Derrtt...dertt..
Seorang gadis sedang menunaikan sholat shubuh nya dengan khusu', dirinya menunaikan ibadahnya dengan baik dan benar.
Terdengar deringan ponsel ia tak menyadari hal tersebut. Hingga dirinya menyelesaikan ibadahnya.
Dia tak terburu - buru, melipat mukena dibalut langsung dengan sajadah menjadi satu.
"Assalamua'laikum" Salamnya spontan setelah mengangkat panggilan dari ponsel genggamnya.
"Waa'llaikumsallam" Balas orang diseberang telepon lalu berujar kembali, "Ca! Gimana ikut nggak ke Cirebon?" Lebih tepatnya seorang tersebut bertanya.
"Alhamdulillah, saya diperbolehkan oleh Abi jadi saya akan ikut denganmu" Balas gadis berjilbab tersebut dengan lembut nan sopan, walau dirinya berbicara dengan teman sepantarannya.
Gadis di seberang telepon itu pun terdengar amat girang dengan berseru, "Oke-oke jadi nanti sore gue jemput ya ca!!".
Sekilas gadis berkerudung yang dipanggil "Ca" itu mengulum senyum manis sembari menjawab seruan temannya itu, "Terimaksih Din, saya mau kemas barang- barang dulu" Ucapnya lembut.
Dibalas girang oleh temannya, "Oke siap!!" Serunya membalas.
***
Berjalannya Waktu ke waktu kian hari mulai menampakkan waktu menjelang magrib.
Sore tadi kawannya menjemput dirinya, setelah berpamitan dengan Abi serta Umi dirinya lantas langsung pergi tak lupa melantunkan do'a.
Seorang gadis berkerudung sedang melakukan perjalan panjang menuju kota cirebon, senantiasa untuk menemani kawannya bernama Dina sekaligus dirinya memiliki tujuan tertentu.
"Din sebaiknya kita cari masjid dulu atau mushola kecil, sholat dulu" Ucapnya pada sang kawan.
Dina menoleh pada Salsa, "Yaudah ca bentar cari dulu" Ucapnya spontan.
"Pak lek, tolong carikan masjid ya?!!" Pintanya pada supir pribadinya, dibalas anggukan.
Tak butuh waktu lama mereka menemukan sebuah mushola kecil, banyak penduduk yang akan menunaikan ibadahnya.
Mereka juga bergegas melaksanakan tugas wajib mereka. Setelah dirasa wiritan cukup, mereka melanjutkan perjalanan menju kota tujuan.
Semua tampak lelah sang supir yang berjumlah dua itu tampak bergantian menyupir.
Hingga hampir pukul 11 malam mereka tampak hampir sampai tujuan, Pak supir menghentikan mobil secara mendadak membuat Salsa terhantuk jendela mobil begitu pula yang lain.
"Astagfirullah, ada apa pak?" Tanya Salsa kaget dibalas dengan gugup oleh pak supir, "Itu non ada yang kecelakaan di depan".
Semua tampak menutup mulut saat melihat kejadian, terlihat dua orang pemuda yang terlindas truck pasir hingga darah berceceran. Bahkan Dina pun sampai muntah tak tahan melihat kejadian.
***
Esok harinya sudah menjadi hari biasah bagi mereka namun, ini ialah pagi yang baru dan suasana yang baru, dikawasan yang baru.
Kejadian semalam membuat Dina demam karena terlihat jelas organ korban yang berceceran, membuat Salsa harus merawatnya.
Sedangkan Salsa sendiri hanya bisa melakukan kewajibannya menunaikan ibadah wajibnya, lalu melaksanakn wiritan menempatkan hatinya agar lebih tenang.
Dan tepat pukul 07. 26 dirinya pergi ke pasar untuk mebeli bahan pangan yang dibutuhkan. Dirinya akan memasak sup dan bubur untuk Dina, agar cepat vit.
Diperjalanan pulang dirinya berpapasan dengan seorang pemuda yang nampak dikenalnya.
"Mas Dono?" Ujarnya dengan ragu, pemuda itu menoleh lalu mengernyit, "Salsa?" tanyanya diangguki antusias oleh Salsa.
"Loh Acca kesini sama siapa" tanya pemuda tersebut yang bernama Dono.
"Lagi nemenin temen Acca, sebenernya sih sama nyariin rumah Mas" Jelas Salsa sedikit gugup dicampur kebahagiaan.
Pemuda tersebut terlihat mengulum senyum lalu berucap, "Eh kok nyariin rumah aku?" Tanyanya kikuk.
"Sebenarnya saya suka sama Mas dari sekolah dulu, tapi mas keburu pindah" Ujarnya nampak pasti dengan ucapannya barusan.
Ucapannya membuat Dono itu terpana, lalu mengulas senyum lembut. Dirinya mengulurkan tangannya ke arah Salsa memberikan sebuah gelang berkerincing.
"Itu buat kamu jaga baik-baik jangan sampai hilang, Mas juga sayang sama kamu bahkan cinta banget" Ujarnya membalas dengan blak -blakn seketika pipi Salsa berubah merona.
"Yaudah mas ada urusan kamu jangan lupa mampir kerumah aku, tempatnya dibelakan masjid" Ujarnya lembut lalu pergi dari hadapan Salsa yang masih dilanda perasaan campur aduk.
***
Sesampainya Salsa sampai rumah dirinya tak berhenti mengulum senyum sembari menatap gelang dipergelangannya.
"Alhamdulillah, se'enggaknya perasaan aku telah terbalas" Ucapnya dalam hati, "Jika kelak kita jodoh pasti ada waktunya untuk bertemu kembali" Ujarnya kembali dalam hati.
Dina tiba - tiba muncul dari toilet dengan rambut acak -acakan membuat Salsa terjingkat.
"Astaga Dina!! Kan kamu sakit kenapa nggak istirahat aja?!!" Jerit Salsa kaget, "Lebay kamu ca" Balasnya tersenyum.
Salsa segera menyuruh Dina untuk duduk, tak sengaja matanya menangkap gelang di pergelangan Salsa.
"By the way, itu gelang kamu beli? Tumben ca kamu suka begituan?!" Tanyanya beruntun.
"Ah ini, tadi aku ketemu Mas Dono terus aku ngungkapin perasaan ternyata kita sama -sama cinta" Ujarnya senang namun membuat Dina membola mata.
"Hah!! Dono Dwi Wisna, yang smp bareng kita dulu anak culun?!"
"Iya Mas Dono kutu buku dulu, tapi Mas Dono udah ga culun Din!"
"Yang benr kamu ketemu dia?" Tanya Dina memastikan, diangguki pasti Oleh Dina.
"Aku juga dikasih tau rumahnya Din"
"Dimana?" tanyanya spontan.
"Dibelakang Masjid situ" Ujar Salsa.
"Ngaco kamu, itu kuburan Ca" Seketika Salsa terbelalak kaget, "Apa" ujarnya memastikan.
"Dono udah meninggal 12 tahun Yang lalu dia bahkan belum punya istri, Dia dibunuh sama kawannya karena Iri" kalimat Dina membuat Salsa menjatuhkan cairan bening.
"Udah -udah ayo aku anterin".
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?".
"Aku takut kamu sakit hati atau sebagainya ca" Ujarnya berkaca -kaca memeluk erat tubuh Salsa.
"Ayo aku udah enakan kok" dibalas anggukan oleh Salsa.
Setelah berjalan lama akhirnya ia dan Dina sampai di pemakaman belakang masjid, ia juga kaget ternyata di belakang masjid adalah sebuah makam.
Dirinya sampai di batu nisan bertuliskan "Dono Dwi wisna" dan selebihnya.
"Astagfirullah, ternyata dia telah meninggal" Ujarnya sembari kembali menangis dalam diam.
Sad Ending...