di sebuah hypermarket dimana jam kerjanya memberlakukan dua shift, sehingga ada kalanya aku harus pulang malam hari. Dan ketika pulang malam hari, aku memilih untuk berjalan cepat tiap kali melewati gang kecil yang lebarnya hanya semeter itu, jalan sempit yang diapit tembok dua buah rumah besar yang jauhnya sekira 50 meter. Gang itu termasuk gang hidup yang tiap harinya digunakan banyak orang untuk lalu lalang sebagai jalan pintas. Begitu juga denganku, aku lebih suka melewati gang ini karena aku tidak perlu memutar jauh untuk sampai rumahku setelah aku turun dari angkot sepulang kerja.
Pada dasarnya gang itu pada siang hari sama seperti gang lainnya, biasa saja tidak pernah terlihat ada keanehan dan relatif aman dari tindak kriminal. Tapi beberapa tahun belakangan, banyak dari tetanggaku yang mengatakan di ujung gang dekat rumah pak Ndoyo jadi menyeramkan, mereka bercerita ketika lewat sana di atas jam 1 malam, mereka mendengar suara seorang wanita sedang tertawa atau kadang menangis, mereka bilang itu suara makhluk halus, dan ada juga yang lewat gang itu di atas jam 10 malam melihat sekelebat bayangan seperti melintas di depan mereka. Namun, Pak Ndoyo yang tinggal dekat situ sepertinya tidak merasa terganggu. Ia tinggal di rumah itu seorang diri sejak ditinggal mati istrinya tiga tahun lalu. Istrinya meninggal mendadak karena sakit. Anak-anak mereka sudah lama tidak tinggal di rumah itu karena sudah punya keluarga sendiri. Pak Ndoyo sendiri dikenal tertutup dan kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, sehingga tidak ada tetangga yang berkawan dekat dengan lelaki yang umurnya sudah setengah abad itu.
Hari ini aku lembur dan harus pulang malam, untungnya ada temanku sekaligus tetanggaku yang juga bekerja di hypermarket yang sama. Ia sedang shift malam, jadi aku bisa pulang bareng dengannya. Namanya Sulis, gadis sederhana berusia 21 tahun yang kudengar ia bisa melihat penampakan makhluk ghaib. Aku merasa lebih tenang tidak harus berjalan sendiri melewati gang itu.
Ad by Valueimpression
Setelah turun dari angkot, Sulis dan aku berjalan beberapa meter menuju gang kecil itu, kami pun mulai memasuki gang, suasana sepi hanya kami yang sedang lewat disitu. Kami hanya mengobrol santai tentang pekerjaan kami. Saat hampir sampai di ujung gang, Sulis menghentikan langkah kakinya. “Kenapa berhenti Lis?” tanyaku “Itu Put, di ujung gang di atas tembok pagar pak Ndoyo… kamu lihat ngga?” tanya Sulis dengan mata tertuju ke atas tembok. Mataku langsung melihat pada tempat yang dimaksud. “Aku ngga lihat apa-apa, jangan becanda Lis… ada apaan?” aku mulai bergidik dan merangkul tangan kurus Sulis. “Kamu takut ya Put?” “Ho-oh, habisnya udah banyak yang cerita kalau di dekat situ ada ‘sesuatu’ Lis…” “Aku ngga becanda, terus gimana? mau lanjut jalan ngga?” “Aduh Lis… aku ngga tahu, udah kepalang tanggung sih Lis, udah dekat rumah, tapi emang ngga papa kalau kita lewat? kita bakal diganggu ngga?” tanyaku takut bercampur khawatir dan menyembunyikan wajahku dibelakang bahu Sulis. “Kayanya ngga papa, mudah-mudahan ‘dia’ ngga ganggu, ya udah bismillah aja…, jangan lupa berdoa, ayo jalan lagi…” Aku mengikuti Sulis yang berjalan pelan, meski begitu detak jantungku berdebar dengan cepat dan bulu kuduk rasa berdiri. Aku berpegangan erat pada lengan Sulis, kepalaku kutundukkan dan mata kupejamkan sambil merapal doa-doa. Baru kali ini aku merasa takut sekali sampai kakiku gemetaran, untung ada Sulis yang pemberani.
Kami tetap berjalan sejauh belasan langkah hingga melewati ujung gang. Aku merasa lebih tenang ketika mendengar suara motor dari arah depan kami. Seorang pengendara mungkin hendak lewat gang itu juga. “Udah Put, kita udah agak jauh dari gang, udah di depan rumah pak Minan… ‘dia’ ngga ganggu…” kata Sulis kemudian menghentikan langkahnya. “Kita agak minggir dulu Put, ada motor mau lewat” kata Sulis lagi. Aku pun berhenti dan membuka mata, masih dengan kaki yang gemetaran aku melangkah ke pinggir, lalu aku bertanya pada Sulis dengan suara pelan “Ka..Kamu memang lihat apa tadi Lis?” “Pengen tahu aja apa pengen tahu banget? awas ntar kamu malah ngga bisa tidur kalau aku ceritain” katanya sambil tertawa. “A..Aku takut tapi aku penasaran Lis…” “Aku lihat sosok wanita berpakaian putih, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang rusak, sedang duduk di atas pagar rumah pak Ndoyo”. Di ujung gang memang terdapat tiang dan lampu jalan yang agak terang, sehingga mungkin Sulis bisa melihat dengan jelas. Aku langsung bergidik mendengarnya. “Apa kamu selalu bisa melihat makhluk yang seperti itu Lis?” Sulis mengangguk. “Ya, sudah sejak lama, aku sudah terbiasa, walaupun kadang suka ngeri juga kalau melihat wajah yang menakutkan…”
Pengendara motor berlalu, kami jalan beriringan lagi. Tanganku masih berpegangan erat pada lengan Sulis. Tak lama kemudian akhirnya sampai juga di depan rumahku. Kulepaskan peganganku dari Sulis, lalu pamit padanya. “Lis, aku duluan ya, terima kasih sudah mau pulang bareng aku… bye” bibirku sudah bisa melepas senyum. “Bye Putri, sama-sama… sampe ketemu besok” Sulis membalas juga dengan senyum.
Sejak malam itu, aku tak lagi berani lewat gang itu sendirian di malam hari. Waktu berlalu, sekarang warga sekitar gang hampir semua mengetahui tentang keberadaan makhluk penunggu gang itu, walaupun keberadaannya tidak mengganggu secara verbal, tetapi aku, keluargaku dan para tetangga selalu waspada saja dan tidak lupa berdoa memohon perlindungan-Nya.
Ada seorang warga yang mengatakan, itu adalah arwah bu Ndoyo yang penasaran karena sebenarnya penyebab kematiannya adalah bukan karena sakit tetapi karena kecelakaan tertabrak mobil sepulang dari kerja dan konon wajahnya rusak parah. Tetapi seingatku kata pak ustadz, arwah orang meninggal itu berada di alamnya sendiri dan tidak akan berkeliaran kemana-mana, dan makhluk halus yang suka mengganggu itu sesungguhnya adalah jin dari golongan setan. Walau aku belum pernah melihat penampakan mereka, aku percaya pada perkataan pak ustadz bahwa para jin itu hidup berdampingan dengan manusia di alam dunia ini, mereka dapat melihat kita, tetapi kita tidak dapat melihat mereka, ya hanya orang tertentu saja yang dapat melihat mereka. Wallahu a’lam.