Libur semester telah tiba, Juni berencana akan pergi liburan bersama teman dekatnya. Ada Helena, Ray, Welda, dan Defren. Satu hari pertama di masa liburan, mereka semua berkumpul di sebuah tempat yaitu kafe didekat rumah Juni. Mereka membicarakan pasal kegiatan yang akan dilakukan sebelum pergi esok hari. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya keputusan telah diambil. Semuanya sepakat dengan seluruh kegiatan serta tempat menginap yang akan mereka tinggali untuk satu malam. Jadi esok hari, Juni dan para temannya akan menghabiskan satu hari penuh bersama-sama.
Esok harinya, satu persatu teman-teman Juni datang. Rumah Juni menjadi titik kumpul sebelum pergi ke lokasi liburan tersebut. Helena datang lebih awal. Disusul oleh Ray, lalu Welda, dan yang terakhir ada Defren selaku orang yang akan menyetir. Sebelumnya Defren tidak ingin menjemput mereka satu persatu. Sebab jarak antar masing-masing rumah mereka begitu berjauhan. Sehingga membuat Defren menolak untuk menjemput mereka sana sini alias tidak mau ribet. Setelah semuanya berkumpul, Juni dan teman-temannya pun mulai berangkat.
Semua barang yang diperlukan sudah dibawa semua. Mereka semua tampak senang karena perjalanan yang telah direncanakan sebelumnya berhasil terealisasikan pada hari ini. Perjalanan membutuhkan waktu cukup lama. Berangkat dari pagi hari, hingga tiba pada siang harinya sekitar pukul 2 siang. Sesampainya di lokasi tujuan, mereka semua turun, dan menaruh barang-barangnya. Sebuah hotel di tepi pantai ini terlihat keren. Membuat Helena bergegas memasuki hotel untuk segera mencoba kasur empuk di tempat itu. Seluruhnya telah meletakkan barang bawaannya di kamar masing-masing. Dan beristirahat sejenak sebelum pergi menuju pantai.
Waktu sudah memasuki sore. Saatnya Juni dan teman-temannya berangkat menuju pantai yang ada di dekat hotel mereka tinggali. Mereka jalan bersama selagi tak sabar bermain air laut disana.
Di pantai, semuanya melampiaskan hasrat bersenang-senang disana. Ada yang berenang, bermain pasir, hingga berjemur di tepi pantai.
Sore yang hangat membuat suasana begitu nyaman untuk bersantai di pantai. Setelah berlama-lama berada di lokasi tersebut, Kini saatnya Juni dan teman-temannya kembali menuju hotel. Saat tengah berjalan, mereka teringat untuk mengambil gambar di lokasi ini. Jadi
Ray menyiapkan kameranya dan mereka semua berpose di depan kamera tersebut. Beberapa jepretan foto telah didapatkan. Kini waktunya kembali ke penginapan. Juni,Helena, dan Welda sibuk bercakap-cakap. Sedangkan Defren hanya memperhatikan suasana sekitar yang di laluinya.
Belum sampai mereka di hotel, Seketika pergerakan terhenti karena panggilan dari Ray.
"Kalian semua, Lihat ini."
Ray menunjukkan hasil tangkapan gambar yang dirasa seram. Ia menunjukkan sebuah penampakan yang ada di belakang mereka dalam foto itu. Welda dan Helena mulai merasa takut. Namun, Defren tidak percaya dengan itu. Dan hanya menganggap sebagai ilusi saja.
Juni tak yakin dengan pernyataan Defren. Tapi mau bagaimanapun, ini usaha untuk menenangkan mereka semua agar tidak berpikir tentang hal menyeramkan lagi. Defren lanjut berjalan mendahului mereka semua. Welda dan Helena menyusul. Dan tinggallah Juni dan Ray di lokasi.
"Apakah itu benar?"
Tanya Juni
Ray hanya mengangkat kedua bahunya seolah menandakan tidak ketahuannya akan hal itu nyata atau tidak. Setelah itu Ray mengajak Juni untuk kembali menuju hotel karena hari sudah semakin gelap.
Sesampainya di hotel, mereka semua berkumpul di sebuah kamar yang ditinggali oleh Juni serta dua perempuan lainnya yaitu Welda dan Helena.
Defren sibuk menonton televisi bersama Helena. Welda asik memainkan ponselnya. Lalu Ray tengah mengurus kameranya. Juni melihat mereka semua dalam satu pandangan didepannya. Ini bukanlah suasana yang diinginkan olehnya. Jadi Juni berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih menghibur. Jadi ia mengeluarkan sebuah permainan kecil dari dalam tasnya. Welda, serta yang lainnya melihat ke arah Juni.
"Aku tidak ingin hanya bersantai menonton televisi, ataupun bermain ponsel semata. Jadi aku membawakan permainan ini."
Ucap Juni pada semua temannya.
"Kamu membawa permainan ular tangga?"
Tanya helena yang tak menduga.
Welda yang melihat benda bawaan Juni tersebut, langsung mengajak seluruhnya untuk bermain bersama.
"Aku rasa tidak ada salahnya memainkan permainan semacam ini. Apalagi jadwal kita batal malam ini disebabkan oleh badai."
Sebelumnya, hujan badai turun tak lama setelah mereka kembali ke tempat penginapan usai dari pantai tadi. Jadi jadwal yang seharusnya dilakukan malam ini, menjadi batal terlaksana.
Mereka memainkan permainan ular tangga tersebut. Dan suasana kembali hidup karenanya. Juni merasa senang bahwa suasana yang diinginkannya kembali dirasakannya.
Satu jam kemudian, listrik seketika padam. Seisi hotel menjadi gelap gulita. Teriakan ketakutan dari Helena dan Welda membuat Juni terkejut. Kini mereka harus menyalakan lampu senter dari ponsel masing-masing. Defren berniat menanyakan perihal pemadaman listrik ini pada petugas yang ada di depan. Melihat temannya itu pergi seorang diri, membuat Juni ingin menenaminya. Dan Juni pergi bersama Defren menyusuri lorong hotel tersebut.
"Apa kamu tidak takut dalam gelap semacam ini?"
Tanya Juni.
"Tidak juga. Hanya harus memberanikan diri saja."
Jawab Defren.
Akhirnya mereka tiba di meja resepsionis. Defren menanyakan perihal pemadaman listrik ini. Namun seseorang yang ada di sana berkata bahwa badai sedang menerjang dengan kencang. Sehingga terjadilah pemadaman. Begitulah katanya.
Setelah berbicara dengan resepsionis, Defren dan Juni kembali ke kamar. Setibanya di kamar, Welda memegang tangan Juni.
"Ada apa Welda?"
"Aku.. melihat seseorang barusan lewat di dekat jendela, ketika aku sedang mencoba mendekat kearah sana."
Lalu Juni melihat Helena yang duduk di pojokan. Ia menanyakan apa yang dilakukan Helena di pojokan sana. Welda berkata, ia melihat hal serupa dan membuatnya ketakutan. Kemudian Defren bertanya dimana Ray sekarang.
"Ray sudah pergi. Dia tidak memberitahu kami kemana dia akan pergi. Yang jelas dia langsung pergi keluar kamar ini."
Defren mendengar itu langsung murka. Ia bergegas mencari Ray. Welda dan Helena langsung mengikuti Defren. Sementara Juni berjalan di posisi paling belakang. Mereka semua berjalan bersama menelusuri ruangan hotel tersebut.
Seluruh ruang hotel sudah mereka cari. Namun mereka tidak melihat sesosok Ray. Lalu, Juni teringat akan foto yang diambil oleh Ray saat berada di pantai tadi.
"Bagaimana kalau kita mencarinya di pantai?"
Kata Juni seraya mengajak.
"Kenapa ke pantai saat malam begini?"
Tanya Welda.
Mereka semua bergegas pergi setelah melihat Defren mulai berjalan duluan.
Helena memperhatikan jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan mereka pergi ke pantai yang sepi itu pukul segini. Membuat Helena merasa makin tidak enak. Hujan badai masih menerjang, mereka berempat berjalan menerobos cuaca kala itu. Terlihat ditengah angin berhembus kencang, ombak sedang menghantam bibir pantai begitu kuat dan sulit rasanya untuk mendekati kawasan tersebut.
Welda memperhatikan kawasan tersebut cukup lama. Dan ia melihat sesuatu.
"Apakah itu orang?"
Menunjuk kawasan pantai.
"Itu tidak salah lagi! Aku akan mengejarnya!"
Defren berlari menuju pantai yang sedang diterjang ombak besar tersebut.
Helena berteriak agar Defren lebih berhati-hati ke arah sana.
"Kenapa Ray bisa sampai disana?! Aku harus bagaimana?!"
Welda dan Helena hanya diam di posisi sembari melihat Defren yang berusaha mendekati orang yang diduga Ray tersebut.
Setelah berusaha cukup lama, Defren berhasil membawa Ray ke area penginapan. Ray tampak menbuka mata dengan pandangan kosong.
"Apa yang terjadi padanya? Ray sadarlah!"
Kata Juni sambil memegang erat tangan Ray.
Tiba-tiba Ray berkata...
"Aku ingin kembali kesana. Dia sedang menungguku."
Juni bertanya siapa orang yang dimaksud Ray itu. Ray menjawab seseorang yang ikut berfoto dengan mereka saat petang tadi. Dia lanjut berkata bahwa Ray harus pergi karena orang itu membutuhkannya.
Mendengar hal semacam itu, Defren langsung menampar dan memukul wajah dari Ray tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Defren?!"
Tanya Helena yang terbawa amarah.
Setelah itu Ray pun pingsan. Defren berkata mereka semua harus pergi dari hotel ini. Dan semuanya pun bersiap-siap mengurus barang-barang serta membawa Ray ke mobil.
Setelah semuanya berada di dalam mobil, Defren menyalakan mesin mobil miliknya. Namun, tidak berhasil. Helena makin ketakutan serta badannya dirasa sudah bergetar hebat setelah Welda memegang sebelah tangan temannya itu selagi coba menenangkan. Juni masih menjaga Ray yang tidak sadarkan diri tersebut. Berusaha semampunya, tetap tidak membuahkan hasil. Defren berkata pada mereka agar tetap tenang dan mau tidak mau mereka harus diam di dalam mobil hingga matahari terbit kembali. Helena tentu menolaknya, dan menyuruh Defren untuk segera mengemudikan mobilnya segera. Lantas adu mulut pun terjadi antar keduanya. Suasana yang mencekam serta amarah antar keduanya membuat Juni pusing. Juni bersuara lantang agar mereka berdua yaitu Helena dan Defren bisa diam. Mereka berdua terdiam seketika, dan Juni lanjut bicara setelahnya. Akhirnya mereka sepalat untuk berdiam didalam mobil dan tidak akan keluar hingga waktu pagi tiba.
Jarum jam di tangan Helena terus bergerak. Juni tidak bisa tidur di saat-saat seperti ini. Begitu pula dengan Helena. Sedangkan Welda dan Defren telah tertidur. Suasana tampak gelap didalam mobil. Helena memandang Juni yang tengah memegang kepala tersebut.
"Kamu pusing kah?"
Tanya Helena.
"Tidak. Aku hanya berusaha untuk tidur saja. Tetapi tidak bisa."
Jawab Juni.
"Aku juga begitu. Tidak bisa tidur saat ini."
Lanjut Helena.
Lalu Helena meminta maaf pada Juni, atas kejadian sebelumnya. Juni memaafkannya dan menyuruhnya untuk beristirahat sebisa mungkin. Sementara ia berjaga-jaga untuk sekarang ini.
Helena yang mendengar itu langsung mencoba untuk memejamkan mata dan akhirnya tidur.
Sinar matahari telah nampak. Juni membangunkan teman-temannya dan menyuruh Defren untuk coba menyalakan mesin mobilnya.
Mesin pun berfungsi. Dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan lokasi menyeramkan tersebut.
Di perjalanan Defren berbicara dengan Juni. Mereka membahas tentang orang yang ada di bagian resepsionis.
"Kamu tahu orang yang ada di resepsionis waktu itu?"
Tanya Defren.
"Memangnya ada apa?"
Juni balik bertanya.
"Orang itulah yang mengganggu Ray hingga mengalami hal seperti itu."
Ungkap Defren.
Juni tak menyangka setelah mendengar perkataan Defren.
Sesampainya di rumah Juni, Ray sudah tersadar dari pingsannya. Ray tidak mengingat apapun selain momen bermain di pantai saja. Juni telah menghapus foto terkait hal mistis sebelumnya dan berupaya agar Ray tidak mengingat momen itu lagi.
-----SELESAI-----