Pagi menyapa ufuk yang begitu cerah. Juan berdiri di balkon rumahnya.
Pria itu terlihat memandang seorang wanita yang sedang merapikan tanaman yang ada di depan resort miliknya.
"Kau memang begitu cantik," guman Juan saat melihat Silva yang sedang merapikan tanaman yang ada di halaman. Tidak lama kemudian nampak Hugo sedang berjalan dan menatap temannya yang sedang berada di depan balkon kamarnya dan menatap seseorang. Hugo mendatangi Silva terlihat pria itu menatap Silva yang Juan yang menatap Silva merapikan tanaman di lantai bawah.
"Gadis itu cantik ya," ucap Hugo kepada Juan.
"Iya..Gadis itu memang cantik, hingga membuatku jatuh cinta," jawab Juan yang tidak sadar kalau Hugo sedang menyindir dirinya.
Tak lama kemudian Juan langsung tersadar.
"Kau sedang apa disini?" tanya Juan kepada Hugo.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Apa yang kau lakukan disini?" tanya balik Hugo.
Juan tidak menjawab, dia hanya tersenyum kepada sahabatnya itu.
"Daripada kau mengintip terus seperti itu, sebaiknya kau katakan saja kepada Gadis itu," ucap Hugo kepada Juan.
"Nanti saja kalau waktunya tepat," jawab Juan.
"Kalau terlalu lama, bisa-bisa Gadis itu diambil orang," jawab Hugo.
"Tidak usah mengatakan hal itu padaku," jawab Juan. Tak lama kemudian Juan turun ke lantai bawah untuk menemui Silva.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Juan kepada Silva.
"Oh Tuan Juan, aku sedang merapikan tanaman," jawab Silva.
"Boleh kubantu," ucap Juan yang memberikan bantuan kepada Gadis itu.
"Boleh kalau tidak keberatan," jawab Silva.
Akhirnya Juan bantu Silvi merapikan tanaman. tidak lama kemudian nampak Seorang Pria muda mendatangi Silva yang sedang merapikan tanaman.
"Apa yang sedang kau lakukan, nona cantik?" tanya pria yang lebih mudah dari Silva.
"Sedang merapikan tanaman," jawab Silva.
"Boleh aku bantu," ucap pria muda itu.
"Aku sudah dibantu sama bosku," jawab Silva.
Sebenarnya Silva sedikit terganggu dengan kehadiran remaja muda yang selalu mengekor padanya. hingga membuat Silva terkadang risih dengan kelakuan pemuda tersebut.
Juan melihat pemuda itu dengan tatapan yang sangat sinis, bahkan terlihat Juan hatinya begitu mengkerut saat melihat ada orang lain yang sengaja mendekati Silva.
"Oh ya Tuan Juan, katanya Tuan mau mengajak aku keluar ya," ucap Silva kepada Juan.
Terlihat Juan langsung terkejut dengan perkataan dari wanita yang ingin dia dekati, Juan tidak memperlihatkan ekspresi apapun.. sesaat kemudian... Silva mengedipkan salah satu matanya. terlihat Juan langsung mengerti Kalau gadis itu risih dengan kehadiran pemuda tersebut.
"Oh ya, aku akan mengambil kunci mobil dahulu. Kau tunggulah sebentar," ucap Juan yang kemudian mengambil kunci mobilnya.
Terlihat pemuda yang bernama Safir itu terus-menerus mengekor pada Silva.
"Boleh tidak aku ikut," ucap safir kepada Silva.
"Kau tidak boleh ikut denganku, karena aku dan Tuan Juan harus melakukan pekerjaan untuk merenovasi resort ini," jawab Silva yang kemudian melarikan diri dari pemuda yang umurnya jauh lebih muda darinya.
Tak lama kemudian, nampak Juan mengambil mobilnya dan menghampiri Silva.
"Ayo kita nanti telat," ucap Juan. Silva langsung berlari dan memasuki mobil Juan, terlihat wanita itu menghela nafasnya secara kasar saat berada di dalam mobil tersebut.
"Kenapa kau melarikan diri dari pemuda itu?" tanya Juan kepada Silva.
"Pemuda itu selalu mengekor padaku, hingga membuatku menjadi risih. Bahkan dia selalu menelponku saat aku selesai bekerja," jawab Silva.
Hugo sangat terkejut karena pemuda itu mengetahui nomor telepon Silva, bahkan dirinya pun tidak tahu rumah dan nomor handphone Silva.
"Brengsek, dasar anak kecil, dia saja tahu nomor wanita pujaan hatiku. sedangkan aku... aku bahkan tidak tahu," gerutu Juan dalam hati.
** bersambung ***