Happy reading ini cerpen pertama ku semoga suka🙏🙏
“Ih, hampir aja aku satu kelompok sama Arka. Kalau aja pak Guntur enggak ganti anggota kelompok, aku pasti udah bareng Arka.”
“Iya, ya. Sania beruntung bisa sekelompok sama Arka. Udah ganteng, otaknya encer, anak orang kaya lagi. Kayaknya, cowok sempurna di kampus kita, ya, cuman dia.”
Sania hanya bisa mengedikkan bahu geli karena tak sengaja mendengar percakapan dua teman sekelasnya itu. Gadis dengan rambut sebahu ini langsung menuju bangku dan berpura-pura tak mendengar apa pun.
Beruntung kata mereka? Sania beruntung karena satu kelompok dengan Arka? Mereka salah besar. Sania malah merasa sebaliknya. Sial.
Arka Arvana. Cowok paling beken di Universitas Bintang Biru. Wajahnya tampan, mirip Cha Eun Woo, tetapi versi garang. Kata mereka, bukan kata Sania.
Tubuhnya jangkung, tidak kurus. Namun, tidak terlalu berotot. Pelukable. Kata gadis-gadis di kelasnya, bukan Sania.
Adik tingkat selalu mengekorinya ke mana-mana. Setelah semua kesempurnaan fisik, Arka juga punya otak yang encer. Perempuan-perempuan itu sengaja menggunakan alasan tugas untuk bisa dekat. Laki-laki genius. Untuk yang ini, Sania setuju.
Lantas, Sania beruntung karena sudah satu kelompok dengan Arka? Jawabannya masih tidak.
Arka itu suka membeda-bedakan orang, apalagi perempuan. Dia hanya akan bersikap baik pada gadis-gadis cantik. Selalu memberikan tumpangan pada mereka yang memiliki bentuk tubuh bagus. Bersedia jadi tutor dadakan untuk perempuan yang parasnya serupa aktris Korea.
Laki-laki itu akan jadi malaikat bagi perempuan cantik, dan jadi iblis pada mereka yang dianggap tidak cantik.
Sania tidak asal tuduh. Dia melihat bagaimana Arka sengaja mengabaikan panggilan Gina dua hari lalu. Karena apa? Karena tidak memenuhi kriteria gadis idaman. Berkulit putih. Sinting.
Bukan hanya itu, seminggu lalu. Saat Junia beniat membantu Arka mengumpulkan buku-buku yang jatuh di perpustakaan. Dengan tatapan merendahkan, laki-laki itu menyuruh Junia pergi. Menjauh. Katanya, dia bisa ketularan minus jika terus melihat kaca mata yang dipakai gadis itu. Pantas ditendang ke Mars.
Sejak awal kuliah selalu menjaga jarak dengan Arka, Sania serasa mendapat sial karena harus satu kelompok untu tugas Evaluasi Hasil Belajar.
Seperti yang bisa ditebak, Arka membuat tugas kelompok mereka terancam gagal total. Malapetaka bagi Sania karena nilan tugas ini akan sangat memengaruhi nilai akhir. Entah mimpi apa hingga dia harus mengalami kesialan ini. Belum lagi, anggota setiap kelompok hanya dua orang. Tamat sudah riwayat Sania. Tahun ini, koleksi nilai C-nya pasti akan bertambah.
“Aku enggak mau diskusi sama kamu. Kamu sama sekali enggak enak dipandang.”
Sania hampir menjatuhkan rahang saat mendengar kalimat itu dilontarkan Arka. Sangat tidak terpuji dan sangat tidak masuk akal. Rasa benci si gadis semakin bertambah.
Laki-laki itu hanya menilai seseorang dari cantik atau tidaknya.
Menurut Sania, dirinya bukannya tidak cantik. Perlu semua orang ketahui, semua perempuan di bumi ini cantik. Yang membedakan hanyalah dirawat dan kurang dirawat. Dan Sania masuk ke kategori yang kurang diurus.
Sania sengaja memotong rambutnya menjadi sebahu, agar tidak butuh waktu lama untuk keramas dan juga bersisir. Perawatan wajah semacam cuci muka dengan facial wash, pakai bedak yang ada uv protectionnya saat pergi keluar rumah, memakai pelembab agar kulit wajah tidak kering, semua itu tak pernah ia lakukan. Mana Sania ada waktu.
Setiap hari, dari pagi hingga pukul lima sore, kuliah. Di jam-jam kosong, ia pasti gunakan untuk mengerjakan tugas yang jumlahnya tidak sedikit. Dan, kalau pun ada waktu libur, Sania perlu menghabiskannya untuk tidur yang banyak. Mana ada waktu untuk memikirkan kesehatan kulit wajah.
Kesimpulannya, Sania tak suka pada Arka. Ia tak suka melihat apalagi bicara pada laki-laki sombong itu. Tapi demi tugas, mau tak mau Sania pun harus mengorbankan perasaan. Deadline tugas itu tinggal 3 hari lagi. Maka dengan tangan terkepal, Sania pun mendatangi meja Arka hari ini.
“Arka, kapan kita sekolah untuk tugas EHB?” Sania membuat suaranya seramah mungkin.
Yang diajaka bicara menghentikan obrolan dengan Mario. Ia lantas melempar tatapan tidak suka pada gadis yang bersuara tadi.
“Tugasnya enggak dikumpul sekarang. Masih tiga hari lagi. Memangnya, tugas kita cuman EHB? Aku juga punya tugas kelompok yang lain.”
Sania mengeraskan rahang, kemudian mengembuskan napas berat. Pria satu ini memang sudah tak tertolong. Bilang saja tidak mau mengerjakan karena ber-patner dengan Sania.
“Gini aja, biar kita sama-sama enggak susah, kita bagi-bagi aja tugasnya. Satu orang ke sekolah untuk nyebar soal, satu orang lagi yang ngolah datanya.” Sania rasa ini jalan keluar paling baik yang otaknya bisa pikirkan.
Laki-laki tadi menatap Sania tajam. “Aku enggak mau ke sekolah,” katanya dengan penuh penekanan di setiap suku kata.
“Kalau gitu, biar aku yang ke sekolah. Kamu yang ngolah da-“
“Laptopku dipinjam kakakku.” Arka memotong ucapan Sania lalu tersenyum puas.
Si gadis membalas senyuman Arka. Sudah ia duga, laki-laki itu memang kurang ajar.
Menarik napas, Sania kemudian berkata, “Kasihan sekali ragamu itu, Arka. Kalau saja dia bisa meminta, ia pasti sudah memohon agar jiwamu yang buruk nan gelap itu dikeluarkan darinya.”
Tanpa menunggu lagi, Sania langsung pergi dari sana. Kebetulan kelas sudah selesai dan ia masih punya waktu untuk ke sekolah. Tak perlu Arka, ia bisa mengerjakan tugas itu sendiri.
***
Pukul lima sore, Arka keluar dari kamar. Ia menapaki tangga menuju kamar Juan di lantai dua. Hendak mengambil laptop yang ia simpan di sana sejak kemarin. Bukan dipinjam, terakhir kali ia memang menggunakan benda itu di kamar kakaknya.
“Kak Juan, Arka masuk ya? Mau ambil laptop,” kata Arka sembari mengetuk pintu kamar Juan.
Si pemilik kamar yang sedang memandangi ponsel segera berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
“Ngapain, Kak?” tanya Arka sambil berjalan menuju meja belajar yang ada di sudut ruangan.
Juan tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya lagi dan membuka file foto yang sejak tadi dipandang-pandangi. “Arka. Menurut kamu, cewek cantik itu yang kek gimana, sih?”
Juan memasukkan ponsel ke saku lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Arka yang mendengar pertanyaan itu langsung berbalik. Ini hal langka. Seorang Juan Christopher, yang hobinya baca buku, yang katanya mau jadi guru terbaik tahun ini, bertanya soal gadis cantik? Tumben sekali.
“Kenapa tanya kek gitu, Kak?” Arka bersandar pada meja. Urusan laptop nanti saja.
“Mau tahu aja,” kata Juan santai.
“Kalau menurutku, cewek cantik itu yang rambutnya panjang. Yang kulitnya putih, pandai make up, dan yang paling penting badannya bagus.”
Si kakak melongo mendengar jawaban adiknya. Setelah bisa menguasai diri, pria itu melmeparkan guling pada Arka.
“Siapa yang ngajarin mikir kek gitu, Arka? Definisi cantikmu itu mirip kriteria om-om cari ABG.” Juan bergidik ngeri.
Berhasil menangkap bantal tadi, Arka tertawa. “Beda, sih, kalau ngomong sama guru. Bawaannya ke jalan yang benar terus. Nggak seru.” Dia mengambil laptop dari meja. “Arka aja ya, Kak. Di kelas, kalau ceweknya enggak cantik, enggak bakal Arka sapa, apalagi ajak ngomong. Standar Arka tinggi. Harusnya, Kakak yang udah punya kerjaan gini punya standar yang lebih tinggi lagi.”
“Enggak boleh gitu, Arka. Kamu enggak boleh beda-bedain orang kayak gitu. Itu salah.” Juan menasehati adiknya.
“Biarin.” Arka melenggang pergi.
Menuruni tangga dengan santai sambil menatapi gawai, sebuah pesan datang. Dari salah satu teman kampus. Seorang gadis cantik. Wajah Arka semringah. Hendak membalas, langkah kaki aki-laki itu meleset menapak di anak tangga. Alhasil, dia jatuh dan berguling hingga ke bawah.
“Aduh. Setan,” ringis Arka sambil memegangi pinggangnya. Saat ia benar-benar sudah berdiri tegak, ia menoleh ke kiri dan mendapati laptopnya sudah terbelah jadi dua. “Ah, kenapa aku jadi sial begini?!”
***
Esok paginya, Sania datang ke kampus dengan senyum mengembang. Tugas EHB-nya selesai. Meski tidak tahu akan dapat nilai berapa, yang pasti Sania bangga bisa menyelesaikannya tepat waktu. Subuh tadi.
Baru satu menit duduk di bangku, Arka mendatanginya.
“Tugas kita gimana?” tanya pria itu.
“Tugas apa?” balas Sania santai.
Gadis itu mengeluarkan sebuah makalah dari tasnya. Di halaman depan makalah tertulis Analisis Butir Soal, disusun oleh Sania Fradella.
Melihat itu, Arka langsung marah. Tidak ada namanya di sana. “Kenapa namaku enggak ada?”
Sania menggeleng. Julukan otak encer yang sempat ia berikan pada Arka harus segra dicabut. Untuk apa wajah bagus, tetapi tidak berkarakter?
“Ini tugasku, Arka. Aku yang ngerjain. Kan enggak mungkin namamu kutulis sementara kamu enggak ikut menyumbang tenaga apa pun? Aku bukan malaikat tak bersayap.” Sania sama sekali tak menaikkan nada suaranya. Ia bicara sangat santai.
Cara sania menjawab malah membuat otot rahang Arka mengeras. “Kita satu kelompok untuk tugas itu. Aku enggak bisa ikut mengerjakannya karena punya tugas lain yang ha-“
“Memangnya, yang kuliah cuman dirimu? Aku juga. Tugas mata kuliah yang lain? Hell, kita sekelas. Aku juga punya. Yang jadi masalah di sini bukan punya waktu atau enggak. Tapi, mau atau tidak. Dan apa? Alasanmu tak mau berdiskusi denganku soal tugas kita hanya karena tampangku tak sesuai standar matamu.” Sania tertawa mengejek.
“Wow, siapa yang pantas kusalahkan akan mindset-mu ini, Arka?” Gadis itu berdiri sambil mengeluarkan selembar kertas dari tasnya.
“Mungkin, wajahku ini memang enggak sesuai dengan standarmu. Tapi, kamu perlu sadar satu hal. Mulai hari ini kamu juga enggak masuk kategori manusia di mataku.” Sania menyerahkan kertas tadi pada Arka.
Itu cover makalah cadangan yang memang sudah Sania siapkan. Sudah ada nama Arka di sana. “Pergi ke tempat foto copy dan ganti covernya. Jilid ulang ya. Jangan sampai rusak. Yang enggak berharga untukmu, belum tentu enggak bernilai bagi orang lain.”
Setelah puas mengatai Arka, Sania keluar dari kelas. Ia harus ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia mengantuk.
Di tempatnya, menatap Sania yang meninggalkan kelas dengan perasaan campur aduk. Malu, marah dan serasa ditampar. Baru kali ini ada yang berani berkata kasar seperti itu padanya.
Tanpa sadar, Arka duduk di bangku Sania. Ia memandangi makalah yang gadis sudah buat dan juga cover pengganti yang saat ini ada ditangannya. Kemelut aneh mendatangi pikiran Arka.
Otak Arka bilang, tidak masalah segera pergi ke tempat foto copy dan mengganti cover tugas itu. Tapi, hatinya bilang, itu sebuah perbuatan yang menjijikan. Laki-laki itu tidak tahu sejak kapan hati nuraninya ikut andil dalam membuat keputusan.
Kembali ke kelas, Sania mengernyit bingung ketika Arka masih di sana. Baru saja ia ingin mengusir laki-laki itu, dosen mereka sudah masuk.
“Tugas kelompoknya bisa dikumpul sekarang,” kata Pak Guntur dari depan kelas.
Sania langsung melirik pada makalah di tangan Arka kemudian menyatukan kedua alis. Sampul depan tugas itu belum diganti. Dasar Arka! Apa tugas sesederhana itu saja tak mau ia kerjakan?
Sambil menggigit bibir, Sania mengangkat tangan.
“Maaf, Pak. Saya boleh permisi sebentar? Tugas kelompok kami belum dijilid," katanya.
Suara Sania menyadarkan Arka. Sadar sebenar-benarnya. Hidupnya selama ini ada di rute yang salah. Bukan perbuatan baik jika harus membeda-bedakan orang hanya dari ukuran fisik, yang sebenarnya kita buat sendiri. Memalukan.
Laki-laki itu berdiri, diambilnya tugas mereka lalu berjalan menuju meja sang dosen. “Maaf, Pak. Tapi bolehkah tugas kami dikumpul dua hari lagi? Tugas ini sudah selesai, Pak. Tapi yang mengerjakan seluruhnya adalah Sania. Karena itu, saya mo-“
“Kamu kira kita sedang syuting drama tentang arti kehidupan Arka?” tanya si dosen memotong.
“Hidup ini bagai panggung sandiwara, Pak. Karena itu saya mohon Bapak sudih memberi saya kesempatan. Orang yang ingin mengubah perilaku harus diberi kesempatan, Pak.”
Satu kelas tertawa mendengar ucapan Arka barusan. Sudah di situasi genting sekali pun, laki-laki itu masih sempat-sempatnya bercanda.
“Saya akan beri kalian tambahan waktu dua hari. Tapi, nilai tertinggi yang kalian bisa dapat hanya B. Apa Sania rela tugasnya yang bisa saja dapat A malah terancam dapat B?” Si dosen melirik pada Sania. Sudah belasan tahun ia mengajar. Masalah seperti ini memang kerap kali ia temukan.
Sania yang jadi pusat perhatian seluruh kelas mendengkus kesal. Mungkin, kehadiran Arka dalam hidupnya memang hanya untuk mempersulit saja.
Sementara itu, Arka tidak berani menatap Sania. Ia menghadap depan dan menundukkan kepala dalam.
“Saya setuju tugas kami dikumpul dua hari lagi, Pak,” kata Sania dengan yakin.
Arka mengulum senyum. Mendadak jantungnya berdegup kencang.
Kala itu, Sania sangat yakin akan keputusannya menarik kembali tugas EHB. Tetapi, hari ini, setelah melihat huruf C besar di kolom nilai, Sania menyesal.
Gadis itu tak bisa menahan diri. Lelehan bening itu meluncur begitu saja dari ujung matanya. Mengapa ia menyesal? Dia sudah mengambil keputusan yang benar dulu. Mengapa harus disesali.
Dan juga, mengapa kali ini Sania ingin menyalahkan Arka? Semua ini memang salah pria itu ‘kan?
Kalau saja dia tak bertingkah, pasti mereka akan dapat nilai A. Dasar laki-laki gila waniat cantik. Mulai saat ini Sania berjanji. Ia tidak akan sudih lagi berurusan dengan Arka.
***
Kembali masuk kuliah dua bulan kemudian, Sani benar-benar menghindari Arka. Gadis itu akan berbelok dan mengganti arah saat mereka akan berpapasan. Jika kebetulan diatur ada di kelompok yang sama, Sania akan memohon pada teman sekelas untuk menggantikan dirinya.
Tetapi, seolah dunia memang senang bercanda, akhir-akhir ini Arka selalu berusaha mendekatinya. Bukannya besar kepala, Sania sendiri yang mendengar laki-laki itu memohon pada salah satu teman sekelas agar mau bertukar kelompok.
Sania tak tahu apa maksudnya, ia juga tidak peduli. Yang jelas, satu semester ini ia berhasil menjauhkan Arka dari hidupnya.
“Sania!” teriak Arka saat ia melihat Sania sedang berjalan melewati mading.
Sampai di depan gadis itu, Arka lagi-lagi dilempari tatapan tidak suka. Hal begini memang sudah terjadi enam bulan ini. Seja tragedy tugas EHB, Sania memang seolah menjauhhinya.
Arka sadar dan dia bisa mengerti. Gara-gara dirinya, gadis itu mendapat nillai C. Karenanya, ia menerima perlakuan tadi dengan pasrah. Meski hatinya sakit.
Sejak kejadian hari itu, Arka benar-benar sadar bahwa selama ini ia salah. Tak semuanya harus dilihat dari cantik atau tidaknya seseorang. Perlahan, Arka pun berubah. Ia tak lagi membeda-bedakan orang. Semua karena Sania. Ibarat sedang terkena karma, Arka jatuh cinta pada Sania.
Gadis itu cantik. Luar dan dalam.
“Kamu PPLT di mana?” tanya Arka.
“Di SMK Padi Raya,” jawab Sania sambil menunduk. Ia sama sekali tak mau melihat wajah Arka. Gadis itu sudah memaafkan Arka, tapi tetap saja melihat wajah pria itu masih begitu sulit.
Arka menjatuhkan bahu. Ia dan Sania tidak satu sekolah. “Semangat ya, PPLnya.” Arka menunjukkan senyum terbaiknya pada Sania.
Sania mendongak dan ingin rasanya ia rontokkan semua gigi Arka. Bisa-bisanya pria itu tersenyum. “Iya, Arka. Kamu juga.” Meski tidak tulus, Sania tetap mengatakan itu pada Arka. Ia pun kemudian pergi.
***
Beberapa minggu kemudian, saat Arka pulang ke rumah, ia menemukan ibu, ayah dan kakaknya Juan di ruang tamu. Mereka sedang mengobrol tentang Juan. Setelah menyapa ayah dan ibunya, Arka pun ikut duduk di sana.
Lima menit mendengar orang tua dan kakaknya bertukar suara, Arka pun paham inti pembicaraan itu soal apa. Desakan agar Juan segera menikah, atau paling tidak membawa seorang pacar ke rumah. Itu wajar, usia Juan sudah menginjak 25 tahun sekarang. Jadi, wajar jika orang tua mereka menuntut calon menantu dari si sulung Juan.
“Permisi, Arka boleh ikut bicara enggak?” Arka mengisi keheningan yang muncul tiba-tiba. Setelah melihat ibunya mengangguk, Arka pun berucap,” Kak Juan, Kakak lurus, ‘kan?”
Juan melempar si adik dengan bantal sofa.
Si adik tertawa. "Maaf, Kak. Penasaran.” Arka membetulkan posisi duduk. “Kakak punya pacar? Atau paling tidak, cewek yang disukai gitu?” Arka hanya ingin mencari jalan tengah, makanya ia bertanya demikian.
“Ada satu gadis yang kusuka.” Juan merasa sudah waktunya ia memberitahu keluarganya. Setidaknya, kekhawatiran ibunya bisa berkurang dan ia tak akan didesak lagi.
Arka berdiri. “Kalau gitu, masalahnya selesai. Kak Juan punya cewek incaran. Itu artinya enggak lama lagi dia bakal punya pacar. Beres, kan, Bu?”
Sang ibu menatap selidik pada anaknya. Ia perlu memastikan dua kakak-beradik itu tidak sedang mengerjainya.
“Juan enggak bohong, Bu. Satu tahun lalu, Juan ketemu dia. Dan akhir-akhir ini Juan udah mulai kenalan. Juan udah tahu namanya, rumahnya di mana. Dia masih kuliah, masih PPL tahun ini. Jadi, kemungkinan Juan ngajak dia tunangan tahun depan.”
Satu menit setelah Juan berkata demikian, kedua orang tuanya tersenyum. Sedang si Arka bertepuk tangan.
“Ya udah. Ibu percaya sama kamu. Bulan depan bawa dia ke rumah, Ibu mau kenal.” Ibu Juan mengajak suaminya untuk pergi dari ruang tamu.
Tinggallah Arka dan Juan di sana. Arka duduk lagi di sofa dan menatap kakaknya penuh minat.
“Satu tahun lalu ketemu, tapi baru tahu namanya sekarang? Serius suka sama dia, Kak?” tanya Arka penasaran.
Juan tersenyum malu. Sambil mengingat gadis yang dimaksud, laki-laki itu pun bercerita. “Dia datang ke sekolah tempat aku ngajar untuk tugas kuliah, tahun lalu.”
Juan adalah salah satu guru di sebuah SMK. Ia mengajar mata pelajaran Akuntansi dan termasuk salah satu guru muda di sana. Dia bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu di sana.
Awalnya, Juan hanya berniat membantu. Dilihatnya gadis itu kesusahan seorang diri. Ia juga pernah jadi mahasiswa. Namun, sesuatu yang tak pernah diduga malah terjadi.
“Aku enggak tahu gimana jelasinnya, tapi waktu lihat dia senyum, rasanya kek ada yang terjadi. Senyumnya tulus banget. Cantik. Aku bahkan diam-diam ambil foto dia.”
Arka menatap wajah merona kakaknya tidak percaya. “Jadi, tahun lalu, waktu Kakak tanya soal gadis cantik. Kakak lagi ngomongin dia?”
Yang ditanyai mengangguk. “Definisi cantik menurutmu jauh beda denganku. Enggak melulu soal wajah. Cewek itu dibilang cantik kalau dia punya senyuman baik, cara menatap yang baik, tahu cara berpakaian yang baik, tahu memposisikan diri, bisa ambil keputusan dan berani marah kalau memang kita salah. Bakal terdengar munafik buat kamu, tapi ukuran cantik untuk setiap orang itu berbeda-beda.” Juan berucap dengan bangga.
Arka menunduk. Semua kriteria yang kakaknya sebutkan barusan mengingatkan ia pada seseorang. “Kalau aja Kakak bilang ini dari dulu. Aku bakal jodohin Kakak sama seseorang. Aku kenal cewek yang kayak gitu.”
“Kenapa enggak untuk kamu aja?”
“Dulu, kukira dia itu enggak cantik. Eh, setelah kenal nyesal. Cantik luar dalam.” Melihat kakaknya sekarang, Arka menyerah akan cintanya pada Sania. Gadis seperti Sania lebih pantas untuk laki-laki baik semacam kakaknya. Ia tak akan bisa layak untuk gadis itu.
Juan mendekat pada adiknya lalu menepuk bahu laki-laki itu. “Aku yakin dia benar-benar gadis cantik. Dia berhasil buat kamu bijak kek gini,” kata Juan sambil tertawa.
Arka menatap sok kesal pada kakaknya. “Jadi, mau aku kenalin atau enggak?” tanya Arka lagi. Rasanya tak rela jika Sania harus jadi pacar orang lain. Jika dengan Juan, rasa tak relanya itu bisa sedikit berkurang, mungkin.
“Tidak. Aku sudah yakin dengan pilihanku.” Juan berucap pasti.
“Ayolah, Kak. Dia cantik. Aku enggak rela kalau dia jadi menantu di rumah orang. Kita harus punya satu satu lagi wanita sempurna kayak Ibu di rumah ini.” Arka berusaha membujuk kakaknya.
“Enggak, Arka.” Juan langsung pergi dari ruang tamu.
***
Sebulan kemudian, waktu yang ditunggu-tunggu keluarga Juan pun tiba. Si sulung itu akhirnya akan membawa seorang gadis ke rumah. Di ruang tamu, semua anggota keluarga inti menunjukkan raut tak sabar.
Juan datang. Berjalan dengan gagah menuju ruang tamu, dii belakangnya seorang gadis manis mengikuti.
“Bu, kenalin ini Sania.”
Ibu, ayah, Arka menyorot pasti pada genggaman tangan Juan pada gadis bernama Sania tadi. Mereka tersenyum. sebentar lagi, pasti akan terjadi pernikahan. Mana pernah Juan menggandeng seseorang seerat itu.
Sementara itu, Sania di belakang Juan tak berhenti merapalkan doa. Rasanya lebih mendebarkan daripada menunggu nilai akhir semester. Diajak berkenalan dengan keluarga pacar ternyata begini mendebarkannya.
Sania bertemu Juan tahun lalu, saat akan menyebar soal untuk tugas EHB. Dan tak disangka, Sania ditempatkan di sekolah yang sama. Dari sanalah mereka jadi dekat. Dilihat sekali saja, Juan itu adalah tipe laki-laki yang baik. Siapa yang mau menolak laki-laki baik dizaman sekarang.
Saat Sania selesai menyalami ayah dan ibunya Juan, gadis itu melihat seseorang yang tak asing. Arka. Dengan heran Sania bertanya mengapa pria itu ada di sana. Dan betapa terkejutnya dia saat Juan berkata bahwa Arka Arvana adalah adik kandungnya.
“Dunia ternyata sempit, ya?” Arka mengulurkan tangannya dan ia bersyukur saat Sania bersedia menyambut uluran tangannya. Dia menyebut diri bodoh karena lupa bahwa SMK Padi Raya adalah tempat Juan mengajar.
“Arka,” panggil Sania. Mata si gadis masih mengerjap tak yakin.
“Semoga kesalahanku enggak memengaruhi penilaianmu pada Kakakku. Kami beda.” Arka tersenyum tulus. Ia menyelipkan permintaan maafnya dalam senyuman itu.
Sania membalas senyuman Arka. “Kalian sama, Arka,” katanya sambil menarik tangan. “Arka yang sekarang,” sambungnya.
Lengkungan bibir Arka semakin lebar. Meski patah hati, kenyaataan bahwa kakaknyalah yang akan mendapatkan Sania seolah bisa mengobati.
Mau bagaimana? Ia harus merelakan Sania untuk Juan. Salahnya sendiri yang terlambat menyadari kecantikan gadis itu.
“Kalian udah saling kenal?” tanya Juan pada Arka dan Sania.
“Kak, Sania ini teman sekelasku. Dan mulai besok, aku harus manggil dia dengan sebutan kakak ipar? Ah, Kak Juan enggak seru,” protes Arka.
Sania merasa pipinya memanas. Kakak ipar kata Arka? Membayangkannya saja Sania sudah kelewat senang. Oh, benarkah Juan akan mengajaknya menikah? Tidak mungkin, pacaran saja mereka tidak. Tapi, semuanya menjadi jelas saat Juan bersuara.
“Setelah kuliahmu selesai, aku bakal langsung datang ke ayah dan ibumu. Aku enggak mau pacaran, langsung tunangan terus nikah.”
Seketika ruangan itu dipenuhi suara tawa dari ayah, ibu dan juga Arka. Mereka turut senang karena akhirnya Juan mendapatkan tambatan hatinya.
Arka mengambil banyak pelajaran dari semua ini. Bukan hanya soal patah hati, tetapi lebih dari itu. Bahwa, perempuan cantik hanya bisa dilihat oleh laki-laki baik.
Dia akan ingat itu selamanya.
Selesai.
🙏💕Terimakasih sudah membaca cerpen ku, semoga suka ceritanya.