Telah aku pilih satu jalan di antara banyak jalan yang terbentang di hadapanku.
Yaitu jalan yang akan aku tempuh bersamamu.
Maafkan jika kelak aku tidak seperti yang kamu bayangkan.
Maafkan jika kelak ternyata aku tidak seperti yang kamu duga.
Aku, ya aku, hanya seorang wanita biasa yang tidak bijaksana dan tidak sabaran.
Aku hanya seorang wanita pemalu yang grasa grusu.
Jika kamu melihatku begitu sempurna, itu semata karena kasih sayang Allah padaku yang menutupi segala aib dan kekuranganku.
❤❤❤❤❤❤❤❤
Siapa yang mengatakan bahwa hidup sendiri itu lebih nyaman dan menyenangkan? Aku!
Siapa yang mengatakan bahwa hidup sendiri lebih baik karena akan terlepas dari konflik dengan pasangan? Itu aku!
Siapa yang berpikiran bahwa hidup sendiri bebas dan bisa melakukan apa saja yang disukai? Ya, tentu aku!
Aku yang selalu berkata berulang-ulang, “Aku bukannya sombong ya apalagi riya, tapi ini memang benar. Aku tuh anak sudah punya, pekerjaan ada, penghasilan juga ada walau gak besar tapi cukuplah, rumah ada, kendaraan ada. Jadi aku gak punya alasan untuk sengaja mencari pendamping.”
Aku terlalu percaya diri, bukan?
Atau perkataanku yang lain, “Kalau Allah kasih aku jodoh tentu aku terima, tapi kalau sengaja mencari sih gak.”
Atau yang lainnya, “Bukannya aku gak mau nikah lagi ya, tapi yang ada dalam pikiranku tuh, kalau aku menikah lagi apakah aku akan mendapatkan yang lebih baik? Kalau sama dengan yang dulu apalagi lebih buruk, yaaa… ngapain?”
“Sekarang tuh aku ada di zona nyaman, aku gak mau karena menikah lagi kemudian aku menjadi tidak nyaman, banyak masalah dan konflik. Seharusnya kalau aku menikah lagi aku akan lebih nyaman.”
Itu adalah kesombongan-kesombongan yang tanpa aku sadari terbersit dalam pikiran dan keluar dari bibirku lalu aku umbar pada semua orang yang bertanya kenapa belum menikah lagi.
Lalu bagaimana bisa dalam hitungan satu bulan aku menerima tawaran seorang lelaki untuk membina rumah tangga? Apakah aku sedang bermain api dengan mempertaruhkan hidupku dalam ikatan tali perkawinan? Apakah aku sedang mengkhianati semua ucapan dan kata-kataku sebelumnya?
Jawabannya adalah ‘entahlah’.
Mungkin kalian bertanya-tanya, sehebat apa sih lelaki itu, yang sanggup merobohkan keangkuhanku dan keyakinanku untuk tidak menikah lagi hanya dalam waktu yang singkat seperti itu?
Jawabannya ‘tidak ada!’
Ya, tidak ada! karena dia hanyalah lelaki biasa yang biasa-biasa saja. Tidak bergelimpangan harta jika itu merujuk pada seorang CEO atau pengusaha, tidak tampan bila dibandingkan dengan wajah aktor, tidak gagah bila menyebutkan tubuh ideal seorang lelaki yang six pack. Seperti yang aku sebutkan tadi, dia lelaki biasa yang biasa-biasa saja.
Lalu bagaimana bisa aku yang telah menolak begitu banyak lelaki, tiba-tiba bisa luluh menerimanya? Coba aku pikir-pikir dulu ya…
Selama bertahun-tahun kami bekerja bersama, berkomunikasi dan berinteraksi sebagai rekan kerja. Sejauh yang aku tahu dia adalah lelaki pendiam yang tidak terlalu banyak bicara dengan wanita. Berbeda dengan kebanyakan lelaki lain yang memanfaatkan kesendirian seorang wanita dengan mendekati dan menggoda walau hanya sekedar untuk hiburan. Hiburan? Heh! Itu yang membuat aku muak dengan mereka, memanfaatkan keadaaan lemah seorang wanita hanya untuk mendapatkan kesenangan.
Aku mengenalnya sebagai seorang lelaki yang memiliki suara halus dengan penampilan yang tenang terutama dalam menghadapi masalah. Lelaki yang di wajahnya jarang ada senyuman. Awalnya aku tidak tahu mengapa dia jarang tersenyum dan aku tidak peduli, tapi sekarang aku tahu. Di sela-sela kebersamaanku dengannya sekarang, dia banyak bercerita tentang kehidupannya yang rumit.
Istri yang sebenarnya berkarakter baik, pemalu, dan sabar sering berubah menjadi pemarah karena sesuatu yang tidak jelas (faktor x) sehingga memicu perselisihan padahal di antara keduanya tidak ada permasalahan. Pada hampir setiap kejadian tidak jarang istrinya ingin berpisah tetapi dia tidak menghiraukannya, tetap sabar, menjaga dan mempertahankan karena keyakinannya bahwa ini tidak wajar. Istri yang didera penyakit sehingga dia harus ekstra menjaga dan merawatnya. Tetapi dia tetap kukuh dengan janji setia yang telah diucapkan untuk tetap bersama hingga maut memisahkan.
Tidak ada yang istimewa dari semua itu, bukan? Tetapi itulah yang telah berhasil meluluhkan hatiku. Melemahkan sisi ke-ego-anku. Apa itu? Kesetiaan, kepedulian dan kasih sayangnya pada pasangan hidup telah berhasil menyentuh sisi lemahku hingga akhirnya benteng pertahanan yang telah kubangun dengan kokoh itu runtuh dan aku menyerah.
Ketika dia menyatakan rasa padaku, jawaban ‘iya’-ku berselimut keraguan dan banyak ketakutan. Aku khawatir jika kelak kami bersama semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Aku menyadari siapa aku, seorang wanita biasa yang banyak kekurangan dan kelemahan. Di satu sisi aku memiliki karakter yang keras dan tegas, tetapi di sisi lain aku juga sangat perasa dan sensitif. Aku khawatir dia tidak akan mampu memahami aku. Aku takut akan kegagalan yang kedua.
Seringnya berbincang berdua, mengobrolkan hal-hal yang tidak penting sampai tertawa, saling mencurahkan isi hati, harapan dan keinginan, telah membuka dinding pemisah, menyingkap tabir penyekat di antara kami. Aku lebih memahami dia dan aku yakin dia lebih memahami aku.
Yang membuat aku bahagia di sampingnya adalah, dia romantis dan lembut, aku merasa memiliki seorang pelindung yang akan selalu menjaga dan mengasihi. Sangat berharap rasa ini akan terjaga selamanya hingga maut memisahkan kelak.
Dengan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang ingin aku katakan padanya saat ini adalah, “Aku mencintaimu seperti engkau mencintaiku.”
Semoga Allah selalu membimbing dan menjaga kami. Aamiin….
❤❤❤❤❤❤❤❤