Langit sangat mencintai Bumi dari kanak-kanak hingga kini usia dewasa. Itulah cinta. Buta. Tak bisa dihindari ketika panah cupid dewa asmara menghujam pas kena jantung hatinya.
Langit juga tahu, Bumi sebenarnya mencintai Mentari. Dan tak ada secuilpun cintanya untuk Langit, meskipun Bumi adalah seorang pujangga yang romantis dengan kata-katanya yang puitis. Bumi hanya sayang antara sahabat saja pada Langit. Apalagi kedua orangtua mereka bersahabat juga sejak masih dibangku sekolah menengah pertama.
So', begitulah cinta. Deritanya tiada akhir, kalau kata si Pat Kay temen seperjuangannya Sun Gokong.
Langit masih berusaha menipu diri. Menutupi kalau Bumi sesungguhnya cinta Mentari. Karena Langit tak mudah berpindah kelain hati.
Meski ada Awan yang selalu setia menemani Langit disetiap waktu. Karena Awan cinta Langit. Meski Awan tahu, Langit begitu cinta Bumi.
Cinta. Inikah Cinta? Entahlah!
Kata orang cinta itu buta. Tak mengenal kasta, tahta dan juga rupa. Iyakah?
Langit tahu, ia tak secemerlang Mentari. Tak seindah dan semolek Mentari. Ia juga tak seanggun dan sebaik Mentari. Bahkan boleh dikata, Langit terlihat indah bila didekat Mentari. Dan benar, Bumi juga suka bercanda dengan Langit bila ada Mentari.
Hhhh....
Hari ini Langit menangis dipinggir danau sendirian. Ia akhirnya melihat sendiri bagaimana Bumi dengan gagahnya bak Arjuna dengan sebuket bunga cantik ditangan 'menembak' Mentari. Tepat dihadapannya, ketika Langit menapaki usianya yang ke-23 tahun.
Uhh.....!!!!! Kejamnya cinta.
Langit berusaha tersenyum legowo menerima itu. Padahal selama ini ia berharap banyak, cinta membuka mata dan hati Bumi untuknya. Menjadikan jodohnya sepanjang masa. Seumur hidupnya bersama Bumi yang sangat dicintainya.
Hari bahagia Langit menjadi hari duka. Hatinya hancur berkeping-keping melihat kenyataan yang ada.
Tuhan tidak berpihak padanya. Apa mau dikata. Ia hanyalah wanita biasa. Tak punya kuasa untuk memaksakan cinta Bumi berlabuh padanya.
"Sudahlah, Langit! Matamu bengkak bila menangis terus!" Awan masih terus menemani Langit meski senja mulai beranjak.
"Aku sedih. Bumi selalu memberiku kata-kata yang manis untukku. Seolah semua kata itu ditujukan hanya untukku seorang saja!"
"Ada aku, Langit! Kenapa matamu harus selalu menatap kearah Bumi. Akulah yang selalu ada disisimu, Langit! Menunggumu memperhatikanku. Aku akan selalu setia kepadamu." Awan mengungkapkan rasa cintanya pada Langit.
"Aku tak suka lelaki bucin!"
"Kenapa? Kau pilih lelaki gombal ketimbang lelaki bucin?... Apa salahnya bucin?"
"Lelaki bucin sudah pasti adalah lelaki lemah. Karena dia bakalan seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia tidak punya prinsip. Hanya mengekor pada keinginan dan kemauan wanita yang dibucinnya!"
"Oho!!! Iyakah? Bukankah kamu sakit hati karena lelaki gombal itu ternyata banyak memberi kata indah bukan hanya padamu saja? Apa lelaki model begitu, tipikal lelaki ideal buatmu, Langit? Baiklah! Aku pergi! Maaf, aku hanya lelaki bucin bagimu!"
Langit terlarut dalam tangisan kebisuannya. Ia biarkan Awan berlalu dari hadapannya. Pergi meninggalkannya.
Dan Langit menyesal telah melukai hati Awan demi melampiaskan kekesalannya karena sakit hati yang mendalam pada Bumi.
Usia mudanya beranjak menuju arah kedewasaan. Tapi cinta belum mampu mendewasakan diri juga jiwanya.
Hanya penyesalan, dan penyesalan. Berharap Awan datang mengutarakan lagi cinta sucinya pada Langit.
Karena sejatinya, dicintai itu lebih baik daripada mencintai tapi hanya seorang diri.
SEKIAN