Hari pertama di awal bulan, pukul 16:00 wib. Gadis itu akan datang, dia memilih kursi dibawah pohon akasia yang rindang di pinggir danau. Mata sendunya menatap ke arah danau dengan pandangan penuh harap, bibir tipis merahnya terkatup rapat. Dia hanya diam membisu di tempat sampai kehadiran seorang pria di sana. Duduk berdampingan di pinggir danau.
Saat itu bibir gadis itu akan membentuk senyuman yang manis menampakkan wajah cantik menawannya tanpa memperdulikan orang-orang yang lewat dia akan bercengkrama dengan pria disampingnya. Dia tampak antusias dan pria tampan disampingnya hanya mendengarkan sembari sesekali dia tersenyum.
Naka sudah memperhatikan aktivitas mereka sejak dia membuka toko mie ayam dua tahun lalu di seberang danau. Antara Ruko Mie ayam Naka dan danau dipisahkan jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil.
Jam di dinding menunjukkan pukul 15.55 wib sebentar lagi gadis cantik dalam balutan kaos ungu motif bunga mawar merah di bagian depan kaos, akan datang.
Perhatian Naka ke kursi di pinggir danau teralihkan ketika ada pelanggan yang datang memesan mie ayam. Ketika menyelesaikan pesanan pelanggan, gadis itu telah datang. Posisinya membelakangi Naka jika dulu karena di dera rasa penasaran Naka sering menghampiri tapi kali ini hal itu tidak pernah dilakukan lagi.
Wajah tirus, kulitnya putih dengan mata sendu yang dihiasi bulu mata tebal. Dia cantik dan pria yang dinantinya pun tampan.
Sebentar lagi pria itu akan datang dan benar sebelum pukul 16.30 pria yang di nanti sang gadis telah datang.
Naka tidak pernah tahu apa persisnya yang gadis itu perbincangkan tetapi Naka selalu tertarik memperhatikan keduanya. Biasanya sebelum pukul 18:00 kembali perhatian Naka teralihkan dengan beberapa pelanggan yang datang bersamaan.
Dia kembali disibukkan dengan meracik pesanan pelanggan dan setelah menyelesaikan pesanan pelanggan. Naka kembali memusatkan perhatian ke kursi dipinggir danau.
Naka tampak kaget untuk pertama kali dalam dua tahun gadis tersebut berdiri menghadap ruko Naka belum selesai keterkejutan Naka. Pria itu telah berdiri di depan Naka.
"Mas, lihat apa di depan. Saya pernah lihat mas memandang tanpa jeda ke arah kursi pinggir danau?".
Naka tahu dia sebaiknya tidak berbohong karena ternyata sudah pernah terpergok memperhatikan dua sejoli ini.
"Seorang gadis di kursi dibawah pohon akasia". Ada keterkejutan dan kesedihan di mata pria tersebut.
"Seperti apa dia?".
"Dia cantik menggunakan atasan kaos ungu dengan motif mawar dibagian depan. Memiliki rambut panjang melebihi bahu". Pria itu menatap Naka dengan pandangan tak percaya. Bibirnya terkatup dan wajahnya memucat. Naka membimbing dia ke kursi yang kosong agar leluasa berbicara.
"Maaf mas bisa lihat?".
"Iya terkadang Aku bisa melihat makhluk lain". Naka melihat pria itu memainkan cincin di jari manisnya.
"Aku bahkan hanya bisa merasakan kehadiran dirinya tapi tidak bisa melihat rupanya". Naka mendengarkan seksama ternyata dia tidak tahu apa yang dilakukan gadis tersebut. Dia hanya bisa merasakan keberadaannya.
"Dia kekasih mu.. hmm maksud Aku. Apakah dulunya kekasih mu?". Naka mengalihkan pandangan dari gadis di pinggir danau ke arah pria di depannya.
"Iya namanya Tiara. Tiga tahun lalu di awal bulan febuari kami berjanji bertemu disini. Kantor Ku tidak jauh dari sini tapi saat itu ketika Aku berjalan menghampirinya ada pengendara mobil mabuk menabrak Tiara yang berada di kursi tersebut. Mobil berserta Tiara masuk ke dalam danau. Dia tewas seketika".
Naka menghela napas karena kejadian ini lah maka jalan dipinggir danau tidak diperbolehkan lagi untuk pengendara motor atau mobil. Sebuah aturan yang datang terlambat tetapi setidaknya mencegah kembali kejadian yang sama terulang.
"Entah kenapa setiap awal bulan setelah kejadian itu Aku merasa harus ke tempat yang sama. Setelah kursi itu diperbaiki awal bulan Aku selalu kesini. Seakan dia hadir dan semua bayangan akan dirinya dapat Ku rasakan".
"Dia memang ada didekat mu". Naka melihat kembali ke arah Tiara, gadis itu masih dalam posisi sama dengan senyuman di bibirnya.
"Benarkah?"
"Iya".
"Tapi kali ini mungkin terakhir kali Aku ke sini karena tiga bulan lalu Aku dijodohkan keluarga Ku dengan gadis lain. Aku mengatakan tadi pada dia. Entahlah apa yang Ku lakukan kedengaran mustahil tapi Aku merasa dia tahu apa yang Ku katakan, Aku tak tahu bagaimana pendapat dia". Naka melihat mata berkaca-kaca pria tersebut.
"Dia amat senang kamu akan menikah dan berharap kamu akan bahagia dengan begitu dirinya akan meninggalkan dunia ini dengan tenang".
"Mas begitu yakin, apakah mas bisa bicara dengan Tiara".
Naka menggeleng karena dia memang tidak berbicara dengan Tiara tapi gadis yang sekarang telah berada di samping Naka itulah yang membisikkan kata-kata tersebut.
"Cintailah siapa pun yang akan menjadi istri mu dan kirim doa selalu agar arwah Tiara tenang".
"Baiklah jika itu adalah garis kehidupan yang harus Ku jalankan sampaikan pada dirinya akan Ku lakukan agar dia tenang".
Naka hanya menganggukkan sedikit kepala. Dia tidak perlu menyampaikan lagi karena Tiara telah mendengarnya. Perlahan Tiara tampak diselubungi asap tipis dengan semburat cahaya keemasan mengaburkan rupa Tiara lalu kemudian menghilang.
Naka tahu inilah terakhir kali dia akan melihat gadis dipinggir danau.
-End