Ya aku Dayna atau di panggil juga Ana, yang ku ingat hari ini, aku adalah seorang mahasisiwi di bidang menejemen bisnis dan sudah di s2 Universitas Indonesia.
Waktu itu di sore hari, setelah pulang dari kampus, teman-temanku mengajaku ke kafe biasa tempat tongkrongan kami berlima.
Namun aku disana menoloknya dengan alasan kurang enak badan, merakapun mengerti dengan alasan ku dan mereka bilang. "Apakah perlu kami antar pulang Ana? Kami sangat khawatir jika kamu sakit!" tanya Desty disana.
"Ah tidak apa-apa aku hanya sakit biasa!" jawab ku kepada mereka.
"Yasudah kalau begitu hati-hati ya!" balas Desty.
"Kalau ada apa-apa hubungi kami!" timpal Lisa tersenyum padaku.
Aku pun mengangguk tersenyum kepada mereka.
Dan merekapun melambaikan tangan kepadaku. "Bye Ana!" kata mereka berempat sambil melambaikan tangan kepadaku.
Aku pun tersenyum sambil melambaikan tangan kepada mereka.
"Bye semua!" jawabku disana ambil pergi.
Setelah keluar dari kampus aku langasung pulang naik taksi untuk segera pulang kerumah.
Dan yang anehnya entah kenapa badan ku jadi terasa kurang enak di minggu ini, aku juga sempat ingin memeriksanya kedokter tapi entah kenapa aku malah enggan untuk melakukannya, entah karena aku masih memikirkan Fahmy mantan pacarku? Ah tapi itu tidak mungkin karena aku bukan tipe cewek yang seperti itu, lagi pula aku juga yang memutuskannya untuk putus hubungan dengan Fahmy, karena menurutku, aku harus fokus dulu dengan kuliahku yang sebentar lagi ujian. Haaah sungguh sangat terasa singkat. Fahmy dan aku baru saja putus satu minggu yang lalu.
Lalu setelah sampai di depan rumah aku langsung membayar taksi itu dan turun sambil melihat jam tangan di tanganku. Waktu itu menunjukan pukul 16:56 sore cukup awal untuk datang kerumah bagiku, yang karena biasa nya aku pulang petang atau bahkan malam dengan temanku.
Aku pun membuka gerbang dan masuk kedalam rumah. Seperti biasa di rumah hanya ada Bibi Eny yang menyapaku dan yang menajaga rumah ini, Bibi Eny ia sudah lama menjadi asisten rumah tangga disini bahkan aku mengenalnya sejak aku masih kecil dulu, yah aku masih ingat itu.
"Ayah dan Ibu masih belum pulang yah Bi?" tanyaku pada Bibi Eny disana.
"Belum non, non Ana mau makan?" jawab Bibi Eny disana sambil menawariku makan.
Akupun menggeleng kepala menolaknya. "Gak mau Bi! Oh iya, yasudah kalau gitu aku masuk kamar dulu ya Bi!"
Bibi Eny pun mengangguk dan aku langsung pergi ke kamarku di atas.
Sudah hal biasa Ayah dan Ibu ku tidak ada di dalam rumah, karena mereka berdua sangat sibuk dengan pekerjaan mereka di kantornya. Bahkan Ibuku datang kerumah paling jam sembilan malam dan di susul oleh Ayahku jam sepuluh malam itupun jika mereka berdua sedang tidak ada meeting. Dan kedua orang tua ku juga kalau ada di rumah paling hari-hari libur saja.
Kemudian setelah di dalam kamar aku pun langsung berbaring di atas kasur, karena aku merasa hari ini sangat lelah bagiku.
Aku pun merileks kan tubuhku di atas kasur hingga beberapa saat. Hingga tak terasa hari pun sudah menjadi petang.
Bibi Eny tiba-tiba datang dan mengetuk pintu. tuk tuk tuk "Non,,, ini Bibi waktunya makan dulu yuk! Dan siap-siap bentar lagi adzan maghrib!" ajak baik Biby Eny.
Aku pun menggeliat merenggangkan otot-otot ku saat mendengarnya. "Hiaaa.. Iya Bi bentar!"
Aku disana langsung pergi dulu ke kamar mandi untuk mandi sekalian mengerjakan shalat tiga rakaat ku.
Hingga setelah aku selesai, baru aku turun kebawah pergi ke dapur.
Disana terlihat Bibi Eny sedang menyiapkan makan malamnya dan kulihat jam sudah menunjukan pukul 18:40 malam.
Aku pun menghampiri Bibi Eny tersebut dan melihat makanan yang sudah di buatnya di meja. Namun tetapi aku sangat tidak nafsu melihatnya, entah kenapa padahal aku belum makan sejak tadi sore.
"Non ini piringnya! Non mau di ambilkan apa?" tanya Bibi Eny menghampiriku.
"Ah tidak Bi aku masih belum lapar! Nanti aja deh kalo datang Ibu dan Ayah!" jawabku disana.
"Oh yasudah Non mau di bikinin apa?" tanya kembali Bibi Eny.
Aku pun menggeleng kepala. "Enggak usah Bi! Aku mau ke kamar lagi untuk istirahat!"
Aku pun pergi mengambil dulu susu murni di kulkas hanya untuk menyegarkan tubuhku.
Setelah kembali di kamar aku langsung meminum susu itu dan kembali berbaring sambil membaca novel yang aku sukai.
Hingga tiga puluh menit kemudian terdengar suara ketukan pintu kembali.
tuk tuk tuk
"Itu pasti Bibi Eny dia menbangunkanku pasti ingin menyuruhku shalat isya." gumamku dalam hati.
Aku pun mengabaikannya dan memasang earphone ke telingaku.
Hingga beberapa saat kemudian aku mengantuk dan langsung tertidur.
Disana ketika aku tertidur aku mendapatkan sebuah mimpi buruk dalam impianku, yang seperti, aku melihat semua kerabat-kerabatku ku ada disana, termasuk teman-temanku dan juga mantan pacarku Fahmy. Dan anehnya mereka terlihat menangisiku saat disana, sungguh aneh dan menyebalkan bagiku.
Hingga saat itu dalam impianku, setelah semua orang memenuhi isi rumahku aku melihat sebuah mesjid yang indah dan lain lain dalam perjalan mimpiku.
Tapi tunggu setelah siang hari aku melihat kedua orang tua ku menangis histeris di depan ku.
Akupun langsung menanyainya. "Ibu, Ayah kenapa?" Namun mereka berdua tak mendengarnya.
Akupun mencoba kembali dengan keras menanyainya, namun tetap saja mereka berdua masih tidak mendengarnya.
Hingga beberapa saat kemudian ayahku mengajak ibuku pergi menjauhiku disana.
Namun aku yang melihatnya mencoba menghentikan ayahku dan ibuku yang pergi menjauhi diriku, Aku pun berteriak menghentikannya, namun mereka tetap saja mengabaikannya.
Hingga aku pun tersadar dan terbangun saat itu, aku tahu bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk bagiku.
Namun setelah tersadar, ruangan kamarku sangat gelap gulita di mataku, aku tidak dapat melihat sesinar cahaya sedikitpun. Akupun langsung meneriaki Bi Eny yang ku ingat "Biii... Apakah sedang ada pemadaman listrik?" tanya ku dengan berteriak.
Namun Bi Eny tidak menjawab atau dia tidak mendengarnya.
Aku pun langsung mencari handphone ku. Namun, tapi tunggu, tubuh ku disini tidak dapat aku gerakan sama sekali, bahkan tubuhku ini seperti mati rasa dan ikat.
Aku pun langsung mulai panik dan meminta bantuan. "Tolong-tolong!" teriaku disana.
Tidak ada satupun yang menjawab pinta tolongku.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekatiku.
"Siapa disana!" tanyaku kepada seseorang tersebut.
Namun ia tidak menjawab, hingga suara langkah kaki itupun semakin dekat dan berhenti di hadapanku.
"Siapa kau?" tanya ku kembali untuk memastikan.
Ia masih tidak menjawabnya.
Aku pun sedikit mulai mencuriagai bahwa orang tersebut adalah penjahat yang sedang merampok rumahku.
Aku pun langsung mencoba menanyainya kembali. "Siapa kamu? tolong beritahu! Dimana Ayah dan Ibuku? Kenapa semua ruangan kamarku jadi gelap? Bi apakah itu kamu?" tanyaku sudah mulai kesal.
Namun tiba-tiba ia malah menjawab. "MARHOBUKKA!!