“Hey bro,..”
Aku tahu suara itu, dia salah satu teman yang telah bersamaku dari kecil, entah kenapa kita merasakan bahwa hubungan kita sudah bukan teman lagi, hubungan kita sudah seperti saudara. Aku berbalik dan menyapanya kembali. “weeeey, gimana?, Dihukum lagi sama satpam?”
Ia tertawa terbahak. “Aku? Dihukum? Jangan mimpi wooy.”
Sikapnya memang selalu begitu, ceroboh, nekad, dan pemberontak, banyak orang berpendapat bahwa dia sama halnya dengan sikapku.
“Gila, ngomong-ngomong kamu lewat gerbang mana?”
“Yaaaa.. gerbang depan, dan si satpam itu belum ada di posnya”
“Berarti aku sukses ngerjain itu satpam”. ucapku sambil tertawa terbahak.
“Hah?, maksud kamu apaan?”. Jawabnya sambil agak kebingugan
“Jadi tadi pas aku masuk ke sekolah aku mau menyimpan tasku, dan aku tidak melihat kamu di kelas, makannya aku pikir kamu pasti datang terlambat ke sekolah, jadi aku kembali ke pos satpam dan pada saat itu satpam sedang sibuk merazia parasiswa, nah saat itulah aku memasukkan sambal instan ke dalam kopinya, aku kan sudah mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan.”
Temanku tertawa terbahak. “Ternyata ide kamu bener-bener gila, sepertinya dia sekarang sedang duduk manis di toilet sekolah. Baiklah, sebagai gantinya dan ucapan terimakasih aku akan teraktir kamu makan di kantin sekarang”
“Hah…? Bagas ini kan jam pelajaran wali kelas!” aku tercengan dengan ajakan Bagas. Yah… nama temanku Bagas dan aku sendiri bernama Agam.
“Emang aku pikirin, sejak kapan kamu jadi takut sama wali kelas Agam?” jawab temanku dengan gayanya yang santai dan menepuk pundakku.
“bukan gitu, masalahnya ini hari pertama kita naik kelas, setidaknya kita masuk dulu.” ajakanku pada bagas.
“alah…, udah deh jangan lebay, ayo ke kantin, aku punya info baru nih tentang sekolah kita.” Bagas menarikku menuju kantin
“info apaan?” Tanyaku pada Bagasa.
“udah ayoo ke kantin dulu, cerewet amat kamu Gam.”
Kita berdua berjalan menuju kantin. Setelah kita sampai di kantin temanku langsung memesan beberapa makanan.
“heh Gam, kamu mau pesen apa?”
“Apa aja deh yang penting enak”
“Ya sudah, bu kantin, pesen mie goring 2 sama gorengannya ya, tapi gorengannya di pisah, sama minumnya es teh manis 2.”
“Heh Gas, kamu mau ngasih tau info apa?” Tanyaku pada bagas dengan sedikit penasaran.
Dia tertawa, lalu berbisik. “Ada murid baru di kelas, seorang perempuan, tapi dia miskin gam, kamu kan tahu ini sekolah termahal dan terbaik, dia enggak pantes tuh buat ada di sini”
“Kalau dia miskin kenapa dia bisa masuk ke sekolah kita gas?” Tanyaku berlagak bingung.
“Katanya sih dia dapet beasiswa, dia dapet tawaran 2 sekolah, di antaranya sekolah kita dan salah satu sekolah di singapura” Jawabnya sambil mengangkat satu kakinya keatas kursi dan menghadap padaku.
“wih hebat juga itu anak, kenapa dia enggak ngambil yang di singapura yah?”
“Ya… Ga tau juga sih, yang penting kita punya mangsa buat kita bully”
“Bener juga kamu Gas, selain itu kita bisa manfaatin dia jika ada tugas, dia kan pinter tuh”
Bagas tertawa kencang mendengar ideku. “cerdas juga kamu Gam.”
Tidak lama kemudian pesanan datang, lalu kita makan bersama hingga jam pelajaran guru walikelas usai. Setelah makan dan guru wali kelas pun keluar kita segera menuju kelas. Setibanya di kelas, temanku menunjukan siswi baru tersebut. “Nah Gam liat tuh perempuan yang ada di pojok itu, nah yang itu Gam murid baru namanya Adinda”
“Adinda? Yakin? Namanya kok gak sesuai sama mukanya yah?”
Bagas tertawa. “sialan kamu, meski dia kucel, tapi otaknya lebih pintar dari kamu Gam.”
“Sialan, ranking kamu lebih rendah dari aku bagas.”
“hahaha…, ya udah terserah kamu aja, ayo lah.” Ajaknya sambil menarik lenganku.
“ayo ke mana?”
“ya elaaah, kita kerjain tuh orang.” Otak jahat Bagas kambuh.
Aku dan Bagas menyusun rencana untuk menjahili adinda, setelah sepakat dengan rencana yang telah disusun, aku dan bagas bergegas menuju adinda.
“hay, nama kamu Adinda kan? Kenalkan aku Agam.”
“Iyah, senang berkenalan dengan kamu Agam.” Aku mengajaknya bersalaman sambil berdiri, semua orang mengalihkan pandangannya kepadaku dan Adinda. Sementara itu Bagas temanku mendekati kursi yang di duduki oleh Adinda, lalu mengoleskan sedikit lem besi pada kursinya itu. Kemudian setelah berkenalan denganku Adinda langsung menduduki kursinya. Bagas terlihat berusaha menahan ketawanya.
Waktu terus berjalan hingga bel tanda waktu istirahatpun berbunyi, aku langsung mengalihkan penglihatanku pada Adinda untuk menyaksikan Adinda yang terkena perangkap aku dan Bagas. Dan pada akhirnya Adinda berdiri.
“Aduuuh, kok kursinya ada lemnya”
Aku, Bagas dan teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu.
“Hey Gam, kita berhasil juga ngerjain si Adinda itu”
“Hahaha, bener Gas”
Tapi dibalik ku tertawa ada hal yang mengganjal di pikiranku. Adinda tidak marah kepadaku ataupun Bagas, dia malah tersenyum dan mengikatkan jaketnya ke pinggang untuk menutupi bagian celana yang sobek, lalu dia langsung menuju keluar ruangan dengan mengucapkan kalimat ‘assalamualaikum’.
“Hey Gam, apa kamu lihat ekspresinya tadi? Dia hanya tersenyum dan tidak marah pada kita”
Aku diam sejenak dan kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Bagas. “aku tidak tau gas”
“baiklah besok kita akan menjahilinya lebih dari sekarang.” Cakapnya dengan serius.
Waktu terus berjalan hingga bel pulang berbunyi. Aku dan Bagas segera ke parkiran untuk mengambil motor sport masing-masing dan segera pulang kerumah masing-masing. Aku memang berteman dengan Bagas sejak kecil, dan pertemanan itu bermula ketika kedua orang tua kita berteman, meskipun begitu arah rumah kita agak jauh, ketika keluar gerbang sekolah aku mengambil arah kiri sedangkan Bagas mengambil arah kanan.
Lalu esoknya aku dan bagas berencana kembali menjahili Adinda, kali ini rencananya berbeda dengan yang sebelumnya.
“Ayo Gam kita mulai.” Ajak Bagas sambil menatap tajam pada Adinda
“Ayo.”
Aku dan Bagas segera menghampiri Adinda.
“Hay din, aku minta maaf yah atas kejadian kemarin, aku dan Agam tidak bermaksud merobek celanamu, tadinya aku berniat menjahilimu agar kita bisa menjadi teman, iya kan Gam?” Bagas membuka obrolan dengan akrab pada Adinda
“bener Din, maafin kita yah.” Ucapku sambil tersenyum.
Adinda tersenyum lebar kearah kita berdua. “iyah Gas, Gam, enggak usah dipermasalahkan.”
“Ya sudah kalau gitu aku dan Bagas akan meneraktirmu makan ya.. itung-itung buat tanda perminta maafan kita Din, gimana?” Ajakku pada Adinda dengan tersenyum.
“serius? Boleh deh.” Jawab Adinda dengan girang.
Lalu aku, Bagas dan Adinda segera ke kantin, kita berdua memulai menjalankan misi kita.
“Din kamu mau pesan apa?” ucapku sambil tersenyum.
“aku pesen mie ayam aja deh, kalau minumnya terserah kamu aja.” Jawabnya sambil menaruh kedua tangannya di atas meja terlihat tidak sabar menunggu pesanan.
“Kalau kamu apa gas?”
“Apa aja deh.” Jawab bagas sambil mengedipkan mata sebelah dan tersenyum kepadaku.
“Ya udah, Ibu kantin, kita pesen siomay 2, mie ayam 1 dan es jeruknya 3 yah.” Seruku sambil mengacungkan tangan.
Sejauh ini rencana dapat berjalan lancar, dan selanjutnya aku dan Bagas menjalankan rencana berikutnya.
“Eh Din, aku sama Bagas mau ke kantor dulu yah sebentar, mau nyerahin tugas yang kemarin, kita lupa belum mengumpulkan.”
“Oh iyah Gam.”
Sukses, rencana aku dan Bagas membuat Adinda membayar makanan yang dipesan olehku. Setelah itu, kita langsung bergegas menuju kelas dan menunggu Adinda datang.
“Kira-kira sekarang Adinda sedang ngapain yah gas?” Tanyaku pada bagas sambil tertawa.
“Mungkin lagi cuci piring gam di ibu kantin, gara-gara enggak bisa bayar makanannya, dia kan miskin.” Jawab bagas sambil tertawa terbahak.
“Haha… bener juga kamu gas.”
Bel istirahat berakhir pun telah berbunyi, lalu bersamaan dengan itu, Adinda pun memasuki kelas. Jauh dari apa yang diharapkan Adinda kembali tersenyum dan malah menyapa aku dan Bagas.
“hey Gam, Gas, aku sudah membayar pesanan tadi, dikira kamu dan Bagas mau balik lagi ke kantin jadi aku tungguin kalian berdua.” Jawabnya sambil tesenyum.
Aku terdiam dan kebingungan mau menjawab apa. “mmmhhh, maaf yah din hehe.” Jawabku sambil tersipu malu.
Setelah beberapa jam kemudian bel pulang pun berbunyi. Kita pulang ke rumah masing-masing.
Hari-hari selanjutnya aku dan Bagas terus menjahili Adinda tapi tetap saja tidak ada perubahan dalam ekspresi Adinda ketika aku dan Bagas berbuat usil padanya, tidak ada sekalipun kalimat kasar, ekspresi marah, menangis, bahkan menjauhi kita, beberapa minggu hal itu terus saja terjadi sudah banyak rencana yang aku buat untuk menjahili Adinda.
Suatu hari Adinda tidak menampakan wajahnya di sekolah, pikiranku, apa aku berhasil membuatnya marah? Atau aku berhasil membuatnya tidak nyaman di sekolah? Entah mengapa aku merasa sepi, tetapi aku selalu menolak rasa sepiku disebabkan olehnya.
“Hey Gam, kenapa kamu?” Tanya Bagas padaku sambilmenepuk pundak.
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Bagas, tidak tahu kenapa aku memikirkannya.
“Hey AGA…M” Bagas berteriak.
Aku kaget mendengarnya, teriakan Bagas menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh iya Gas, kenapa?
“kamu kenapa Gam, hari ini tidak seperti biasanya?”
“oh enggak Gas, aku cumaa…n” aku tidak punya alasan.
“kenapa kamu?” Bagas memandangku serius.
“enggak kok cuman kepikiran aja motorku belum diservis”
“oooh aku kira terjadi sesuatu.”
Beberapa hari kedepan, sudah 4 hari Adinda tidak ada dalam kelas ini, serasa sepi, aku selalu memerhatikan bangku pojok itu, dimana tempat aku menjahilinya, entah ini rasa berdosaku, rasa kasihanku, atau…
Aku mecoba untuk tidak peduli. Pelajaran hari ini selesai dan akupun bergegas pulang dengan menunggangi motor sportku, dalam perjalanan aku masih memikirkannya, tingkah lakuku kepadanya. Dalam perjalanan pulangku lalu suara handphonku berbunyi. KRI…NG KRI…NG, Di tengah perjalanan aku berhenti dan aku mengangkat handphonkuku, ternyata Ibuku
“Agam sayang, persediaan buah di rumah abis, bisa kamu tolong belikan buah di pasar nak?”
“oh iyah bu, Agam juga lagi dalam perjalanan pulang bu nanti Agam belikan yah bu”
“Terima kasih yah nak” handphonpun dimatikan.
Aku langsung bergegas menuju pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahku, ketika aku berkeliling di pasar, tanpa aku sengaja Adinda berada di depan mataku, dia terlihat sedang tawar menawar dengan seorang pedagang, aku ragu menyapanya, aku takut kalau dia akan marah padaku, lalu aku putuskan untuk pura-pura tidak melihatnya, ketika aku melangkahkan kakiku ke depan ada suara panggilan dari belakang.
“hey Agam” suara Adinda terdengar jelas.
“Eh… Adin..da” jawabku gugup.
“lagi apa kamu di sini gam? belanja?” Jawab Adinda dengan ceria.
Dia tidak marah padaku, hanya senyum yang aku lihat, dan keikhlasannya dalam berkata, dengan berpakaian sederhana, bercelana rok, dan rambut yang diikat.
“I..yah nih Din” Lagi, aku menjawab gugup.
“Mau belanja apa? Mau aku antar? Aku cukup tau daerah pasar ini Gam.”
Lagi-lagi dia tersenyum.
“Boleh Din. Aku mau belanja buah-buahan nih Din. Oh iyah kamu beberapa hari tidak masuk sekolah, kenapa?” Tanyaku serius.
“makasih Gam sudah peduli. Aku cuma ingin istirahat saja, karena kemarin aku sempat sakit.” Jawab Adinda sambil berjalan dan menatap ke depan.
“Loh kenapa kamu tidak kasih surat keterangan dokter Din.”
“Sakitku tidak parah kok, jadi gak usah pergi ke dokter.” jawabnya dengan tersenyum lebar.
“Oh gitu yah.” Jawabku dengan datar.
“Gam aku minta maaf yah.” Adinda bertanya padaku dan berhenti berjalan.
Aku bingung dengan kata-katanya. “M..M..aksudmu ap..a Din?” aku kembali gugup.
“Enggak apa-apa kok Gam.” Jawabnya sambil memulai berjalan kembali.
Aku masih bingung dengan ucapannya, aku yang merasa bersalah kepadanya dengan tingkahku, tetapi dia selalu tersenyum, selalu menyapa seolah-olah aku dan Bagas sahabat terdekatnya, dan sekarang dia berbuat baik kepadaku dengan sedia mengantarku membeli buah, lalu dia malah minta maaf.
“Eh gam kamu mau beli buah kan? Di situ tuh Gam tempatnya.”
“mmmhhh, ya udah ayo ke sana”
Setelah aku membeli buah, aku berniat mengantar Adinda pulang ke rumahnya. “Eh din kamu mau pulang kan? Ayo aku antar kali ini aku janji gak bakal ngerjain kamu.” Ajakku sambil tersenyum.
“Pulang?” dia tersenyum kecil dan menundukan kepalanya
“Kenapa din? Kamu gak mau aku antar?” Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya.
“Enggak kok gam, aku berharap bisa pulang Gam”
“Maksud kamu?”
“Eh enggak, enggak. Kamu pulang duluan aja yah Gam aku masih ada perlu.”
“oke deh Din, terima kasih yah bantuannya, cepet sembuh yah, sampai jumpa di sekolah”
“terimakasih sudah peduli.”
Aku berjalan entah beberapa langkah tapakku ini dari tempatku berpamitan kepada Adinda, lalu setelah itu banyak suara yang aku dengar di belakangku, suara orang panik dan ketakutan. Aku membalikan badanku bermaksud melihat apa yang sedang terjadi di belakangku, ternyata ada seseorang yang tergeletak di sana, aku berlari menghampiri dan berharap itu bukan Adinda. tetapi Harapanku tak terkabul, orang yang tergeletak itu Adinda, aku segera berusaha menolongnya dengan menggendongnya, aku berlari menuju jalan raya mencari bantuan kendaraan, Syukurlah ada orang yang berbaik hati bersedia menolong Adinda, aku langsung menuju rumah sakit.
Setibaku di rumah sakit Adinda langsung diarahkan ke ruangan Instalasi gawat darurat/IGD. Aku panik, aku tidak tau harus bagaimana, aku mencoba menghubungi sahabatku bagas, tetapi tidak ada respon, tidak tau mengapa aku merasa takut. setelah beberapa menit perawatan, terlihat di jendela pintu Adinda masih dipakaikan dengan peralatan medis, tidak ada seorangpun yang menemaniku di rumah sakit. Lalu aku berfikir, aku harus kembali ke pasar dan bertanya mengenai alamat keluarganya, aku berfikir barang kali ada yang mengetahuinya. Dengan menaiki kendaraan umum, aku segera bergegas menuju Pasar tempat kami berdua berbelanja.
Setibanyaku di pasar aku beberapa kali bertanya mengenai keluarga Adinda, tetapi tidak seorangpun yang mengetahuinya, aku kembali berkeliling, lalu ada seorang bapak-bapak memiliki usia sekitar 50an yang berjualan sayuran mengetahui tentang Adinda.
“Pak, apa Bapak tahu keluarga dari Adinda yang tadi jatuh pingsan di depan sana?” Tanyaku berbaur kepanikan.
“Oh, iyah saya tau de.”
“Lalu Bapak tahu rumahnya di mana?”
“tahu dek.”
“bisa Bapak tunjukan alamatnya?”
“Adinda tinggal di sini nak, di samping tempat kakek berjualan.”
“apa…? Lalu di mana keluarganya pak?”
“Dia hidup sendiri di sini de, menurut orang-orang yang sudah lama berjualan di sini sejak kecil dia tinggal di sini tanpa orangtua, dia ditinggal mati oleh kedua orangtuanya akibat kecelakaan besar yang menimpanya di kendaraan pribadi, dia ditinggal orangtuanya dari umur tujuh tahun, tanpa ada sodara dan tanpa ada orang yang sedia memungutnya, dia di sini menjadi kuli panggul untuk memenuhi kebutuhannya dan biaya sekolahnya, tetapi semenjak SMP dia mendapatkan biaya oprasional dari pemerintah untuk biaya sekolahnya.”
“apa? Terimakasih pak informasinya.” mendengar kisah itu, aku sudah mengetahui bahwa dia tidak memiliki keluarga.
Aku kembali ke rumah sakit, kali ini aku membawa motor sportku. Setibaku dirumah sakit, Salah satu dokter keluar dari ruangan Adinda.
“Anda sodara Agam?”
“iyah pak”
“sodari Adinda ingin menemui anda.” Aku segera bergegas masuk kedalam ruangan.
“hay Adinda” dia membalas sapaanku dengan senyuman kecil sambil sedikit meringik kesakitan.
“Bagaimana keadaanmu Din?” aku kembali menyapa, tetapi dia kembali tersenyum.
“apa yang ingin kamu katakan din?”
“Hay A..A..gam”
“hay Din”
“ka..u tau gam? Kali ini aku bahagia”
“kenapa Din?”
“Aku gadis yang memiliki penyakit Gam, menurut dokter aku memiliki penyakit kanker hati ketika aku diperiksa dulu, lalu sekarang aku sudah berada di stadium 4” Ucapnya dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.
“lalu apa maksudmu bahagia Din?”
“ka..mu tahu Gam? Ketika kamu tertawa dengan Bagas saat pertama kita bertemu? Ketika kamu menjahiliku dengan menaruh lem dikursiku? Sehingga celanaku sobek, itu celana berhargaku Gam, itu hasil jerih payahku untuk mempunyai celana itu, tetapi aku senang sekali ketika kau dan Bagas berkata bahwa itu tanda persahabatan kita. Kau tahu Gam? Ketika kamu meninggalkanku di kantin dan aku membayar semua makanan yang kita pesan? Itu jatah makanku selama dua hari Gam, tetapi aku bahagia karena aku dapat merasakan bagaimana menjadi fakir miskin, bagaimana rasanya tidak makan selama dua hari. Kau tahu Gam? Ketika kamu dan bagas menyuruhku mengerjakan tugas? Itu membuatku tidak bekerja selama satu hari, artinya aku kehilangan jatah makanku dan jatah ongkosku untuk pergi ke sekolah, tapi aku bahagia gam dapat merasakan berjalan di pagi hari sejauh 10 km dalam kondisi kelaparan. Dan yang paling membuatku bahagia adalah, kali ini kamu menolongku, tersenyum ikhlas padaku dan kamu sangat peduli kepadaku.”
Aku tidak bisa membendung lagi rasa sedihku, penyesalanku, aku menangis dengan menutup mataku dengan tanganku, aku merasa malu, aku merasa bahwa aku sangat bersalah. “Din maafkan aku dengan Bagas, aku tahu tingkahku keterlaluan, dan…”
Adinda memotong perkataanku. “Sudah aku bilang bahwa aku bahagia gam, tidak perlu kau meminta maaf. Aku bahagia gam, aku dilahirkan tanpa orangtua ketika aku berumur tujuh tahun, kau tahu? Itu sebuah tanggung jawabku, Allah memberikanku tanggung jawab yang sangat berat, tetapi dibalik itu bahwa Allah mempercayaiku, dia yakin bahwa aku bisa. Aku selalu berusaha untuk tersenyum Gam, aku tidak bisa mengingat senyuman orang tuaku, maka dari itu aku sangat bahagia ketika melihat orang di sekitarku tersenyum, aku selalu senang dengan kesenangan mereka, bukankah itu adil untuk orang sepertiku yang memiliki umur singkat? Aku merasa bahwa ini adalah akhirku Gam, aku rasa bahwa tugasku untuk melihat wajah senyuman orang-orang di sekitarku telah usai. Agam, ruangan ini tidak ada manusia lain selain kita, maukah kau menolongku?”
“apa yang bisa aku bantu Din?”
“bacakan 2 kalimat syahadat di dekat kupingku, aku ingin mendengarnya, aku ingin mengikutinya, aku ingin pulang dengan damai, iringi kepergianku dengan kalimat surga itu gam, bantu aku gam”
Aku sangat kaget dengan ucapannya, aku tidak bisa berkata apapun “T… te.. te.. te..tapi Din, a… aku…”
“Agam, bantu aku” Adinda menjawab sambil tersenyum.
Aku ragu akan diriku, aku tidak menyangka. “a…ku tidak bisa Din”
“A…gam, mo…hon b..b..antu aku” dia memandangku dengan tersenyum dan nafas yang tersendak.
Aku menangis dan mulutku medekati kupingnya “ikuti aku Din, asyadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah”
Aku seperti merasakan rasa sakitnya, aku juga merasakan diamasih tersenyum, aku membacakan dua kalimat syahadat di dekat kupingnya secara terus menerus, dia masih mengikutiku dengan lancar, hingga beberapa menit telah berlalu syahadatnya terbata-bata hanya terdengar ujung dari kalimat syahadat itu. Airmataku menetes, tidak percaya, aku baru saja melihat malaikat penyadarku dalam hidup, kini dia harus pergi lagi. Hanya sekian detik dari ucapan terbata-batanya ruangan menjadi sunyi, tidak ada lagi suaranya, aku tidak percaya, itu tidak mungkin kan? Hatiku berkata seperti itu dan selalu begitu. Lalu aku berhenti membaca syahadat dan melihat wajah dari adinda. “din? Dinda? Adinda? Bangun Din, Din? Kamu masih sadar kan Din? Adinda”. Tak ada jawaban aku pikir dia tertidur.
Lalu aku menyapanya lagi. “Din? Sadar Din? Din, maafkan aku Din, DIN?”. aku benar-benar tidak percaya. Air mataku keluar dadaku serasa sesak tidak kuat menahan ketidak percayaan ini, mataku serasa berkunang lalu aku tidak sadar diri, gelap, gelap, gelap.
”Agam? Sadar gam? Ini aku Adinda.” Aku bangun dan Adinda tidak ada di hadapanku, ternyata hanya bayanganku saja. aku berada di kamar rumah sakit. “Apa ini? Apa yang terjadi? Adinda di mana? Adinda? Adinda?” aku berteriak histeris, lalu keluargaku berdatangan dan menenangkan. Lalu ibuku menenangkanku “Sabar nak, ikhlaskan, setiap mahluk yang bernyawa akan kembali kepada penciptanya.”
Aku menangis duduk dengan penuh rasa tidak percaya, selama hidupku tidak pernah aku merasakan kehilangan sepedih ini. Lalu aku sadar, lalu aku meminta ibuku untuk membawa jenazah Adinda ke rumah dan menyemayamkannya di pemakaman dekat rumahku.
Setibanya aku di rumah Adinda langsung disemayamkan, semua orang berdoa untuknya tak terkecuali teman sekelasku, Bagas dan yang lainnya.
“Gam, aku merasa berdosa pada Adinda, apa aku dimaafkan olehnya?” Bagas berkata padaku dengat raut muka sedih.
“dia selalu berkata bahwa dia bahagia gas.” Jawabku sambil tersenyum.
“Apa itu artinya aku dimaafkan?”
“Dia memiliki hati bersih dalam dirinya, senyumnya adalah berkah untuk kita Gas, dia akan selalu memaafkanmu.” Bagas menangis.
30 menit berlalu, orang-orang mulai meninggalkan pemakaman, hanya aku dan Bagas yang tersisa. “Gam, ayo kita pulang”
“iyah Gas, tapi aku mau di sini dulu, setidaknya langkah kakiku adalah langkah terakhir yang di dengar olehnya”
“kalau begitu, aku pulang dulu yah Gam”
“iyah Gas.”
Aku kembali mengarahkan wajahku dan pandanganku ke makam Adinda, aku menatapnya “Din, kamu tau Din? surgaku adalah ketika kamu tersenyum, hanya saja aku menyadarinya ketika kau sudah kembali dalam pelukannya, kamu tau Din? saat kamu tersenyum itu adalah cahaya hidupku tapi saat ini kau tidak ada di sampingku, tetapi kau berada di samping sang penguasa, sang pencipta, kau lebih nyaman di sana kan? Aku akan mengingatmu, selalu mengingatmu, aku akan mendoakanmu, selalu mendoakanmu. Terimakasih atas hari-harimu yang membuatku tersadar, terimakasih atas segalanya, dan keinginanmu untuk membuat orang-orang disampingmu tersenyum akan aku lanjutkan dan membuat bagian hidupmu berada dalam diriku, selamat tinggal Din, sampai bertemu dalam kehidupan selanjutnya, assalamu’alaikum.”
WHEN YOU SMILE, THERE IS LITTLE HAPPINES IN YOUR SELF AND OTHER
the end 💕💕