang bisa membuatku bersemangat. Terlebih karena memiliki passion dan hobi yang sama.
Kertas yang seharusnya sudah berwarna itu kini masih berwarna putih polos dari tahun ketahun. Hingga kini warnanya sudah sedikit menguning termakan waktu. Kadang aku memiliki niat untuk kembali melukis seperti dulu, namun karena datangnya kabar duka yang tak pernah kuinginkan 11 tahun yang lalu itu, membuat semua niat itu terkubur dalam–dalam.
‘Apakah mimpi yang tadi itu adalah sebuah pertanda?. Bahwa Aki menginginkanku untuk kembali bergelut di dunia seni, seperti 11 tahun yang lalu?’ tanyaku dalam hati.