Perlahan kuteguk kopi hitam yang sedari tadi sudah kupesan. Hanya secup kopi lah yang dapat menemani setiap pagiku. Meski pahit, rasanya seperti ada yang kurang jika sehari saja aku tidak meminumnya. Dengan secup kopi di pengawal pagi, hariku terasa lebih baik karena ada banyak sekali memori yang terkenang didalamnya. Tentangku dan sahabat kecilku.
Sama seperti hari – hari biasanya, setiap pagi aku selalu berkunjung ke salah satu kafe yang letaknya tepat ditengah kehiruk pikukan kota. Sebenarnya banyak kafe yang berdiri sama ditengah kota. Namun,entah mengapa langkah kakiku ini selalu mengiringku untuk berkunjung ke kafe yang satu ini. Memesan segelas kopi yang selalu sama di setiap paginya.
Dari kejauhan terlihat jelas sosok lelaki tampan yang gagah sedang berjalan mengarahku. Wajahnya terlihat sangat putih dan pucat. Ia menggunakan jas berwarna abu – abu tua yang hanya ia gantungkankan di atas bahunya yang lebar. Dengan satu cup kopi yang ia genggam di tangannya yang terlihat pucat, ia menyapa dengan melambaian tangan kanannya padaku.
Sudah lama aku tak berjumpa dengannya. Hampir 5 tahun lamanya kita tak lagi pernah menyapa. Lama sekali aku menginginkan dirinya bisa hadir kekafe ini untuk menemani hariku. Namun, baru hari ini dia dapat memenuhi semua keinginanku. Aku merasa sangat bersemangat hari ini.
Dave, namanya. Ia merupakan satu – satunya teman yang kupunya sejak aku mulai bersekolah. Masih lekat dalam ingatanku tentang bagaimana pertama kali kita bertemu disekolah. Aku menemukan Dave di sudut taman sekolah, saat itu Dave sangat bersedih disana dengan menggenggam secup kopi favoritnya.
Tak seorangpun yang mau bermain bersamanya. Dave bilang kalau dirinya kesepian, dia hanya selalu ditemani dengan secup kopi favoritnya yang selalu ada digenggaman tangannya yang pucat.
Aku sedikit haru mendengar cerita Dave saat itu. hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk bermain bersamanya dan terkadang kita saling bertukar cerita.
Tak jarang aku mengenalkan Dave pada teman – temanku, tetapi mereka bilang mereka tak melihatnya.Tak sedikit temanku yang mengangapku gila dan selalu berhalusinasi. Padahal saat itu Dave berdiri tepat disampingku dan memegang erat tanganku. Tak ada yang dapat mempercayai kehadiran Dave,hal itu membuat Dave sangat bersedih.
Terlebih ketika ayah dan bundaku juga tak melihat kehadiran Dave. Itu membuat dirinya semakin hancur. Aku tak suka jika melihat temanku Dave terus - terusan bersedih , karena itu aku berjanji kepadanya, bahwa aku akan terus berada disisinya dan menjadi seorang teman yang berusaha untuk dapat membuatnya selalu merasa senang. Hanya aku,Dave dan secup kopi favoritnya.
Hari ini nampak ada perubahan yang aku lihat darinya. Dave yang aku lihat sekarang, bukan lagi Dave kecil dengan bendungan air matanya, ia tampak riang dan berseri. Dave sudah tak sekecil yang dulu, ia juga mengatakan itu padaku.
Ia berkata bahwa aku lebih dewasa dari sebelumnya. Kita sama – sama tumbuh diwaktu yang bersamaan. Kini kita bukan lagi 2 orang bocah yang selalu bermimpi untuk segera tumbuh menjadi dewasa dan meraih masing – masing cita kita. Pagi itu kita saling bertukar cerita bersama dan tertawa, sama seperti 5 tahun lalu sebelum Dave memutuskan untuk pergi sebentar.
Namun, pertemuan indah itu tak berlangsung lama. Dave bilang ia harus segera pulang, ia tak bisa menemaniku selama yang aku mau seperti dulu.
“terimakasih, kau sudah setia menjadi temanku” ucap Dave lembut sambil memelukku hangat. “kau harus tetap berjuang, tanpa diriku” Dave melepaskan pelukan hangatnya, ia memberikanku cup kopi favoritnya kepadaku. Matanya terlihat jelas membendung air mata, aku mecoba untuk menghapus air itu tapi Dave menolaknya dengan menahan tanganku digenggamanya yang dingin. Ia berjalan keluar kafe meninggalkan aku yang masih berdiri mematung bersama dengan secup kopi yang ia beri.
Terdapat surat kecil yang berisi pesan singkat, ditempel disalah satu sisi cup itu.
“ ku mohon jangan bersedih. Just let me go, aku sudah tenang, sekali lagi terimakasih” tertanda Dave.
Aku tak menyangka jika ini adalah hari terakhir aku dapat melihat dirinya lagi. Aku tak kuat menahannya dadaku terasa sesak, air mataku deras terjun begitu saja. Aku baru melihatnya setelah 5 tahun lamanya, dan kini ia memutuskan untuk benar –benar pergi dari hidupku. Itu membuatku merasa benar – benar hampa.