“Jadi, kau mau cerita apa Dimas?”, tanyaku.
Dimas menjawab, “Ya tunggu semua datang.”
Oh ya, Halo. Nama aku Rina. Aku dan keempat temanku sedang berencana untuk bercerita seram di kuburan.
Yah, buat seru seruan aja.
Kami diajak oleh Dimas.
Saat ini baru aku sama Dimas yang ada.
Yang lain belum.
Setelah menunggu, akhirnya datang.
“Kok lama banget datangnya?”, tanyaku.
“Ya kan siap siap dulu lah. Masa cerita seram gak siap siap?”, jawab temanku, Alpin.
“Bener kata Alpin.”, kata temanku yang lain yang bernama Sinta.
“Aku loh sama pacarku, Alpin.”, kata temanku yang lain, Kirana.
“Yaudah. Yok kita mulai. Mulai dari Dimas yaa.”, kataku.
“Ok!!!”, kata mereka berempat serentak.
“Jadi, ada seorang anak. Dia habis lari dari rumahnya. Soalnya, waktu jam setengah 1 malam, datang seseorang yang membunuh seluruh anggota keluarganya secara brutal. Anak itu sedang lari menyelamatkan diri. Tetapi di depan anak itu, ada seseorang yang misterius. Tanpa pikir panjang, anak itu langsung menghampiri orang itu."
“Permisi, pak. Bisa bantu saya? Saya sedang dikejar oleh seseorang yang membunuh seluruh keluarga saya…”, kata anak tersebut kepada orang tersebut.
Orang tersebut mengalihkan pandangannya ke anak itu sehingga, perkataan anak itu terpotong.
Ternyata orang itu adalah sosok yang membunuh keluarganya.
Anak itu langsung lari sekuat sekuatnya, tetapi, dia sudah terlambat.
Orang itu berteleportasi ke hadapannya, dan sejak itu, tidak ada yang melupakan kematian yang tragis, menyedihkan, dan tidak layak. TAMAT.”, kata Denis.
“Ih kasian banget anaknya.”, kata Sinta.
“Iya. Kasian dia. Jahat banget orangnya. Kalo kamu, Budi?”, lanjut Kirana.
“Kalo aku, ceritanya menegangkan tetapi tidak terlalu horror.”, kataku.
“Aku juga sependapat dengan Budi.”, kata Alpin.
“Yaudah. Sekarang Dimas, kau pilih siapa selanjutnya.”, kata Sinta.
“Ok. Aku milih, Kirana.”, kata Dimas.
“Ok.”, kata Kirana
“Ok. Jadi, konon, ada hantu yang sangat menyeramkan. Dia berpakaian biarawati, mukanya kering dan pucat seperti mayat, dan kedua tangannya ditangkupkan ke dada. Jarang orang yang melihatnya sedang menggerakan tangannnya. Konon, dia sering mengeluarkan kata ‘Alejandro’. Tidak ada yang tau apa artinya. Ada yang bilang, kalau Alejandro itu anaknya, ada juga yang bilang bahwa Alejandro itu suaminya. Yang pasti tidak ada yang tau apa itu Alejandro. Katanya, siapa yang mendengarkan kata Alejandro yang disebutkannya, maka dia akan menghilang. Ada banyak orang yang menyelidiki kebenaran hantu ini. Tetapi, setiap ada yang menyelidikinya, orang tersebut akan menghilang. Oleh karena itu, banyak yang ogah untuk menyelidiki kebenaran itu. Tapi ada satu hal yang pasti. Bahwa hantu tersebut sering berada di kuburan. TAMAT.”, kata Kirana.
“Ih serem banget. Kita ada di kuburan lagi.”, kata Dimas.
“Ih aku takut. Beb, aku takuuut.”, kata Sinta ke pacarnya.
“Aku juga nya. Kan cuma cerita.”, balas Alpin.
Aku yang sedari tadi belum bicara, akhirnya aku nyadar sesuatu.
“Gaes, kita bicara dulu yaa. Kita bahas bagaimana cerita Kirana yaa?”, kataku kepada ketiga temanku.
“Boleh. Kirana, kami diskusi dulu yaa. Bagaimana ceritamu itu.”, kata Dimas kepada Kirana.
“O…K…”, kata Kirana pelan.
Dimas yang mulai menyadari hal yang aneh kemudian langsung berpaling kepada ketiga temannya.
“Kalian ada yang nyadar ga sih, bahwa cerita Kirana itu tampak menyeramkan?”, kataku.
“Emang kenapa?”, kata Sinta.
“Ituloh. Kan katanya bahwa tidak ada yang tahu kebenaran hantu itu, dan semua fakta tentang hantu itu hanya konon kan?”, kataku.
“Iya. Emang kenapa?”, kata Alpin.
“Kalo dia berkata begitu, kenapa dia bilang yang pasti hantu selalu terlihat di kuburan? Padahal ga ada yang tau tentang kebenaran hantu itu.”, lanjutku.
“Eh iyaloh. Tadi waktu dia jawab, katanya terdengar tidak normal.”, kata Dimas gemetaran.
“Eh iya juga. Atau jangan jangan…”, kata Sinta.
“Heh, kamu jangan berprasangka buruk kepada teman kita. Coba kita tanya. Bagaimana dia tau fakta itu? Kau pernah ketemu dengan hantunya atau tidak?”, potong Alpin.
“Ok.”, kata kami serempak.
Kemudian, Dimas bertanya kepada Kirana.
“Kirana, kan tadi kamu habis bercerita tentang hantu itu. Dan kau bilang bahwa tidak ada yang mengetahui kebenaran hantu itu, dan semua fakta yang kau bilang itu cuma fakta. Terus, bagaimana kau tau bahwa hantu itu terlihat di kuburan? Kau pernah ketemu dengan hantu itu?”, kata Dimas gemetaran.
Jawab Kirana “… SEBAB AKULAH HANTU ITU HIHIHIHIHIHI…”. Kirana yang normal berubah menjadi hantu yang diceritakannya. Mukanya pucat dan kering, dia pakai pakaian biarawati, dan dia menangkupkan tangannya, tetapi matanya bolong dan keluar darah dari mata yang bolong itu. Sudah dipastikan bahwa Kirana telah dirasuki oleh hantuu itu.
“AHHHHH!!!”, teriak kami berempat.
“Eh, aku lupa kasih tau, bahwa jika ada seseorang yang mendengar suara hantu itu berkata kata lain dari kata Alejandro, maka mereka akan mati dengan tragis hihihihihi.”, kata hantu yang merasuki Kirana.
Kami kemudian lari menjauh dari hantu tersebuut.
Tetapi, Sinta yang sedang lari kemudian ditimpa oleh nisan yang besar sekali. Dipastikan nisan itu tumbang karena hantu tersebut.
Tubuh Sinta hancur.
Kepalanya copot, dan organnya keluar.
Alpin yang melihat pacarnya mati mengenaskan kemudian lari kembali ke hantu tersebut untuk menyerangnya dengan sebuah batu.
Tetapi, hantu itu telah menggerakan tangan Alpin yang memegang batu tersebut sehingga, Alpin tidak mampu mengontrol tangannya itu.
Kemudian Alpin mulai memukul perutnya dengan keras sehingga dia muntah darah.
Kemudian Alpin memukul kepalanya dengan kuat dengan batu tersebut sehingga kepalanya pecah.
Dimas yang melihat kedua temannya mati, kemudian dia berlari ke pemukiman warga untuk meminta bantuan.
Tetapi hantu itu telah mengontrolnya sehingga diangkatnya Dimas ke atas, seatas mungkin, kemudian menjatuhkan Dimas ke tanah dengan kuat sehingga dari kepalanya keluar darah.
Tersisa aku sama Kirana yang dirasuki hantu tersebut. Aku berkata, “Tolong jangan bunuh aku. Aku belum berbuat baik cukup banyak”, kataku sambil berkeringat dingin.
Tetapi hantu itu berteriak dengan sekuat kuatnnya sehingga gendang telingaku pecah.
Darah keluar dari telingaku. Kemudian aku jatuh terlemas di tanah.
Aku sudah tidak sanggup berdiri.
Aku hanya bisa melihat hantu itu yang merasuki Kirana.
Kemudian, hantu itu mengangkat tangannya yang telah ditangukpnya ke atas.
Di tangannya ada rosario (alat doa umat kristiani).
Kemudian dia memasukkan rosario itu ke mulutnya dan menelannya.
Setelah itu dia pergi dari Kirana. Kirana yang baru sadar berteriak “AHHH…. UHUK…. UHUK… TOLONG AKU BUDI… UHUK… UHUK…”, kata Kirana dengan suara tersedak.
Aku hanya bisa melihat penderitaannya yang meemilukan itu, sebab hantu itu telah menggerakkan Kirana untuk menelan rosario itu, dan rosario itu nyangkut di tenggorokan Kirana.
Kemudian muka Kirana membiru, bibirnya hitam, dan keluar darah dari mulut dan hidung, setelah itu, matilah dia.
Ada seorang warga yang lewat kuburan itu dan melihat kami.
Kemudian dia lari ke pemukiman untuk mengabari warga.
Setelah itu datang warga berbondong bondong ke kuburan itu termasuk orangtua kami.
Mereka datangnya terlalu banyak sehingga menginjak injak diriku sampai aku gepeng, kemudian aku mati dan tidak ada yang bisa melupakan kejadian itu serta kematian kematian kami yang sangat tragis.
Sebelum aku mati, aku ingat kata terakhir yang disebutkan hantu itu sebelum dia keluar dari tubuh Kirana.
Dia mengatakan “ALEJANDRO”. Aku bisa tau dari mulutnya.
Setelah itu mayat mayat kami dievakuasi ke rumah sakit, diikuti oleh orangtua kami yang menangis dengan pilu.
Saat kami di rumah sakit, kami ditempatkan di ruang mayat.
Keesokan harinya, tubuhku menghilang, karena diantara kami, hanya aku yang masih melihat dia melontarkan kata ALEJANDRO.
Jadi ada fakta baru, bahwa seseorang yang melihat dan mendengar hantu tersebut melontarkan kata ALEJANDRO, maka dia akan menghilang.
Tubuhku kemudian dicari berhari hari sampai satu hari sebuah tubuh manusia ditemukan dalam kondisi tidak bisa dikenali.
Tidak ada yang tau bahwa tubuhku karena tidak ada yang bisa mengenalinya dan pencarian terus berlanjut sampai sekarang, meskipun mereka telah menemukan tubuhku yang tidak bisa dikenali mereka.
TAMAT…