P I S A U
Siapapun tahu Kowo selalu menampilkan adegan melempar pisau usai mencukur rambut langganannya. Pisau itu selalu menancap di lingkaran sebesar spion sepeda motor. Selalu tepat menancap di tengahnya. Kowo kerap mendapat pujian.
"Kamu lebih pantas jad pemain sirkus Wo," kata salah seorang pelanggannya. Kowo hanya tersenyum kecut. Dia tidak butuh pujian. Dia hanya butuh ketenangan. Sementara ini pelangganya tidak tahu apa yang tengah berjkecamuk di kepalanya. Andai mereka tahu, masihkah pelangganya itu mau bercukur di tempatnya. Kowo begitu rapi menyimpan ketakutannya. Bahwa adegan melempar pisau ke papan itu sebenarnya adalah untuk menutupu kekacauan hatinya saja.
Dia bisa sedikit bernapas lega usai melempar pisau itu. Kowo sendiri bingung, apakah dia masih kuat meneruskan profesinya sebagai tukang cukur. Pelanggannya terlanjur banyak dan pendapatannya sudah lumayan. Se idang tanah berhasil dibeli dari hasil mencukur rambut orang.
Mereka tidak tahu konflik batin yang hebat telah menindas hatinya. Kowo merasa sampai saat ini dia masih menguasai diri. Tapi suatu saat hari sial itu akan menjadi miliknya. Kerap sekali Kowo merasakan bahwa kepala orang yang dipegangnya telah berubah menjadi seekor kambing. Karena itu tangan Kowo kerap gemetaran menahan gejolak hatinya. Sebelum jadi tukang cukur dirinya adalah tukang jagal kambing dan sapi.
Tapi siapa nyana, profesi jagal itu menyeruak ke dalam dirinya. Dia ingin memotong leher itu. Yang dipegang bukan kepala orang tapi kepala kambing.
Wush... untuk kesekian kalinya, Kowo melempar pisau ke papan yang sudah disiapkan.
"Aku hampir saja membunuhmu Pak Tua, kepalamu telah berubah jadi kambing," kat Kowo dengan suara bergetar hebat.
Pelanggan tua itu malah terkekeh-kekeh, sama sekali tidak menampakkan mimik ketakutan.
"Tidak cuma pintar melempar pisau seperti pemain sirkus, tapi kamu juga pintar bermain drama. Kamu memang multi talenta Wo," katanya memuji.
Kowo jadi keki. Urusan nyawa kok dibuat mainan. Kalau dia tidak bisa menguadai diri. Akan terjadi pembunuhan sadis di kios cukurnya. Kowo menghela napas.
"Terima kasih Wo, cukuranmu memang cepat dan rapi," kata Pak Tua malah memuji sambil menyerahkan uang pembayaran.
Kowo betul betul frustasi. Mau berhenti jadi tukang cukur, dia bingung bagaimana menghidupi tiga tuyul dan isterinya. Terus melanjutkan profesinya, konflik batin itu terus merajam hatinya.
Sampai suatu saat Kowo tidak menguadai diri lagi. Sreet....pisau itu telah meminta korban darah menetes netes dari luka yang menganga. Kowo benar benar disergap rada takut luar biasa. Dia telah menjadi pembunuh. Kowo segera berlari dengan membawa pisau yang masih meneteskan darah segar.
Aku telah menjadi pembunuh, jerit Kowo dalam hati. Orang orang mengejarnya. Kowo makin ketakutan. Dia berlari kesetanan.
"Kamu tidak usah taku Wo. Yang kamu potong itu kepala kambing. Bukan manusia." Teriak salah seorang dari mereka. Kowo tetap berlari. Mereka itu menipunya. Kowo tetap melanjutkan lari. Meski napasnya hampir putus. Ada bus melaju dan Kowo segera melompat.
Sejak itu orang orang tidak pernah melihat Kowo membuka kios cukurnya ####