Menjadi seorang istri sekaligus ibu bukanlah hal mudah. Di samping melayani suami dengan baik, juga harus mampu mendidik anak – anak agar tumbuh seperti yang diharapkan, menjaga kehormatan dan keutuhan rumah tangga.
Bagi saya dan suami, anak – anak merupakan masa depan kami dan pondasi sebuah rumah tangga adalah agama.
Dalam keseharian saya berupaya menjaga komunikasi dengan anak – anak. Dulu saat masih bekerja di salah satu kantor yang menuntut jam kerja dari pagi hingga malam hari terasa begitu menyita kebersamaan saya dengan anak – anak. Bangun subuh menyiapkan diri sebelum berangkat kerja dan anak – anak sebelum berangkat sekolah merupakan kegiatan rutin yang melelahkan, namun mengasyikan. Pengabdian sebagai seorang ibu tak bisa diukur oleh apapun.
Ketika tahu anak – anak mengalami perkembangan cukup baik di sekolah, prestasi yang didapat tidak terlepas dari peran saya sebagai orang tua membuat saya bangga. Ini menjadi tolok ukur bahwa saya mampu mendidik mereka menjadi pribadi berhasil. Ditambah dengan mudahnya anak – anak bila diajak sholat lima waktu. Pemupukan nilai – nilai spiritualitas dalam keseharian keluarga kami tentu saja dibentuk oleh suami yang sangat saya sayangi.
Suami saya sangat baik. Paham agama dan tauladan bagi anak – anak. Saya sangat menghormatinya dan apapun keputusan yang diambil suami Insya Allah berlandaskan agama untuk kebaikan rumah tangga kami.
Memiliki tiga anak dengan beda usia setahun membuat kami perlu banyak berkorban. Komunikasi dan diskusi menjadi interaksi intensive yang membuat kami saling tahu tentang tumbuh kembang anak – anak. Anak pertama kami laki – laki yang kami beri nama Farid. Farid harus menjadi anak yang baik. Dapat memberikan contoh bagi adik – adiknya serta menjaga dan melindungi mereka. Fathin dan Fani anak kedua dan ketiga kami. 3F singkatannya. Mereka bersekolah di sekolah yang sama.
Suami saya bekerja sebagai wirausaha. Jam kerjanya tentu tidak seperti saya. Ia bisa menentukan sendiri kapan jam kerjanya. Dalam kondisi semacam ini tentu suami sayalah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak – anak dibanding saya, bahkan suamilah yang menjemput anak – anak sepulang sekolah. Namun bila terpaksa harus menemui klien, maka anak – anak dijemput pengasuh yang setiap hari sengaja saya suruh datang ke rumah untuk membersihkan rumah sekaligus mengurus dan menjemput anak – anak di sekolah bila saya dan suami tak ada.
Seringnya saya pulang malam, bahkan terkadang hari libur pun tetap masuk kantor kian mempersulit pertemuan saya dengan anak – anak. Lelah memang. Kerja iya, mengurus anak – anak juga iya. Inilah risiko menjadi wanita karir.
Hampir delapan tahun bertahan sebagai wanita karir tentu banyak sekali rintangan. Bila pulang dari kantor larut malam dan suami tidak bisa menjemput, karena menjaga anak – anak atau ada pertemuan dengan klien, mau tidak mau saya pulang sendiri naik angkot. Turun dari angkot bila sudah tidak ada beca, saya terpaksa jalan kaki. Sesampainya di rumah bila anak – anak sudah tidur artinya inilah kesempatan saya untuk bisa beristirahat, namun bila anak – anak masih terjaga, karena sengaja menunggu saya pulang, maka itulah saat tersulit bagi saya yang harus menemani mereka bermain lebih dulu padahal sudah waktunya jam tidur dan saya sangat lelah. Biasanya untuk menemani mereka yang belum tidur, saya membacakan beberapa buku dongeng.
Menjadi wanita karir itu sangat tidak mudah, terlebih ketika anak – anak sedang sakit. Mengorbankan kantor demi menjaga mereka atau meninggalkan anak – anak demi pekerjaan? Sehari tidak masuk mungkin bisa, namun bila anak sakit hingga berhari-hari, mana yang selanjutnya dikorbankan? Tentu anak. Mana ada kantor yang mengijinkan karyawannya bolos lama? Posisi saya memang terbilang enak di kantor, makanya saya berusaha mempertahankan dengan menjaga kepercayaan atasan. Semaksimal mungkin membereskan pekerjaan di kantor tanpa harus dibawa pulang ke rumah. Bagi saya pekerjaan kantor adalah pekerjaan wajib yang harus diselesaikan di dalam kantor dan pekerjaan rumah merupakan pekerjaan yang wajib diselesaikan di dalam rumah. Tidak boleh dicampuradukan agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Alhamdulillah, anak – anak begitu memahami kondisi orang tuanya yang harus giat mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Mamah kan harus bekerja, supaya bisa dapat uang. Nanti uangnya buat aa, teteh, dede sekolah. Kalau mamah enggak bekerja nanti aa, teteh, sama dede bagimana sekolahnya?”
Itulah cara saya memberikan pengertian pada mereka. Berusaha komitmen dalam melakukan dua hal sungguh sulit. Meski mereka memahami, tapi terkadang saya juga merasa kasihan. Apalagi saat anak sakit, saya pulang larut malam, dan sampai rumah melihat mereka sudah tidur. Apakah saya lalai sebagai seorang ibu?
Keresahan mendera. Ada rasa takut melihat tumbuh kembang beberapa anak di luar sana yang kurang kasih sayang kedua orang tua pada akhirnya mencari kenyamanan di luar dengan melakukan hal – hal negative. Saya khawatir 3F kelak seperti itu, karena kurangnya perhatiaan saya terhadap mereka sebagai akibat kesibukan saya di kantor.
Saya mencoba bertahan. Suami pun tetap mendukung karir saya.
Kekompakan saya dan suami dalam membina rumah tangga membuat pencapaian keberhasilan kami dalam mendidik anak tidak perlu diragukan lagi, namun bukan berarti rumah tangga kami selalu adem ayem. Adalah pertengkaran kecil. Namanya juga rumah tangga pasti ada lika – likunya, tapi karena dasar saling pengertian dan rasa kasih sayang sehingga apapun ujiannya Alhamdulillah bisa terlewati. Pertengkaran kecil yang sempat beberapa kali terjadi jangan sampai terlihat anak – anak. Itu komitmen kami dan kami selalu berupaya untuk secepat mungkin mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
Sebenarnya saya dan suami saling terbuka, namun beberapa bulan belakangan ini saya terpaksa menutupi suatu hal yang belum terbukti kebenarannya. Sepertinya atasan memberikan perhatian lebih pada saya. Ah, mungkin hanya suudzon. Tapi sempat beberapa kali beliau kepergok memandangi saya dan beliau langsung mengalihkan pandangan. Saya khawatir barangkali ada dari cara berpakaian saya yang keliru. Ah, tapi semua perempuan di kantor ini berpakaian seragam. Mungkin hanya perasaan. Di sela – sela pekerjaan kantor, bila saya dan teman – teman sekantor beserta atasan sedang bersama pasti ada saja kalimat – kalimat atasan yang memuji hasil pekerjaan saya atau bila waktunya makan siang beliau sering bertanya saya sudah makan belum atau bila pulang larut malam beliau selalu menanyakan saya pulang dengan siapa, dijemput atau tidak, mau diantar atau tidak dan mau tidak mau saya berbohong dengan mengatakan ‘ya nanti dijemput’. Terkadang jika pekerjaan di kantor sudah selesai dan atasan belum terlihat ke luar dari ruangan, saya pun bergegas pulang agar tidak bertemu dengan beliau, karena pasti ditawari tumpangan. Bukan tidak menghargai, tapi saya berusaha menjaga perasaan suami dan menghindari fitnah. Atasan belum menikah dan saya dengar dari beberapa teman dekat sekantor bahwa beliau suka pada saya meski telah bersuami dan memiliki tiga anak.
Sempat beberapa kali saya terkesima dengan lantunan ayat Al-Qur’an yang beliau baca di mushola kantor. Terdengar begitu indah. Lalu beliau menyambungnya dengan membaca arti dari ayat tersebut.
Seketika itu saya teringat suami dan bayangannya sedang melaksanakan sholat duha menggeliat di benak.
Astaghfirullahaladzim! Saya hampir terjerumus, terkesima dengan lelaki di hadapan. Segera saya pergi dari tempat itu. Resah.
Ya Allah jauhkan saya dari hasutan setan. Lindungi hamba Tuhan. Hamba mohon, jagalah keutuhan rumah tangga yang telah saya dan suami saya bangun. Jadikanlah pekerjaan kami sebagai bentuk ibadah kepadaMu Tuhan.
Kejadian semacam ini jangan sampai diketahui suami. Pasti dia kecewa dan berpikir yang bukan – bukan. Saya harus menutup rapat kejadian ini juga kejadian – kejadian lain yang berhubungan dengan atasan. Terpenting bisa menjaga diri.
Entah mengapa semakin hari semakin banyak agenda kantor yang mengharuskan saya dan atasan pergi bersama untuk menyelesaikan tugas kantor. Pertemuan dengan klien atau pihak perusahaan lain yang akan mengadakan kerjasama. Kikuk, ke luar masuk kantor berdua, naik turun mobil milik atasan berdua, bahkan bila masuk jam makan siang dan kami masih di luar terpaksa makan berdua.
Kedekatan kami kian intens membuat beliau berani mengutarakan isi hati dan meminta agar kejujurannya jangan dijadikan beban apalagi membuat hubungan pertemanan di antara kami memburuk.
“Saya hanya ingin jujur tentang perasaan saya.”
Beliau juga meminta maaf, karena pada akhirnya harus berkata jujur.
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan perasaan beliau terhadap saya. Jelas itu adalah perasaan cinta. Cinta adalah anugerah yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia. Tanpa cinta, manusia tidak akan mampu bertahan hidup.
Saya sangat menghargai kejujuran beliau, namun akhirnya saya harus lebih membatasi diri. Di jaman sekarang perselingkuhan bukan lagi barang aneh. Status menikah, tapi berselingkuh.
Sampai suatu ketika menjelang bulan ramadhan, kantor mengadakan acara halal bi halal. Isu yang beredar bahwa penceramahnya adalah atasan kami sendiri. Percaya tidak percaya, karena mereka mengatakan itu sambil tertawa.
Ternyata benar dan lagi – lagi saya terkesima dengan lantunan ayat Al-Qur’an yang dibacakan beliau. Rasa terkesima bertambah manakala dijelaskan arti dari ayat tersebut. Ceramah dimulai.
Saya mendengarkan penuh perhatian. Tak satu kata pun terlewat, bahkan ketika salah seorang teman meminjam handphone untuk menelepon keluarganya di rumah, tanpa melihat tas dengan tetap memperhatikan atasan yang masih berceramah, tangan saya merogoh handphone di dalam tas, kemudian memberikannya kepada teman di sebelah.
Rupanya setan mulai merasuki pikiran. Perasaan terkesima itu tak kunjung hilang hingga beca yang saya tumpangi sampai di depan rumah.
“Mba, sudah sampai,” tukang beca mengagetkan. Efek melamun sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah melihat suami dan anak – anak sudah tidur membuat saya berpikir tentang perasaan yang sempat meracuni pikiran. Saya menatap dalam wajah suami.
“Bila ia bisa membaca pikiran saya, ia pasti amat kecewa.”
Entah mengapa tiba – tiba saya menangis. Bayangan kebersamaan dengan suami dan anak – anak menggenangi ingatan. Sholat bersama, makan, bermain, membelajarkan anak – anak, bahkan suami membantu menyiapkan anak – anak sebelum berangkat sekolah.
Setetes, dua tetes air mata jatuh tepat di samping suami yang pulas.
Saat waktu menunjukan sepertiga malam, seperti biasa suami membangunkan saya untuk sama – sama melaksanakan tahajud. Selesai melaksanakan sholat, saya ceritakan kejadian yang selama ini sengaja saya sembunyikan dan meminta maaf.
Bersyukur atas karunia Allah telah memberikan pasangan hidup yang sangat baik. Suami memaafkan, namun ia meminta agar saya berhenti dari pekerjaan.
Cukup berat menerima permintaannya, karena saya sudah bertahun bergabung dengan kantor itu dan menganggap orang – orang di kantor sebagai keluarga. Terlebih posisi saya yang terbilang cukup enak dan gaji tinggi. Dari gaji itu bisa membeli kebutuhan pribadi tanpa merasa terbebani, karena tidak menggunakan uang yang diberikan suami. Ada kepuasan tersendiri ketika seorang wanita memiliki penghasilan sendiri dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Kepuasan inilah yang menjadi motivasi untuk terus maju berkarir sampai mendapatkan posisi dan gaji tertinggi di kantor demi anak – anak agar kehidupan terjamin.
Penghasilan suami yang tidak menentu meski mencukupi kebutuhan terkadang membuat risau. Namanya juga wirausaha, ada pasang surut. Namun suami memberikan pengertian lebih dalam mengenai rejeki yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah.
“Tugas dan tanggung jawab seorang imam, selain menanamkan nilai agama di keluarga juga yang terpenting adalah mencari nafkah untuk istri dan anak – anak. Berhentilah dari kantor. Kalau niatnya memperbaiki meski mengorbankan pekerjaan Insya Allah ada jalan. Sebagai seorang suami, saya bertanggung jawab dunia akhirat atas kamu dan anak – anak.”
Tersenyum, mengangguk, dan berkata ‘iya’ meski berat adalah jawaban terbaik untuk suami demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga.
Ternyata setelah resign dan lebih menghabiskan waktu bersama anak – anak membuat saya menemukan kebahagiaan terbesar.
Kehidupan terus berjalan. Penghasilan suami bertambah dan Alhamdulillah saya mulai dipercaya untuk mengisi tes psikotes di beberapa sekolah. Selain itu, ada pula agenda lain yang harus saya isi dan tetap berbau psikologi, kebetulan semasa kuliah dulu ambil jurusan itu. Ya lumayanlah bantu suami. Pekerjaan ini bisa ditentukan sendiri waktunya. Mau diterima syukur, enggak pun enggak apa – apa. Fleksibel dan yang terpenting bisa mengajak suami beserta anak – anak.
Saya benar – benar baru merasakan menjadi seorang istri sekaligus ibu sesungguhnya. Mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk keluarga.
Melihat suami sibuk menyiapkan presentasi kepada calon clien mendorong saya untuk tetap setia menemani dalam doa dan usaha bersama. Cintailah Allah, maka Allah akan tetap berada dalam hati kita menuntun kepada kebaikan dunia dan akhirat.