Pagi ini Dinda sudah pergi keSekolah, dinda di antar sopirnya pak Diding, Sekolah belum cukup ramai, Dinda menyusuri lorong menuju kelasnya.
Dinda masuk kelas, ternyata dikelas masih sepi hanya ada beberapa teman kelasnya yang datang. Dinda menuju mejanya yang tepat nomor 02 dari depan, ketika ia sedang duduk, dan memasukan tasnya Dinda tak sengajaja menyenggol kotak berwarna putih yang berada dilacinya, kotak itu terjatuh, Dinda terkejut dan mengambilnya, terlihat sebuah kertas yang terjatuh dalam kotak putih itu.
~ Punya siapa ini, kok ada di laciku~ pikirnya.
Dengan ragu-ragu Dinda membukanya dan membacanya.
Untuk Dinda
Hariku Selalu berwarna
Karena akan ditemani oleh Angin.
Walau tak telihat tapi nyata.
Membuat raga ini seakan tak ingin pergi
Kala angin itu datang menghampiriku
Memberi kesejukan hati
Entah saat gundah, entah saat hati bahagia.
Dia selalu menemani.
Walau tak dapat ku peluk, namun bisa aku rasakan
Walau terkadang ia pergi begitu aja
Tapi aku yakin ia akan selalu temani ku
Ia tak alan biarkan aku sendiri
Aku berharap akan selalu merasakan
Selama nafas ini ada selama raga ini ada.
♡
SG
~ SG-, siapa dia~ tanyanya dalam hati
Dari kejauhan terlihat seorang tersenyum melihat Dinda, karena sudah membaca suratnya yang berisi puisinya.
Dinda lalu menyimpan kotak yang berisi puisi itu,
Dinda keluar kelas dan memasang handsetnya dan memdengarkan puisi di acara radio sekolahnya.
Dan kemudian sahabatnya Abel datang menemuinya mengajaknya untuk masuk kekelas karena tidak ingin sahabatnya duduk sendiri di samping kelas sendiri.
" Ayo masuk" kata Abel dan dianggukin oleh Dinda.
***
Dinda saat ini sudah berada dimobil, karena pak Diding tak pernah telat menjemputnya.
" Non.. tadi ada pemuda yang memberikan surat ini untuk non Dinda" kata pak Diding menyerahkan sebuah kotak dengan warna sama Dinda tersenyum.
" Terima kasih pak" kata Dinda, Dinda lalu membukanya.
Untuk Dinda
Kalau matahari mengizinkan
Aku ingin menjadi malaikatnya
Walau dari kejauhan
Aku takut jika mendekat
Akan menyakitimu
Aku tau aku hanya seorang pengecut
yang tak beranikan tampakan wajahku
♡ SG
Dinda melipatnya dan memadukan ke kotaknya lagi,
Dinda melihat arah jalan, yang macet karena jam makan siang.
Sesampainya dirumah Dinda masuk ke kamarnya, membantingkan badannya ke kasur empuknya.
~ Siapa pemuda itu yang kirimkan ku puisi hari ini, apa aku mengenalnya~ pikirnya.
Dinda baru pejamkan mata, bik Sari memanggilnya untuk makan siang.
" Non ditunggu tuan dan nyonya dimeja makan"
" Iya bik, Dinda segera turun" ucapnya.
Setelah mengganti pakaian Dinda turun menemui mama dan papanya.mereka makan bersama
***
Esok harinya Dinda seperti biasanya pergi diantar oleh pak Diding kesekolah, anehnya hari ini ia dapat kotak putih itu kembali berisi kertas.
Untuk Dinda
Pagi ini akan selalu cerah
Secerah senyummu
Seindah wajahmu
Aku bahagia
Sku akan menjagamu selalu
Bidadari ku
♡SG
~ Dia lagi~ ucapnya dan melipst kertas itu kembali dalam kotak putihnya.
" Hai.. Din, lo gak papa?" tanya Abel.
" Aku gak papa" kata Dinda dan memberi senyuman indahnya.
Bel istirahat pun berbunyi, Dinda dan Abel pergi kekantin, seperti biasa memesan makan dan minum.
dikantin ternyata ada adek kelas yang menghampirinya dan memberi kotak putih lagi.
Aku ingin kamu jadi tulang rusuk
Yang ku rasa hilang
Ku yakin dirimulah jodohku
Tunggulah aku Dinda
Semoga angin selalu berpihak kepadaku
Agar selalu temani ku setiap saat.
♡ SG
" Ya allah romantis bener nih cowok"
" Biasa aja"
" Abiskan makan kamu Bel, keburu bel masuk" kata Dinda.
Abel mendengus kesal. dan memasukan sesendok siomay ke mulutnya.
***
Hari ini libur Dinda malas-malasan sudah jam 10.00, tapi Dinda masih saja dikamarnya.
" Non.. ada tamu untuk non"
" Siapa bik?"
" Bibik gak tau non siapa namanya katanya itu teman non"
" Baiklah bik terima kasih."
Dinda bersiap dan lalu turun menemui temannya yang dikiranya Abel, ternyata pemuda tampan yang tidak ia kenali.
" Hai angin ku"
" A-angin-,
" Seperti janjiku aku akan datang menemui mu dan melamarmu"
" Aku SG..yang selalu mengirimkan puisi untuk mu berapa hari."
" siapa itu SG.."
" Aku Saga Gunawan, apa kamu ingat nama itu?"
" Sa-ga-, saga ku " kata Dinda yang mulai menitikan air matanya.
" kenapa kamu tidak langsung menemuiku"
" ini kejutan sayang"
" Kamu tau aku begitu merindukanmu" Dinda lalu memeluk Saga.
Sebenarnya saga sudah berada disekolahnya selama tiga minggu tapi Dinda tidak menyadarinya.
karena merasa Saga masih berada di London, dan selama itu ia tak ada kabar sama sekali, kegalaunya teramat kala Dinda mendengar ia tidak ingin menemuinya ternyata itu hanya prank untuk Dinda.
" Jangan tinggalin aku lagi"
" Pasti"
Mereka berpelukan kembali, saga bercerita selalu merinduinya hanya lewat puisi-puisi itu untuk menghilangkan Rindu berat danmelihat dari kejauhan. Tapi kini Saga tidak akan meninggalkan Dinda ia akan selalu besama Dinda.
=====TAMAT====