July adalah namanya. Berwajah cantik begitu memikat. Warna kulitnya putih langsat, bibir tipis, dan bulu mata yang lentik. July sangat menyukai warna merah muda. Katanya, merah muda melambangkan cinta dekat dikelopak mata. Sampai-sampai semua jenis benda yang July miliki adalah warna merah muda, dari mulai tas, jepit rambut dan bandu semua bervariasi mengikuti warna itu.
Dia terlahir pada bulan Juli 1992. Lebih akrab disebut July. Nama yang diberikan bapakknya. July adalah anak pertama dari tiga bersaudara, kedua saudaranya adalah laki-laki yang masih berusia jauh dengannya. Adik petamanya masih menginjak usia tujuh tahun dan adik keduanya masih menginjak usia empat tahun.
Ada satu konflik dalam hidup July, bapaknya meninggal ketika July masih usia muda. Terkena serangan jantung, karena usahanya terbakar habis tak bersisa oleh si jago merah. Untuk menyambung hidup, Ibunya harus banting tulang dari mulai menjajakkan kue sampai buruh cuci. July menatap wanita tua yang sedang membuat adonan kue, lelah tentu terlihat di wajahnya namun tak dihiraukan.
“Ibu terlihat lelah sekali hari ini.”
Butir-butir keringat yang belum mengering, tak ada hari libur baginya, setiap hari menyongsong langkah mencari nafkah untuk anak-anaknya.
“Tidak, Ibu baik-baik saja,” begitulah jawaban setiap kali July menanyakan kesehatannya.
July lantas mengembuskan nafas dalam alur begitu lambat. Kebohongan terlihat dari mulut seorang wanita yang semakin menua itu.
“Apakah perlu aku buatkan Ibu secangkir kopi, untuk mengurangi rasa lelah?” tanya July dengan sejumlah tawaran sebagai bukti kebaktiannya.
“Cukup teh hangat saja kau buatkan untuk Ibu,” pinta wanita tersebut sambil tersenyum menyeka punggung dada July.
Tak lama kemudian, July membuatkan teh hangat untuk ibunya. Wanita itu menyeruput secangkir teh hangat, mengalirkan ke kerongkongan dan menyimpannya kemudian. Wanita tua itu begitu tau hatinya. Mereka saling tanya jawab tentang July yang masih ingin menuntut ilmu pengetahuan ke jenjang lebih mulia dibandingkan sekarang. Tapi melihat kondisi ekonomi, mereka khalayak seperti seorang hamba yang pasrah akan takdir yang mereka jalani.
Tidak ada cumbu rayu atau bahkan rasa kecewa yang mereka rasakan, semuanya terlihat biasa-biasa saja dan pasrah dengan semua itu. Meski terkadang July ingin merasa dicukupkan dengan permainan dunia yang selama ini terlalu menyiksanya.
Setelah July tamat sekolah, dia ikut bersama ibunya menjajakkan kue-kue ke pusaran kota Jakarta. Dia tekuni semua itu dengan taubat meski terkadang air mata berlinang. Caci dan maki sudah seperti tradisi masa kini yang July rasakan, karena tidak sedikit laki-laki yang kagum akan keelokan rupanya. Bahkan, para lelaki yang sudah beristri sekali pun. Teguran dari para wanita agar tak menjajakkan kue lagi, tentu membuat July harus mengalah dan mencari lahan baru. Begitulah di tempat-tempat selanjutnya.
Berjalan dalam langit buram sudah menjadi nasibnya. Ibunya sudah banyak membantunya, kini July menggantikan posisi wanita tua itu. Melihat usia yang semakin tua, Ibunya memerluan banyak istirahat di rumah. Dimulai dari dekat rumah, dari pagar ke pagar.
“Kue ... Kue ...,” teriak July dengan puluhan kue di tampahnya.
Begitulah caranya menjajakkan kue itu. Berharap sesuap nasi dapat berpulang dengan hasil kue itu. Dunia luar memang teramat berbahaya baginya, penggoda-penggoda itu sudah seperti penjahat baginya. Kebanyakan yang memborong kuenya adalah para lelaki. Beberapa sindiran pun kerap kali dia telan.
“Dasar penggoda suami orang!”
“Dasar perusak hubungan orang!”
“Dasar pelakor!”
“Dasar wanita genit!”
Begitulah sindiran dan cacian mereka yang hidupnya merasa terusik oleh July. July memang sudah beranjak dewasa, aura kecantikannya semakin memancar, jelas saja banyak yang ingin menjadikannya istri dari mulai dewasa sampai orang tua.
“Kau tolak lamaranku, Dek?” seorang pemuda menepuk dadanya.
“Maafkan saya Bang, tapi saya belum ingin menikah.”
“Sampai kapan Abang harus menunggu, Dek?”
“Entahlah.”
Begitulah percakapan mereka di malam itu. July lagi-lagi menolak lamaran pemuda yang hendak mendatanginya. Terkadang, July hanya ingin terlahir seperti wanita biasa aja. Cantik ini tak ada gunanya, jika mengundang hawa nafsu dan memancing setan-setan tak bertanggung jawab.
Lantas July menutup pintu rapat dan menguncinya. July merasa teriksa dengan semua ini. Air mata menitih kepedihan. Pemuda itu mungkin adalah pemuda yang kesekian kalinya datang menemuinya.
“Jika kau ingin mereka menyudahi ini semua, maka menikahlah, Nak.”
“Aku belum siap, Bu.”
“Mengapa?” wanita tua itu mengernyitkan dahi mendekat ke arahnya.
“Aku belum menemukan orang seperti bapak”
“Tak akan ada yang sama, semua manusia di dunia ini berbeda, satu atau berbeda darah tak akan ada yang sama seperti bapakmu!”
“Sudahlah, Bu, biarkan aku berpikir dulu, menikah itu bukan hal yang mudah,” July melakukan
pembelaan dan mengunci kamarnya rapat-rapat.
July pun mengunyah semua omongan Ibunya dan menelannya perlahan. July membenarkan semua perkataan ibunya demi kedamaiannya. Beberapa pilihan dari sekian banyak pemuda.
“Apakah aku harus meilih Parto yang kerjaannya menghabiskan duit orang tuanya? Pesawahan 80 hektar namun itu milik Bapaknya. Hari-harinya dia dikenal sebagai preman kampung. Atau Fahmi yang sudah menikah namun dia mempunyai masalah dengan pernikahannya? Dia tidak cinta kepada istrinya, dia bilang hanya cinta kepadaku dan siap meninggalkannya untukku. Atau Pak Daliman seorang rentenir yang kaya raya? Tapi aku tak mau dinafkahi oleh uang haram, tak mau kutukan datang padaku.” July mengoceh seorang diri.
Tak ada yang dapat July pilih diantara mereka. Semua terlalu beresiko, terlebih yang sudah memiliki istri nanti bisa di cap sebagai pelakor. Mereka selalu menjadi penggoda setiap kali July menjajakkan kue. Sentuhan di dagunya atau sentuhan tangannya membuat July geli dan benci pada mereka, mereka menganggap bahwa itu bonus karena telah membeli kuenya. Namun, sungguh July sebenarnya tak sudi.
Sore hari July melempari mereka dengan kue yang tersisa. July menepis para lelaki bajingan itu karena senyentuhnya dan tak berhenti menggodanya sampai July ketakutan. Kesabaran mereka memuncak. Mereka berontak. Lantas July pun lari sekencang-kencangnya.
Hari sudah mulai gelap dikala itu. July terjebak dalam sebuah hutan. Para lelaki tak bertanggung jawab itu membungkam mulut July, mereka menampar, menjambak kemudian memperkosa July secara bergantian. Setelah itu, mereka tinggalkan July di sebuah hutan belantara. July meraung kesakitan dan meminta tolong, namun tak ada yang mendengar sama sekali. Malam itu adalah malam yang terkutuk baginya. July pulang dengan kondisi memilukan.
“Apa yang terjadi, Nak?” wanita itu mendekat dan memeluknya erat. Belum pernah anak gadisnya pulang selarut ini.
July diam tak berbicara. Rambut yang tadinya diikat kini jadi terurai tak beraturan. Baju yang tadinya bersih kini menjadi kotor bahkan berdarah. Wanita tua itu meraung, menggoyangkan tubuhnya yang terus berpandangan kosong, kemudian wanita tua itu memandikannya agar July tersadar, namun hal itu tidak membuahkan hasil.
Semenjak peristiwa malam itu, July tak lagi menjadi penjajak kue. Dalam kesehariannya, July hanya bermain dengan boneka saja di dalam rumah. Tingkahnya kembali kepada anak yang baru menginjak usia tiga tahun. Setiap kali ada laki-laki melintas di depannya, July kejar dengan membawa batu kerikil, lantas melemparinya. Kemudian July meneriakinya.
“Dasar bajingaaan ...!!”
Gila? Yah ...! kini gadis cantik bernama July itu menjadi gadis yang gila.