Hujan
Seperti hujan kemarin, saat kita duduk bersama menikmati minuman favorit kita.
Entah bagaimana Tuhan mempertemukan kembali kita, ini sebuah kebetulan atau sebuah peruntungan.
Sore itu hujan rintik mulai membasahi jalan-jalan kota, beberapa pengendara roda dua menepikan kendaraanya, sebagian berteduh di bawah pohon rindang, toko-toko pingir jalan, dan sebagian lagi memilih berteduh di mini market terdekat begitupun dengan ku, fikirku selain bisa berteduh bisa mencari minuman segar untuk melepas dahaga setelah lelah berkendara.
Sial rutukku dalam hati, jas hujan seperti biasa absen dalam jok motor, dan sepertinya Aku harus menunggu hujan reda karena tidak mungkin akan menerobos hujan, jarak rumah masih sangatlah jauh.
Bayangan satu kotak susu coklat dingin di dalam sana sepertinya mengiurkan.
Langkah ku terhenti tepat di depan kasir, tatapan matanya bertemu dengan mata ini dan dia tersenyum, manis.
Kau tau bagaimana rasanya menemukan kembali Dia yang dulu pernah pergi membawa sebagian rasa dari dirimu.
Aku tersenyum menyodorkan sekotak susu coklat itu.
"Apa kabar " sapanya ramah dengan tangan masih sibuk di depan kasir.
" Alhamdulillah baik" jawab ku singkat , salah tingkah juga.
"Satu kotak cukup " tanyanya lagi sembari menyebutkan jumlah yang harus ku bayar.
" cukup " kataku sembari mengulurkan selembar uang Rp.20.000.
Seperti sial yang bertubi-tubi ,hujan datang dengan tiba-tiba,jas hujan absen, plus ketemu sama mantan kekasih.
Itu rasanya es campur tanpa di aduk langsung di minum,gak enak.
" Struk dan kembaliannya, Terima kasih " senyumnya kembali menyapa, dia masih sama.
Aku menerima Struk dan uang kembalian, tersenyum lalu pergi, sedikit percakapan tadi sudah membuat Antrian yang lumayan untuk ukuran aku yang cuma beli satu kotak susu coklat.
Ku hembuskan nafas yang terasa berat, ku duduk di kursi pojok yang tersisa.
Hujan semakin menunjukkan kehadirannya, untuk kali ini aku tak suka hujan, Dia menahan ku dalam rasa penuh kenangan, aku sudah melupakannya bahkan tak ada satu keinginan untuk kembali bertemu dengannya.
Dulu saat hujan seperti ini Aku sangat menyukainya, bahkan bisa berlama-lama di tempat seperti ini, hanya sekedar melihat Dia serius mengerjakan pekerjaannya, atau mengangunya,membangunkan dari mimpi indahnya, meminta pendapatnya , minta ice cream bahkan satu kotak susu coklat ini kadang dia mengambilkanya. Hal hal kecil itu kembali mengingatkan ku tentangnya.
Sekarang aku menemukannya, dia masih di kota yang sama, Dia belum pergi, bahkan jarak kita sangat dekat, untuk saat ini.
"Hujan belum reda mending tunggu di atas" suara khasnya membangunkan ku dari lamunan.
Dia sudah berdiri di samping ku entah sejak kapan, mudah baginya melalui pintu khusus karyawan yang tepat di samping ku.
"Ngak usah disini aja" tolak ku halus tak lupa senyum palsu ini tersunging
Dia menatapku, dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan.
"Ayok " Dia menarik tangan ku pelan
"Aku tunggu disini aja" cegahku halus ,dia hanya menatapku lalu tersenyum kecut.
"Mau ngobrol sebentar bisa, sambil nunggu hujan reda " pintanya halus dan aku ingin menolaknya tapi.
Tanpa minta izin ku dia langsung menuntunku ,
membawa ku masuk melalui pintu karyawan, lalu menaiki tangga dan berhenti tepat di ruangan luas bercat putih dengan banyak kasur bertumpuk, selimut tersusun, dimana seperti biasa kita menghabiskan waktu untuk menikmati hujan, menunggu hujan reda dan obrolan kita berakhir. Hanya saja tempat ini berbeda meski struktur bangunanya sama.
Di sudut jendela itu tempat favorit kita menikmati hujan,menikmati setiap rintiknya lalu berlalu dengan berbagai cerita.
" Maenya jauh ya sekarang " pertanyaannya membuyarkan lamunanku tentang masa itu.
(He...he...),Aku cuma bisa nyengir.
" Udah bosen sama Cibinong" jawab ku asal sembari memainkan air hujan dari jendela .
" Bosen sama Cibinong atau Udah ada yang baru disini"
Dia mengambil langkah mendekat ,lalu ikut memainkan air hujan di jari-jari dan sekarang kita seperti mengulang sesuatu yang sudah sering kita lakukan ,dulu.
"Belum ada " jawab ku acuh masih tetep memainkan Air hujan yang terus menunjukkan keberadaanya , seolah esok tak hujan lagi.
"Maaf "
"Untuk apa " tangan ini refleks berhenti sejenak menatap matanya yang entah memandang lurus ke depan seolah menembus lebatnya hujan sore itu.
"Udah ninggalin kamu, maaf ya ,saat itu Aku tidak ada pilihan lain.Andai saja waktu bisa di ulang , ceritanya mungkin tidak seperti ini". terdengar sebuah penyesalan
Ku hembusan nafas yang terasa berat.
"Aku udah maafin kamu kok,meski itu sulit pada masanya, tapi Aku tau , segala sesuatu tidak bisa dipaksakan , mungkin ini keputusan yang baik untuk kita dan keluarga kita".
"Udah bisa bersikap bijaksana ya rupanya sekarang,duduk Na capek berdiri terus "
" Waktu".
Aku mengikuti arahanya duduk , kulihat 2 kotak susu coklat di Meja kecil,dalam hatiku tadi kan cuma ada satu ,terus satunya lagi punya siapa ya.Sebelum setelah itu Hamdan meminumnya.
"Sejak kapan suka coklat? " Refleks kutanyakan keanehan itu, setahuku dia mana suka susu coklat ,dingin pula.
"Sejak ada hari Aku bisa rindu kamu"
Dia mengatakannya dengan senyuman termanis yang Ia miliki.
Tuhan tolong bawa Aku pergi dari sini , inget Na dia sudah milik orang lain.
"Oh, sekarang udah jago gombal ya ". Jawab ku asal menyembunyikan rasa panas ,dihati.
Hujan mulai berdamai , sebelum rasa itu hadir kembali bersama hujan yang akan turun lagi nanti,aku izin mengundurkan diri .
Memberi seribu alasan yang ku punya, karena hanya itu harta paling berharga ku "Alasan".
Hamdan mengantar ku sampai parkiran motor.
"Masih gerimis Na, rumah lu masih jauh juga , tunggu sebentar lagi" dia berdiri sebentar memandang awan diatas sana
Aku mengikuti langkahnya
"Nanti sambil jalan,juga reda , gerimis kecil ini"
"Namanya juga gerimis Na, kalau gede hujan namanya"
Dan aku cuma bisa nyengir mendengar jawabannya.
"Pakek jas hujan aku ya " tawarnya
" Jangan buat seseorang kembali dengan alasan yang sama, hujan pasti reda,gerimis pasti akan hilang cuma perlu nunggu waktu aja". Jawab ku sok bijak , karena memang aku tak menginginkan perjumpaan lagi dengannya.
Dia tersenyum dan sekali lagi itu terlihat manis .
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut ". Petuahnya tak pernah hilang.
Dan kini aku sudah siap lengkap dengan memakai sarung tangan,masker dan helm di kepala , perlahan ku tinggalkan parkiran dan masih ku lihat dari spion Hamdan berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangannya.
.
Terkadang Tuhan mempertemukan kembali kita dengan seseorang yang amat sangat kita sayangi , bahkan tidak berniat meningalkanya meski dalam waktu yang singkat.
Bukan untuk kembali, namun untuk menguji seberapa besar rasa ikhlas yang kau miliki , kau bisa saat itu kembali bersama karena memang dia menginginkan kamu yang berada di sampingnya,bukan dia yang sekarang menjadi teman hidupnya.Tapi tidak,hatimu telah ikhlas menerima dan kau tetap akan melanjutkan hidup seperti apa yang telah kau putuskan setelah kepergiannya.
.