Kubaca suratmu sekali lagi di taman cinta. Surat yang kau tulis pertama kali untuk seorang gadis yang siap menunggu pangerannya datang. Gadis yang percaya dengan takdir Tuhan bahwa usia, rejeki, amal, bahagia dan celaka sudah diatur oleh Tuhan. Yakin bahwa kebaikan datang dari Tuhan dan keburukan datangnya dari diri sendiri.
“Ashilaa gimana kabar?”
“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri?”
“Alhamdulillah. Semester berapa sekarang?”
“Delapan.”
“Wah, sudah mulai nyusun dong!”
“Sudah. Kemarin baru mengajukan judul. Gimana sih rasanya sidang Wan?”
“Pas mau masuk ruang sidang berasa jantung berdegup lebih kencang dan darah mengalir lebih cepat, tapi pas sudah di dalam sih biasa saja.”
Kukeruk ingatan dalam-dalam saat bertemu dengan Iwan yang ternyata masih ingat padaku. Kukira setelah sembilan tahun tidak bertemu sudah lupa, tapi ternyata ia masih juga membawa kenangan kami.
Kenangan yang justru telah hilang dalam ingatanku. Mungkin lantaran aku pindah ke kota ini, menemukan lingkungan baru yang sedikit demi sedikit menggeser kisah sepasang kawan yang akrab dengan buku, perpustakaan, dan diskusi, bahkan sering berdebat ketika mencoba memecahkan masalah dalam tugas kelompok.
Kau yang kini duduk di hadapan, benarkah namamu Iwan? Memang wajahmu satu dua dengan Iwan, walaupun terlihat lebih tua. Sama sepertiku yang telah meninggalkan masa kanak-kanak dan mulai menjauhi dunia remaja. Tubuhmu tegap tinggi mirip Iwan, walaupun pasti lebih tinggi dibandingkan Iwan kecil yang kukenal dulu. Hanya satu hal yang tak beda sedikitpun, yakni cara berjalanmu adalah cara berjalan Iwan.
Tapi semua kemiripan itu jika disandingkan dengan sebuah perbedaan mencolok, apakah kau tetap Iwan? Kau yang duduk menunduk, bicarapun sambil menunduk, bahkan pelit sekali untuk tersenyum apalagi tertawa. Sangat berbeda dengan Iwan yang kukenal dulu.
Iwan yang jika tertawa terbahak-bahak, ceria, dan tak pernah sungkan padaku berubah menjadi Iwan yang alim dan terkesan ragu pada tingkahnya sendiri. Iwan yang sering bersamaku ketika di dalam kelas, di kantin sekolah, sering kuberi isyarat agar memberi contekan saat jam ulangan berlangsung, dan memboncengku pulang ke rumah dengan motornya berubah menjadi Iwan yang menjaga jarak dengan kaum hawa.
Aku suka dengan Iwan yang dulu, tapi aku lebih suka dengan Iwan yang sekarang, meski masih terasa ganjal tentang kebenaran sosok Iwan yang masih duduk di hadapan. Iwan hanya sesekali menatap, sekadar menghargai keberadaanku. Benarkah Iwan telah berubah menjadi sosok pemalu? Setumpuk pertanyaan terasa membombardir. Ditambah rasa kikuk yang mulai mendera ketika tahu Iwan berubah drastis.
Kuseruput air jeruk yang sedari tadi berbincang dengan sepotong roti yang belum juga teriris. Mereka saling berbisik. Entah apa yang diperbincangkan. Aku sedikit mengernyitkan dahi. Air jeruk dan sepotong roti malah saling senyum sambil terus berbisik. Seolah tahu majikannya sedang bingung setengah mati berhadapan dengan kawan lama.
“Ashilaa.”
“Iya.” Aku terkejut ketika Iwan kembali membuka percakapan. Menatap tajam. Serasa magnet menarik penuh masuk ke dalam matanya indah dan mengurungku untuk terus berenang dalam matanya luas. Mata kami saling tarik-menarik.
“Astaghfirullahaladzim.” Iwan kembali menunduk membuat mataku berpaling ke meja samping yang tak berpenghuni. Grogi.
“Katanya kamu tahun ini qurban ya?”
“Insya Allah.” Iwan tetap menunduk.
“Hebat kamu Wan, masih muda tapi sudah mampu berqurban. Sejak kuliah sudah kerja sampai lulus kuliah kamu masih kerja di tempat yang sama, pasti posisimu sudah naik toh?”
“Ya sedikit demi sedikit, Alhamdulillah.”
Selesai bersantap di salah satu kafe, Iwan mengantarku pulang naik angkot. Sesampainya di pagar rumah, Iwan memberikan sepucuk surat yang hanya boleh dibaca saat ia sudah pulang.
“Jangan dibaca sekarang. Nanti saja kalau aku sudah pulang. Kamu baca jangan sampai ada yang tahu, kecuali udara dan malam.” Aku tersenyum. Entah mengapa begitu bahagia.
Iwan melangkah pergi dan aku bergegas menuju kamar. Membaca surat dengan sangat hati-hati agar tak ada yang mengintip walaupun seekor semut. Kata demi kata dihabiskan dengan berbunga dan sedikit malu-malu. Memaknai tiap paragaraf yang tertulis.
Aku dapat menangkap maksud dan tujuan isi surat. Ia mengungkapkan isi hati yang baru kentara ketika aku pindah ke kota ini dan dipendamnya rasa itu selama bertahun-tahun. Selagi kami tidak bertemu, rindu selalu menderanya, namun ia tak dapat menemuiku karena ingin menjalani hubungan langsung pada tingkat keseriusan. Berpacaran dengan perempuan halalnya.
Dalam surat, tak satu pun kalimat menanyakan perihal bagaimana perasaanku terhadapnya atau mengenai keseriusan hubungan kami.
Selepas melipat dan menaruh surat di laci meja, ia menelepon dan menyatakan keinginan menjadi imamku, namun belum berani bicara ke arah pernikahan, karena ia masih mengumpulkan uang untuk biaya adiknya masuk kuliah. Iwan berharap adiknya bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, walau kedua orang tuanya tidak mampu membiayai. Iwan sendiri bisa kuliah dari beasiswa.
“Aku hanya bisa menceritakan kondisi dan mengungkapkan perasaanku. Maaf kalau lancang. Aku tahu kamu dari keluarga berada, sedangkan aku? Aku ingin menikahimu dan membahagiakanmu Ashilaa. Aku tidak ingin kenyataan yang menimpa kakakmu menimpa kita nanti.”
Ya, Iwan benar. Kedua orang tuaku menilai calon pendamping hidup dua anak perempuannya dari bibit, bebet, dan bobot. Sepetinya Iwan masih ingat betul cerita tentang pengalaman buruk yang menimpa Kak Intan, kakakku. Sebelum Kak Intan memutuskan menikah dengan pria dari latar belakang ekonomi kurang mampu, ibu dan ayah sempat melarang, tapi Kak Intan memaksa dan pernikahan tetap dilangsungkan. Namun akhirnya Kak Intan bercerai dengan suaminya karena sering ribut soal dapur yang jarang ngebul. Sebelum menikah Kak Intan sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji lumayan besar, tapi setelah menikah Kak Intan diminta berhenti oleh suaminya karena sering lembur. Kak Intan menurut, namun yang terjadi justru penghasilan suaminya dari usaha buka toko belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga padahal anak keempat mereka akan lahir.
“Tapi Wan, suami Kak Intan itu lalai sholat. Bukankah pondasi sebuah rumah tangga adalah agama?”
“Memang betul, tapi tetap saja Ashilaa. Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi kamu perempuan. Sosok pria mapan pasti lebih direstui dibanding aku yang masih meniti. Jika kamu bersedia, tunggu aku Ashilaa.”
“Berapa lama Wan?”
“Setahun. Tapi jika dalam jangka waktu itu belum tercapai, maka aku tak lagi berharap bisa memilikimu. Maaf Ashilaa. Maaf, jika aku mencintaimu.” Suara Iwan menghilang di seberang sana.
Hari demi hari kulalui. Terasa begitu lama. Entah sudah berapa kali kubaca surat ini dan setiap kali membacanya aku selalu berharap masa itu akan datang. Masa di mana Iwan meminta doa restu pada kedua orang tuaku. Pernah aku mencoba menelepon, tapi nomornya tidak aktif. Melahirkan pikiran buruk bahwa Iwan melupakanku atau memang sengaja mempermainkan perasaanku.
Kini sebelas bulan sudah aku menunggu, tak kunjung ada kabar. Kondisiku kurang sehat. Pinggang terasa sakit. Dokter yang memeriksa menyuntikku dan rasa sakit di pinggang perlahan hilang. Lalu aku cek darah dan urine. Sambil menunggu hasil laboratorium, aku berbaring di atas kasur. Suster masuk, berjalan mendekati dokter yang duduk di kursi kerjanya, menyerahkan map. Mungkin itu hasilnya, pikirku. Kedua orang tuaku saling tatap risau. Setengah berbisik dokter berbincang dengan kedua orang tuaku. Apa yang mereka bicarakan? Tak lama ibu menangis, lalu menghampiriku dan dengan sangat hati-hati ayah mengatakan bahwa aku harus menjalani cuci darah.
Seketika itu, rasanya hidup sudah tak ada artinya lagi. Iwan tak perlu tahu atau lebih dari itu, ia bahkan tak perlu datang untuk melunasi janjinya.
Doa kupanjatkan. Cuci darah siap kujalani. Aku terlentang di atas brankar. Selang kecil menembus pembuluh darah yang terhubung dengan Dializer, alat cuci darah. Selama empat jam bergelut dengan alat itu. Darah kotor dikeluarkan dan dimasukan lagi dengan darah bersih melalui selang. Alhamdulillah cuci darah pertama kali berjalan lancar. Aku terkulai lemas. Sempat tertidur dan saat membuka mata Iwan di sampingku.
Bulir air setetes demi setetes jatuh. Iwan mengukir senyum. Matanya merah. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kunci mobil. Kulihat ibu menangis.
“Aku mencintaimu Ashilaa. Maukah kau menikah denganku?”
“Enggak Wan. Aku bukan perempuan yang layak untuk kamu. Masih banyak perempuan lain yang jauh lebih baik dan tentu sehat. Bukan seperti aku.”
“Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu Ashilaa.” Perlahan air mata Iwan jatuh. Menangis getir.
Ibu tersenyum dan mengangguk. Ayah dan Kak Intan menahan haru.
Iwan sudah membuktikan pada kedua orang tuaku bahwa cintanya begitu besar terhadapku. Lintang, adik Iwan kini kuliah di sebuah universitas swasta dan Iwan sudah memiliki rumah sendiri yang dibangun dari hasil menabungnya. Rumah yang kini kami huni berdua.