Kubaca kata demi kata yang tertulis di kertas karton dalam bingkai yang terpajang di dinding kamar Ashilaa.
“Ya Allah ridhoi hamba untuk lulus SNMPTN undangan UNY tahun 2012. Hamba akan memberikan perorang yang tidak mampu Rp 20.000,00 sebanyak lima orang (Rp 100.000,00).”
“Ya Allah ijinkan hamba untuk dapat diterima dalam PMDK UNS jurusan perpajakan tahun 2012. Hamba akan memberikan Rp 50.000,00 kepada lima orang anak jalanan.”
“Ya Allah ijinkan hamba dan kelas 12 IPS 1 tahun 2012 untuk sukses dalam teater, senam, dan SNMPTN undangan. Hamba akan menraktir bakso kepada Anita, Lilis, Suci, dan Ita (Rp 15.000,00).”
“Ya Allah ijinkan tari topeng 12 IPS 1 sukses. Hamba akan menraktir Leni dan Siska makan bakso (Rp 6.000,00).”
“Ya Allah ridhoi hamba untuk memenangkan lomba CUF tentang Note Pendidikan di tahun 2012. Hamba akan memberi uang Rp 20.000,00 kepada dua orang yang tidak mampu.”
Lima nadzar tersurat. Masih tercium wangi kenangan masa-masa indah dulu. Lekat dalam memori yang tak pernah lekang oleh waktu. Tiga tahun sudah perpisahan kami, namun tetap membekas segala kisah yang pernah dirajut bersama.
Ashilaa yang dulu adalah seorang anak dengan rambut terurai panjang telah menjelma gadis cantik yang sholehah, tak pernah melepaskan hijab di muka umum. Kepintaran yang dimiliki menjadi identitas dirinya sejak dulu.
Intan, saingannya di kelas selalu gagal merebut peringkat pertama karena melulu Ashilaa yang nilainya lebih tinggi. Hampir satu sekolah mengenal Ashilaa. Kecantikan fisik, hati, dan kepandaiannya menjadi daya tarik.
Selama tiga tahun menuntut ilmu di sekolah favorit, Ashilaa selalu menduduki juara umum jurusan IPS. Walaupun Ashilaa dan Intan terbilang dekat, tetapi nyatanya kedekatan mereka tak membuat Intan berhasil menyalip prestasi Ashilaa.
Pernah sekali waktu aku dan Ashilaa sedang dalam perjalanan menuju Alir Mimpi dengan mengendarai sepeda motor. Ashilaa menyetir dan aku hanya duduk manis di belakang. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang pengendara sepeda motor lain yang sedang mendorong motornya. Ashilaa menepikan motor dan berjalan mendekatinya. Aku hanya diam berdiri di samping motor.
“Kenapa motornya mba?”
“Kehabisan bensin. Lupa diisi.”
“Oh, sebentar!”
Ashilaa membuka jok motor. Diambilnya selang kecil. Dibukanya tangki bensin. Lalu membuka tas ransel dan mengeluarkan botol air minum. Ditenggaknya sampai habis air putih yang tinggal setengah. Ia memasukan selang ke dalam tangki bensin, lalu menyedotnya.
Sedotan pertama dimuntahkan. Ia langsung memasukan selang ke dalam botol. Dengan lancar bensin di tangki motor ke luar dan berpindah dalam botol. Tak berapa lama diserahkannya botol berisi bensin pada pengendara motor yang motornya mogok itu.
“Ini. Cukupkan?”
“Insya Allah cukup. Terima kasih.”
Ashilaa menutup kembali tangki bensin di motornya. Menaruh selang di dalam jok.
“Duluan mba, mari.” Kami pun berlalu.
Tak heran jika Ashilaa melakukan itu. Rasa kasih terhadap sesama selalu mengiringi langkahnya. Ia begitu peka terhadap lingkungan.
Motor kami melaju menuju rumah singgah di Alir Mimpi. Awalnya aku tak tahu apa itu rumah singgah. Ashilaa pun memperkenalkanku pada tempat itu.
“Rumah singgah itu tempat berkumpulnya anak-anak jalanan. Ada yang sekolah, ada yang sudah putus sekolah, bahkan ada yang belum pernah mengenyam bangku sekolah kak,” begitu penjelasannya.
Ah, rasanya aku malu sebagai kakak yang berpengetahuan minim.
Ashilaa dan Intan memang sama-sama pandai, namun rasa empati Ashilaa jauh lebih dalam dibandingkan Intan.
“Jika kita senantiasa beribadah pada Allah dengan bersungguh-sungguh, menjaga hubungan vertikal dan horizontal, Insya Allah segala urusan dimudahkan Tuhan.” Begitu yang dilontarkan Ashilaa saat menuliskan nadzar sebelum ia kembali pulang ke pangkuanNya.