Suasana di sebuah arena bermain skate board sudah mulai lengang, hanya ada beberapa remaja yang masih asyik berseluncur di atas papan skate board mereka.
Hari memang sudah mulai senja. Semburat mentari berwarna jingga pun menghiasi langit sore itu, pertanda ia akan segera kembali ke peraduannya.
Ada tiga orang remaja yang tersisa di arena itu, sebut saja mereka Derry, Upay dan Achong.
"Guys, udahan yuk? Mau maghrib nih" ajak Derry.
"Bentar-bentar, lima menit lagi!! Gua baru mulai bisa nyoba style baru nih, masih penasaran!" sergah Upay yang masih asyik berseluncur.
"Besok lanjut lagi deh Pay, hampir maghrib nih. Pamali!!" tukas Derry.
"Pamali apaan?? Ah elu Der, gaya doang kekinian tapi masih percaya begituan" ujar Upay dengan nada mengolok-olok.
"Bukan pamali doang Pay, tapi kita kan ada tugas Fisika buat besok. Tar dihukum kalo ga ngerjain" ujar Achong mendukung Derry.
Upay mendengus kasar dan sontak berhenti meluncur, lalu mendekati dua temannya itu dengan tatapan wajah penuh kesal.
"Cemen lu berdua!! Yang satu takut pamali, yang satu takut dihukum. Kayak gua dong, ngga ada kata takut di kamus hidup gua! Mau pamali kek, mau bumali kek, bodo amat!! Apalagi cuma dihukum gara-gara ngga ngerjain tugas, paling disuruh bersihin WC doang!" cerocos Upay dengan nada tinggi.
"Suka-suka lu aja deh Pay, gua sih mau balik! Chong, lu mau balik ga?" tegas Derry.
"Ya balik lah, daripada besok disuruh bersihin WC. Ogah!!" timpal Achong.
Derry dan Achong bergegas membawa papan skate board mereka dan beranjak pulang tanpa mempedulikan Upay.
"Eh tunggu! Ya udah, gua ikut balik" seru Upay yang bergegas menyusul mereka.
Jarak antara arena bermain skate board dengan lokasi perumahan mereka tidak terlalu jauh, tetapi bukan jarak yang jadi masalah melainkan situasi jalan yang harus mereka lalui.
Mereka harus melalui kontur jalan yang masih berbatu dan bahkan berlubang, disertai dengan pepohonan yang besar dan rimbun juga tanah lapang yang menghiasi sisi jalan.
Saat baru setengah perjalanan, mereka dikejutkan oleh suara aneh dari balik sebuah pohon besar di tepi jalan.
Mereka bertiga menghentikan langkah lalu fokus melihat pohon itu.
"Suara apaan tuh? Liat yuk?" ajak Upay dengan gaya sok tau-nya.
"Ah ogah, lu aja sana!" tukas Achong.
"Cemen lu!" ledek Upay.
"Pay, udah buruan jalan lagi. Makin deket adzan maghrib nih" ajak Derry.
"Udah sana kalian duluan, gua penasaran" sahut Upay dengan mulai berjalan mengendap-endap mendekati pohon tersebut.
"Terserah lu deh Pay. Yuk Chong, balik!" tukas Derry yang lanjut melangkah pulang bersama Achong.
Ketika Derry dan Achong sudah berjalan agak jauh meninggalkan Upay, tiba-tiba mereka mendengar Upay berteriak kencang disertai suara langkah kaki yang berdebug.
Mereka berdua sontak menoleh ke belakang dan melihat Upay tengah lari terbirit-birit karena dikejar oleh empat sosok makhluk, yaitu pocong, kunti, suster ngesot dan tuyul.
Melihat hal itu, Derry dan Achong pun panik dan ikut berlari tunggang langgang. Upay yang berada agak jauh di belakang mereka, berusaha mengejar dua temannya itu dengan terus berlari hingga jatuh bangun.
Ternyata kuntilanak dan tuyul sudah berhasil menyamai posisi Derry dan Achong di depan.
"Hihihihi.... ayo balapan sama aku, kamu pasti kalah! Hihihihihihi...." ledek si kunti yang melayang tepat di samping Derry dengan penampilannya yang khas, baju putih panjang lusuh dan rambut panjang tak beraturan.
"Curang lu! Elu terbang ya jelas menang, coba lari kayak gua?! Bakalan kesrimpet daster lu!!" hardik Derry tanpa menoleh karena takut.
"Tante Kunti emang curang, bolehnya terbang!! masa kalah sama aku yang masih bocah, hehehe.." olok tuyul pada kunti. Tapi si kunti tak peduli, dia justru makin melesat meninggalkan mereka di belakang.
Dari barisan paling belakang, terlihat pocong dan suster ngesot dengan susah payah mengejar yang lainnya.
"Woi, finish-nya dimana nih? Gua udah capek loncat-loncat terus!!" teriak si pocong.
"Kamu mending bisa loncat-loncat, lha aku ngesot-ngesot gini. Mana jalanannya kasar banget lagi!! hiks,hiks,hiks..." timpal suster ngesot sambil menangis.
'Adu balap cepat' itu pun berakhir saat adzan maghrib berkumandang. Makhluk-makhluk itu sontak menghilang ketika adzan dikumandangkan.
Sesampainya di gerbang perumahan, Derry dengan sangat kesalnya menjitak kepala Upay yang dianggap sebagai penyebab mereka dikejar-kejar setan.
"Gara-gara elu Pay, kita jadi ngos-ngosan dikejar setan!" omel Derry.
"Sori.... kan gua juga ngga tau kalo ternyata di balik pohon itu para setan lagi pada rapat mau balapan" sahut Upay sambil meringis mengelus-elus kepalanya yang sakit kena jitak.
"Ya udah buruan masuk rumah, udah mulai gelap nih" ajak Achong.
Rumah Achong memang lebih dekat dari gerbang perumahan jadi dia bisa sampai di rumahnya lebih dulu, disusul Derry lalu Upay sampai paling akhir.
Ketika Upay baru menutup pintu rumahnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan kesal dia membukakan pintu sambil menggerutu.
"Ih, baru aja nutup pintu udah ada tamu! Siapa sih lagian maghrib-maghrib gini bertamu??" gerutu Upay sambil menarik gagang pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat sesosok kuntilanak sudah berdiri tepat di hadapan Upay. Upay melotot ketakutan, lidahnya kelu ketika hendak berteriak.
"Hihihihi.... besok balapan lagi yuk? Hihihihi..." ujar si kunti sambil tertawa khas bangsa kunti.
GUBRAKKKKK
Upay pingsan!!
"Hihihihi....." si kunti tertawa lagi sebelum akhirnya menghilang.
T A M A T