Terkadang kita lupa untuk menjaga hal yang paling penting. Meskipun dari sesuatu yang kecil, semuanya tetap bermakna.
[Naskah by➡️ Dewi Tyasari]
Zaman telah berubah. Semuanya di dominasi dengan kuantitas. Kualitas seakan tidak berarti. Politik, ekonomi, dan sosial dimenangkan oleh angka.
Whidie berdiri di antara banyaknya orang yang tengah berlarian. Kala itu hujan turun lumayan deras. Gadis tersebut mematung menatap layar monitor besar di depannya.
'Semuanya telah habis! apa mereka harus menjadi serakah begitu? aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka!' ucap Whidie dalam hatinya. Kedua tangannya mengepalkan tinju.
Berkurangnya hutan menjadi salah satu bukti bahwa sebagian manusia mengutamakan angka. Iya, dengan musnahnya hutan mereka bisa membuat perusahaan dan menghasilkan uang yang banyak.
Whidie harus menerima kenyataan bahwa rumahnya telah dihancurkan oleh robot penghancur. Dia yang merupakan suku Archego juga terpaksa berpisah dengan keluarganya.
Suku Archego sendiri adalah sekumpulan orang yang tinggal di hutan hijau nan subur. Kehidupan mereka sangat erat dengan alam. Namun karena perubahan, suku Archego sudah musnah di telan zaman.
"Whidie! kau ternyata di sini! aku mencarimu kemana-mana!" Cera berjalan mendekat dan melindungi Whidie dengan payung yang ia pegang. "Ayo kita pergi!" ajaknya. Namun segera ditepis oleh Whidie.
"Kita harus melakukan sesuatu Cera!" ungkap Whidie. Dia masih menatap tajam layar monitor yang menampilkan penemuan teknologi baru.
"Astaga Whid! bagaimana bisa kita melawan mereka? kita hanya..." Cera menundukkan kepala.
Whidie akhirnya menatap teman seperjuangannya itu dan berucap, "Cera, setidaknya kita harus berusaha menyelamatlan hutan terakhir di bumi ini!"
[Naskah by➡️ Whidie Arista 🦋]
"Kita harus berjuang Cera, jika tidak. Semua hewan dan pepohonan akan musnah, bahkan air pun akan mengering, lantas bagaimana kita akan hidup?" ungkap Whidie.
Cera terdiam sejenak, sambil menatap wajah sahabat senasibnya itu.
"Lantas bagaimana caranya?" ujar Cera.
"Aku tau caranya!" Whide tersenyum simpul, "ikuti aku Cera."
***
Whidie dan Cera mengendap-ngendap menyalip di antara pepohonan yang hanya tinggal sedikit. Terlihat Robot-robot penghancur, telah meratakan sebagian hutan, hingga tak tampak lagi pohon atau pun makhluk yang berada di sana.
"Kau lihat Cera. Mereka begitu kejam, jika kita tak menghentikan mereka, maka hutan ini akan luluhlantak," ucap Whidie dengan bibir bergetar.
"Lalu kemana kita sekarang?" tanya Cera, yang masih keheranan karena Whidie membawanya jauh masuk ke dalam hutan.
"Wati!" ucap Whidie.
"Hah Wati? Kau sudah gila Whidie, kau akan membangunkan Beruang raksasa betina itu?" mata Cera membulat sempurna. Tatapan kengerian terpampang jelas di netra coklat gelap nya.
"Tak ada jalan lain Cera, hanya Wati yang bisa menolong kita."
Whidie dan Cera, berhenti tepat di depan sebuah goa raksasa yang mereka tau adalah tempat Wati, sang Beruang betina raksasa tinggal.
Glek...mereka berdua menelan saliva, rasa takut kini menjalar di tubuh mereka. Keringat mengucur deras.
"Whidie, aku takut," gumam Cera, seraya merapatkan tubuh ke dekat Whidie.
"Kau pikir aku tidak takut, aku juga takut dengan amukan Wati. Tapi cuma ini satu-satunya jalan. Untuk memukul mundur para Robot sialan itu," geram Whidie.
"Mari kita masuk!"
Whidie dan Cera berjalan dengan langkah pelan agar tak menimbulkan suara di goa ini.
[Naskah by➡️ Coklat_enak (MK) 🍁]
Terlihat Goa yang begitu pengap, lendir dari mulut Wati sang Beruang betina menempel di seluruh bagian dalam Goa. Bau menyengat yang amis dan anyir menonjok indra penciuman.
"Hah, bau apa ini?! Kenapa mengerikan sekali," ucap Cera sembari menyumbat lubang hidungnya.
"Ssstt! Kau janga berisik, Wati kan emang tidak pernah mandi. Semua bulunya saja sudah dekil sekali," sahut Whidie berbisik.
Cera pun bergidik ngeri, membayangkan bagaimana gimbalnya bulu Wati sang Beruang betina itu. "Benar juga, aku membayangkan bagaimana jika Wati berak? Mungkin bau beraknya sudah menjadi favoritnya selama ini."
"Pantatnya mungkin sudah berkarat akibat beraknya yang menggumpal itu," sahut Whidie sedikit terkekeh.
"Grooowwwwlll ...!" suara Wati sang Beruang betina menggema di Goa tersebut.
Whidie dan Cera tampak kaget dengan bangunnya Wati. Mereka berdua mundur beberapa langkah ke belakang, untuk menghindarinya.
"Kenapa kalian ada di sini? Kalian mengganggu tidurku saja!" ucap Wati menatap tajam ke Whidie dan Cera.
"Hah! Ke-kenapa kamu bisa bicara?" tanya Whidie gugup.
"Aku memang bisa berbicara! Singkatnya dulu aku seorang manusia pendosa, lalu ada seseorang yang mengubahku menjadi Beruang betina seperti ini. Aku bisa bebas ... tetapi jika aku melakukan 1 hal kebaikan untuk manusia di luar sana. Masalahnya, ketika aku keluar dari Goa ini, manusia di luar sana takut kepadaku dan mengusirku. Lalu bagaimana aku harus melakukan kebaikan?" jelas Wati merasa sedih. Menampakkan wajah Beruang betinanya yang sangat mengerikan.
"Berarti kau seekor Beruang betina jadi-jadian?" tanya Cera kaget.
"Roaarrrrr ...!" Wati berteriak ke arah Cera, menimbulkan air liur lengket dari Wati mengenai wajah dan seluruh tubuhnya. "Aku tidak suka ada yang mengataiku sebagai Beruang betina jadi-jadian!" lanjutnya lagi.
"Baiklah, bagaimana kalau kita saling membantu? Kau membantu kami untuk mengusir para Robot penghancur itu, agar suku Archego tidak kehilangan seluruh hutannya. Toh, jika kau berhasil melawan dan menghentikan mereka semua, kau juga akan mendapatkan untung. Bisa jadi kau akan kembali ke wujud semulamu," tawar Whidie kepada Wati.
[Naskah by➡️ 🍒 Ma Wati 🍒]
Terlihat Wati sang beruang betina sedang memikirkan tawaran yang di ajukan oleh Whidie dan Cera. "Baiklah aku menyetujui tawaran kalian, mungkin ini jalan satu-satunya agar aku bisa kembali pada tubuh asli ku," ucap Wati dengan anggukan kepala.
"Bagus. Kita hanya perlu merencanakan rencana kita," ucap Whidie.
Cera melirik ke arah Wati dengan penuh kengerian, dirinya penasaran kenapa beruang betina itu bisa terkena kutukan. "Ehem... maaf sebelumnya jika ini menyinggung tapi kalau boleh tau kenapa kau bisa terkena kutukan?" tanya Cera gugup.
Terdengar helaan nafas dari arah beruang, hingga cipratan ingusnya mengenai Whidie yang sedari tadi menatapnya. 'Haiiiish... kenapa harus aku juga beruang kampret,' batin Whidie kesal. Ia melirik Cera yang menahan tawanya.
"Aku seperti ini karena sebuah kesalahan sepele," ucap Wati sengaja menahan ucapannya, "Karena aku tidak sengaja kentut di depan muka Dewi yang merupakan pemimpin robot oportunis sehingga membuatnya geram dan melaporkan hal ini kepada Menik," lanjutnya kembali.
"Menik? Siapa dia?" tanya Cera.
"Dia adalah seorang ilmuan bergigi ompong dengan kepala di tengah botak tak berambut. Dan itulah mengapa aku ja-" ucapan Wati terpotong saat mendengar alat pemotong hampir mendekati goa berumpun itu.
Wati, Whidie dan Cera segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan benar saja para robot penghancur sudah memasuki hutan tersebut dimana sang beruang itu tinggal.
Beruang itu mengepalkan tangannya saat melihat Dewi yang berperut buncit itu berada di sana. Tanpa menunggu lama Wati segera, menerjang keluar.
Grroarrrr....
Wati mengegeram, menatap benci pada Dewi. Ingin rasanya dia mengoyak habis tubuh kerdil itu.
Cera dan Widhie hanya diam terpaku melihat kemarahan Wati.
"BERANI SEKALI KALIAN MENGHANCURKAN HUTAN KU!!!!" teriak wati geram.
Sebatang pohon besar di cabut Wati dan ia lemparkan pada sekumpulan Robot yang tengah bekerja, hingga dua di antara mereka tumbang akibat tertimpa pohon tersebut.
"Watiiii!!!!" teriak Dewi dari bawah sana, yang menatap Beruang itu penuh kebencian.
"Kau berani melawan ku Wati? Tak ingat kah kau, apa yang telah aku lakukan padamu?" ucap Dewi dengan sinis.
"Aku tidak peduli!" geram Wati.
Tanpa pikir panjang, Wati menerjang Robot-Robot itu dan menginjaknya dengan kaki besarnya. Lantas, ia mengayunkan tangan dengan kuku-kuku hitamnya.
Robot-robot tersebut, mencoba melemahkan Wati dengan mengepungnya dari segala sisi. Lantas mereka pun menyerang secara bersamaan.
Grrroooarrr....
Wati menjerit kesakitan, kala sebuah tembakan menyerempet tangannya. Namun, semua itu malah membuat kemarahan Wati semakin besar.
Dia mengangkat sebatang pohon dengan satu tangan, dan langsung menghantam Robot itu satu persatu hingga mereka tumbang.
Tinggal satu lagi Robot terakhir yang di kendalikan Dewi sang pemimpin yang masih belum Wati kalahkan.
[Naskah by➡️ Sin Cera]
Hal tersebut bukanlah ancaman bagi Wati yang sudah diliputi kemarahan. Ia mengangkat robot yang di kemudikan Dewi, lalu membantingnya kuat ke tanah. Robot itu terbelah dua dan hancur berkeping-keping. Dewi bahkan sudah terlempar keluar dari robotnya. Wati mendekati Dewi yang sudah mundur ke belakang. Badan gempalnya tak mampu bangkit kembali karena kakinya yang sudah patah.
"RRRAAaarrr...," aum Wati di depan wajah Dewi. Wajah Dewi sekarang sudah dipenuhi dengan lendir maut dari mulut Wati.
Wati lalu mencengkram tubuh Dewi kuat hingga isi perut buncitnya keluar ke mana-mana, dan ia mati seketika. Wati lalu melempar tubuh Dewi ke sebuah sungai untuk dijadikan santapan ikan piranha.
"Ayo, aku akan mengantarkanmu ke labolatorium untuk menemui Menik. Aku juga bekerja di sana jadi aku mempunyai akses untuk masuk ke sana."
"Akan tetapi, Menik berada di pihak Dewi si pemimpin para robot. Aku sudah melanggar janjiku untuk membantu para manusia sialan yang hobi merusak ekosistem tersebut. Bagaimana cara kau membujuknya agar ia mau mengubahku kembali?" kata Wati tak yakin.
"Itu masalah mudah. Kau terkena suntikkan sebuah formula yang menghasilkan rekayasa genetika. Sel-sel di tubuhmu berevolusi dengan sendirinya akibat formula tersebut. Aku tau formula penangkalnya dan aku bisa membuatkannya untukmu jika Menik menolak untuk memberikannya kepadaku," kata Whidie meyakinkan.
"Ayo jalan saja, tak usah banyak bertanya," komentar Cera sambil menarik tangan Wati.
"RRRAAAaarrr...," aum Wati tepat ke wajah Cera. "Aku bisa berjalan sendiri," imbuhnya.
Cera menghapus lendir di wajahnya, lalu berlari kecil mengikuti Whidie dan Wati yang sudah berjalan di depan mereka.
...
"Cepat berikan formula itu!" Whidie menggebrak meja di hadapan Menik yang tua renta. "Atau kau mau dia menghabisimu seperti dia menghabisi Dewi?" ancam Whidie.
"RRrraaarrr...," Wati mulai mengaum lagi untuk mengancam.
Tubuh renta Menik bergetar. Ia segera berjalan mendekati lemari yang penuh dengan formula-formula penelitiannya. Tangan kurusnya terus bergetar sampai ia memberikan sebuah cairan berwarna ungu kepada Whidie.
"Kenapa bau pesing?" komentar Cera. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Menik yang celananya sudah basah, dan wajahnya pucat pasi. "Ck... berani berbuat kejahatan tapi, takut di bunuh," cebik Cera.
Sementara Whidie sudah menyuntikkan formula yang diberikan Menik, ke tubuh Wati.
Wati menggerang kesakitan, tapi perlahan tubuhnya berubah menjadi manusia kembali.
"Astaga! Kau adalah Wati! Ilmuan yang mengembangkan teknologi pelindung hutan!" pekik Cera kaget sambil menutup mulutnya.
"Pantas saja, beberapa tahun belakangan teknologi itu seolah-olah hilang dan hutan kembali ditebang secara seenaknya. Ternyata hal itu karena kau diubah menjadi seekor beruang mengerikan oleh mereka," komentar Whidie.
"Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi, Whid. Karena pelindung hutan kita sudah kembali." komentar Cera.
Sementara Wati ternyata sudah menyuntikkan sebuah formula ke tubuh renta Menik dan membuatnya berubah menjadi cacing besar Alaska. Wati lalu memasukkan Menik ke dalam sebuah toples. "Ini adalah bayaran untuk apa yang kau lakukan kepadaku," kata Wati sambil tersenyum puas. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Whidie dan Cera. "Ayo, kita kembali menjaga hutan."
~TAMAT~
By : Black Shadows Savage