"Fia." panggil seorang wanita setengah baya.
Fia yang tengah di dapur menyahuti.
"Iya Bun."
Tidak lama Fia menghampiri Bundanya.
"Ada yang Bunda butuhkan?" tanya Fia.
Bunda tersenyum tipis.
"Tolong bantu Bunda ke kamar mandi nak."
"Ayo, Fia bantu." Fia mendorong kursi roda Bundanya sampai ke depan kamar mandi.
"Bunda pegangan Fia. " Fia memapah Bundanya dan berjalan ke dalam kamar mandi.
Sesudah membantu Bundanya buang air kecil, Fia mendudukan Bundanya ke kursi rodanya lagi.
"Makasih sayang. " ucap Bunda setelah duduk di kursi rodanya lagi.
"Jangan makasih sama anak sendiri Bun, ini kan udah tugas aku sebagai anak satu-satunya Bunda. Kalau bukan aku siapa lagi." Fia memanyunkan bibirnya.
"Iya iya." Bunda hanya bisa tersenyum.
'Fia, Bunda merasa bersyukur bangat punya kamu nak.'
"Ayo Bun, kita sarapan. Aku udah selesai masak tadi. " ujar Fia.
Bunda mengangguk.
"Masakan putri Bunda sudah meningkat ya, rasanya enak. " puji Bunda setelah menyiapkan masakan putrinya ke dalam mulutnya.
"Hehe iya dong Bun. Masa udah sering masak, rasanya gitu-gitu ajah." sahut Fia dengan senyum cerah.
Bunda jadi mengingat waktu dirinya pertama kali kakinya lumpuh dan tidak bisa lagi melakukan aktivitas seperti biasa.
Fia langsung berusaha membuat masakan untuk kita berdua makan. Saat pertama kali mencoba masakan putrinya yang gosong, kadang juga keasinan, kadang juga rasanya campur aduk. Tapi sekarang, putrinya bisa membuat masakan yang enak.
Flashback Bunda On.
"Fia sayang, Bunda sepertinya tidak bisa masak untuk kamu makan lagi. " ucapku kala itu.
"Gapapa Bun. " sahutnya.
Dia melanjutkan ucapannya.
"Um... Bun. Bagaimana kalau aku yang memasak? " tanya Dia antusias.
"Boleh, apakah tidak apa-apa?" Aku merasa khawatir karena setahuku putriku tidak bisa memasak. Tapi karena tidak ingin melunturkan keantusiasan putrinya, dirinya pun setuju.
"Oke. Bunda tunggu disini ya. Nih sambil menonton TV kalau mau minum panggil aku aja ya Bun. " ucap Dia sambil menyalakan TV untuk Bundanya tonton agar tidak bosan saat menunggu dirinya memasak.
Bunda mengangguk.
Di Dapur.
Fia termenung.
'Bagaimana ini?' Fia kebingungan.
"Kan ada hp. Cari aja di Youtube, kan ada cara memasak tuh." ucap Fia dengan senang saat mengingat kalau ada cara memasak di Youtube.
Tanpa sepengetahuan Fia, Bundanya yang dikira sedang menonton tv di Ruang Tamu sedang mengintipnya saat ini.
Bundanya melihat Fia yang kebingungan sampai menonton cara memasak di Youtube, menonton Fia yang kepercikan minyak, menonton Fia yang mundar-mandir karena kesibukannya sendiri yang lupa menambahkan garam.
'Nak. Kamu berusaha keras untuk membuatnya, agar Bunda bisa makan.' bantinku.
Beberapa menit kemudian.
"Bunda, ayo makan. Aku sudah selesai membuatnya." ujar Fia sambil membawa dua piring nasi goreng.
"Kamu buat nasi goreng?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Iya Bun. Ayo, Bunda coba masakanku, apakah ini enak?" ucap Fia.
Aku memgangguk.
'Um. Rasanya agak gosong dan keasinan walau tidak terlalu.' batinku.
"Bunda, bagaimana? Apakah enak?" tanya Fia antusias.
Aku ingin menjawab dengan jujur tapi diurungkan karena ini masakan pertama anaknya dan lihatlah putrinya sangat antusias, dirinya tidak tega kalau bilang yang sebenarnya.
"Lumayan nak." jawabku sambil tersenyum.
"Hehe aku bisa juga ya." ucapnya senang.
"Kalau begitu makanlah Bun." ujar Fia. Lalu Fia sendiri menyuapkan nasi goreng dipiringnya ke mulutnya.
"Um..Rasanya aneh." gumam Fia setelah merasakan masakan buatannya sendiri.
Flashback Of.
Setelah selesai sarapan, Fia mencuci perabotan yang tadi digunakannya untuk masak dan juga makan.
Bunda hanya melihat punggung putrinya itu.
'Yaallah terima kasih karena engkau menitipkan Fia padaku. Hamba bersyukur sekali karena engkau juga telah mengerakan hati anak hamba untuk membantu hamba. Jika tidak ada dia hamba tidak bisa melakukan apa-apa.' Bunda membatin.