Mengupas mangga pekerjaan mudah tapi tidak bagi Katyusha. Matanya mulai dilapisi kabut, mata tua yang kini mulai menggelap dan berbayang. Dia mengiris kulit mangga tetapi selalu teriris kelingking kirinya. Selalu begitu dan membuat Katyusha makin khawatir.
Pernah Scud, cucu Katyusha, dokter spesialis mata, hendak mengganti mata neneknya dengan mata yang segar tapi Katyusha membentaknya kerna dia belum buta, "Hey, Scud! Bila pun aku buta, aku tak mau mengganti mata! Kau pernah menemaniku menonton filem The Eye? Aku tak mau kaupaksa memakai mata perempuan penyihir dari Meksiko itu! Scud, kau jahat padaku!"
Hati Scud sedikit kecut dibentak neneknya. Padahal Scud sangat menyayangi nenek galak ini dan tentu saja aneh menghubungkan mata dengan filem The Eye? Sementara, anak dan cucu lainnya sudah mahfum kegalakan Katyusha dan sudah malas mengambil risiko dibentak seperti itu. Tapi Scud cucu yang berbeda. Scud peduli dengan kesehatan fisik dan mental Katyusha. Scud membayangkan andai dia tua nanti dan hidup sendirian seperti Katyusha, betapa merana hidupnya. Seolah hidup manusia-manusia tua hanya pembeban manusia-manusia muda.
Memang sulit berjalan dengan mata berkabut itu. Apalagi saat mulai senja, pergantian terang ke gelap, ada sekitar beberapa saat jeda waktu senja membuat mata manusia normal kurang awas. Lukisan-lukisan terang berbayang dan terjadi penurunan kualitas warna cenderung ke keabu-abuan. Kata orang tua dulu sejenis rabun ayam jika senja datang.
Suatu hari, saat senja, Katyusha ke toko obat murah di pertigaan jalan raya padat. Dia rutin membeli obat pengencer darah, vitamin, dan obat anti vertigo yang dideritanya. Tiga minggu sekali dia ke toko obat murah itu dan biasanya saat hari terang. Dari ujung Timur sampai Barat jalan raya dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual produk apa saja. Mereka menjual masker dan asesorisnya, menjual gorengan, mi ayam, sate kikil bahkan baju dan sepatu dari bahu jalan hingga menyempitkan jalan raya. Memang semua orang di sana memakai masker tetapi menjaga jarak tidak. Bagaimana lagi? Biarpun pandemi corona mengganas tetap dapur harus ngebul, kan?
Masa ini masa sulit bagi siapa saja manusia normal, tentu tidak bagi manusia super kaya, dan memang selalu demikian manusia-manusia super kaya tetap diuntungkan bahkan saat situasi perang dunia ketiga sekalipun nanti. Mau pandemi, perang, atau tidak, mereka semakin kaya. Tidak seperti Katyusha yang mengandalkan uang pensiun belaka. Tapi Katyusha bukanlah wanita lembek. Dia sebesi Tacher dan tetap mandiri walaupun anak cucunya kebanyakan menjadi salah satu manusia-manusia super kaya.
Katyusha hidup sendirian saja dan tetap setia di rumah bekas peninggalan suaminya yang sepuluh tahun sudah meninggal. Dia ke pasar, memasak, mencuci, berkebun, dan semua itu dilakukan seperti biasa. Dia tidak pernah ngeluh atau iri dengan kehidupan anak cucunya. Rindu anak cucu pun dia hindarkan dengan bermain game poker. Katyusha benar-benar terbantu dengan kecanggihan teknologi. Apa saja bisa dia lakukan, menyanyi, bergosip, menonton filem klasik, tapi dia paling suka bermain poker. Apalagi bila berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan kartu full house.
Suatu hari, Katyusha mendapat hole card, as hati dan 4 hati. Lalu pre flop yang dibuka bandar adalah triple 3 dari tiga warna: Keling, Kelawar, dan Wajik. Katyusha ikut saat flop sebesar satu milyar dolar (saat itu dia memiliki satu biliun dolar), tapi empat lawannya segera menaikkan taruhan menjadi seratus milyar dolar.
Bagaimanapun kenaikan saat flop luar biasa besarnya. Katyusha berpikir, apakah salah satu lawan memiliki Tiga hati? Four of Kind Three? Tapi Katyusha nekat. Dia pasang juga flop seharga seratus milyar dolar itu dengan asumsi awal, "Kalah pun kalah masih sisa 900 milyar dolar yang bisa kupakai poker beratus malam lagi." Tapi terjadi kegaduhan ketika akan memasuki river. Sebelumnya, saat turn, tidak ada yang menaikkan taruhan selama 14 detik terakhir sebelum river di detik 15. Semua pemain berdebar menunggu river dari bandar. Wait and see kartu terakhir.
Katyusha sadar bahwa taruhan 100 milyar dolar itu hanya gertak sambal belaka. Secara menurut logika, setelah turn, kartu yang didapatnya adalah as wajik. Setidaknya, menurut Katyusha, full house terbesar sudah di tangannya. Jadi, tidak perlu khawatir dengan kualitas kartu delapan lawan lainnya. Turn muncul as wajik, dan pada saat ini, bisa saja salah dua lawan mendapatkan as terakhir dan atau hanya Katyusha mendapatkan as saat river nanti? Tentu saja bila itu yang terjadi maka Katyusha mendapatkan full house as! Tapi bagaimana bila kartu terakhir 3? Katyusha gamang dan bertambah panik saat seorang lawan bernama Gorilla menaikkan turn sedetik terakhir 1 biliun dolar! Semua pemain pastinya kaget apalagi tujuh pemain bermain habis-habisan saat flop dengan memasang seluruh kekayaannya. Kecuali Katyusha dan seorang pemain misterius. Refleks Katyusha mencek profil lawan berat ini dan dilihatnya Gorilla mempertaruhkan uang sebanyak Katyusha miliki.
Godaan menang dan kekalahan berputar-putar di kepala Katyusha seperti burung Ababil. Bila Katyusha menang, maka dialah seorang pemain dengan kekayaan terbesar. Bila kalah, tentu saja dia dicap pemain kere, dan menjadi pemain kere sungguh sedih, tak ada kawan mau berteman bahkan pemain kere bila bertaruh dipandang sebelah mata. Sungguh tak hendak Katyusha jatuh mendadak menjadi pemain kere. Dia harus menang atau minimal mundur saja dan kalah seratus milyar dolar.
"Tidak! Aku tak boleh mundur! Aku harus mendapatkan 1 biliun dolar itu dari Gorilla! Sialan! Aku tak pernah bertemunya selama bermain poker."
Katyusha menerima tantangan itu dan setelah bandar membuka river, tampaklah kartu 8 hati! Katyusha menjerit penuh kemenangan tapi hanya tiga detik dia menjerit senang kerna ternyata uang 1 biliun dolar dan uang-uang lainnya bukan masuk ke rekeningnya tetapi masuk ke rekening Gorilla! Apa-apaan ini pikir Katyusha?! Bukankah dia menang full house? Cepat Katyusha menscreenshot pertandingan ini kemudian baru dia menyadari bahwa angka 8 hati itu adalah 3 hati! Lemaslah Katyusha dan melempar notebook mininya ke kaca meja rias sampai hancur berasap.
Mata Katyusha di senja ini benar-benar parah. Memang dia berhasil membeli obat setelah susah payah berjalan menuju toko obat murah itu. Suara pedagang yang menjajakan barang dagangan, suara klakson roda dua dan empat, suara makian pengemudi kerna jalurnya dipotong mendadak oleh sepeda motor, tangisan bocah kehilangan jejak ibunya, pengamen, bau asap knalpot, bahkan Katyusha hampir terserempet mikrolet yang ugal-ugalan bersaing penumpang, dan semua kebisingan luar biasa ini membuat buta Katyusha. Sekarang dia benar-benar tak bisa melihat di saat senja ini. Semua tampak samar-samar hitam. Bagaimana dia kembali pulang bila tak ada setitik benda-benda di sana yang bisa dikenalinya?
Sekali lagi Katyusha sekuat tenaga memfokuskan matanya. Tetap saja semua hitam. Dia tertatih berjalan di trotoar tapi tak seorang pun peduli di sana. Bahkan saat dia menabrak tanki bensin eceran mini, semua orang tertawa dan seorang berkata, "Hey nenek tua! Nekat kau berjalan di sini tanpa ditemani seorang anak cucumu! Tega sekali mereka kepada kau!"
Katyusha mendengar orang-orang merutuki anak cucunya yang tega meninggalkan dirinya berjalan sendirian di sini. Tapi Katyusha tidak membalas cacian mereka sebab anak cucunya tidak bersalah. Memang kekerasan hatinya untuk hidup sendiri. Hanya saja, Katyusha heran, mengapa mereka semua berkata kotor tapi tidak menuntunnya pulang? Apakah memang manusia-manusia tua yang berjalan sendirian layak mendapat makian seperti ini? Manusia-manusia tua yang sudah tak berguna dan menjadi beban hidup orang lain? Katyusha ingin menangis dan dia tahan sekuatnya air mata yang mulai terasa membunting di bawah bibir matanya. Hatinya berharap Scud datang dan memang Scud tak pernah sekali pun membiarkan Katyusha pergi sendirian. Scud diam-diam menguntit ke manapun Katyusha pergi. Dia sudah melihat kesulitan neneknya saat berjalan keluar dari toko obat itu dari dalam mobil Phantom keluaran eksklusif dan hanya diproduksi tiga unit saja di dunia.
Scud memburu neneknya ketika puncak kefrustrasian neneknya jelas terlihat. Dia peluk neneknya dan berkata, "Maafkan Gorilla datang terlambat menjemput nenek."
Katyusha yang tak pernah lupa suara merdu Scud mendadak sewot. Memang dia senang Scud datang. Katyusha tahu bahwa hanya Tuhan yang peduli doa dan harapan manusia-manusia tua.
"Ya Tuhan! Sialan kau! Jadi kau Gorilla yang merampas seluruh uangku?!"
Scud tertawa. Dia sudah membeli perusahaan poker itu dan menyuruh tenaga programer di sana menyulap rekening neneknya dari nol dolar menjadi sejuta angka nol di belakang koma.
tamat
br, ©2121