Sama seperti uang. Ketika cinta kita dapatkan, kitapun ingin segera menghamburkannya. Banyaklah kata-kata rayuan, pujian....Sehingga 1000 lembar kertas HVS tidak pernah cukup untuk menuliskan kata-kata kekagumanku padamu. Juga pada cinta kita.
Kau baik, lembut dan romantis. Kau sangat perhatian padaku. Cinta kita indah. Cinta kita membuatku sangat bahagia, tersanjung dan ingin selalu tersenyum. Walaupun tadi di dalam kereta, kakiku terinjak oleh seorang perempuan gemuk yang memakai sepatu bertumit tinggi 5cm. Tumitnya sangat runcing.
Wow !....sakit sekali. Sampai aku meringis. Tapi itu sesaat. Beberapa detik kemudian, aku langsung dapat tersenyum manis pada perempuan itu. Padahal perempuan itu belum meminta maaf padaku. Bahkan menatapku dengan tatapan tak bersalah, plus curiga. Dia menduga aku seorang lesbi...ola. Aah...itupun masih bisa kuabaikan dengan iklas.
Itulah cinta kita. Hebat bukan ?...Keegoistikannya membuat kita bisa mengabaikan orang-orang. Termasuk cibiran, baik dari teman dan handai taulan. Saat dengan spontan, didepan mereka kita menghambur-hamburkan kemesraan.
Kau panggil aku dengan sweety dan kupanggil engkau dengan yayank handsome. Bak budak belian, kau layani semua permintaanku. Sedang aku bak titisan Cleopatra; memanjakanmu dengan dandanan dan penampilannku yang tercantik, teranggun, termanis dan terseksi.
Mereka pun semakin mencibir dengan bibir atas ditarik setinggi mungkin. Plus dengan lirikan tajam yang secuil dan berdurasi panjang. Disertai dengusan kencang ala banteng jantan yang sedang bernafsu memangsa seekor kambing bohay.
Apalagi jika ada dari orang-orang yang melihat kemesraan kita itu, ternyata masih jomblo. Mana jomblonya sudah mendekati masa kadaluwarsa lagi. Pastilah cibiran mereka akan sangat sadis. Lebih sadis dari menaikkan bibir atas.
Mereka pasti akan menyebarkan kebencian ke orang-orang disekitar kita. Mengumpulkan massa untuk mendemo kita. Sampai berjilid-jilid. Agar orang marah pada kita. Berorasi dengan teriakan lantang. Menuduh kita tidak beradab. Mempertontonkan kemesraan ala kebarat-baratan.
Tapi itupun masih bisa kita abaikan. Cukup kita berbisik-bisik mesra, berdua saja. Lalu kita beri senyuman manis kepada yang menebar kebencian itu dan kita katakan dengan suara manis:
"Cemburu nih yeeee !!!...."
Maka kita tetap mempertontonkan kemesraan. Layaknya pasangan yang telah menemukan cinta sejati dan tidak akan terpisahkan. Sampai maut memisahkan (Ceileee....manisnya).
Itulah bukti perjuangan cinta sejati kita. Tidak goyah walau diterpa masalah. Cinta sejati itu mampu menepiskan kekurangan-kekurangan kita dan hanya memperlihatkan kelebihan-kelebihan kita. Hal itu penting untuk memproteksi kita dari perselisihan demi perselisihan. Kitapun jadi tidak punya waktu untuk bertengkar. Kecuali hanya untuk bermesraan.
Bahkan cinta sejati kita itu telah memberi tiket gratis untuk kita berkehendak bebas. Mempermainkan tabu dan mensterilkan dosa atas nama cinta. Agar kita dapat bertarung dalam kemesraan yang hangat dan bertubi-tubi.
Tapi kemudian, diperjalanan cinta kita; aku mulai sering melihat seringaian seram dari cinta kita. Serta mendengar suara desissannya yang menjijikkan. Beberapa kali hal itu kukatakan padamu. Tapi kamu malah menertawakanku. Oh ya...tentu saja. Karena cinta itu abstrak. Hanya dapat dirasakan. Jadi tidak mungkin aku melihat cinta. Apalagi seringaian cinta. Tidak mungkinlah itu.
Kau adalah seorang pria yang ditakdirkan selalu mengedepankan logika dari pada perasaan. Jadi logikamu tak dapat melihat seringaian cinta dan tidak pula dapat mendengar suara desissannya.
Karena logikamu sudah bawel dan bising memerintahkanmu untuk segera tidur. Setelah perjuangan kemesraan kita. Maka untuk hal perasaan, akulah yang paling dominan berperan. Sebagai seorang perempuan yang ditakdirkan lebih mengedepankan perasaan.
Jadi aku meralat kalimatku, bahwa akhir-akhir ini aku sering merasa kalau cinta kita itu tengah memperlihatkan wajah aslinya kepadaku. Sambil menyuguhkan bon tagihannya dari dalam rahimku.
Saat kita bahas bon itu, sering tak terelakkan lagi; kita mulai belajar untuk bertengkar. Tapi syukurlah kita masih ingat mempergunakan tiket gratis itu. Walaupun setelah itu, aku mengingatkanmu untuk membayar tagihan itu. Segera kau memilih untuk tidur. Sebelum pertengkaran benar-benar terjadi.
Tapi kali ini dan untuk seterusnya. Bahkan setiap hari aku mempergunakan keahlianku sebagai perempuan untuk membombardirmu. Aku mengeluarakan kata-kata lebih dari 12.000 kata setiap bertemu denganmu. Membuatmu tidak bisa tenang. Apalagi untuk tidur. Walaupun hanya sepicingpun dengan sebelah mata.
Bahkan sebelum dimulai pertarungan kemesraan kita. Aku selalu memulainya dengan keahlianku itu. Karena tagihan itu sudah sangat membengkak. Sangat membisingkan perasaanku dengan nyanyian sumbangnya tentang rasa bersalah dan dosa.
Entah kau mengalah atau mengerti atau marah atau juga telah tumbuh rasa bersalah dan rasa tanggung jawabmu, akhirnya kau bernegosiasi denganku.
Tapi aku tahu itu bukan untuk menghiburku. Melainkan untuk menghentikan keahlianku. Agar kau dapat segera tidur.
"Apakah kau sudah siap untuk menikah denganku ?" Katamu dengan nada kesal dengan membelakangi aku.
"Bah !...pertanyaan sontoloyo !" Sungutku dalam hati dengan rasa kesal dan banyak kekecewaan. Karena itu aku sempat memukul kepalamu dengan bantal. Sebagai wakil dari rasa kekecewaanku.
Kenapa tidak ?!...Sejak haid pertamaku, aku sudah siap untuk dinikahi pria yang kucintai. Kebetulan pria itu adalah kau yang kutemukan setelah beberapa kali masa haidku berlangsung. Sekarang kau tanyakan lagi hal itu ?.
Seharusnya pertanyaan itu kau ajukan sebelum bon tagihan datang. Seharusnya sekarang ini kau tidak bernegosiasi lagi. Tapi bayarlah segera dengan kata-kata mesra.
"Indri sayang, maukah kau menjadi istriku ?. Mendampingiku dalam suka dan duka sampai akhir hidupku ?"
Permintaan itupun seharusnya kau sampaikan pada sebuah acara makan malam yang romantis. Sambil kau perlihatkan padaku sebuah cincin bermata berlian asli.
Kilau berliannya menyilaukan mataku. Hingga mataku berair. Kau pun merasa tersanjung melihat air mataku. Karena aku tampak seperti sedang terharu.
Kemudian kuraih cincin itu dan kukagumi keindahannya dengan mengangguk-anggukkan kepala. Kau pun tersanjung lagi. Karena aku tampak seperti sedang menerima lamaranmu.
Tapi kenyataannya, kau sampaikan hal itu diatas tempat tidur kita yang sekarang bagiku sangat menjijikkan. Aku pun tidak punya pilihan lain. Kecuali menerima dengan menawarkan pernikahan yang praktis dan tidak mengeluarkan dana banyak. Sekedar formalitas untuk menutupi malu dan aib kita ini. Akibat pembengkakan tagihan ini.
Cukup hanya dengan mengeluarkan biaya penghulu, uang saku para saksi yang kita sewa, beli meterai dan tanda tangani. Selesaikan ?...yang penting anak kita mempunyai nama belakang seorang ayah, yaitu namamu.
Walau kau sempat membujukku untuk membatalkan kehadirannya kedunia ini. Untunglah danamu terbatas untuk melaksanakan pembatalan itu dan perasaanku melarang untuk melakukannya. Aku takut menambah antrian panjang dosa-dosa kita.
Selanjutnya hari-hari, kita jalani dengan kesepakatan tak mesra. Karena kemesraan kita sudah kita hambur-hamburkan di edisi awal cinta kita. Sekarang kebersamaan kita tanpa cerita cinta yang mesra dan indah. Melainkan hanya sekedar membayar bon tagihan itu.
Sekian persen dari penghasilan kita, kita sisihkan untuk anak kita ini. Lalu mengenai kebutuhanmu, kau usahakan sendiri. Kebutuhanku juga, aku usahakan sendiri. Hutangmu kau bayar sendiri. Hutangku pun, aku bayar sendiri.
Kehidupanmu, kau jalani dengan maumu sendiri. Kehidupanku, kujalani sendiri. Walaupun setiap malam kita masih bersama, dalam satu kamar dan satu ranjang. (Karena rumah kita hanya memiliki satu kamar tidur saja). Itupun tanpa kata atau sekilas senyum. Hanya ada desah nafas kecewa dan dinginnya kasur kita.
Maka tak terelakkan lagi, kemudian kita sangat rajin bertengkar. Entah siapa yang memulainya dan entah apa yang memicu. Tiap kali aku melihatmu atau kau melihatku yang tampak adalah kekurangan masing-masing. Lebih dari 1000 lembar kertas HVS tidak cukup untuk membeberkan kekurangan-kekuranganmu. Sampai kebiasaan kentutmu setiap pagi pun kutuliskan.
Akhirnya kita bersepakat untuk bercerai. Berharap dengan perceraian, maka pertengkaran kita usai. Untunglah pernikahan kita praktis. Perceraiannya pun bisa praktis. Hanya dengan merobek surat nikah kita. Lalu membakarnya dan membiarkan angin meniupkan sisanya...wus !. Cerita cinta kita pun hilang. Tanpa berkas dan edisi.
Tapi...hei !....kenapa ada jejak suara yang memilukan. Sepertinya baru kali ini aku mendengar serius suara itu. Oooohh...ya. Itu suara tangisan anak kita. Kita dahulu sering mengabaikan tangisannya. Karena kita terlalu sibuk bertengkar.
Berarti edisi cinta kita masih berlanjut. Tapi tak ada waktu untuk membahasnya. Itu edisi terbatas. Merupakan cetakan terakhir. Karena kita sudah sibuk mempertontonkan kepada anak kita, betapa perdulinya kita kepadanya.
Buktinya begitu dia menangis, spontan kita berlomba menghampirinya. Ingin meredakan tangisannya. Kau segera memeluknya, akupun demikian. Kau berikan dia mainan, aku berikan dia ice cream rasa coklat. Lalu kurebut dia darimu. Kau pun merebut dia dari aku. Kita pun bertengkar lagi memperebutkan anak kita.
Sampai turun orang ketiga berlagak Tuhan. Memutuskan nasib anak kita. Apakah kepadamu atau padaku. Tapi akhirnya kita berinisiatif sendiri. Karena orang yang berlagak Tuhan itu hanya perduli pada uang kita yang akan masuk ke pundi-pundinya.
Jadi begini kesepakatan kita. Kita beri lobang pada tembok pemisah kita. Agar anak kita leluasa datang untuk menemui mu atau menemui aku. Sekian hari dia bersama kau. Sekian hari lagi dia bersamaku. Lalu dia melihatmu menggandeng kutilanak dan melihatku bergelayut mesra dengan gondoruwo. Sampai kau menikah dengan kuntilanakmu itu. Akupun menikah dengan gondowruwo itu.
Kau mempunyai anak baru dari kuntilanak itu. Akupun mempunyai anak baru juga dari gondoruwoku itu. Sampai-sampai kau dan aku lupa atau benar-benar melupakan, sudah berapa lama anak kita bersama kau atau sudah berapa lama dia bersamaku. Kita sudah tidak mempermasalahkan tentang hal itu lagi.
Bahkan kita juga tidak tahu, apakah dia bersamamu atau dia bersamaku atau dia bersama mahluk lain. Kita tak pernah ada waktu untuk mencari tahu hal itu. Karena kau sibuk dengan pekerjaan dan keluarga barumu. Akupun sibuk bekerja dan keluarga baruku. Hari-hari kita pun, kita isi dengan kesibukan dan kesenangan masing-masing.
Tapi....tunggu !, sepertinya harus ada yang aku ulangi lagi yaitu sebagai perempuan bukankah aku yang harus lebih mengandalkan perasaanku ?. Apalagi aku sudah menjadi seorang ibu. Batinku sebagia ibu, mengkhawatirkan anak kita.
Maka disuatu malam yang dingin dan sepi, perasaan itu sangat menggangguku. Hingga tidak dapat tidur. Bahkan aku sempat melonjak dari tempat tidur kami yang empuk. Batinku mengatakan: "Oh no !, anak kita pasti merasa telah kehilangan kita !. Sementara kita tak merasa telah kehilangan anak !".
Hal itu baru kusadari, setelah terngiang-ngiang akan pertanyaan anak kita yang dia ajukan beberapa hari yang lalu kepadaku. Bagiku awalnya pertanyaan itu terdengar sederhana dan biasa saja. Karena aku sering melihat berita di media televisi ataupun medsos-medsos, tentang perceraian para selebritis. Jawaban mereka adalah sama dengan jawaban kita, bahwa kita sudah tidak cocok lagi.
Jawaban itu masih membuat kita berlagak orang tua yang bertanggung jawab dan penuh pengertian. Telah mempersiapkan jawaban beserta penjelasannya dengan kata-kata yang sederhana, tidak berbelat-belit dan mudah dimengerti anak kita. Padahal sangat jelas, jawaban itu dikuasai keegoistikan kita.
Lalu anak kita mengajukan pertanyaan lagi dihari yang sama dan jam yang sama: "Apakah kita lebih cocok dengan kuntilanak atau gondoruwo ?". Kita juga masih berlagak orang tua yang bijaksana dan sangat sayang padanya dengan mengatakan bahwa kita tidak ingin mewarisi dia dengan pertengkaran-pertengkaran kita. Jadi kita memilih untuk berpisah.
Kurang dari selembar HVS, kita menuliskan nasehat-nasehat. Sekedar untuk menekankan padanya, kita selalu ada untuknya. Padahal menurutku, kita sedang memaksanya untuk tetap mengagumi kita. Tanpa sadar kita menitipkan kisah cinta kita yang hancur-hancuran kepadanya dan dialah buktinya.
Karena beberapa hari kemudian, kudapati dari sorot matanya ada tanda tanya besar yang tak terungkap dari bibirnya: "Mengapa orang tuanya lebih cocok dengan kuntilanak dan gondoruwo ?".
Masih berlagak orang tua yang bijaksana, kita katakan padanya: "Kelak kau akan tahu jawabannya. Setelah kau dewasa."
Plak !...selanjutnya aku terdiam bodoh dengan jawaban kita. Mengapa anak kita, kita wariskan teka-teki ?. (MOS)
TAMAT